Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Entahlah!!


__ADS_3

Terkadang hal-hal yang terjadi dalam hidupmu datang tanpa kau duga!.


...~Syeza Anastasya...


"Syeza!! syeza!!"


Terdengar suara paman vino yang berteriak mengejarku, aku tak menggubrisnya dan terus melangkah.


"Syeza!! berhenti dan tetap berdiri ditempatmu!!"


Paman vino kembali berteriak dan aku tetap tak menggubrisnya.


Aku tak ingin berbicara dengan siapa pun! aku hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini!.


"Syeza! aku memberikan perintah sebagai pamanmu bukan pengawalmu!"


Seketika langkahku terhenti saat mendengar paman vino kembali berteriak.


Paman? akh iyh! sadarlah syeza! vino adalah pamanmu bukan pengawalmu!.


Aku lalu berbalik dan menatap kearahnya.


Paman vino! paman yang selama ini selalu ada bersamaku! tapi aku bahkan tidak mengenalnya!.


"Kemarilah! jangan menangis seperti itu yeza!"


Paman vino tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya menyambut aku dalam pelukannya.


Airmataku seketika semakin luruh lantaran mendengar ia memanggilku dengan panggilan yeza.


Yeza? akh aku merindukan panggilan itu!.


Aku lalu berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat.


"Paman? paman vino?"


"Iyh ini paman yeza!"


"Maaf, maafkan aku paman! jangankan untuk menepati janjiku, aku bahkan tidak mengenalimu dan melupakanmu begitu saja! maaf, aku minta maaf paman"


Vino tersenyum lalu mengusap kepala keponakannya dengan lembut.


"Tidak perlu minta maaf! paman memahami kondisimu!"


"Tapi tunggu, kenapa paman menyembunyikan hal ini dariku?!"


Aku lalu melepaskan pelukannya dan memicing kearahnya.


Paman vino tersenyum kecil.


"Paman minta maaf, sama seperti ayahmu! paman menyembunyikan identitas agar tidak ada yang mengetahui tentang siapa paman yang sebenarnya!"


"Dan bahkan keponakanmu sendiri?! bagaimana mungkin paman menyembunyikannya dariku?! akh apa karena memang aku juga bukan keponakan yang diinginkan dalam keluarga ini?!"


"Syeza.....,!!"


"Akh satu lagi! tujuh tahun yang lalu paman tidak ke amsterdam bukan?"


"Paman memang kesana syeza!"


"Benarkah? akh tapi bukan hanya untuk pendidikan bukan"


Paman vino terlihat memejamkan mata sejenak.


"Lebih tepatnya paman kesana untuk sebuah strategi"


"Aakhh ayah dan pamanku memang benar-benar pria yang misterius!!"


"Kau menyesalinya?"


Aku menggeleng pelan lalu kembali memeluknya.


"Aku tau pamanku sudah melakukan yang terbaik! aku hanya ingin meminta maaf karena sudah melupakanmu! akh aku keponakan yang tidak berguna bukan?"


"Huusss jangan bicara seperti itu! kau adalah salah satu orang yang berharga untuk paman!"


Paman vino mengelus kepalaku dengan lembut dan tersenyum kecil.


"Kau masih ingat? saat masih kecil, jika kau dan kakakmu bertengkar dan kau menangis, kau akan mengadu pada paman! dan kau akan berhenti menangis jika sudah berada dalam pelukan paman! dan kakakmu akan meledekmu sebagai gadis kecil yang cengeng dan manja! padahal dibalik ledekannya itu ia merasa cemburu karena kau lebih memilih pelukan paman daripada dia!"


Aku tertawa kecil.


"Apa paman dan kakak pernah bertengkar?"


"Iyh!"


Paman vino mengangguk.


"Ouhh? karena?"


Aku melepaskan pelukanku.


"Mainan!"


Vino tersenyum kecil.


"Aakkh aku tidak menyangka pernah bertengkar dengan keponakanku hanya karena mainan!!"


Aku ikut tersenyum.


"Lalu siapa yang mengalah dan siapa yang menangis?"


"Tentu saja paman yang mengalah!"


"Dan kakak yang menangis?"


Vino mengangguk sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Dan dia akan berhenti menangis jika sudah berada dalam pelukanmu!"


"Ouh?"


