
Syeza menatap rumah yang ada di depannya lalu melirik ke arah kertas yang ia di pegang, memastikan alamatnya benar.
"Bagaimana caranya agar aku bisa masuk?"
Syeza terlihat bingung dan hendak memeriksa pintu pagar namun, ia terlihat kaget saat mendapati pintu pagarnya yang tidak di kunci.
Perlahan ia membuka pintu pagar lalu melangkah masuk. Ah dalam ingatannya, rumahnya tidak berubah masih sama seperti lima belas tahun yang lalu.
Syeza juga terlihat bingung saat mendapati sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Ada orang disini? Siapa yang menempatinya? Paman mengatakan rumah ini belum di jual oleh ayah dan tidak berpenghuni"
Syeza yang merasa penasaran langsung melangkah hendak membuka pintu rumah namun, tangannya terhenti saat pintu terbuka dari dalam dan seorang wanita yang berusia 50-an melangkah keluar.
Syeza terdiam, ah ia mengingat wajah wanita inj, ia mengenalinya dengan baik.
"Syeza?" Tanya wanita itu dengan suara lirih.
"Benarkah kau Syeza?" Matanya berkaca-kaca.
Syeza hanya mengangguk kecil.
"Aaahh putriku!!" Wanita itu dengan spontan memeluk Syeza dengan erat, ia bahkan menangis.
"Putri ibu! Kau baik-baik saja?!" Ia melepaskan pelukannya dan mengusap rambut putrinya dengan lembut.
Syeza hanya terdiam.
"Akh kau pasti kebingungan bukan?" Ujar wanita itu tersenyum kecil.
"Tidak!" Jawab Syeza sambil menggeleng.
"Kau mengenalku?"
"Iya! Aku masih mengingat dengan baik wajah ibu! Ketika ibu tersenyum terlihat sangat mirip dengan senyum Kak Al!" Ujar Syeza menahan air matanya.
"Aku..., aku hanya kebingungan apakah ini hanya mimpi? Aku masih tidak percaya bahwa ibuku sedang berdiri di depanku! Hiks..., hiks..., hiks" Syeza tertunduk dan menangis
"Tidak sayang! Ibumu sekarang benar-benar ada di depanmu!" Erlina kembali memeluk putrinya menenangkan ia dalam pelukannya.
"Aku...., aku merindukanmu ibu!"
Erlina mengangguk-ngangguk sambil mengusap punggung putrinya dengan lembut.
"Ayo masuk!" Setelah tenang Erlina lalu mengajak putrinya masuk, Syeza menghapus air matanya lalu duduk di sofa.
"Minumlah" Syeza mengangguk lalu mengambil minum dari tangan ibunya dan meneguknya pelan.
"Kapan kau datang? Kau sudah lama berada disini?"
Tanya Erlina, ia lalu mengambil minum dari putrinya lalu menyimpannya di atas meja.
"Tidak ibu! Aku baru dua hari disini"
"Kau tinggal dimana?"
"Di hotel"
"Lalu ayah dan pamanmu dimana?"
"Aah itu, aku meninggalkan mereka!"
"Meninggalkan mereka? Apa maksudnya?" Erlina terlihat bingung
"Ayah dan paman tidak tahu keberadaanku!"
"Kau kabur dari rumah?" Syeza menggeleng
"Tidak ibu! Aku meminta izin pada ayah untuk memberiku waktu sendiri lalu, aku menghilang dari mereka!"
"Aaahh apa yang terjadi?"
"Banyak ibu! Ayah menyembunyikan banyak hal dariku!"
"Kau sudah mengetahuinya?"
"Ouh? Ibu juga tahu?"
"Eemm iya! Sebelum ayahmu dan ibu hilang komunikasi ayahmu sempat memberitahu ibu bahwa dia menyembunyikan banyak hal kepadamu! Ibu juga menyuruhnya untuk memberitahu yang sebenarnya, ibu tidak menyangka ayahmu baru memberitahumu sekarang!" Erlina tersenyum kecil.
Syeza hanya terdiam.
"Tapi ibu bersyukur kau belum bertemu dengan kakakmu!"
"Aku sudah bertemu dengannya!"
"Apa?!" Erlina terlihat kaget.
"Kami sekolah di sekolah yang sama, kami bahkan sekelas!" Syeza tersenyum.
"Kau baik-baik saja?! Dia tidak melakukan apapun yang menyakitimu bukan?!" Erlina terlihat khawatir
"Tidak ibu! Kami berteman dengan baik! Dia bahkan sangat perduli kepadaku!" Ujar Syeza.
Ia tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Aaahh syukurlah!" Erlina terlihat lega
Syeza hanya tersenyum kecil.
