
Perlahan Syeza membuka matanya. Ia lalu memandang ke sekelilingnya, ruangan yang terasa tidak asing baginya! Ia ingat ini adalah kamar yang pernah ia tempati saat Al membawanya ke New York.
"Jadi sekarang aku ada di New York? Ouh? Apa ini adalah markaznya?" Batinnya
Seketika ia kembali pura-pura menutup matanya ketika terdengar pintu yang terbuka. Alghifari dengan perlahan melangkah masuk dan menatap wanita yang tertidur di depannya dengan tatapan sendu.
"Akh apa kau kesakitan? Apa kau terluka parah? Maaf, maaf aku tidak bisa mengontrol amarahku" Batin alghifari.
Tangan Al lalu hendak mengusap rambut wanita yang tertidur di depannya namun, bunyi ponsel membuatnya mengurungkan niatnya, Al lalu berjalan ke arah meja mengambil ponsel yang berdering.
"Ayah?" Alghifari membaca sebuah nama yang tertulis di layar ponsel milik Syeza dan terlihat menarik nafas.
"Ayah menelpon syeza? Akh apa yang harus aku lakukan? Mengangkat teleponnya atau tidak perlu? Aakhh untuk apa aku mengangkat telepon darinya? Dia mengkhawatirkan putrinya! Dia ingin berbicara dengan putrinya bukan denganmu Al!!" Batin alghifari.
Ia lalu kembali menyimpan ponsel itu di atas meja namun ponsel tersebut terus berdering.
"Akh tapi Al, apa kau tidak merindukan ayahmu? Sudah lama kau tidak mendengar suaranya bukan? Ya sudah lama sekali Al!! Sudah empat belas tahun yang lalu!! Saat kau masih berumur lima tahun hingga hari ini, kau bahkan sudah berumur sembilan belas tahun Al!! Apa kau benar-benar tidak merindukan suaranya?" Suara di kepalanya terus meminta ia untuk mengangguk teleponnya.
Alghifari menarik nafas panjang lalu dengan perlahan mengambil kembali ponsel tersebut dan menekan tombol hijau.
"Hallo? Syeza?? Kenapa kau lama sekali mengangkat telepon ayah? Kau baik-baik saja bukan? Apa kakakmu melukaimu?"
Tak ada jawaban, Alghifari hanya berdiri diam.
"Hallo?? Syeza?? Kau mendengarkan ayah bukan? Syeza?? hallo?? Syeza??"
Alghifari tetap berdiri diam tak bergeming dan bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Ayah? Jadi ini suara ayah? Akh suara ayah tidak pernah berubah! Masih sama seperti dulu! Akh kenapa aku jadi merindukannya?" Batin alghifari.
"Hallo? Al? Ini kau bukan? Akh apa kabar putraku?"
Alghifari terperanjat.
"Ayah tidak menyangka kau tumbuh menjadi pria yang memiliki kekuasaan tanpa warisan! Akh kau benar-benar menuruni kecerdasan dan sifat kerja keras dari ayahmu!" Elhameed terdengar tertawa kecil.
"Tapi jangan salah putraku, kau tidak akan bisa menandingi kecerdasan ayahmu!"
Alghifari terlihat mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Lihatlah ke luar jendela Al!! Ayah memiliki kejutan untukmu!"
Alghifari dengan cekatan melangkah ke arah jendela, ia terlihat kaget saat mendapati beberapa helikopter yang tepat berada di atas markaznya dan mengelilinginya.
"Kau melihatnya putraku? Di antara helikopter-helikopter itu ada pamanmu Vino! Dan pamanmu tidak datang sendirian! Jika kau tidak mengembalikan adikmu maka, ayah akan menyuruh pamanmu untuk menghancurkan markazmu bersama kau dan adikmu! Lebih baik ayah menghancurkan kalian berdua bukan? Daripada salah satu di antara kalian mati terbunuh!"
Alghifari menarik nafas kasar.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau ingin mengembalikan adikmu atau ayah hancurkan seluruh mansionmu?! Akh tidak hanya mansionmu tapi seluruh perusahaanmu akan ikut hancur!!"
"Kau mengancamku?!"
Jauh di seberang sana, Elhameed tersenyum kecil. Ini untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun ia mendengar suara putranya lagi.
"Dengar Alghifari Elhameed, ayah tidak pernah bermain-main! Jika kau memang seorang pria, datang dan temui ayah! Kita bicarakan baik-baik! Dan jangan memancing amarah ayah!!" Sambungan ponselnya lalu terputus.
