
Roda kehidupan akan selalu berputar! percaya atau tidak kau akan tetap bertemu dengan hari yang tak kau inginkan!.
...~Elhameed...
"Ada apa ini? kenapa cucuku syeza menangis?!"
Haris melangkah masuk namun haris terlihat kaget saat melihat elisa yang menggendong cucu laki-lakinya yang basah kuyup dan pingsan.
"Apa yang kau lakukan elisa?! kau apakan cucuku?!"
Haris terlihat marah lalu merampas cucu laki-lakinya dari pelukan elisa.
Haris lalu membaringkan tubuh cucunya diatas kasur.
Elisa lalu beranjak berdiri.
"Ada apa ini?"
Erlina melangkah masuk.
"Putraku!! ada apa dengan putraku?"
Erlina terlihat panik lalu berlari menghampiri sang putra.
"Vino tolong ambilkan baju gantinya untuk kakak!"
Vino mengangguk lalu dengan cekatan mengambil baju ganti keponakannya dan memberikannya kepada sang kakak, erlina lalu dengan perlahan mengganti baju sang putra dan memakaikan minyak kayu putih diujung tangan, kaki dan hidungnya.
"Jawab aku elisa!! apa yang kau lakukan terhadap cucuku?!"
"Ayah aku tidak melakukan apa-apa! aku datang untuk menolong putraku ayah!"
"Bohong!! kak elisa berbohong ayah!!"
Kareen muncul dan ikut bersuara.
"Aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri, kak elisa menceburkan keponakanku kedalam bak mandi itu! kak elisa mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap putramu kak erlina!"
Elisa terlihat kaget.
"Apa maksudmu kareen? aku tidak melakukan hal itu! dan bukankah kau yang melakukannya?!"
"Kau menuduhku kak? aku tidak mungkin membunuh keponakanku sendiri !"
"Iyh aku tau, kau memang tidak mungkin membunuh keponakanmu sendiri tapi, kau seorang tante yang tidak memiliki hati kareen! kau menjadikan putraku, keponakanmu sendiri sebagai alat untuk menyingkirkanku bukan?!"
"Apa maksudmu kak? ayah kau lihat? kak elisa menuduhku! padahal aku benar-benar melihat kak elisa menceburkan keponakanku!"
Kareen mulai pura-pura menangis.
"Aku tau kak, kau ingin putrimu syeza mendapatkan cinta yang seutuhnya dari ayah dan juga kakeknya sehingga kau ingin menghabisi nyawa putramu bukan?!"
"Berhenti beracting kareen!!"
Elisa membentak kareen.
"Aku tau, kau memang tidak merestui pernikahanku dengan elhameed! aku tau kau memang membenciku dan putriku tapi, bukan berarti kau menuduhku seperti ini! aku tidak mungkin membunuh putraku sendiri!"
"Cukup elisa!! harusnya kau meminta maaf bukan membela diri seperti ini!!"
Suara haris sedikit meninggi.
"Tapi ayah, aku benar-benar tidak melakukannya!"
"Lalu siapa elisa?! kareen bahkan melihatnya sendiri!!"
Erlina ikut menimpali, ia lalu beranjak berdiri.
"Tidak lin! aku mohon percaya padaku! putramu putraku juga, aku juga ibunya lin! mana mungkin seorang ibu ingin membunuh anaknya sendiri!"
"Kau bisa saja melakukannya lis! seperti yang dikatakan kareen tadi, kau ingin putrimu mendapatkan cinta yang seutuhnya dari ayah dan juga kakeknya! apalagi anak yang kau anggap putramu sendiri bukan dari rahimmu!!"
"Dengarkan aku lin, jika memang aku menginginkan hal itu aku mungkin sudah melenyapkan putraku dari dulu! aku mohon percaya padaku lin!"
Elisa mencoba menggenggam tangan erlina namun erlina menghempaskan tangannya.
"Kau membuatku kecewa lis! padahal aku sudah membantumu selama ini! aku bahkan merelakan suamiku menikahimu tapi ini balasanmu?! kau bahkan ingin melenyapkan putraku?!"
