Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Kehilangan 1


__ADS_3

'Nyatanya kehilangan yang paling menyakitkan adalah bukan saat kau kehilangan cinta yang kau perjuangkan melainkan kehilangan sahabat untuk selamanya'


                         ~Syeza Anastasya


~Basecamp


Alghifari memarkirkan motornya di depan basecamp, ia dan Syeza lalu melangkah masuk. Semua orang sudah menunggu mereka kecuali Geisha.


Akh permintaan Zidan benar-benar merubahnya menjadi gadis yang pendiam dan bahkan sering menangis.


Saat melangkah masuk, Rayhan tiba-tiba membuang mukanya ketika pandangan matanya bertemu dengan Syeza.


"Kau baru muncul? kemana saja hah?! kenapa kau suka sekali menghilang tanpa kabar?! apa kau suka membuat orang-orang panik?!" Fairuz merangkul Alghifari.


"Ais lepaskan tanganmu!! kau merusak rambutku!!"


"Yakh!! kau benar-benar menyebalkan brother!!" Fairuz kembali mengacak-ngacak rambut Alghifari.


"Ais menyebalkan!!" Alghifari lalu menghindar dari Fairuz dan duduk di samping Fikral.


"Jadi sekarang apa hah?! kau menghilang selama dua minggu lalu tiba-tiba muncul lagi dan meminta semuanya untuk berkumpul di basecamp?! apa yang ingin kau bicarakan hah?!!" Fikral lalu merangkul kepala Alghifari.


"Ais kenapa kalian suka sekali merusak rambutku hah?!!" Alghifari terlihat kesal, ia lalu menghindar dari Fikral dan duduk di samping Syeza.


"Aah rambutku akan aman jika duduk di sini!"


Syeza tertawa kecil lalu tangannya terangkat ke arahnya.


"Kau mau apa?!" Alghifari menahan tangan Syeza yang mengarah kepadanya.


"Ehehe bukan apa-apa, hanya ingin membantu merapikan rambutmu" Syeza tersenyum jail ke arahnya.


"Tidak! tidak perlu! aku bisa merapikanya sendiri! kau hanya akan membuatnya semakin rusak!" Alghifari melepaskan tangannya.


Syeza hanya tertawa kecil.


"Sudah! langsung saja! apa yang ingin kau bicarakan?!" Suara Rayhan terdengar tidak suka.


Semuanya lalu kembali diam, suasana dalam basecamp terlihat hening, mereka menunggu Alghifari membuka suara.


Alghifari terlihat menarik nafas panjang.


"Aku minta maaf tiba-tiba menghilang dan membuat kalian panik dan tentunya hal ini terjadi pada Zidan juga jadi aku menghilang untuk menyelidiki Zidan"


"Apa maksudmu? kau tau dimana Zidan?" Fikral menimpali.


Alghifari hanya mengangguk kecil.


"Aiss anak itu!! lihat saja jika dia sudah muncul aku akan merusak rambutnya yang ia bangga-banggakan itu!! dimana dia sekarang Al?" Sambung Fairuz.


"Zidan sekarang di rumah sakit"


"Rumah sakit?" Fikral terlihat bingung.


"rumah sakit? untuk apa dia ada di rumah sakit?" Viera ikut bersuara.


"Sakit! Zidan sakit! selama ini Zidan menyembunyikan penyakitnya dari kita! Zidan mengindap penyakit kanker otak bahkan kondisinya sekarang sudah sangat lemah, seluruh tubuhnya di penuhi alat bantu! aku tidak tahu apakah ada kemungkinan untuk Zidan terus bertahan, penyakitnya sudah stadium akhir" Suara Alghifari terdengar bergetar.


"Ahaha apa yang sedang kau bicarakan Al? apa kau sedang bercanda?" Fikral tertawa kecil.


"Aku tidak bercanda Fik! untuk apa aku bercanda dengan hal yang fatal seperti ini? ini tentang kondisi Zidan!"


"Ahaha Al kau tahu? Zidan dari kecil selalu kuat, dia tidak pernah masuk rumah sakit! dia tidak pernah sakit Al jadi, itu hal yang mustahil" Fikral mencoba mengelak namun terlihat jelas rasa khawatir yang tergambar di wajahnya.


