Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Pertemuan


__ADS_3

"Ayah...," Syeza perlahan berjalan menghampiri sang ayah yang sedang duduk sendiri di taman rumah


"Kemarilah!" Elhameed tersenyum menyambut putrinya untuk duduk di sampingnya. Syeza ikut tersenyum lalu duduk di samping sang ayah


"Bagaimana dengan lukamu? Sudah membaik?"


"Eemm iya ayah, hanya ada beberapa bekasnya yang masih tersisa"


"Maafkan ayah membiarkan kau terlalu lama bersamanya! Ayah fikir dengan memberi kalian waktu untuk berbicara dengan baik-baik akan bisa membantu kalian tapi, ayah tidak mengira bahwa hal ini akan terjadi! Alghifari benar-benar diluar dugaan ayah! Ah harusnya ayah tidak mempercayainya!"


"Tidak ayah! Ayah tidak bersalah dalam hal ini! Lagi pula kak Al seperti itu karena dia belum bisa menerima kenyataannya! Aku tidak tahu tapi aku rasa hal ini berat untuk kak Al"


"Dia belum bisa menerimamu?" Elhameed menatap putrinya.


Syeza hanya mengangguk.


"Aku tidak tahu kenapa kak Al begitu terluka dengan kenyataan ini! Ayah tahu? Sebelum kak Al tahu aku adalah adiknya dia sangat peduli padaku! Aku tidak peduli dengan bekas luka yang ada di tubuhku tapi, kenapa kak Al harus seterluka itu?! Kenapa kak Al sangat terluka bahwa aku adalah adiknya?!"


"Syeza...,"


"Ayah! Banyak hal yang ayah sembunyikan juga dari aku! Ayah tahu? Ayah bagiku sama seperti orang lain! Misterius!" Ujar Syeza dengan suara purau membuat Elhameed terdiam.


"Ayah yang tidak menginginkan aku kembali mengingat tentang kecelakaan ibuku!! Ayah yang menyembunyikan identitas paman dariku!! Ayah yang menyembunyikan keberadaan kakak dan ibu keduaku!!Ayah yang berpura-pura menjadi orang lain dan juga menyembunyikan tentang diriku!! Ayah juga yang mengirimku ke asrama dan di jaga dengan ketat hingga mengirim Fikral dan Zidan!! Akh siapa Fikral dan Zidan sebenarnya?! Aku bahkan tidak tahu asal usul mereka! Ayah tidak perduli pada mereka bukan?! Ayah tidak perduli dengan kematian Zidan!! Apakah ayah tahu bagaimana terlukanya Geisha saat kehilangan Zidan?!"


"Syeza apa....,"


"Apakah smua itu di lakukan agar kak Al tidak menemukan diriku?! Atau agar aku tidak perlu mencaritahu tentang mereka?!" Syeza memotong ucapan ayahnya


"Tapi lihat ayah! Bukankah ayah yang membuat kak Al menemukanku?! Akh tidak!! Tapi ayah yang membiarkan aku bertemu kak Al bukan?! Ayah pasti mengenali wajah putra ayah kan?! Jika tidak ingin aku mengetahui tentang mereka, jika memang itu berbahaya untukku kenapa membiarkan kak Al berada di sekitarku?! Ayah bahkan membiarkan kami berteman baik!! Apa..., apa ayah ingin kak Al lebih dulu mengenaliku?! Apa yang sebenarnya ayah inginkan?!!" Mata gadis itu mulai memerah, matanya terasa perih tapi ia tidak ingin menangis di hadapan sang ayah.


"Syeza ayah melakukannya demi kebaikanmu! Ayah hanya tidak ingin kau kenapa-napa!"


"Dengan cara menjadi misterius untuk putrimu? dan mengorbankan perasaan putrimu yang lain?" Syeza menghapus air matanya yang menggantung di ujung mata


"Ayah..., ibuku bukan perempuan seperti itu! Dia bukan tipe perempuan yang ingin menghancurkan keluarga orang lain! Jika saja ayah tidak menikahi ibuku dan aku terlahir menjadi putri orang lain hal seperti ini tidak akan terjadi bukan?!" Ujar Syeza dengan suara pelan


"Syeza, kau adalah putri berharga ayah! Begitu pun dengan kakakmu, dia adalah putra berharga ayah! Dan juga kedua ibu kalian, mereka adalah wanita yang ayah cintai! Kalian adalah orang-orang berharga ayah! Kalian kekuatan ayah!" Elhameed lalu menggenggam tangan mungil putrinya


"Untuk menghadapi kakakmu yang notabenenya adalah seorang CEO dan juga psikopat ayah harus memiliki beberapa trik! Itu juga adalah salah satu cara ayah menemukan dia dan ibumu"


Syeza hanya terdiam dan menunduk. Ah sepertinya pembicaraannya yang panjang lebar menyinggung perasaan ayahnya.