"Aku mohon lis, percaya padaku! aku tidak melakukannya!"
erlina hanya terdiam.
Elisa lalu menghapus airmatanya dan beralih menatap sang ayah yang terlihat murka.
"Ayah, tolong percaya padaku! putrimu ini tidak melakukannya ayah"
"Apa kau memiliki bukti untuk membantahnya? apa kau punya sesuatu yang bisa membuatku mempercayaimu?"
Elisa terdiam.
"Percuma ayah! kak elisa tidak memiliki bukti!"
Kareen menimpali.
"Diam kareen!! aku bertanya pada elisa!"
Suara haris meninggi sehingga membuat kareen terdiam.
"Kau tau bukan lis? ayahmu ini tidak mudah mempercayai begitu saja tanpa bukti! kau melakukan kesalahan dan buktinya adalah kareen sebagai saksi mata! jika memang kau tidak melakukannya, apa kau punya bukti untuk menyakinkanku?"
Elisa menghapus airmatanya.
"Ayah...., aku...., aku memang tidak memiliki bukti tapi, aku benar-benar tidak melakukannya ayah!"
"Aku sudah mengatakannya ayah! kak elisa memang berniat untuk membunuh putranya sendiri! lagi pula mana ada pencuri yang mau mengakui kesalahannya!"
"Aku buktinya ayah! aku sebagai bukti bahwa kak elisa tidak melakukannya!"
Suara si kecil vino terdengar lantang membuat semua mata menoleh kearahnya.
"Aku melihatnya sendiri ayah, kak kareen yang menceburkannya dan kak elisa datang untuk menolong!!"
"Kareen, apa benar yang dikatakan oleh adikmu vino?!"
Haris memandang lekat kearah putrinya, kareen.
"Ayah mempercayai vino?! vino masih kecil ayah! dia belum terlalu faham tentang hal seperti ini!"
Kareen berusaha membela diri.
"Lagi pula wajar ayah jika vino membela kak elisa, karena memang vino lebih dekat dan lebih menyayangi syeza daripada keponakan kandungnya!"
Haris memijat keningnya dan menghela nafas kasar.
"Elisa kau membuat ayah kecewa!"
"Ayah....,aku mohon tolong percaya padaku! aku tidak mungkin melakukannya ayah!"
"Kalau kau tidak melakukannya kak lalu, untuk apa kau memberikan pisau pada syeza? apa kau ingin syeza yang membunuh kakaknya? ayah lihat? kak elisa bahkan mengajarkan putrinya untuk menjadi seorang pembunuh!"
Semua orang terlihat kaget.
Elisa lalu menatap kearah putrinya yang berdiri memegang pisau lipat dengan tangan yang gemetar dan airmata yang terus mengalir.
Elisa tersenyum kecil lalu menghapus airmata putrinya.
"Sayang, kau datang dengan membawa pisau ini?"
Si kecil syeza hanya mengangguk.
"Kau mengambilnya dimana sayang?"
Si kecil syeza hanya terdiam.
Elisa lalu mengambil pisau dari tangan putrinya lalu menggenggam tangan mungil putrinya yang masih bergetar.
"Tidak perlu khawatir sayang, katakan saja! mama tidak akan memarahimu"
"Tante kareen ma, tante kareen yang memberikan benda ini kepada yeza! tante kareen bilang benda ini bisa menyelamatkan kakak"
Elisa terlihat menarik nafas lalu beranjak berdiri.
"Kau menuduhku dengan menjebak putriku juga?!"
Elisa memicing kearah kareen.
"Ayah jangan mempercayainya! aku tidak mungkin mencelakai keponakanku sendiri ayah! ayah kau juga tau bukan? selama ini aku sangat menyayangi keponakanku! kak elisa sedang menjebakku ayah! selama ini kak elisa memang tidak menyukaiku! dia menginginkan aku terusir dari keluarga ini! dia ingin ayah membenciku!"
Kareen kembali menangis.
"Ayah....,"
Elisa mencoba mendekati sang ayah.
"Cukup elisa!! kau...., kau sudah memanfaatkan kebaikan ayah selama ini!"