"Lalu apakah Al sudah mengetahui bahwa kau adalah adiknya?" Syeza hanya mengangguk
"Kalian baik-baik saja? Kau juga tahu bukan? Kakakmu mengincar nyawamu dan dia seorang...,"
"Psikopat!" Sambung Syeza sambil tersenyum
"Kau juga tahu nak tentang hal itu?"
"Iya ibu! Aku bahkan pernah menyaksikan secara untuk kak Al melakukan aksinya!" Syeza hanya nyengir
"Apa yang terjadi? bagaimana bisa?"
"Awalnya kak Al hanya ingin menyalurkan keinginannya untuk membunuh! Aku mengikutinya lalu menyaksikannya secara langsung! Tapi aku juga yang membantunya menahan keinginannya!" Syeza tersenyum
"Dia tidak melukaimu bukan?"
__ADS_1
"Hampir! Tapi semuanya baik-baik saja!" Syeza tertawa kecil.
"Aaahh syukurlah! Lalu bagaimana hubungan kalian setelah mengetahui kebenarannya? Baik-baik saja?"
Syeza menggeleng kecil.
"Aku rasa kak Al belum bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah adiknya! Aku tidak mengerti apa alasannya tapi, aku juga yakin hal ini pasti sangat berat untuk kak Al! Aku percaya perlahan kak Al pasti akan menerimanya dengan baik!" Syeza tersenyum getir
"Aaahh kau tidak perlu khawatir kakakmu hanya butuh waktu!" Erlina tersenyum lalu menggenggam tangan putrinya.
Syeza tersenyum dan mengangguk.
"Lalu ibu bagaimana? Ibu selama ini tinggal disini?"
"Aah ibu baru sebulan ada disini! Sebelumnya ibu ada di pulau terpencil milik Al!"
"Kak Al mendekap ibu disana?! Ibu tidak apa-apa?! Ibu baik-baik saja bukan?! Kak Al tidak menyakiti ibu kan?!" Syeza terlihat khawatir lalu meraba tubuh ibunya memastikan ibunya baik-baik saja.
"Ahaha tidak sayang! Kakakmu sengaja membawa ibu tinggal disana agar tidak di temui oleh ayahmu!"
Syeza terlihat menghembuskan nafas lega.
"Lalu kakek? Apakah kakek masih tinggal di rumahnya? Tadinya aku ingin menemuinya di rumah tapi, aku masih ragu bagaimana cara menghadapinya setelah bertahun-tahun!" Syeza tertawa kecil.
"Kakekmu sudah meninggal dua bulan yang lalu!"
"Hah?! Apa maksud ibu?"
"Itulah sebabnya ibu ada di rumah ini! Kakekmu stroke stadium akhir, tubuhnya tidak bisa di gerakkan! Ia mampu berbaring di tempat tidur! Setelah kakekmu meninggal kakakmu menyuruh pengawalnya untuk melepaskan ibu!"
"Kak Al pulang ke landon saat kakek meninggal?"
"Ia pulang sehari sebelum kakekmu meninggal! Kakekmu yang memintanya untuk menemuinya! Ia meminta kakakmu untuk membawamu menemuinya, kakakmu sangat marah karena kakekmu setiap hari selalu meminta bertemu denganmu! Tapi setelah kakekmu meninggal kakakmu sangat frustasi, setelah pemakaman ia mengurung diri dalam kamarnya selama tiga hari!"
"Setelah itu ia bergegas pulang ke Indonesia! Ia juga tidak menemui ibu padahal biasanya jika ia datang, ia pasti selalu menemui ibu meski tak ada obrolan dan hanya menatap dari jauh!"
Syeza hanya terdiam lalu mengusap air matanya.
"Bolehkah aku menemui kakek?"
"Tentu saja! Tapi jika ibu boleh meminta, maukah kau menunggu hingga Al datang? Biarkan ia yang nanti membawamu menemui kakekmu, meski sangat terlambat setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahnya"
"Eemm baiklah, aku akan pergi bersama kak Al nanti"
Erlina tersenyum lalu mengusap rambut putrinya.
"Maafkan ibu nak!" Ujar Erlina
"Kenapa ibu meminta maaf?" Syeza balas menggenggam tangan ibunya.
"Jika saja ibu mempercayai ibumu semuanya akan baik-baik saja! Keluarga kita tidak akan berpisah, ibumu pun pasti masih hidup! Kau dan kakakmu juga akan baik-baik saja! Semua ini karena kesalahan ibu!"
"Ibu..., ibu tidak bersalah dalam hal ini! Semuanya terjadi di luar kendali kita! Yang terpenting sekarang semuanya akan baik-baik saja dan kita akan berkumpul kembali!"
Erlina mengangguk dan tersenyum kecil.
"Aku akan menelepon ayah!"
