Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Perihal Melupakan


__ADS_3

Malam yang sunyi, Alghifari terlihat berdiri di depan jendela kamarnya menyaksikan langit malam Kota Landon yang tak kalah indah dengan langit malam Kota New York. Berdiri termenung memikirkan perasaannya yang mungkin sangat sulit untuk di rubah. Jika waktu bisa di ulang kembali ia tak ingin mengenalnya ataupun jika takdir bisa di rubah ia tidak ingin terlahir sebagai kakaknya.


Alghifari terlihat menarik nafas, ini tidak mudah untuknya! Bagaimana caranya ia dengan mudah merubah rasanya menjadi seorang kakak?.


"Al kau belum tidur Nak?" Erlina melangkah masuk menghampiri Al.


"Ibu sendiri? Kenapa belum tidur bu?"


Erlina tersenyum.


"Entahlah! Ibu tiba-tiba memikirkanmu! Ada apa Al? Kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang kau fikirkan?"


"Tidak bu! Tidak ada apa-apa" Jawab Al sambil tersenyum.


"Kau tidak ingin bercerita pada ibu?" Tanya Erlina namun Alghifari hanya terdiam.


"Kenapa kau sangat sulit menerima adikmu? Dan apa yang sudah kau lakukan padanya?"


"Apa maksud ibu?"


"Bekas luka di badannya, apa itu ulahmu?"


"Syeza menceritakan semuanya pada ibu?"


"Tidak!" Erlina menggeleng.


"Adikmu tidak menceritakan hal yang buruk tentangmu! Dia hanya memberitahu ibu bahwa kalian berteman baik! Kau bahkan sangat perduli padanya! Ibu hanya menebak dengan melihat bekas luka di badannya!" Erlina terlihat menarik nafas.


"Ayahmu sangat menjaga adikmu dengan baik! Jadi sangat mustahil jika bekas luka yang ada pada Syeza terjadi karena ayahmu!"


"Ibu akan memarahiku?"


"Tidak! Ibu hanya ingin mendengar pengakuan darimu!"


Alghifari terdiam sejenak lalu mengangguk kecil.


"Iya! Aku yang melakukannya ibu!" Ujar Al dengan suara pelan.


Erlina terlihat memijat kepalanya, ah ia tidak bisa merawat putranya dengan baik!.


"Kenapa ibu tidak memarahiku? Aku menyiksa putri ibu!"


"Karena ibu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada kalian!"


"Apa maksud ibu?"


"Aku bukan ibu yang baik Al! Aku membiarkan putraku menyiksa putriku! Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan hal itu terjadi?!"


"Aku yang salah bu! Aku tidak bisa menahan amarahku!"


"Ibu tahu, kau melakukannya hanya untuk menyelamatkan perasaanmu bukan?"


Alghifari menoleh ke arah ibunya


"Sejak kapan kau menyukai adikmu? Apa sudah lama?"


"Ibu..., ibu tahu?" Alghifari terlihat kaget.

__ADS_1


"Aku ibumu Al!" Erlina menarik nafas.


"Kalau bukan karena kau mencintainya dan hanya karena kesalahanpahaman di masa lalu kau tidak mungkin sangat terluka saat menatap adikmu!"


Alghifari terdiam.


"Ibu...,"


"Heeem?"


"Apa tidak boleh ada pernikahan dalam persaudaraan?"


Erlina tertawa kecil sambil menahan air matanya.


"Kau tahu Al? Kau pernah menanyakan hal ini pada ibumu Elisa saat kau masih kecil!"


Alghifari terlihat mengkerutkan alis.


"Mau ibu ceritakan kisah masa kecilmu?"


Alghifari hanya mengangguk kecil.


Erlina lalu mulai menceritakan masa kecil putranya.


~Flashback 15 Tahun Lalu


"Ibu..., ibu...!" Si kecil Al berlari kecil menghampiri Elisa yang sedang duduk merajut di sofa.


"Ada apa putraku? Apa ada sesuatu?"


"Al ingin menanyakan sesuatu bu"


Si kecil Al mengangguk antusias.


"Eeemm baiklah! Kemarilah!" Elisa lalu menggendong putranya di atas pangkuannya.


"Apa yang ingin kau tanyakan hem?"


"Apakah Al boleh mencintai dan menyayangi Yeza?"


Elisa tersenyum lalu mengusap kepala putranya dengan lembut.


"Tentu saja boleh! Yeza adalah adik Al dan Al adalah kakak Yeza! Adik kakak harus saling menyayangi, mencintai dan saling melindungi satu sama lain"


"Kalau begitu apakah Al juga boleh menikahi Yeza?"


"Eeh?" Elisa terlihat kaget lalu menoleh ke arah Erlina yang sedang menyisir rambut si kecil Syeza. Erlina hanya mengangkat bahu dan tertawa kecil.


"Al..., dengarkan ibu baik-baik!" Elisa kembali mengusap rambut putranya.