"Tidak ayah, aku mohon! aku tidak melakukannya! apa ayah tidak mempercayai putra ayah vino dan cucumu syeza? aku tau mereka memang masih kecil tapi, bukankah anak kecil tidak pernah berbohong? mereka mengatakan yang sebenarnya ayah! aku tidak melakukannya ayah!"
"Cukup elisa!! kau terus saja membela diri seperti ini! ayah muak mendengarnya!!"
Haris membentak elisa dan kareen terlihat tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Tapi ayah....,"
"Apa?! kau ingin membela diri lagi?! kau sudah melampui batas elisa!"
Tangan haris terangkat hendak menampar elisa namun, sebuah tangan kekar menahannya.
"Jangan menyentuh istriku ayah! tanganku bahkan tidak pernah mengasari mereka jadi, aku pun tidak akan pernah membiarkan siapa pun termasuk ayah mengasari istri-istriku!"
Elhameed yang baru datang terlihat murka, ia lalu menghempaskan tangan sang ayah dari genggamannya.
"Kau membela istrimu yang ingin melenyapkan putramu sendiri?!"
"Aku memang tidak tau kejadiannya seperti apa ayah tapi, aku selalu mempercayai istri-istriku!"
"Tapi kenyataannya memang seperti itu elhameed!! istrimu elisa ingin melenyapkan putramu!!"
Suara haris meninggi.
Elhameed terdiam sejenak lalu menatap dengan lekat kearah istrinya elisa yang masih menangis.
"Kenapa meed? kau juga tidak mempercayaiku?! kau juga ingin mengatakan bahwa aku berusaha untuk melenyapkan putraku?! katakan!! kau juga ingin menuduhku bukan?!"
Elisa terisak.
Elhameed tersenyum kecil lalu perlahan menghapus airmata istrinya dengan lembut.
"Apa aku mengatakan bahwa aku tidak mempercayaimu?"
Elisa terdiam.
Elhameed lalu menggenggam tangan elisa.
"Kau masih ingat dengan semboyan dalam pernikahan kita bukan? semboyan rumah tangga kita! aku, kau dan juga erlina! kepercayaan lis! dan aku selalu percaya bahwa istri-istriku adalah wanita yang baik!"
Elhameed lalu berbalik dan menatap sang ayah dengan lekat.
"Maaf ayah, aku tidak bermaksud menentangmu tapi, aku selalu percaya dengan istri-istriku dan mereka adalah ibu yang baik! dan seorang ibu tidak mungkin membunuh anaknya sendiri!"
"Tapi meed, bagaimana jika elisa benar-benar melakukannya?"
Erlina menimpali.
"Kau juga tidak mempercayai sahabatmu sendiri?"
Elhameed memandang kearah erlina.
Erlina hanya terdiam.
"Aku juga ingin mempercayainya tapi, aku masih ragu! bagaimana jika elisa benar-benar melakukannya?"
Batin erlina.
"Ya percuma meed ayah memberitahumu, kau tidak akan percaya pada ayah! tapi ayah tetap tidak bisa memaafkan perbuatan istrimu! untuk itu, ayah memberimu satu pilihan! ceraikan elisa atau erlina!"
Haris menimpali.
"Apa maksudmu ayah? aku tidak mungkin menceraikan salah satu diantara mereka!"
"Kenapa tidak mungkin?! kau tidak bisa mengambil keputusan?! kalau begitu biar ayah yang putuskan! ceraikan erlina! ayah tidak ingin putri ayah merasakan sakit karena perbuatan istri keduamu!"
"Ayah.....,?"
Erlina mulai terisak.
"Tidak ayah! aku tidak akan menceraikan siapa pun diantara mereka!!"
"Jangan keras kepala hameed!! ceraikan putriku!!"
"Tidak akan pernah ayah!! bukan hanya kepercayaan tapi, dalam pernikahanku tidak ada kata perceraian!!"
"Kalau begitu bawa elisa pergi dari hadapanku!! aku tidak ingin melihat wajahnya!"
Haris terlihat murka.