"Kakakmu adalah tipe anak yang sulit diberitahu! tapi dia akan menurut jika kau yang bersuara!"


"Sedekat itukah kami?"


"Sangat dekat!"


Vino terlihat menerawang.


"Jika ia sedang sakit, ia hanya membutuhkanmu untuk selalu ada disampingnya dan memelukmu dengan erat! dengan begitu demamnya akan turun! akh kau seperti obat untuknya!"


"Tapi ia yang sekarang berbeda dengan ia yang dulu bukan? ia mengincar nyawaku! bukan kenyamanan yang tercipta diantara kami!"


Aku menunduk dan menahan airmataku.


"Dan jika aku bertanya tentangnya, paman pun tidak akan memberitahuku bukan? pada akhirnya aku sendiri yang harus menemukannya bukan? akh aku ingin sekali bertemu dengannya! tidak peduli sebahaya apa ia sekarang!"


Paman vino hanya terdiam.


...----------------...


Sudah seminggu lebih sejak ayah menceritakan tentang masa lalunya dan hingga hari ini aku memilih untuk mengurung diri dalam kamar bahkan setiap sarapan, makan siang dan makan malam hanya ada ayah, paman vino dan fikral yang dimeja makan, aku tidak ikut makan bersama sehingga selalu diantarkan kekamar oleh asisten.


Ayah pun memilih menyibukkan diri dengan dunia bisnisnya dan yang sering datang mengunjungiku dikamar hanyalah paman vino dan fikral.


Akh ayah bahkan tidak peduli dengan kondisi putrinya!.


"Za?"


"Fikral?"


Aku membuka pintu dan membiarkan ia masuk.


"Kau belum makan malam juga?"


Fikral melirik kearah makanan yang tergeletak diatas meja dan melangkah menghampiriku yang sedang berdiri didepan jendela.


"Aku belum berselera untuk makan"


"Ada apa? masih memikirkan hal itu?"


"Aku hanya merasa bingung dengan ayah!"


"Jangan terlalu difikirkan za! paman hameed mungkin hanya butuh waktu!"


"Kau juga tau fik?"


Fikral tersenyum.


"Paman vino baru menceritakannya kepadaku dua hari yang lalu!"


"Apa kau juga tau siapa kakak laki-lakiku?"


"Paman vino hanya menceritakan tentang masa lalunya paman hameed dan tentang kakakmu tidak pernah disinggung!"


Aku hanya terdiam.


"Oh ya za, aku kesini ingin pamit!"


"Pamit? kau mau kemana?"


"America!"


"America? kau kuliah disana?"


"Iyh za"


"Kenapa jauh sekali?"


"Ahahah kalau jauh kau bisa menyusulku bukan?"


Aku manyun.


"Aakhh aku juga sangat berharap ayah memberiku izin untuk keluar dari rumah ini dan menghirup udara segar diluar sana!"


Fikral tersenyum.


"Sudah, bagaimana kalau kita menelepon mereka yang di jakarta? kau belum menghubungi mereka bukan? mereka pasti menunggu kabar darimu! apalagi si bawel geisha, dia bahkan menanyakanmu 12 x 24 jam!"


Aku tertawa kecil.


Fikral lalu mengambil ponselnya dari kantong celananya dan menghubungi mereka yang di jakarta.


"Kak fikral!! kau kemana saja hah?! kenapa baru menelepon?! dimana kak syeza?! apa kau sudah memberitahu pesanku kepada kak syeza?!"


Suara cempreng milik geisha terdengar begitu nyaring ketika ponsel fikral telah tersambung.


Akh rupanya geisha sudah kembali kepada geisha yang sebenarnya! akh dia gadis yang kuat bukan? semoga kau tetap menjadi gadis yang ceria seperti ini! semoga tak ada lagi tangis!.


"Aaiss!! tidak bisakah kau tidak berteriak?! telingaku sakit mendengar suaramu!!"


Fikral mengomel.


"Tutup telingamu kalau begitu!! aku tidak menyuruhmu untuk mendengarnya!! cepat! mana kak syeza?!"


Geisha terlihat sewot.


"Iyh-iyh!! sebentar!!"


Fikral lalu bergeser sedikit kearahku hingga wajahku ikut terlihat dilayar ponsel fikral.


"Kakaakk!! aku merindukanmu!!"


Geisha berteriak heboh.