"Ayah, aku ingin menyendiri!"


"Menyendiri?"


Syeza hanya mengangguk


"Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri!"


"Kemana?"


"Kemana pun!"


"Tapi Syeza...,"


"Ayah aku meminta izin kepadamu! Tolong biarkan aku pergi sebentar! Lagi pula kemana pun aku pergi ayah pasti akan tahu dimana tempat tujuanku bukan?"


"Baiklah, ayah akan meminta pamanmu untuk menyiapkan jetnya"


"Tidak ayah! Aku akan pergi dengan menggunakan pesawat penumpang! dan kalian tidak perlu mengantarku ke bandara!"


Elhameed terdiam sejenak lalu mengangguk kecil.


Ah mungkin saatnya untuk memberi kepercayaan penuh pada putrinya, kini ia sudah tumbuh dewasa.


...----------------...


Alghifari berdiri termenung di depan gerbang, ia memandangi bangunan megah yang berdiri tegak di depannya dengan seksama, bangunan ini tak kalah menarik dengan mansionnya. Rupanya ia dan sang ayah memiliki selera yang sama! Akh pada akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi pria itu, pria yang meninggalkannya lima belas tahun yang lalu! Ia tidak datang untuk meminta belas kasihan tapi, hanya ingin meminta penjelasan tentang kejadian lima belas tahun yang lalu.


"Sha, kau pernah kesini?" Tanya Al


"Eem iya! Aku sering kesini! dan aku masih saja kagum dengan bangunan megah ini!" Ujar Geisha tersenyum kecil lalu melangkah masuk di ikuti oleh Alghifari.


"Selamat datang Nona Geisha!" Para pengawal menyapa Geisha.


Geisha hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Ah ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini!.


Alghifari terlihat kaget saat para pengawal itu menundukkan kepala saat melihatnya yang berjalan di belakang Geisha.


Ah rupanya mereka sudah tahu bahwa yang sedang datang bersama Geisha adalah CEO terkaya kedua di seluruh dunia dan sekaligus putra dari Tuan Besar mereka.


"Sha, menurutmu kenapa mereka semua menundukkan kepala?" Alghifari berbisik ke arah Geisha


"Yakh kak!! Seharusnya aku yang bertanya kepadamu! Bukankah ini hal yang lumrah dalam duniamu?"


"Aku tahu! Tapi, ini artinya kalau mereka tahu bahwa....,"


"Iya benar!" Potong Geisha


"Pasti mereka sudah mengetahui bahwa kau adalah putranya Paman Hameed!"


"Akh benarkah?" Alghifari terlihat membuang muka.


"Katakan saja kalau memang kau bahagia! Kenapa harus menyembunyikannya?!"


"Tidak!! Siapa yang mengatakan aku bahagia?!"


Geisha hanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Paman Vino!" Geisha memanggil Vino saat melihat pria itu yang berjalan tergesa-gesa.


"Geisha?!" Vino terlihat kaget lalu berjalan menghampiri Geisha


"Kau ada disini? Kenapa tidak memberitahu jika datang? Aku bisa menyuruh pengawal untuk menjemputmu"


"Ahaha tidak masalah paman! Lagi pula aku sudah ada pengawalnya" Geisha tersenyum kecil


"Kak Al! Apa yang kau lakukan?! Kenapa berdiri di belakangku?!"


"Ekhem!" Alghifari hanya berdehem lagu bergeser berdiri di samping Geisha.


Vino tertawa kecil lalu melirik ke arah Al namun, pria itu terlihat membuang mukanya.


"Akh rupanya kau masih marah pada paman!" Batin Vino


"Akh ayo! Kak Hameed ada di aula" Ujar Vino lalu melangkah pergi di ikuti oleh Geisha dan Al.


"Ah paman! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata paman adalah adik iparnya Paman Hameed!" Geisha membuka suara saat suasana di antaranya terlihat hening karena dua orang pria yang berjalan di sampingnya terlihat saling cuek.


Vino hanya tersenyum kecil.


"Hanya seperti itu responnya?! dan kak Al hanya diam?!" Batin Geisha


"Paman, bagaimana kabar kak Syeza?"


"Syeza?" Vino tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Al dan Geisha pun ikut menghentikan langkah.


"Ada apa paman? Kak Syeza baik-baik saja kan?" Tanya Geisha gelisah


"Iyh dia baik-baik saja! Hanya saja, Syeza sedang tidak ada disini!" Jawab Vino lalu kembali melangkah


"Tidak ada disini?!" Ujar Geisha pelan


"Apa maksudmu paman?!" Tanya Geisha


"Kakak!!" Vino yang berjalan cukup jauh di depan melangkah menghampiri Elhameed yang terlihat gelisah.