"'Ayah.....,"
Elisa hendak melangkah mendekati sang ayah namun elhameed menahan tangannya.
"Baiklah, jika memang itu yang ayah inginkan! aku akan membawa elisa pergi! dan sampai kapan pun putrimu erlina tetap menjadi istriku! aku tidak akan pernah menceraikannya!!"
Elhameed lalu menggendong si kecil syeza dan hendak melangkah pergi.
"Ayaahh!!"
Si kecil tampan yang baru saja sadar dari pingsannya beranjak bangun lalu berlari kearah sang ayah.
"Ayah mau kemana? ayah mau membawa kemana mama lisa dan yeza?"
Elhameed tersenyum lalu menurunkan putrinya dan duduk membungkuk dihadapan putranya.
"Jagoan ayah jangan khawatir! ayah tidak kemana-mana, ayah hanya pergi sebentar bersama mama lisa dan yeza jadi, bolehkah ayah pinjam sebentar mama lisa dan yezanya?"
"Tapi ayah....., ayah tidak akan lama bukan?"
"Tidak sayang! ayah hanya pergi sebentar!"
"Tapi....., kenapa tidak membawaku dan ibu juga? bukankah kita selalu bersama-sama?"
"Ayah minta maaf, kali ini ayah tidak bisa membawamu dan juga ibu tapi, ayah janji nanti ayah akan datang lagi untuk menjemputmu dan juga ibu! jadi ayah titip ibumu ya! kau bisa menjaga ibumu dengan baik untuk ayah?"
"Iyh ayah! aku berjanji akan menjaga ibu dengan baik!!"
"Anak pintar!"
Elhameed tersenyum lalu mengusap rambut putranya.
"Mama lisa kenapa menangis?"
Si kecil tampan mendongak menatap sang ibu.
Elisa lalu duduk dihadapan putranya.
"Akh tidak sayang! mama lisa hanya merasa sedih! nanti mama lisa pasti akan merindukanmu!"
"Mama lisa jangan bersedih! bukankah ayah sudah berjanji nanti akan datang menjemputku dan mama? jadi kita pasti akan berkumpul lagi!"
Si kecil tampan lalu menghapus airmata elisa.
Elisa tersenyum getir.
"Boleh mama lisa peluk putra mama?"
"Tentu saja!"
Si kecil tampan tersenyum dan mengangguk.
Elisa lalu menarik putranya dalam pelukannya.
"Kau harus menjaga ibumu dengan baik!"
Elisa lalu melepaskan pelukannya.
"Kau mengerti sayang?"
Si kecil tampan mengangguk, ia lalu beralih menatap kearah sang adik yang hanya berdiri diam.
"Yeza kau tidak ingin berpamitan denganku?"
"Tidak!! aku tidak ingin berpamitan denganmu!!"
"Kenapa?"
Mata si kecil tampan terlihat berkaca-kaca.
"Karena kau sudah membuat kakek dan mama lina memarahi mamaku!!"
Si kecil syeza terlihat membuang muka.
Sang kakak mengkerutkan alis merasa bingung.
"Sayang tidak boleh seperti itu! syeza harus berpamitan dengan kakak"
Elisa menegur putrinya.
Si kecil syeza terlihat memasang wajah malas lalu menoleh kearah sang kakak.
Sang kakak tersenyum kecil.
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tua kita! aku yakin telah terjadi sesuatu bukan? tapi, percayalah semuanya akan baik-baik saja yeza!"
Sang kakak menatap si kecil syeza dengan lembut lalu mengacungkan jari kelingkingnya dihadapan adiknya.
"Berjanjilah padaku yeza bahwa kau tidak akan melupakanku! dan berjanjilah bahwa suatu saat nanti jika terjadi sesuatu kau akan mencariku dan menemukanku!"
Si kecil syeza terdiam dan menatap jari kelingking sang kakak yang terulur kearahnya.
"Kau mau berjanji kepadaku?"
Sang kakak menggerakkan jari kelingkingnya, dengan perlahan si kecil syeza mengangkat tangannya lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang kakak.
"Aku berjanji padamu kak!"
