Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Surat Dari Ibu


__ADS_3

Ibu? aahh ingatan 12 tahun yang lalu kembali lagi, saat aku berumur 6 tahun kenangan menyakitkan itu terrekam jelas dalam ingatan ku, setelah kejadian mengenaskan itu tidak ada satu pun kenangan tentang ibu yang teringat! semuanya menghilang begitu saja! hanya itu yang tersisa!


...~Syeza Anastasya...


Ketika tangan ku hendak menutup album tersebut, mata ku tidak sengaja menemukan secarik kertas yang telah usang karena di makan usia.


Untuk Putriku Syeza Anastasya Elhameed.


begitulah yang tertulis di lipatan pertama pada surat tersebut.


ah mungkinkah ini surat dari ibu?.


perlahan aku membuka lipatan surat tersebut dan mulai membacanya.


...💌Putriku, apakah surat ini sudah ada di tangan mu? ibu akan sangat bahagia jika kau berhasil membaca tulisan ini sayang:) karena ibu yakin ayah mu pasti akan menyembunyikannya dari mu tapi, ibu juga sangat yakin suatu saat kau pasti akan membaca tulisan ini. ah putriku saat kau sudah berhasil membaca tulisan ini kau pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas, kau tau nak? ibu begitu sangat penasaran dengan wajahmu ketika dewasa:) tak banyak yang ibu katakan, ibu hanya ingin memberitahu mu satu hal yang di rahasiakan oleh ayah mu, karena ibu yakin ayah mu pasti akan merahasiakan hal ini hingga kau tumbuh dewasa, hingga kau sendiri yang menemukan kebenaranya, itulah sebabnya ibu menulis surat ini untuk mu. Nak, satu hal yang perlu kau tau, kau memiliki dua orang ibu, bukan hanya aku ibumu tapi ada satu lagi seorang ibu yang sangat menyayangi mu dan kau juga memiliki kakak laki-laki! seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi mu, kau bisa melihat keakraban kalian lewat foto-foto dalam album itu bukan? kau tau nak? keluarga kita adalah keluarga yang sangat bahagia, keluarga yang harmonis, banyak orang yang memuji keluarga kita karena ayah mu yang bijaksana dalam memperlakukan kedua ibumu, kita bahkan tinggal di atap yang sama, aku memiliki kakak madu yang sudah seperti kakak kandung sendiri, namun dalam kehidupan tidak selamanya baik-baik saja, tidak selamanya mulus, ada saja jalan yang bengkok dan berbelok-belok, kau pasti bertanya-tanya bukan kenapa kita berpisah? semuanya karena ada satu hal yang membuat keluarga kita hancur dan berantakan, sebuah kesalahfahaman yang membuat ayah mu memilih pergi dengan membawa ibu dan juga kau ke negara asal ibu, Indonesia. maaf sayang, ibu tidak bisa memberitahu mu tentang hal itu lewat surat ini, kau bisa menanyakannya langsung kepada ayah mu, ibu mengandalkan mu!. ibu tau ini pasti sangat rumit untuk mu tapi, ibu sangat berharap kau bisa mempersatukan keluarga kita nak! cari ibumu dan kakak laki-laki mu, pertemukan mereka dengan ayah mu, tolong perbaiki kesalahfahaman ini! ibu ingin kalian bersatu, ibu benar-benar mengandalkan mu gadis kecil ku!....


...Ibumu,...


...Nyonya Elisa Elhameed...


Aku menghapus airmata ku.


Ah ibu aku merindukan mu! maaf, jika ingatan ku tentang mu tak ada yang tersisa! aku bahkan hanya mengingat kejadian mengenaskan itu! ibu aku berjanji....., aku berjanji akan mencari mereka, aku berjanji akan mempertemukan ayah dengan mereka dan mempersatukan kembali keluarga kita!.


Aku lalu menarik nafas pelan.


"Fin ayo keluar"


aku lalu beranjak berdiri dan melangkah keluar bersama fino.


"Nona, kau baik-baik saja?"


Aku tersenyum dan mengangguk kecil ke arahnya. Kami lalu melangkah bersama menyusuri lorong-lorong rumah.


Ah rumah ayah sudah seperti istana saja, kita harus menyusuri lorong-lorong untuk menemukan ruangan lainnya.


"Terima kasih sudah mempercayai ku dan membantu ku menemukan benang merahnya"


"Ah iyh sama-sama nona"


"Aahh aku lebih menyukai panggilan 7 tahun yang lalu!"


"hHem?"


fino mengerutkan alis.


"Ahahah bukan apa-apa!"


Fino terlihat tersenyum.


"7 tahun yang lalu dan sekarang adalah dua hal yang berbeda nona, 7 tahun yang lalu adalah sebuah kesalahan dan yang sekarang adalah kebenarannya"


Aku menghentikan langkah lalu menoleh ke arahnya membuat fino ikut menghentikan langkahnya.