"Kau mau memberitahu ayahmu?"
"Eeem iya! Sudah cukup aku memberinya pelajaran!"
"Hallo Syeza!! Kau ada dimana?! Kau baik-baik saja?! Ayah dan kakakmu pergi menemuimu di markaznya di Jakarta tapi, kau tidak ada disana! Kami hanya menemukan bekas kamar yang kau gunakan! sebenarnya kau ada dimana?! Katakan pada ayah!!Kenapa malah menghilang?!"
Elhameed berbicara panjang lebar saat teleponnya tersambung.
"Kakak tenanglah! Pelan-pelan! Syeza akan kebingungan menanggapinya!" Vino yang sedang berdiri di samping kakaknya berusaha menenangkannya yang terlihat gelisah.
Syeza hanya tertawa kecil.
Elhameed terdengar menarik nafas dalam-dalam.
"Ayah minta maaf atas segala hal yang terjadi! Ayah tidak akan merahasiakan apapun lagi darimu! Katakan kau ada dimana nak?"
"Landon!"
"Landon?!" Elhameed terlihat kaget
"Iya! Aku sekarang ada rumah ayah bersama ibu!"
"Hah?! Rumah bersama ibumu?!"
"Iya ayah! Dengarkan!" Syeza lalu menyodorkan ponselnya ke arah depan meminta ibunya untuk bersuara.
"Meed...,"
"Er..., Erlina?" Elhameed terperanggah saat mendengar suara lembut yang memanggilnya dengan lirih.
"Syeza kau sungguh bersama dengan ibumu?!"
"Aku tidak berbohong ayah!"
"Aaahh baiklah! Kalian tunggulah disana! Tunggu, ayah bersama paman dan kakakmu akan menyusul kesana!"
"Baiklah!" Syeza tersenyum lalu mematikan ponselnya begitu saja saat ayahnya hendak berbicara lagi.
Erlina terlihat kecil melihat putrinya yang menggodai ayahnya.
"Ah sikapnya sangat mirip denganmu Elisa!" Batin Erlina
...----------------...
"Vino bersiaplah! Minta Al untuk bersiap juga!"
"Baik kak!"
Elhameed tersenyum bahagia lalu melangkah pergi.
"Paman ada apa dengan ayah?" Tanya Al yang baru saja datang.
"Aakh ayahmu sedang bahagia!" Ujar Vino sambil tersenyum
"Bahagia?!" Tanya Al bingung
"Eeem! Kau juga harus segera bersiap!" Vino memukul pundak Al lalu melangkah pergi
__ADS_1
"Bersiap untuk apa paman?!" Tanya Al sambil mengejar langkah pamannya.
"Kita akan ke Landon!"
"Landon?! Untuk?!"
"Menemui ibu dan adikmu!"
"Hah?!" Langkah Al terhenti
"Ada apa Al?!" Vino ikut menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Al.
"Ayah dan paman saja! Aku akan menunggu disini!"
"Tidak Al! Kita akan pergi bersama!"
"Bolehkah aku tidak perlu ikut?!" Tanya Al dengan suara lirih.
Vino lalu melangkah mendekati Al dan memegang kedua pundaknya.
"Al paman tahu ini masih berat untukmu! Tapi bagaimana pun juga kau harus menghadapinya!" Ujar Vino menepuk pundak Al pelan lalu melangkah pergi.
Alghifari terlihat menarik nafas panjang.
...----------------...
Alghifari duduk termenung dalam jet yang membawanya terbang menuju hati yang belum siap ia temui, hati yang seharusnya tak ia cintai sehingga membuatnya menemukan luka sesakit ini.
Alghifari terlihat menarik kasar dan mengusap wajahnya.
"Ada apa denganmu putraku? Ayah perhatikan daritadi kau sangat gelisah! Apa ada sesuatu yang kau fikirkan?" Elhameed menepuk pundak putranya lalu duduk di sampingnya.
Alghifari hanya menoleh sejenak ke arah sang ayah lalu menatap ke arah langit malam Landon yang mulai kelihatan.
"Akh hanya tinggal beberapa menit lagi!! Tenanglah Al!!" Batin Alghifari
Elhameed tersenyum saat melihat putranya yang kembali terlihat sangat gelisah.
"Al dengar! Apapun yang kau gelisahkan, apapun yang kau gundahkan, semuanya akan terobati jika kau belajar menerima takdir dengan lapang! Dan ingat, tidak semua takdir itu menyakitkan!"
Elhameed lalu beranjak berdiri.
"Bersiaplah! Kita sudah sampai!"
"Ayah!" Al menahan tangan ayahnya yang hendak melangkah keluar.
Elhameed menoleh, Alghifari hanya terdiam dengan tangannya yang masih menggenggam tangan ayahnya.