__ADS_1
"Ingat kau sudah berjanji yeza jadi, kau juga harus menepatinya!"
Sang kakak tersenyum.
Si kecil syeza mengangguk.
"Kau juga harus berjanji akan mencariku dan menemukanku!"
Sang kakak mengangguk.
Si kecil syeza tersenyum.
"Tapi tunggu, kenapa matamu berkaca-kaca? kau menangis?"
Si kecil syeza melepaskan kaitan jarinya dan memandang kearah sang kakak.
"Akh aku tidak menangis!! aku hanya....., eeemm aku pasti akan merindukanmu!"
"Kakak kau harus percaya jika kau merindukanku itu artinya aku juga pasti merindukanmu!"
Sang kakak menatap sang adik.
"Akh apa aku harus percaya?"
"Eemm tentu saja!!"
Si kecil syeza tersenyum kecil sambil mengangguk membuat sang kakak pun ikut tersenyum.
"Pamaann!!"
Si kecil syeza lalu beralih menatap kearah vino yang berdiri dengan menundukkan kepalanya.
Si kecil syeza lalu melangkah menghampiri vino namun vino terlihat membuang muka.
"Kenapa paman membuang muka? apa paman jadi membenciku sekarang?"
"Aku tidak membencimu! tapi kau akan pergi! aku....., aku hanya.....,"
Kata-kata vino tertahan disana.
Si kecil syeza tersenyum lalu menggenggam tangan vino.
"Jangan membuang muka seperti itu paman! aku ingin kau melihatku!"
Vino menoleh menatap kearah keponakannya.
"Aku tidak akan melupakanmu paman! aku bejanji aku juga akan mencarimu dan menemukanmu!"
Vino tersenyum getir dengan menahan airmata.
"Aakhh aku pasti akan merindukanmu paman!!"
Si kecil syeza lalu memeluk pamannya.
"Hiss!! dia tidak memberikanku pelukan tapi bahkan memeluk paman?!!"
Si kecil tampan mengomel dalam hati.
"Tidak bisakah aku ikut denganmu saja?"
Vino berbisik.
"Aku tidak ingin melihat kakek memarahimu paman!"
Si kecil syeza balas berbisik.
"Aku akan menunjukkan keberanianku yeza!"
Si kecil syeza tersenyum lalu melepaskan pelukannya.
"Waakhh mereka bahkan berbisik-berbisik?! apa yang mereka bisikkan?! yeza bahkan sampai tersenyum?!"
Si kecil tampan kembali mengomel dalam hati.
Si kecil syeza lalu melangkah menghampiri sang ayah.
Elhameed tersenyum lalu mencium kening putranya dan kembali menggendong si kecil syeza.
Elisa terlihat menarik nafas lalu menghapus airmatanya dan mencium kening putranya dengan lembut.
"Akh kenapa aku merasakan takut kehilangan yang berlebihan begini? Tuhan aku minta padaMu, pertemukan dan persatukan keluargaku kembali suatu saat nanti!"
Batin elisa.
Elhameed lalu menggenggam tangan elisa dan hendak melangkah pergi namun elisa menahan langkah elhameed.
"Meed....,"
Elhameed menatap kearah elisa.
"Tidak bisakah kau fikirkan lagi? kau akan membawaku dan syeza pergi lalu bagaimana dengan erlina dan putraku? kau akan meninggalkan mereka disini?"
"Ini keputusan terbaik lis! aku tidak memiliki kekuasaan untuk membawa kalian berdua! jika aku memilih bertahan disini bersama erlina bagaimana dengan kau dan syeza? erlina masih bisa bernaung dibawah ayah sedangkan kau? jangan khawatir, aku sudah berjanji bukan untuk menjemput erlina nanti?"
Elisa hanya terdiam.
Mereka lalu kembali melangkah.
"Kakaakk!!"
Vino berlari kearah elhameed dan elisa.
"Aku ingin ikut bersama kalian!"
"Vino!! kembali ketempatmu!!"
Haris berteriak marah.
"Tidak ayah! aku ingin ikut dengan kak hameed dan kak elisa!"