"Itu bukan hal yang mustahil jika sudah menjadi takdir! terkadang orang yang paling kuat, orang yang jarang terlihat sakit malah lebih terluka, lebih sakit Fik! Zidan sekarang sedang tidak baik-baik saja! dia sakit Fik! kau tahu? sakit itu membuatnya kehilangan rambut yang ia banggakan, sakit itu membuat tubuh idealnya terlihat kurus! sakit itu menyiksanya! " Alghifari mencoba menahan air matanya.


"Jangan bercanda Al!!"


"Apa aku terlihat sedang bercanda?"


Fikral terlihat tertawa getir, ia lalu menghampiri Alghifari dan menarik kerah baju Alghifari.


"Jangan mengada-ngada hal bodoh seperti ini! kita semua tau bukan? Zidan selama ini terlihat baik-baik saja!!" Mata Fikral mulai terlihat berkaca-kaca.


"Iya aku tahu itu tapi, di balik itu semua Zidan menyembunyikan rasa sakitnya! Zidan pura-pura baik-baik saja di depan kita karena dia tidak ingin kita merasa sedih dengan kondisi dia yang sebenarnya!"


"Tidak Al!! Ini tidak mungkin!! Tidak mungkin hal ini terjadi pada Zidan!! tidak Al!! Zidan baik-baik saja!! dia tidak sakit Al!! tidak!! katakan!! katakan kau berbohong Al!! katakan ini tidak benar Al!! aku mohon!! katakan ini tidak benar Al!!" Fikral melepaskan kerah baju Alghifari sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa kecil namun, bening airmata itu perlahan mulai jatuh dari pelupuk matanya.


Fikral mulai menangis terisak, ia lalu jatuh tersungkur di lantai.


Semua orang dalam ruangan menangis dalam diam, rasanya sakit sekali melihat Fikral menangis seperti itu! Fikral yang tak banyak bicara, Fikral yang terlihat cool dengan sikap cueknya tapi, melihatnya yang terpuruk seperti membuat mereka tak bisa menahan air mata.


Dalam keheningan tersebut hanya terdengar suara tangis dari Fikral yang terdengar pilu, membuat semua orang ikut menangis, hanya airmata yang mewakili perasaan mereka. Viera terlihat menghapus air matanya, Rayhan yang terlihat menundukkan kepalanya lalu tangannya mengusap air mata yang mengalir di wajahnya, Fairuz yang yang membuang muka lalu tangannya terangkat menghapus air matanya, Alghifari yang masih berdiri dengan mata yang berkaca-kaca, dan Fikral yang duduk tersungkur di lantai dengan air mata yang terus mengalir.


Ah siapa yang tak merasakan sakit saat mengetahui kondisi Zidan yang sebenarnya? Mereka yang selalu bersamanya tapi, tidak tahu bahwa ternyata Zidan menahan sakit yang luarbiasa dan pura-pura baik-baik saja!.


"Semuanya karena kesalahanku! Aku yang salah! Aku selalu bersama dengannya dari kecil, aku yang lebih mengenalnya tapi aku bahkan tidak tahu selama ini dia menahan rasa sakit! aku yang salah! aku bukan sahabat yang baik untuknya bukan?! aku sangat jahat bukan?!" Fikral mulai kehilangan kendali dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa yang kau katakan Fik?! jangan menyalahkan diri sendiri seperti ini!!" Alghifari membantu Fikral berdiri lalu membantunya duduk di sofa.


"Minumlah!" Viera menyodorkan air minum ke arah Fikral.


Fikral mengambil gelas air minum di tangan Viera lalu meneguknya pelan, Viera kembali mengambil gelas dari tangan Fikral lalu menyimpannya di atas meja.


"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang untuk melihat kondisi Zidan" Rayhan bersuara.


"Iya Al! Dimana rumah sakit Zidan di rawat?" Fairuz menimpali.


"Rumah sakit Gemilang Citygroup!"