"Jadi menurut mu panggilan 7 tahun yang lalu tanpa ada embel-embel nona di depannya adalah sebuah kesalahan?"


"Hem"


Dino mengangguk.


"Itu artinya apa kau juga ingin menyatakan bahwa apa yang ku katakan 7 tahun yang lalu pada malam sebelum kau ke amsterdam juga sebuah kesalahan?"


"Hem"


Fino kembali mengangguk.


"Apa yang kau katakan 7 tahun yang lalu di malam sebelum aku ke amsterdam adalah kesalahan terbesar nona!"


"Hah! kenapa rasanya sakit mendengar kau mengatakan seperti ini?"


Fino hanya terdiam.


"Ahh sudahlah! aku tidak ingin membahasnya lagi! ini, aku mempercayakan kotak ini kepada mu! aku akan mengambilnya nanti saat aku membutuhkannya"


Aku lalu menyodorkan kotak itu ke arahnya.


"Baik nona"


fino mengambil kotak itu dari ku.


Aku tersenyum kecil lalu melangkah pergi.


"Semoga berhasil nona! nyonya besar sangat mengandalkan mu! kau harapan terbesarnya nona!"


Aku menghentikan langkah lalu berbalik ke arah fino.


"Kau tau isi surat itu?"


Fino hanya tersenyum kecil.


"Itu artinya, apa kau juga tau siapa kakak laki-laki ku?"


Fino terdiam.


"Kau mengetahuinya bukan?"


Fino tak menjawab ku, ia hanya diam.


"Aah tidak apa-apa! aku tidak akan memaksa mu untuk memberitahu ku! kau sudah banyak membantu ku, terima kasih!"


Aku tersenyum lalu kembali melangkah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku melangkah menyusuri lorong-lorong menuju ruang kerja ayah.


Aku mendengar bahwa ayah sudah pulang.


aku menarik nafas.


Huufff!! pada akhirnya aku yang menemuinya dahulu!!.


"Selamat pagi ayah!!"


Aku membuka pintu kerja ayah, dalam ruangan terlihat ayah sedang duduk berdiskusi dengan fino dan fikral dan beberapa pengawal lainnya.


"Pagi juga putri ku!!"


Ayah tersenyum ke arah ku.


"Sudah seminggu lebih, kau baru datang menemui ayah? apa butuh waktu selama itu untuk menemui ayahmu?"


"Aahh jadi ayah sengaja tidak menemui ku karena ayah ingin aku yang lebih dulu menemui ayah? hah kenapa ayah begitu gengsi untuk menemui putri mu lebih dulu? padahal ayah begitu merindukan ku! ayah selalu mengatakan rindu jika menelpon bukan?"


Aku melangkah masuk.


"Syezaa.....,"


"Kenapa? itu merusak citra ayah di depan mereka? aahh akan lebih menarik jika aku memberitahu seluruh dunia bukan?"


"Aiihh kau.....,"


Aku tersenyum kecil, ayah ikut tersenyum dan hal ini pun sukses membuat orang-orang dalam ruangan tersenyum.


"Aahhh begitu lebih baik! aku lebih suka melihat kalian tersenyum! huf kenapa kalian suka sekali memasang wajah tegang saat bersama ayah? apa ayah ku sekejam itu?"


"Ooh kau benar!"


fikral menimpali.


"Aku rasa di dalam rumah ini mereka hanya menunjukkan wajah-wajah tegang! tapi aku sangat bersyukur paman memiliki putri seperti mu sehingga bisa mencairkan suasana! em tapi ini juga yang membuat ku bingung!"


"Bingung?"


"Eem! za menurut mu kenapa mereka masih bertahan dalam rumah ini?"


"Aahh kau benar fik! itu juga yang membuatku bingung!"


Aku melangkah menghampiri fikral.


"Menurutmu apakah ayah mengancam mereka untuk bertahan?"


"Aku rasa tidak! kau sendiri yang mengatakan bahwa paman tidak sekejam itu bukan?"


"Aku rasa itu masuk akal! paman orang yang sangat royal!"


"Aahhh kau benar fik!"


Aku mengangguk-ngangguk.


"Apa kalian akan terus membicarakan ku?"


ayah melirik ke arah ku dan fikral.


Aku dan fikral tersenyum.


"Apa ayah masih sibuk?"


"Tidak terlalu! ada apa? apa ada yang ingin kau bicarakan?"


"Ooo"


aku mengangguk.


"Aku ingin bicara empat mata dengan mu ayah"


"Empat mata?"


aku kembali mengangguk.


"Eemm sepertinya itu sangat penting!baiklah!"


ayah beranjak berdiri lalu melirik ke arah orang-orang yang ada dalam ruangan, memberi mereka isyarat untuk keluar.