"Ayah memberikan perintah vino!!"
"Dan aku menentang perintahmu ayah!!"
Suara vino meninggi membuat semua mata menatap kearahnya.
Si kecil vino yang dikenal sebagai anak yang penurut, tidak pernah melawan perintah sang ayah dan bahkan tidak pernah meninggikan suaranya! hari ini membuat semua pasang mata terkaget.
"Hari ini kau tidak memiliki hak untuk melarangku ayah! karena bukankah ayah sudah tidak lagi mempercayaiku?! jadi untuk apa aku bertahan dirumah ini?! aku tidak ingin tinggal dirumah dimana seorang ayah tidak mempercayai putranya sendiri! untuk apa aku tumbuh menjadi pewarismu jika ayah saja tidak mempercayaiku?!"
Haris terdiam membeku.
Putra yang ia banggakan hari ini menentangnya.
"Maaf ayah, aku membawa putramu!"
Elhameed menimpali, ia lalu melirik kearah elisa.
Elisa mengangguk kecil lalu dengan sigap menggandeng tangan vino, mereka lalu melangkah keluar bersama.
"Ceraikan aku elhameed!! kau tidak bisa pergi begitu saja dengan mengikatku seperti ini!!"
Erlina berteriak marah dengan airmata yang terus mengalir.
Elhameed tak menggubrisnya, ia terus melangkah dengan menggandeng tangan elisa.
"Ayah.....,"
Elhameed menoleh kearah putrinya.
"Boleh turunkan aku sebentar?"
Elhameed terdiam lalu mengangguk kecil dan menurunkan putrinya dari gendongannya.
Si kecil syeza tersenyum lalu berlari kearah erlina dan memeluknya dengan erat.
"Mama lin maafkan yeza! jangan menangis ma, yeza minta maaf!"
Erlina hanya terdiam tak merespon pelukan dari putri kecilnya.
"Yeza berjanji nanti yeza juga pasti akan menemukan mama lin!"
Si kecil syeza lalu melepaskan pelukannya dan tangan mungilnya lalu menggenggam tangan sang ibu.
"Yeza pasti akan merindukan mama lin! yeza pasti akan merindukan tangan ini! tangan yang mengajarkan yeza banyak hal dan tangan yang selalu menggenggam tangan yeza!"
Si kecil syeza tersenyum kecil lalu mencium tangan sang ibu, ia lalu beralih menghampiri sang kakek dan memeluknya dengan erat.
"Yeza tidak terlalu mengerti kenapa kakek semarah ini.....,"
Si kecil syeza lalu melepaskan pelukannya dan memandang sang kakek dengan lembut dan seketika airmata si kecil syeza mengalir.
"Tapi yeza selalu percaya, kakek adalah pria yang baik! kakek adalah kakek terbaik yang yeza miliki! maafkan yeza! kakek berjanjilah pada yeza bahwa kakek harus tetap hidup sampai yeza dewasa nanti!"
Haris membuang muka dan mencoba menahan airmatanya, ia bahkan tidak sanggup melihat cucunya menangis dihadapannya.
"Kakek bahkan tidak ingin melihatku? kakek tidak membenci aku bukan? kakek, apa yeza harus pergi? tidak bisakah yeza tinggal disini bersama kakek dengan waktu yang lama? tapi yeza tidak perlu khawatir bukan kek? karena ayah mengatakan kami hanya pergi sebentar! kakek, yeza punya satu permintaan! jika nanti yeza sudah kembali yeza akan memberitahu kakek dan kakek harus berjanji untuk mengabulkan permintaan yeza nanti yaa!!"
Haris hanya terdiam, ia tak tau harus mengatakan apa! ingin rasanya ia memeluk erat cucunya dan menenangkannya agar tidak menangis namun, ego dan gengsi membuat ia tetap membuang muka dan tak ingin menatap sedikit pun kearah cucunya.
Si kecil syeza hanya tersenyum kecil lalu kembali melangkah menghampiri sang ayah.
__ADS_1
Elhameed lalu kembali menggendong putrinya dan kembali melangkah pergi bersama elisa dan si kecil vino.