"RS Gemilang CityGroup? Tunggu, bukankah itu rumah sakit yang baru di bangun satu tahun yang lalu dan menjadi rumah sakit terelit se Indonesia? bahkan di rumah sakit itu hanya tersedia ruangan VVIP, hanya ada beberapa ruangan biasa yang di bawah standar namun, meskipun ada ruangan biasa di bawah standar tapi untuk masuk di rumah sakit itu sangat sulit bukan? Harus memerlukan orang dalam agar bisa masuk ke rumah sakit itu! Lalu Zidan, bagaimana Al menemukannya? Tidak mungkin bukan Zidan menemui Al lalu memberitahu penyakitnya yang sebenarnya? tunggu, apa ayah tahu tentang penyakit Zidan? Tapi jika ayah tahu, ayah pasti akan memberitahu aku dan Fikral! bagaimana Al bisa tahu tentang hal ini? Apa ada sesuatu yang Al sembunyikan?! Akh siapa sebenarnya Al?! pertanyaan ini yang belum terjawab sempurna hingga hari ini!" Batin Syeza.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Alghifari sejenak melirik ke arah Syeza.


Melihat Alghifari yang melirik ke arahnya, Syeza membuang mukanya ke arah lain karena tidak ingin tertangkap sedang memperhatikannya.


"Akh ada apa dengannya? Tunggu, apa ia mencurigaiku? Apa Syeza mencurigai bagaimana aku bisa mengetahui tentang penyakit Zidan? Tapi bukankah itu wajar? Apa yang menjadi istimewa jika aku menemukan satu rahasia yang di simpan Zidan selama ini? Akh Al kau harus tetap waspada, Syeza gadis yang cukup cerdas! Aakh maaf aku menyembunyikan hal itu darimu" Batin Alghifari.


"Za?"


"Heem?" Syeza menoleh ke arah Al.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?"


Syeza hanya mengangguk ke arahnya.


"Aku tahu kau gadis yang kuat" Alghifari tersenyum kecil, Syeza balas tersenyum.


"Oh ya Za dimana Geisha?" Tanya Alghifari membuat Syeza seketika menghentikan langkahnya.


Ah bagaimana nanti reaksi Geisha saat tahu kondisi Zidan sekarang? Pasti ia sangat terpuruk!.


"Ada apa Za?" Tanya Al


"Geisha Al"


"Geisha? Kenapa?"


Syeza lalu menceritakan kondisi Geisha sekarang dan permintaan Zidan yang membuatnya menjadi gadis pendiam.


Alghifari terdengar menghela nafas.


"Jadi sebelum Zidan menghilang ia sempat meminta Geisha untuk belajar mencintai pria lain karena ia tidak ingin Geisha terluka dengan kondisinya?" Batin Alghifari.


"Al jemput Geisha di Asrama dan bawa dia ke rumah sakit yaa"


"Lalu kau bagaimana?"


"Aku ikut di motor Fairuz"


"Eem baiklah" Syeza dan Alghifari lalu melangkah keluar.


"Ruz bareng Syeza yaa"


"Lalu kau?"


"Aakh aku akan menjemput Geisha terlebih dahulu"


"Aah iyh gadis itu! Kita hampir melupakannya! Dia pasti sangat terluka, cepat jemput dan bawa dia menyusul ke rumah sakit!" Ujar Fairuz.


Alghifari mengangguk.


~RS Gemilang CityGroup


Setelah sampai ke lantai tiga, mereka lalu berlarian kecil menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan Zidan di rawat, langkah-langkah kaki yang tegap dalam ketegangan, jiwa-jiwa yang melemah karena kekhawatiran, mata-mata yang perih sebab air mata yang tertahan. Semakin dekat dengan ruangan itu dada mereka terasa semakin sesak.


Langkah kaki mereka ikut berhenti saat Fikral menghentikan langkahnya di depan pintu sebuah ruangan, tangannya bahkan terlihat gemetar saat memegang gagang pintu ruangan tersebut. Fikral menarik nafas panjang lalu melirik ke dalam ruangan lewat kaca pintu, air matanya yang tertahan itu kembali mengalir di pelupuk mata Fikral.


"Fik?" Syeza menepuk pundaknya.


"Masuklah, aku akan menyusul nanti" Fikral tersenyum getir ke arahku lalu melepaskan tangannya dari gagang pintu.


Fikral lalu berdiri menyender di tembok.


Syeza menarik nafas lalu melirik sejenak ke dalam ruangan lewat kaca pintu, di dalam sana Zidan terbaring dengan tenang di atas ranjang dengan alat-alat medis yang menempel di seluruh tubuhnya.


Syeza menghapus air matanya  yang tiba-tiba mengalir.


"Tidak Syeza! Jangan menangis! Kau harus kuat!" Batinnya.


