
"Za kau sudah bertemu Rayhan?"
"Heeemm?"
"Kemarin aku sempat melihatnya ada dibasecamp"
"Aahhh iya!"
"Bagaimana dengan hubungan kalian? Kembali seperti semula? Semuanya baik-baik saja?"
"Ada apa? Sepertinya kau sangat mengkhawatirkan hubunganku dengan Rayhan?"
"Akh aku terlalu ikut campur ya? Maaf!" Alghifari tersenyum kikuk lalu hendak melangkah pergi namun, Syeza menahan tangannya, ia lalu merangkulkan kedua tangannya dipinggang pria itu dan membenamkan wajahnya didada bidang miliknya.
Alghifari hanya berdiri diam, tak berkikuk sedikitpun.
"Aku ingin memelukmu sebentar saja!" Ujar Syeza lalu mengeratkan rangkulannya.
"Ada apa? Kau ada masalah?" Tanya Al
"Tidak!" Jawab Syeza menggeleng.
"Tolong tetap seperti itu!" Ujar Syeza
"Heeemm?"
"Aku tidak pernah keberatan jika kau ikut campur dengan semua urusanku! Jadi tetap lakukan itu! Tetap ikut campur dengan apapun urusanku! Aku ingin kau terus melakukannya hingga aku menua!"
"Ahaha"
"Yakhh! Kenapa kau ketawa?"
"Meskipun kau sudah menikah nanti?"
"Eeemm tentu saja!"
"Kau fikir suamimu akan setuju nantinya?"
Syeza mengangkat kepalanya dengan kedua tangannya yang masih merangkul pinggang Alghifari lalu menatap Alghifari dengan senyuman.
"Aku tidak perduli! Jika nanti disuruh untuk memilih diantara kau dan suamiku, tentu saja aku akan tetap memilihmu!"
"Aiss kau!!" Alghifari menyentil kening Syeza.
"Yakhh kenapa kau menyentil keningku? Kau tidak percaya padaku?" Syeza lalu kembali membenamkan wajahnya didada bidang milik Al.
"Eemm aku tidak perlu meyakinkanmu! Nanti akan aku tunjukkan saja jika sudah waktunya! Aku akan membuktikan bahwa kau segalanya bagiku! Bahwa aku akan tetap memilihmu dalam keadaan apapun!" Ujar Syeza.
Alghifari hanya tersenyum kecil.
"Kau tidak membelai rambutku?" Tanya Syeza.
"Untuk?"
"Yakhh!! Jika ada orang yang memujimu dalam pelukan, kau harus tersenyum sambil membelai rambutnya! Itu artinya kau benar-benar menghargai usahanya!"
"Akh lupakan saja! Kau selalu melakukan sesuatu untukku jika ada maunya saja!" Ujar Al lalu melepaskan rangkulan Syeza dan melangkah pergi.
"Al! Lakukan sekali saja! Kau belum pernah melakukannya bukan?!" Ujar Syeza sambil tertawa kecil lalu mengejar langkah Al.
"Sudah!" Jawab Al.
"Benarkah?! Kapan?!" Syeza hanya tertawa kecil lalu mempercepat langkahnya.
...****************...
"Kalian sudah siap?" Erlina menghampiri adiknya dan kedua anaknya diruang tengah.
"Iya kak!" Jawab Vino.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan mengecek Elhameed! Sepertinya ia ada telepon penting!" Ujar Erlina lalu melangkah pergi.
Vino, Alghifari dan Syeza hanya mengangguk.
"Yakhh ada apa? Kenapa menatapku sambil tersenyum seperti itu?!" Tanya Al pada Syeza yang berdiri menatapnya dengan senyuman.
"Aku masih menunggunya! Lakukan sekali saja!" Ujar Syeza tersenyum jail lalu menyodorkan kepalanya ke arah Alghifari.
"Aakhh!!" Alghifari menghindar lalu berdiri disamping Vino.
"Al?" Syeza berusaha mendekati Alghifari yang bersembunyi disamping Vino.
"Yakh yakh yakh! Ada apa dengan kalian?" Vino berusaha menghindar dari aksi Syeza dan Al.
"Jangan kemana-mana paman! Tetap disampingku!" Alghifari menahan pamannya.
"Yakh ada apa denganmu?"
"Akh Syeza bersikap aneh sejak tadi pagi! Aku tidak ingin dekat-dekat dengannya!"
"Wakhh tidak bisakah kalian membuatku tenang sebentar saja?!" Ujar Vino lalu menatap ke arah Syeza.
"Kau juga! Kenapa suka sekali menjahili kakakmu?!"
"Eheheh!" Syeza hanya nyengir lalu beralih menatap Vino dengan senyuman.
"Yakhh! Ada apa? Kenapa menatap paman seperti itu?!"
"Kalau begitu paman saja yang melakukannya!"
"Apanya?!"
"Lakukan sekali untukku! Aku rasa paman juga belum pernah bukan?" Syeza lalu menyodorkan kepalanya ke arah Vino.
"Yakh! Ada apa denganmu?!"
"Lihatkan paman? Akh ayo paman! Aku tidak ingin dekat-dekat dengannya!" Ujar Al lalu merangkul tangan pamannya dan melangkah pergi.
