
"Al? Akhirnya kau datang juga, kemana saja? Kau sudah hampir beberapa minggu tak menemui tante" Kareen tersenyum bahagia menyambut keponakannya namun, senyumnya memudar saat ia melihat keponakannya masuk bersama adik laki-laki dan keponakan perempuannya.
"Lama tidak berjumpa, apa kabar kak?" Vino tersenyum kecil lalu duduk dengan santai disofa.
"Wakh!! Rumah ayah tidak pernah berubah, masih terasa nyaman seperti dulu!"
"Sepertinya tante mengenaliku, tante tampak terkejut saat melihatku!" Syeza tersenyum lalu ikut duduk disofa.
"Tentu saja Syeza! Kau keponakannya mana mungkin ia lupa?!" Vino tertawa kecil.
"Akh paman, kira-kira apa yang tante ingat tentangku?'
"Eemm kesalahan?" Jawab Vino
"Kesalahan?"
"Eemm, melihatmu pasti ia teringat dengan kak Elisa!" Ujar Vino.
"Akh benar sekali paman!" Timpal Syeza.
"Untuk apa kalian datang?!" Kareen menatap tak suka ke arah Vino dan Syeza.
"Wakh aku adikmu, sudah lima belas tahun kita tidak bertemu kak, kau tidak merindukanku?!"
"Iya tante! Aku juga keponakanmu! Kau juga tidak merindukanku?" Syeza menimpali.
"Al apa yang terjadi? Kenapa mereka datang bersamamu?" Kareen beralih menatap Alghifari yang daritadi hanya berdiri diam.
"Duduklah, ayo kita bicara!" Ujar Al dingin lalu duduk disamping Syeza.
Kareen hanya menurut, ia lalu ikut duduk sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tidak akan berbicara panjang lebar, akui semua kesalahan tante dan serahkan diri dipenjara! Semua warisan kakek paman yang akan mengambil alih!"
"Apa maksudmu Al? Kesalahan tante? Apa kesalahan tante?"
"Tante masih bertanya apa kesalahannya?!" Alghifari menarik nafas panjang lalu menghembusnya pelan.
"Kesalahan yang tante perbuat lima belas tahun yang lalu dan juga hari ini!"
"Al kenapa tiba-tiba kau membahas kejadian lima belas tahun yang lalu? Bukankah tante sudah memberitahumu semuanya?"
"Dan itu hanya cerita bohong yang tante karang sendiri! Kesalahan tante terlalu banyak untuk dimaafkan!"
"Tante mencoreng nama baik ibuku, tante juga berusaha membunuh kakekku dan akh perusahaan yang tante bangun sekarang, jangan kira aku tidak tahu!"
"Al apa maksudmu tante ingin membunuh kakek?" Tanya Syeza.
"Akh sebenarnya tante kareenlah dalang dibalik kematian kakek!"
"Kau tidak pernah cerita hal ini Al!" Ujar Vino.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kalian terlalu membenci tante!" Ujar Alghifari pelan.
"Tante tahu tentang luka-lukaku?" Alghifari beralih menatap ke arah tantenya.
"Aku tumbuh menjadi anak laki-laki yang tak mempercayai wanita manapun termasuk ibuku kecuali tante, aku tumbuh menjadi anak laki-laki yang penuh dendam dengan keluargaku sendiri! Aku tumbuh menjadi anak laki-laki yang tak memiliki hati nurani!"
"Apa tante mengenalku dengan baik? Apakah tante tahu aku seorang psikopat? Apa tante tahu aku membunuh banyak nyawa yang tak bersalah?"
Kareen hanya terdiam mendengar penuturan keponakannya.
"Aku tidak ingin bertemu tante lagi! Jujur saja, aku bahkan merasa malu dengan semua hal yang terjadi! Sebentar lagi polisi akan segera datang! Aku harap tante menyesali perbuatan tante!"
"Al, kau tega memenjarakan tante? Bagaimana mungkin kau melakukan hal seperti itu pada tante?"
"Lalu apa tante pernah mengerti bagaimana perasaanku! Tante hanya memikirkan diri sendiri dengan mengorbankan aku! Lagi pula tante memang pantas untuk mendapatkannya!"" Alghifari lalu beranjak dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Al...,"
"Tante!" Syeza berdiri menghalangi Kareen yang hendak mengejar Alghifari.
"Tak perlu dikejar! Keputusan Al tidak akan pernah goyah! Bagaimanapun tante harus mempertanggungjawabkan semuanya!"
"Kau!! Apa yang sudah kau lakukan?! Apa yang kau lakukan pada Al?!!"
"Aku tidak melakukan apa-apa tante! Aku hanya memberitahu Al kejadian yang sebenarnya! Tante, lima belas tahun yang lalu aku masih mengingat dengan baik tante berusaha membunuh kakakku!"
"Jaga bicaramu Syeza! Aku tidak pernah ingin membunuh keponakanku!!"
"Akh benar! Bukan membunuh tapi hanya korban tapi, bukankah itu sama saja?!" Syeza hanya tertawa kecil.
"Jika tante benar-benar menyayangi Al, tidak akan pernah terjadi kejadian seperti lima belas tahun yang lalu!!"
"Dan tante tidak perlu khawatir, mulai sekarang aku akan mengurus kakakku dengan baik! Terima kasih karena sudah membesarkannya meski dengan cara yang salah!!" Ujar Syeza tersenyum.
Kareen lalu menoleh ke arah Vino.
"Kau puas sekarang?! Kau puas sudah menghancurkan kakakmu sendiri?!"