"Kalian sudah datang?" Zidan membuka matanya dan tersenyum ke arah sahabat-sahabatnya.


"Ah aku fikir kau sedang tidur" Syeza berjalan menghampirinya.


"Aku menunggu kalian datang! Kenapa Al lama sekali membawa kalian kesini?"


Syeza tersenyum lalu menggenggam tangannya.


"Zid, kami minta maaf! Maaf kami tidak mengetahui hal ini"


"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah menyembunyikan hal ini! Maaf karena sudah meragukan kalian"


"Kau tidak salah Zid" Syeza tersenyum ke arahnya.


"Kau harus kuat Zi, kau harus tetap bertahan! Kau pasti bisa! Oke?!"


Zidan sejenak melirik ke arah jam dinding lalu tersenyum getir ke arah Syeza.


"Waktuku tidak banyak Za, sebentar lagi"


"Kau bicara apa? Aku mohon jangan mengatakan hal seperti itu!" air mata Syeza mulai mengalir.


"Jangan menangis, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menangis?"


Syeza memejamkan matanya sejenak mencoba menahan air matanya yang terus mengalir.


"Kemarilah! Dekatkan wajahmu di tangan ku!" Pinta Zidan.


Syeza mengkerutkan alis merasa bingung namun tetap mengikuti perintahnya, ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah tangan yang ia genggam dan perlahan-lahan Zidan menghapus air matanya.


"Maaf tangan ku terlalu lemah untuk di angkat! Dengar Za, aku tidak suka melihatmu menangis"


"Kau kuat Zid! Kau kuat! Percayalah, tanganmu..... tanganmu akan mampu menghapus air mataku! Aku..... aku ingin tanganmu juga yang selalu ada untuk membantuku menghapus air mataku"


"Tidak Za! Mulai sekarang hingga selamanya kau harus belajar menghapusnya sendiri"


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala dengan air mata tak ingin berhenti mengalir.


"Za ingat baik-baik, ini permintaan terakhir ku! Suatu saat nanti apapun yang akan terjadi jangan pernah membenci orang-orang yang pernah ada dalam kehidupanmu!"


Syeza mengkerutkan alis merasa bingung.


"Kau mau berjanji padaku bukan?"


Meskipun bingung dengan permintaan Zidan, Syeza hanya menganggukkan kepala, mengiyakan permintaannya.


"Kau sudah berjanji padaku Za, jangan mengingkarinya"


Syeza kembali mengangguk.


Zidan tersenyum kecil lalu melirik ke arah Fairuz dan Rayhan.


"Za bantu aku katakan kepada kedua sahabatmu itu, apakah mereka akan terus membelakangiku seperti ini? Apa mereka tidak ingin melihat wajah tampanku untuk terakhir kalinya?" Ujar Zidan sambil tersenyum.

__ADS_1


Syeza lalu menoleh ke arah Fairuz dan Rayhan yang berdiri membelakangi.


"Kalian tidak mendengar apa yang di katakan Zidan?"


Fairuz dan Rayhan terlihat mengangkat tangan mereka dan mengusap wajah mereka lalu berbalik.


"Jangan menahannya, jika kalian ingin menangis maka menangislah! Dengan begitu kalian akan merasa lebih baik" Ujar Zidan tersenyum ke arah mereka.


"Mereka tidak akan menangis di depanmu karena jika mereka terlihat lemah di depanmu lalu bagaimana mereka bisa menenangkanmu?" Viera menimpali.


"Akh kalian tahu? Aku sangat beruntung memiliki kalian! Terima kasih karena sudah menjadi sahabat-sahabat ku dan maaf aku belum bisa jadi sahabat yang baik!"


"Dengar Zid, kau harus tetap bertahan!" Suara Rayhan terdengar parau.


"Iya Rayhan benar! Kenapa kau harus menyembunyikan hal ini dan kenapa hal ini harus terjadi? Aku tidak pernah menginginkan salah satu di antara kita harus seperti ini jadi Zid, kau harus tetap bertahan!" Fairuz menimpali dengan suara bergetar.


Rayhan pun terlihat menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Fairuz.


"Aakhh, rambutmu bahkan sudah mulai menipis?" Rayhan menyentuh kepala Zidan.


Zidan hanya tersenyum.