"kKami permisi"


"Ah tidak perlu!"


aku menahan mereka yang hendak keluar.


"Aahh ayah bagaimana jika kita mengobrol di taman? aku ingin berjalan-jalan dengan ayah sambil menghirup udara pagi!"


"Taman? eemmm baiklah, itu ide yang bagus! sudah lama juga bukan kita tidak jalan-jalan bersama mengelilingi rumah?"


Aku mengangguk.


"Baiklah ayo!"


Ayah melangkah keluar dari ruangan.


aku lalu memberi isyarat ke fino dengan isyarat mata, fino hanya mengangguk kecil. aku lalu melangkah mengikuti ayah.


"Syeza?"

__ADS_1


Aku menghentikan langkah lalu menoleh ke arah fikral.


"Jangan lupa untuk menelpon ke jakarta, mereka menunggu kabar dari mu!"


Ah iyh! aku hampir melupakannya! aku belum mengabari mereka!.


"Ah iyh fik, terima kasih sudah mengingatkan!"


Fikral mengangguk.


"Oh ya za, jangan lupa juga untuk menghubungi al! dia menanyakan mu, sepertinya al sangat khawatir! apa kau tidak memberitahunya bahwa kau sudah pulang ke malang?"


Aku menggeleng.


"Sebelum berangkat aku sudah mencoba menghubunginya tapi ponselnya tidak bisa dihubungi! sahabatmu itu mengingkari janjinya! heemm baiklah, nanti aku akan mencoba menghubunginya lagi"


Fikral mengangguk.


Aku kembali melangkah menghampiri ayah yang sedang menungguku.


Aku menggandeng tangan ayah lalu melangkah bersama.


"Kau membangun pertemanan yang baik, kau terlihat sangat akrab dengan teman-teman mu!"


Aku hanya tersenyum.


"Siapa tadi yang menanyakan mu?"


"Hem? ouh alghifari ayah!"


"Alghifari yaa? kau terlihat sangat akrab dengannya"


Aku tersenyum.


Ah pria kaku dan dingin itu, aku tidak menyangka kami bersahabat hingga hari ini.


"Ayah penasaran, bagaimana caranya hingga kau bisa menarik ia dalam persahabatan mu?"


Ah ayah tidak perlu bertanya, ayah pasti sudah mengetahuinya!.


"Apa kau menyukainya?"


Ayah menoleh sejenak ke arah ku.


Aku tertawa kecil.


"Ahaha apa yang ayah bicarakan? aku mengajaknya berteman bukan karena aku menyukainya! aku melihat dia pria yang selalu sendiri, pria yang kesepian dan tidak memiliki teman! dia juga penganut misoginy, dia membenci wanita ayah! aku hanya berusaha menyakinkan dia bahwa hidupnya akan lebih indah jika memiliki sahabat! dan juga ingin membuatnya percaya pada wanita, menyakinkan dia bahwa tidak selamanya wanita itu salah! aku hanya ingin membantunya untuk tidak lagi menjadi penganut misoginy"


"Aahh kau memang putri kecil ayah yang luar biasa!"


Aku tersenyum.


"Duduklah!"


Aku dan ayah lalu duduk di salah satu bangku yang ada di taman.


"Apa yang ingin kau bicarakan hingga membawa ayah ke taman?"


"Ayah masih ingat permintaan ku waktu itu?"


"Permintaan yang ingin kau minta langsung pada ayah?"


Aku mengangguk.


"Ahh jadi kau ingin memintanya sekarang?"


"Iyh ayah, apa ayah bersedia?"


"Ahaha tentu saja putri ku! katakan, permintaan seperti apa yang ingin kau minta?"


Aku tersenyum.


"Fino!"


Aku memanggil fino dan dari arah belakang terlihat fino melangkah menghampiri kami dengan membawa sebuah kotak.


"Terima kasih!"


Aku tersenyum lalu mengambil kotak itu dari tangan fino dan menyimpannya di hadapan ayah.


Ayah terlihat kaget dan menatap fino dengan lekat, fino hanya menundukkan kepalanya dan hendak melangkah pergi.


"Tetap di tempat mu fino! dan jangan bergerak sedikit pun!"


Suara ayah terdengar dingin.


Aku menarik nafas.


"Jika ayah marah, jangan marah pada fino! karena aku yang memaksanya!"


Ayah hanya terdiam.


Aku lalu menatap ayah dengan sendu.


"Ayah pasti mengenal kotak ini bukan? bisa ayah jelaskan kepada ku apa maksud dari album yang ada dalam kotak ini? dan juga maksud dari surat yang ibu tinggalkan untuk ku?"


"Baiklah, karena kau sudah mengetahui sebagian dari kebenarannya maka ayah akan menjelaskannya!"


Ayah terdengar menarik nafas.


Ah kenapa tiba-tiba kau merasa deg-degan?

__ADS_1


__ADS_2