__ADS_1


Aku tersenyum.


Didalam layar, terlihat wajah geisha, viera dan fairuz dan juga....,


Akh itu rayhan bukan?.


Rayhan terlihat duduk disofa dan fokus dengan ponselnya.


Akh kenapa tiba-tiba aku jadi merindukannya?.


"Kenapa kau hilang kabar hah?! aku menyuruhmu untuk menghubungiku jika sudah sampai dirumah tapi, sampai hari ini ponselmu bahkan tidak bisa dihubungi! untung ada si cuek fikral!"


Fairuz mengomel.


"Ahahaha aku minta maaf"


Aku nyengir kearah mereka.


"Bagaimana kabar kalian disitu?"


"Baik! sangat baik! oh ya bang, apa al sering ke bascamp?"


"Al? akh pria itu! ia kembali menghilang! semenjak dihari saat kau pulang ke malang hingga hari ini, ia belum pernah muncul lagi di bascamp!"


Aku terdiam.


Kemana kau sebenarnya? apa yang terjadi? apa ada hubungannya dengan pelukanmu waktu itu? akh al kau baik-baik saja bukan?.


"Apa dia juga tidak menghubungimu?"


"Tidak bang!"


"Aaiss pria itu!? kau bagaimana fikral"


"Satu minggu yang lalu ia sempat menghubungiku tapi, sekarang ponselnya tidak bisa dihubungi lagi!"


"Aaiss!! lihat saja nanti, jika sudah bertemu dengannya aku akan menghancurkan rambut yang ia bangga-banggakan itu!!"


Aku tertawa kecil.


"Oh ya aku juga ingin pamit!"


"Kau mau kemana fik?"


Terdengar suara viera.


"America!"


"America? kau kuliah disana?"


Fairuz menimpali.


"Akh kenapa jauh sekali kak? kalau begini, kapan kita akan berkumpul lagi?"


Geisha terlihat sedih.


"Geisha benar fik, aku benar-benar merindukan kebersamaan kita! kalian tau? bascamp sekarang sangat sepi seperti tak ada penghuni saja!"


Fairuz kembali bersuara.


"Akh aku juga merindukan kalian!"


Aku menatap mereka dengan penuh kerinduan.


Akh aku benar-benar merindukan bascamp! merindukan kebersamaan dan persahabatan yang selama ini terjalin! merindukan perdebatan dan pertengkaran diantara mereka! akh kapan lagi? kapan momen itu terulang lagi? semenjak kejadian zidan meninggal hingga hari ini, perlahan-lahan dari kami satu persatu beranjak pergi dan mulai sibuk dengan urusan masing-masing! akh kapan ada momen kami berkumpul bersama lagi?.


"Aaiss!! kenapa kalian jadi melow begini?! sudah-sudah!! ini sudah mulai malam!! lebih baik kalian beristirahat!!"


Fikral bersuara.


Kami semua hanya mengangguk dalam diam dan hanya mampu menyimpan kerinduan itu dalam-dalam hingga pada waktu yang tepat, rindu itu akan terobati.


Setelah sambungannya terputus, fikral lalu menoleh kearahku.


"Aku juga pamit yaa"


"Kau pergi sekarang?"


"Iyh! sepuluh menit lagi!"


Aku seketika memeluknya dan perlahan butiran airmata itu keluar dari pelupuk mataku.


Fikral hanya terdiam, menarik nafas pelan, mengeratkan pelukanku dan mengelus rambutku dengan lembut.


Tak ada kata yang terucap, kami hanya saling menguatkan lewat pelukan.


Fikral lalu melepaskan pelukanku.


"Istirahatlah! ini sudah malam! dan jangan lupa dengan makan malammu!"


Aku hanya tersenyum dan mengangguk.


"Aku menunggumu pulang!"


Fikral tersenyum dan mengangguk.


Fikral lalu memegang kedua pundakku.


"Satu hal yang harus kau tau, aku yakin paman hameed pasti memiliki alasannya kenapa paman tidak ingin kau mengenal kakakmu!"


Aku hanya terdiam.


Fikral tersenyum lalu mengusap kepalaku dan melangkah keluar.


Aku menarik nafas panjang.


Kau benar fik! alasannya adalah karena kakakku sedang mengincar nyawaku!.

__ADS_1


__ADS_2