"Al memang boleh mencintai dan menyayangi Yeza tapi, Al tidak boleh menikahinya"


"Kenapa tidak boleh ibu? Bukankah Al boleh mencintai Yeza? Lalu kenapa tidak boleh menikahinya?"


"Yakh!! Apa kau tidak mendengar apa yang di katakan ibu?! Aku dan kau adik kakak! Dan tidak ada pernikahan dalam persaudaraan!" Si kecil Syeza menimpali ucapan sang kakak.


Si kecil Al terlihat mengkerutkan alis dan menatap Elisa penuh tanya.

__ADS_1


Elisa tersenyum.


"Adikmu benar Al! Tidak ada pernikahan dalam persaudaraan"


"Tapikan..., ibu dan ibuku saja memiliki satu suami! Bukankah ibu adalah adiknya ibuku? Ibuku sering memanggil ibu dengan panggilan adik bukan? Lalu kenapa Al tidak boleh menikahi Yeza? Yeza juga adik Al sama seperti ibu yang adiknya ibuku!" Ujar Si kecil Al yang membuat Elisa dan Erlina hanya tertawa kecil.


"Dengan menikahi Yeza Al akan selalu berada di samping Yeza dan menjaganya dengan baik!"


"Yakh!! Kau akan terus menempel padaku meskipun nanti aku sudah menikah?!"


"Apa maksudmu?! Kau hanya akan menikah denganku!!" Si kecil Al menatap adiknya dengan sinis.


"Aaahh ibu!! Aku tidak ingin menjadi istri kak Al!! Aku hanya ingin menjadi adiknya!!" Si kecil Syeza menangis. Erlina tertawa kecil lalu memeluk putrinya.


"Tidak sayang, hal itu tidak akan terjadi! Selamanya kau akan tetap menjadi adiknya!" Ujar Erlina menenangkan putrinya.


"Ibu kenapa Yeza menangis? Apa Yeza tidak ingin aku menjaganya?" Tanya Si kecil Al dengan raut wajah sedih.


"Tidak sayang!" Elisa lalu menatap putranya dengan senyuman.


"Al akan selalu menjaga Yeza! Tapi Al juga harus ingat, Al menjaga Yeza sebagai seorang kakak!"


"Maksud ibu Al boleh menjaga Yeza selamanya tapi sebagai seorang kakak bukan sebagai seorang suami?"


"Eeem iya!" Elisa mengangguk


"Itu artinya selamanya juga Al tidak boleh menikahi Yeza?"


"Iya! Karena Al adalah kakaknya Yeza!"


"Tapi Al akan selalu berada di samping Yeza sebagai seorang kakak bukan?" Tanya Si kecil Al memastikan bahwa ia akan selalu bersama dengan adiknya.


"Eeemm tentu saja!"


"Baiklah! Kalau begitu Al akan selalu melindungi Yeza hingga Al besar nanti!"


"Jangan hanya hingga kau besar nanti tapi, selamanya! Hingga kau menutup mata!" Si kecil Syeza yang sedang menangis menimpali ucapan kakaknya.


"Katakan saja jika kau memang ingin terus aku lindungi!" Jawab si kecil Al membuat adiknya memutar bola mata malas.


Erlina dan Elisa hanya tertawa kecil menyaksikan perdebatan anak-anak mereka.


~Flashback End


Alghifari terlihat menarik nafas setelah mendengar cerita dari sang ibu. Ia terlihat tertawa kecil, ah ia tidak menyangka bagaimana mungkin sejak kecil ia memiliki pemikiran seperti itu.


"Al...," Erlina mengusap punggung putranya.


"Ibu tahu ini tidak mudah untukmu! Kau pasti kesakitan dengan hal ini! Tapi ibu mohon, perlahan-lahan belajarlah menghilangkan rasa itu karena semakin kau membiarkan ia tumbuh kau akan semakin menemukan luka nak! Sembuhkan lukamu secepatnya agar ia tidak merambat pada anggota tubuhmu yang lain! Setelah sembuh, kau akan baik-baik saja! Semuanya akan membaik!"


"Ibu..., boleh Al meminjam bahumu?" Tanya Al dengan suara parau.


Erlina mengangguk kecil sambil tersenyum, Al lalu membenamkan wajahnya di bahu sang ibu.


"Ibu..., Al terlalu mencintainya! Al sudah terlalu dalam menaruh rasa padanya hingga Al kesulitan untuk menghapusnya! Rasanya sakit saat Al harus terpaksa melupakan semua perasaan Al kepadanya!" Alghifari menahan tangisnya.


"Al harus bagaimana ibu? Bagaimana jika Syeza tahu hal ini?! Dia pasti akan sangat membenci Al!"

__ADS_1


"Tidak sayang! Syeza pasti akan mengerti!!" Erlina mengusap-ngusap punggung putranya berusaha untuk menenangkannya.


Pada akhirnya ia dan Syeza layaknya seperti purnama yang terpantul dalam air! Sekilas terlihat sangat dekat, serasi dan indah! Tapi pada kenyataannya, mereka sangat jauh dan takkan bersatu!.


__ADS_2