"Kakak?! Apa kau pernah menganggap aku sebagai adikmu?! Aku rasa tidak pernah!! Kau hanya perduli soal Al tapi tidak denganku!! Ah lagipula aku memang hanya punya dua kakak perempuan!!"
"Iya benar!! Aku memang hanya menyayangi Al!! Kau memang tidak pernah bisa untuk diandalkan!! Kau sendiri tahu bukan?! Ibuku meninggal karena melahirkan anak sepertimu!! Kau memang anak pembawa sial!!" Ujar Kareen.
Plaaakkk!!.
Tangan Syeza spontan menampar pipi tantenya.
"Syeza!" Vino terlihat kaget lalu beranjak berdiri.
"Kau?!!" Kareen memegang pipinya sambil menatap marah ke arah Syeza.
"Kenapa?! Tante fikir aku tidak bisa melakukannya?!" Syeza lalu perlahan mendekati Kareen lalu menggenggam erat pergelangan tangan tantenya.
Vino hanya tersenyum kecil, ah ia benar-benar melihat sosok kakaknya Elisa dalam diri keponakannya.
Syeza lalu menghentikan langkahnya dan melepas genggamannya lalu beralih menatap pamannya dengan lekat.
"Kenapa? Jangan menatap paman seperti itu! Apa paman semenyedihkan itu?!" Vino membuang mukanya.
"Paman baik-baik saja?"
"Eem tentu saja!"
"Maaf, aku tidak tahu paman punya luka seperti itu! Tidak mudah bukan?"
"Aahh paman baik-baik saja! Pergilah, susul Al! Ia pasti sedang bersedih! Hibur dia, Al membutuhkanmu!"
"Lalu paman tidak membutuhkanku?"
"Hem?"
"Mulai sekarang, aku akan membantu paman untuk sembuh! Jangan hiraukan perkataan Tante Kareen, paman hanya perlu fokus dengan hal-hal yang membuat paman bahagia dan jangan memendam masalah sendiri! Meski aku tidak bisa memberikan solusi tapi, aku pendengar yang baik!! Lagi pula terkadang orang-orang yang punya luka hanya perlu telinga untuk mendengarkan bukan?"
Vino hanya tertawa kecil.
"Kenapa paman tertawa?"
"Eeemm hanya merasa, ternyata keponakan paman sudah sedewasa ini!"
"Tentu saja! Aku sudah tumbuh dewasa!"
"Ahaha, kau tahu? Hari ini paman menemukan sisi lain dari dirimu!"
"Benarkah? Apa aku terlihat keren?"
__ADS_1
"Eeemm sangat!"
"Kalau begitu, aku akan sering menunjukkannya!" Ujar Syeza sambil tertawa kecil lalu kembali melangkah.
"Oohh? Ekspresi apa itu?! Yakh!! Kau tidak boleh menunjukkannya didepan orang lain!" Ujar Vino lalu ikut melangkah.
"Tentu saja! Itu hanya untuk orang-orang tertentu yang boleh melihatnya!"
"Termasuk paman?"
"Itu tergantung bagaimana sikap paman nanti!"
"Wakhh kau ini!!"
Syeza hanya tertawa kecil.
...*************...
"Al!"
Alghifari menoleh dan tersenyum.
"Kalian sudah selesai? Mau langsung pulang atau berkeliling sebentar? Mungkin saja paman ingin mengubah beberapa konsep dari rumah ini?"
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vino.
"Apa maksud paman? Tentu saja aku baik!"
"Aakhh paman dan keponakan sama saja! Sama-sama gengsi!" Timpal Syeza lalu duduk dibangku.
"Yakh!! Ada apa dengannya paman?" Tanya Al.
Vino hanya tertawa kecil.
"Jika memang tidak baik, katakan saja! Jika memang sakit katakan itu sakit, jika ingin menangis, menangislah! Tak apa, sesekali kalian juga bisa menunjukkan hal-hal rapuh seperti itu! Kenapa harus menahannya? Apa semua laki-laki seperti itu?!"
"Yakh!! Aku dan paman laki-laki, mana mungkin kami terlihat rapuh didepan gadis yang selalu ingin mereka lindungi?!" Ujar Al kesal lalu melangkah pergi.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia sensitif sekali?"
"Seharusnya kau menghiburnya bukan malah membuatnya kesal" Sambung Vino lalu ikut melangkah.
"Yakh paman! Apa maksudmu? Kau baru saja membela Al?!" Ujar Syeza sambil mengejar langkah pamannya.
"Paman kau sadar bukan? Ini untuk pertama kalinya kau tidak membelaku!"
"Eemm paman menyadarinya!"
"Wakhh! Apa yang terjadi? Apa Al menyogokmu?"
Vino hanya tertawa kecil dengan asumsi keponakannya.
"Kau tidak boleh melakukannya lagi paman! Jangan coba-coba membela Al didepannya atau dia akan besar kepala!"
"Benarkah apa yang dikatakan Syeza paman?" Alghifari yang berjalan didepan menghentikan langkahnya saat mendengar suara Syeza yang sedikit berteriak ke pamannya.
"Apa maksudmu?" Tanya Vino ikut menghentikan langkahnya.
"Kau tadi membelaku?"
"Tidak!" Jawab Vino lalu kembali melangkah.
"Paman!! Lakukan sekali lagi! Lakukan didepanku! Aku ingin melihatnya paman!" Ujar Alghifari sambil mengejar langkah pamannya.
"Tidak Al!"
"Yaahh paman! Apa kau malu?" Tanya Alghifari sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
"Waakh!! Sejak kapan dia mulai manja dengan paman? Sifatnya memang sedikit aneh!" Syeza hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Al yang selalu berubah-ubah.