"Turunlah! Ibumu dan adikmu sudah menunggu!"
Elhameed melepaskan genggaman putranya lalu melangkah keluar.
Alghifari duduk termenung, ia lalu melirik ke arah luar terlihat jelas jetnya sudah bersandar di atas rooftop rumah ayahnya. Ia kembali menarik nafas lalu beranjak dan melangkah keluar
...----------------...
Syeza tersenyum lalu membukakan pintu menyambut tiga orang pria terpenting dalam hidupnya. Terlihat jelas Elhameed berdiri dengan senyum penuh bahagia, lalu melangkah masuk di ikuti oleh Vino dan Alghifari. Erlina ikut tersenyum lalu berjalan ke arah Elhameed dan mencium tangannya dengan lembut dan sangat lama, air matanya bahkan mengalir, Elhameed tersenyum lalu mengusap kelapa Erlina dengan lembut Erlina mendongak menatap Elhameed, terlihat jelas kerinduan yang mendalam yang bertahun-tahun lamanya terpendam. Elhameed lalu mencium kening Erlina dengan penuh cinta, ah kerinduan yang tak perlu di ucapkan dengan kata-kata, cukup dengan ciuman tangan yang lembut, di balas dengan ciuman kening yang penuh cinta dan tatapan mata yang menyimpan kerinduan, membuat rasa itu tersalurkan kepada sang pemilik rindu.
Erlina lalu menoleh ke arah Vino yang berdiri di samping suaminya.
"Vino...," Panggil Erlina sambil menggenggam tangan adiknya.
Mata vino berkaca-kaca, ia lalu memeluk kakaknya dengan erat, Erlina menangis lalu menepuk punggung adiknya dengan lembut.
"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kak?" Tanya Vino sembari melepaskan pelukannya.
"Eeem kakak baik-baik saja! Akh kau sudah sedewasa ini!" Erlina tersenyum menatap adik satu-satunya yang tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan.
Erlina beralih menatap putranya yang berdiri di belakang suami dan adiknya.
"Al...," Panggil Erlina
Alghifari mendongak menatap sang ibu dengan rasa bersalah.
"Kemarilah!" Erlina merentangkan kedua tangannya menyambut putranya dalam pelukannya.
Alghifari perlahan berjalan mendekati ibunya lalu memeluknya dengan erat.
"Maaf..., maafkan Al bu! Maaf..., Al minta maaf" Ujar Al dengan suara lirih.
"Sudah, jangan terlalu di fikirkan! Biarkan hal yang berlalu tetap berlalu!" Ujar Erlina sambil mengusap punggung putranya.
Alghifari mengangguk lalu melepaskan pelukannya.
"Syeza kau tidak ingin memeluk ayah?" Celetuk Elhameed saat melihat putrinya yang hanya berdiri diam.
"Tidak ayah! Aku hanya ingin memeluk pamanku!" Ujar Syeza sambil tersenyum lalu memeluk pamannya.
"Elhameed hanya tertawa kecil.
"Paman kau baik-baik saja? Ayah tidak membuatmu kewalahan bukan?" Vino hanya tertawa kecil lalu mengangguk dan mengusap rambut keponakannya.
"Ayah membuatnya kewalahan pun itu karenamu!" Sambung Elhameed.
Syeza hanya memutar bola mata malas.
"Al kau tidak ingin menyapa adikmu?" Tanya Erlina yang melihat putranya hanya berdiri diam.
Alghifari tak merespon, ia hanya melihat sekilas lalu membuang muka.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat sesakit itu menatap adiknya?" Batin Erlina
"Al?" Erlina menyentuh tangan putranya.
"Biarlah Lin, mungkin mereka butuh waktu untuk mengobrol berdua!" Bisik Elhameed
Erlina hanya mengangguk lalu melepaskan tangannya.
"Ah Al, Kau belum bisa menerima aku? Kenapa? Apa sebenarnya alasannya?" Batin Syeza, ia terlihat menarik nafas.
Mereka lalu duduk di sofa.
"Ayah bersyukur akhirnya kita bisa berkumpul kembali setelah sekian tahun! Mari, lupakan segala hal yang terjadi dan memulai dengan lembaran baru! Mulai sekarang ayah menjaga kalian dengan baik!" Ujar Elhameed dengan bahagia.
"Sekarang istirahatlah! Sudah malam, besok kita akan mengobrol lagi untuk rencana ke depannya!" Sambung Erlina
__ADS_1
Vino dan kedua keponakannya hanya mengangguk.
Mereka lalu masuk ke kamarnya masing-masing, begitu pun dengan Al dan Syeza, mereka berjalan beriringan menuju kamar karena kamar mereka berdua yang berdampingan, tak ada sapaan! Mereka hanya berjalan tanpa bersuara.