"Dimana Al dan pamanmu?" Tanya Erlina yang kembali bersama Elhameed.
"Akh mereka sudah menunggu didepan bu!"
"Baiklah ayo! Akh kau sudah menyiapkan bunganya?" Tanya Erlina sambil melangkah keluar.
"Iya sudah bu! Sudah disimpan oleh paman dimobil" Ujar Syeza lalu merangkul lengan ayahnya dan ikut melangkah keluar.
Elhameed tersenyum kecil lalu mengusap kepala putrinya.
"Meskipun dua pria itu tidak ingin melakukannya untukku! Tetap akan ada satu pria yang mau melakukannya untukku tanpa kuminta sekalipun!" Batin Syeza sambil tersenyum kecil.
Dalam perjalanan mobil yang dinaiki oleh Elhameed, Erlina dan adik bersama kedua anaknya terlihat hening, mereka sama-sama terdiam dan fokus dengan pikirannya masing-masing.
"Kau memakamkan Elisa dimana? Tempat pemakaman umum?" Tanya Erlina yang mencoba mencairkan suasana.
"Tidak!" Jawab Elhameed.
"Dipemakaman keluarga! Ada kedua mertuaku juga disana!"
"Aahh baiklah! Ah Syeza, kau sering mengunjungi ibumu?"
"Tidak!" Jawab Syeza tersenyum getir.
"Ini baru yang kedua kalinya untukku! Pertama kali, saat aku masih berusia mungkin sekitar 8 tahun? Setelah dua tahun ibu meninggal!"
"Tak apa! Ibumu pasti memahaminya! Haahh kali ini ia pasti bahagia bertemu dengan putrinya lagi yang sudah belasan tahun!" Ujar Erlina tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan kau Vino?" Tanya Erlina sambil melirik sejenak ke arah Vino.
Vino hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Paman sering mengunjungi ibu?" Tanya Syeza.
"Eemmn iya!" Jawab Vino.
"Terima kasih!" Ujar Syeza.
"Kenapa kau berterima kasih?"
"Aku merasa terwakilkan setiap kali paman mengunjungi ibu! Aku merasa aku juga ada saat paman menemuinya!"
Vino hanya tertawa kecil.
"Mulai sekarang paman tidak boleh sendirian!"
"Heeemm?!" Vino menoleh.
"Aku akan menemani paman! Jadi jika paman ingin mengunjungi ibu beritahu aku! Aku ingin menemui ibu bersama paman!" Ujar Syeza.
"Eemm baiklah!" Jawab Vino.
"Kau tidak mengajakku?! Tidak ingin pergi bersamaku juga?!" Alghifari menyahut.
"Waakhh!! Rupanya kau masih cemburuan sama seperti waktu kecil! Ujar Vino.
"Tidak!" Ujar Al lalu membuang muka membuat yang lain hanya tertawa kecil.
"Jadi kau ingin waktu yang kapan untuk menemui kak Elisa? Kita akan tinggal di Landon! Kemungkinan kita bisa mengunjunginya menggunakan jet pribadi!" Ujar Vino.
"Seminggu sekali? Ah tidak! Kau pasti akan kelelahan nantinya! Bagaimana jika dua minggu sekali? Atau sebulan sekali?"
"Tergantung paman! Akh atau kita bisa mengunjungi ibu saat paman ataupun aku ingin mengunjunginya?"
Ujar Syeza.
"Ah benar! Itu jauh lebih baik!"
"Aargh aku benar-benar ingin tinggal di Landon!!" Ujar Alghifari.
"Bagaimana jika kau pindahkan saja mansionmu ke Landon?" Ujar Syeza menatap ke arah Alghifari.
"Itu tidak akan pernah terjadi! Aku lebih memilih New York daripada Landon!" Ujar Al membuat Syeza memutar bola mata malas.
"Jangan pernah berharap kakakmu akan memindahkan mansionnya Syeza! Ia sudah terlalu nyaman tinggal dimansionnya di New York!"
"Aku atau mansionmu di New York?" Tanya Syeza spontan.
"Yakh! Kenapa kau memberikan dua pilihan yang berat?" Ujar Al.
"Wakhh ternyata mansionnya masuk dalam pilihan yang berat!" Ujar Syeza.
"Sudah paman bilang bukan?"
"Akh kalau kau paman? Aku atau posisimu sebagai CEO terkaya ketiga diseluruh dunia?"
"Tentu saja kau!"
"Aakhh aku tahu hanya paman yang benar-benar menyayangiku!" Ujar Syeza lalu merangkul lengan pamannya.
"Yakh aku juga!" Ujar Al yang tidak ingin kalah.
"Tetap saja paman yang terbaik!"
"Aku atau paman?" Tanya Al.
"Kalau begitu aku memilih ayah!" Ujar Syeza.
"Yakh! Ayah tidak masuk dalam daftar pilihan! Hanya ada aku dan paman! Kau harus menentukannya! Aku atau paman?"
"Aku memilih ibu!"
__ADS_1
"Wakhh kau memang tidak mudah ditebak!" Ujar Alghifari membuat yang lain tertawa kecil.