"Vino? Bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasi tentang keponakanmu?"


"Belum kak! Aku sudah mengecek daftar nama penumpang di seluruh bandara tapi tidak menemukan nama Syeza!"


"Lalu kemana dia pergi?! Bukankah dia mengatakan akan menaiki pesawat penumpang?!" Elhameed terlihat khawatir


"Tenanglah kak! Hanya ada dua kemungkinan! Jika memang Syeza memutuskan untuk ke Luar Negeri itu artinya dia menyamar menggunakan identitas palsu! Jika tidak maka, Syeza masih berada di Indonesia!"


"Kalau begitu suruh tim untuk mengecek CCTV di seluruh jalanan! Jangan sampai kehilangan jejaknya!"


"Kak, bukankah kakak sudah mempercayainya dengan memberinya izin? Aku tahu kakak khawatir tapi Syeza sudah dewasa! Dia hanya ingin menyendiri dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun! Aku yakin kak, nanti Syeza pasti akan menghubungi kita" Vino menatap kakaknya dengan seksama.


"Tolong beri ia kepercayaan penuh! Jika kakak memutuskan untuk mencarinya itu artinya kakak tidak mempercayainya! dan Syeza pasti akan sangat kecewa!"


"Kakak ada yang sedang menunggumu"


"Menungguku? Siapa?"


"Disana!" Vino menunjuk ke arah Alghifari dan Geisha yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.


"Paman!" Geisha tersenyum lalu melangkah menghampiri Elhameed.


Elhameed balas tersenyum lalu menyambut Geisha dalam pelukannya.


"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?" Tanya Elhameed sembari melepaskan pelukannya.


"Eemm! Aku baik-baik saja paman!" Jawab Geisha sambil tersenyum


Elhameed ikut tersenyum lalu mengusap rambut Geisha dengan lembut. Ah ia juga memiliki beberapa kesalahan pada gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri dengan tidak menjaga Zidan dengan baik.


"Aku membawa kejutan untuk paman!"


Elhameed tersenyum dan mengangguk.


"Vino akan meminta asisten untuk menyiapkan kamar untukmu"


"Akh tidak perlu paman! Aku akan langsung pulang ke Jakarta"


"Kau langsung pulang?!" Tanya Al kaget


"Eem! Kita sudah berjanji, aku hanya akan mengantarmu bertemu paman!" Jawab Geisha menoleh ke arah Al


"Tapi tidak harus langsung pulang bukan?!"


"Aku harus pulang Al! Aku sudah berjanji untuk tidak pergi jauh darinya!" Ujar Geisha tersenyum.


"Paman, aku harus segera pulang" Geisha lalu menoleh ke arah Elhameed


"Eem baiklah, hati-hati!"


"Iya paman!"


"Ayo! Salah satu supir akan mengantarmu!" Ujar Vino


"Akh paman tidak...,"


"Tidak ada penolakan!" Potong Vino lalu melangkah pergi.


Geisha lalu terdiam sejenak, Ah kata-kata yang baru saja keluar adalah kata yang di ucapkan Zidan saat ia bilang akan menjadi salah satu dari sahabat mereka. Geisha tersenyum getir.


"Ah Zidan, hal tentangmu masih menjadi candu untukku!" Batin Geisha

__ADS_1


"Geisha?" Vino menoleh saat mendapati Geisha yang tak mengikutinya.


"Ah iya paman!" Geisha lalu melangkah mengikuti Vino


...----------------...


Alghifari hanya berdiri diam menatap dengan penuh amarah ke arah pria yang juga menatap ke arahnya.


Tak ada yang memulai obrolan, ah mereka terlihat sedikit canggung.


Sesekali Al membuang muka, ia menarik nafas kasar! Emosinya bahkan sudah tak terkendali.


"Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja?"


Pertanyaan basa basi yang keluar dari mulut pria yang berdiri di depannya berhasil meluluh lantakkan perasaan Alghifari.


Mulut Al terkunci, ia baru saja ingin melampiaskan kemarahannya namun, pertanyaan singkat dengan suara nan lembut itu berhasil membungkamnya.


"Al apa yang terjadi?! Bagaimana mungkin kau tergiur dengan pertanyaan bodoh itu?!" Batin Alghifari


"Ayah yakin kau pasti makan dengan baik bukan? Lihatlah, kau tumbuh menjadi pria yang gagah! Akh bahkan tinggimu sudah melebihi ayah padahal dulu kau hanya sebatas lutut ayah! Terima kasih karena sudah tumbuh dengan baik!" Elhameed tersenyum kecil.


Alghifari mencoba menahan tangisnya. Tidak! Ia tidak ingin menangis di hadapan ayahnya! Bagaimana mungkin rasa marah dan kecewanya hilang begitu saja hanya dengan beberapa kalimat manis.