"Aaakhhh!!" Alghifari lalu dengan penuh amarah melemparkan ponselnya hingga hancur berantakan.
Syeza yang terperanjat lalu berlari ke arahnya dan memeluknya dari belakang.
"Al aku mohon, aku tidak ingin mati tertimbun bangunan-bangunan markazmu! Ayah sama seperti dirimu! Dia tidak main-main dengan ucapannya Al"
"Pergi!! Pergi dari hadapanku sekarang Syeza!!" Alghifari berteriak marah.
Syeza mengangkat kepalanya memandang punggung kekar milik sang kakak yang membelakanginya.
"Kau menangis Al? Apa...,"
"Bukan urusanmu!!" Alghifari memotong ucapan Syeza lalu melepaskan tangan sang adik yang memeluknya.
"Pergi sebelum aku berubah fikiran!!"
"Kau...., Kau tidak ikut?"
"Pergi Syeza!! Ayahmu tidak menginginkan aku! Ia hanya menginginkan putrinya pulang!" Suara Alghifari terdengar purau.
"Kak, ayah punya alasannya sendiri! Bagaimana kau tahu jika kau saja tidak ingin menemuinya?"
"Menemuinya? Untuk apa?! Untuk meminta belas kasihannya?!"
"Kak...,"
"Aku bilang pergi Syeza!! Dan jangan lagi mencoba memintaku untuk menemui ayahmu!!" Suara Alghifari meninggi
Syeza terlihat menarik nafas
"Baiklah tapi, aku akan selalu menunggumu! Menunggu kau menerima aku sebagai adikmu! Menunggu kau kembali merangkulku dan mengatakan Aku Menyayangimu Adikku! Aku akan menunggu kau pulang pada rumah yang mampu menenangkanmu dari banyaknya luka yang berantakan" Syeza tersenyum getir lalu melangkah keluar dari kamar.
Alghifari lalu mengambil ponselnya
"Alex, bebaskan Geisha!" Al lalu kembali menyimpan ponselnya dan mengusap wajahnya kasar.
"Kak Syeza!" Geisha tersenyum lalu berjalan menghampiri Syeza
"Kau baik-baik saja Sha?"
__ADS_1
"Iya kak aku baik-baik saja! Kakak bagaimana? Kakak baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja! Ayo!" Syeza tersenyum lalu menggenggam tangan Geisha dan melangkah keluar
"Kak, apakah Paman Hameed datang menjemput kita?"
"Bukan ayah tapi Paman Vino"
"Hah? Paman Vino?" Geisha terlihat bingung
Syeza hanya tersenyum dan mengangguk.
"Paman Vino siapa kak? Akh tunggu, maksud kakak di tampan dari negeri seberang?"
"Hah? Si tampan dari negeri seberang?"
"Akh maksudku kanan tangan Paman Hameed"
"Ahaha iya!"
"Iya? Kau memanggil namanya paman?"
"Ayo! Aku akan menjelaskannya nanti!"
Syeza dan Geisha lalu melangkah ke arah rooftop, ia tersenyum saat mendapati Paman Vino yang sudah berdiri menunggu.
"Paman"
"Kau baik-baik saja?" Vino memeluk keponakannya
Syeza tersenyum dan mengangguk.
"Akh berapa kali pria bodoh itu memukulmu? Aku akan membalasnya nanti!" Ujar Vino saat ia merasakan beberapa bekas luka di tubuh keponakannya yang masih lembam.
"Aku baik-baik saja paman! Kak Al tidak sekejam itu!" Syeza lalu melepaskan pelukannya
"Kau membelanya?"
"Ahaha" Syeza tertawa kecil menganggapi gurauan pamannya
"Ayo paman aku tidak sabar untuk pulang!! Di sini kak Al tidak membolehkanku mandi!"
"Ahaha baiklah! Ayo!"
"Ayo Sha!" Geisha mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam helikopter bersama Syeza.
Di tangga terakhir, Syeza menoleh ke belakang dan mendapati Alghifari yang berdiri di pojok tembok memandang ke arah mereka. Syeza menarik nafas lalu melangkah masuk.
__ADS_1
Vino ikut menoleh ke belakang ke arah Alghifari namun, Al terlihat membuang muka. Vino hanya tersenyum kecil lalu melangkah masuk.
"Paman menunggumu keponakanku! Datanglah ke rumah! Akh aku benar-benar merindukan masa kecil bersamamu! Kau sekarang sudah tumbuh sebesar ini" Batin Vino