"Akh seharusnya ayah menyaksikan masa pertumbuhanmu!" Suara Elhameed terdengar lirih namun, Alghifari hanya terdiam menatap ayahnya dengan lekat. Melihat Alghifari yang tak merespon, Elhameed lalu merapikan beberapa bantal sofa yang terlihat berantakan.


"Duduklah! Kau kesini pasti ingin meminta penjelasan bukan? Bicaralah! Tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan! Ayah akan menjawab semuanya!"


"Bagaimana dengan pelukan?" Tanya Al spontan


Ah ia tidak perduli lagi dengan rasa marah dan kecewanya! Ia sudah tidak perduli dengan perihal balas dendam! Ia hanya menginginkan sebuah pelukan hangat dari ayahnya.


Elhameed terdiam sejenak lalu beralih menatap ke arah putranya.


"Bolehkah aku memelukmu? Ayah?" Tanya Al dengan suara lirih.


Elhameed tersenyum lalu mengangguk kecil.


Alghifari perlahan melangkah mendekati ayahnya, ia lalu membenamkan wajahnya di pundak sang ayah.


Rasa kecewa dan amarahnya di kalahkan oleh rasa rindunya yang menggebu. Kini, Rindu yang menjadi pemenangnya!.


Elhameed menutup matanya, lalu mengusap punggung putranya dengan lembut mencoba menyalurkan kehangatannya disana.


Tangis Al pecah! Ia merangkul ayahnya dengan erat! Tidak! Ia tak ingin kehilangan pelukan ini lagi! Selamanya pelukan ini akan selalu ia jaga dengan baik!.


...----------------...


Setelah tangisnya reda, Alghifari lalu duduk di sofa dengan menundukkan kepalanya. Ah ia merasa malu karena sudah membasahi bahu Ayahnya. Elhameed hanya tersenyum melihat putranya yang masih duduk terdiam. Ia lalu memberi isyarat pada Vino yang baru saja melangkah masuk. Vino tersenyum lalu mengangguk, Elhameed lalu melangkah pergi! Ia ingin memberi ruang untuk paman dan keponakan.


"Al?" Vino berjalan menghampiri Alghifari


Alghifari mengangkat kepalanya, Vino tersenyum lalu duduk di sampingnya.


"Kau menangis?"


"Tidak!" Jawab Al spontan


Vino tertawa kecil.


"Akh melihatmu menangis seperti ini, aku jadi teringat masa kecil kita!"


Alghifari menoleh


"Kau masih ingat? Dulu kau suka sekali merajuk!"


"Kapan?! Yakh!! Jangan mengarang cerita paman!"


"Akh jadi kau sudah melupakan momen-momen masa kecil saat kau merajuk pada Syeza?"


"Siapa yang mengatakan kalau aku sudah melupakannya?! Aku bahkan masih mengingatnya dengan baik! dan itu pun kau yang salah paman! Kau merebut mainanku!"


"Aku tahu, tapi bukankah seorang pria itu seharusnya merebut kembali sesuatu yang memangnya miliknya? Bukan malah merajuk pada adik perempuannya!"


"Yakh!! Apa maksudmu paman?! Aku tidak merajuk!! Aku hanya meminta Syeza untuk membantuku mengambil kembali mainanku darimu!! Karena..., jika aku yang mengambilnya sendiri kau tidak akan memberikannya bukan?! Kau hanya menurut jika itu berkaitan dengan Syeza!!"


"Tapi kau juga sama bukan?! Kau juga lebih menuruti Syeza dibandingkan kedua ibumu dan ayahmu!! Akh dan ya! Kau bahkan tetap berada di samping Syeza saat ia sakit! dan tidak ingin meninggalkannya! Kau juga menangis saat Syeza menangis! Kau....,"


"Paman!!" Suara Alghifari terdengar memelas


"Ahahaha!!" Vino tertawa puas


"Setelah sekian lama akhirnya aku bisa bercanda denganmu!" Vino tersenyum bahagia


"Paman pasti merindukanku bukan?" Alghifari tersenyum penuh kemenangan


"Heeemm!! Sangatt!! Boleh paman memelukmu?" Ujar Vino dengan manja sambil merentangkan kedua tangannya.


"Aaahh paman!! Lupakan!!" Alghifari melemparinya dengan bantal.


"Yakh!! Kau merusak rambutku!!" Vino kembali melemparinya dengan bantal.


Alghifari tersenyum lalu merangkul pamannya.


"Aku merindukanmu!" Ujar Al dengan suara lirih.


Vino tersenyum lalu mengusap punggung keponakannya.


"Maafkan paman!! Dan terima kasih sudah tumbuh dengan baik!!" Ujar Vino

__ADS_1


__ADS_2