"Baru dua minggu aku di rawat tapi rambutku rontok begitu cepat, akh apa aku tidak cocok tanpa rambut? Al mengatakan bahwa aku tetap tampan meski tanpa rambut! Hah apa Al berbohong kepadaku hanya untuk menghiburku?"


"Al benar Zid, meskipun rambutmu tidak ada, kau tetap terlihat tampan!" Fairuz menimpali.


"Benarkah? Aakh aku menyukainya kalau begitu! Aku bisa pergi dengan tenang tanpa memikirkan kepalaku yang tanpa rambut!"


Zidan tertawa kecil.


"Zid apa yang kau katakan? Kau harus tetap bertahan!" Suara Viera kembali terdengar.


Syeza, Fairuz, dan Rayhan mengangguk bersamaan mengiyakan perkataan Viera.


"Aku mengerti perasaan kalian! Aku juga ingin terus bertahan tapi, aku juga menginginkan rasa sakit ini menghilang untuk selamanya! Jika kalian memaksaku untuk terus bertahan maka kalian juga membuatku tersiksa dengan rasa sakit ini"


"Kau pasti sembuh! Percayalah Zid!"


"Tidak Za! Tidak ada kesembuhan untuk aku yang seperti ini! Seluruh rambutku bahkan sudah menghilang! Tubuhku pun bertahan karena alat-alat yang menempel di seluruh badanku! Sebentar lagi alat ini pun tidak akan berfungsi lagi untukku jadi biarkan aku pergi!"


"Tidak Zidan! Aku mohon jangan mengatakan hal seperti itu!"


Zidan tersenyum kecil lalu tangannya yang lemah mencoba mengeratkan genggaman tangan Syeza seakan-akan ingin menguatkannya dan sukses membuat air mata gadis itu semakin deras.


"Za dimana Fikral?"


"Fikral ada di luar"


"Dia tidak ingin menemuiku? Apa dia tidak ingin melihatku untuk terakhir kalinya?"


"Fikral sangat terpukul, dia tidak sanggup melihatmu langsung dalam kondisi seperti ini! Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri, mengganggap dirinya tidak becus menjadi sahabatmu" Rayhan menimpali.


"Akh bisa kau panggilkan dia untukku Ray? Katakan padanya bahwa aku tidak menyalahkannya jadi berhenti menyalahkan diri sendiri"


"Biar aku yang memanggilnya" Viera menimpali.


Zidan tersenyum dan mengangguk.


Viera lalu melangkah keluar.


"Oh ya Za dimana Al dan Geisha?"


"Al sedang menjemput Geisha di Asrama"


"Aahh gadis itu, aku pasti sangat menyakitinya" Zidan menghela nafas pelan.


10 menit berlalu


"Akh kenapa lama sekali? Apa Fikral benar-benar tidak ingin menemuiku?"


"Aku akan menyusul membantu membujuknya" Fairuz lalu melangkah keluar.


"Akh Al dan Geisha pun belum datang?" Zidan kembali memperhatikan setiap detak dari jarum jam yang terus berputar dan terlihat gusar, detak jam itu terdengar nyaring di telinga, detak jam yang membawa kepiluan.


15 menit berlalu


"Akh sudah saatnya! Aku ingin tidur!"


"Tidak Zidan! Aku mohon jangan tutup matamu! Aku mohon Zid! Jangan! Jangan Zidan! Jangan lakukan!!" Syeza mulai terisak dan dan menggenggam tangannya semakin erat.


Ah tangan pria itu mulai melemah dan terasa dingin.


"Zidan!! Tidak Zidan! I beg you!! Hold on!! Zidan!! Jangan!! Jangan Zidan!!" Syeza mulai panik.


"Kau.... kau sudah berjanji untuk selalu menjagaku bukan? Aku.... aku ingin kau selalu menepati janjimu! Aku mohon Zid!! Kau mendengarkan aku kan?! Zidan!!" Tangan pria itu mulai terlepas dari genggamannya, air matanya pun mengalir semakin deras.


"Inikah akhir dari segalanya? Akhir dari kehidupan Zidan? Kenapa aku harus menyaksikan ia menutup mata seperti ini?


Tidak!! Aku tidak akan membiarkan Zidan menutup matanya!!" Batinnya.


Syeza lalu beranjak berdiri dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku menentangMu Tuhan!! Aku menentangMu untuk mengambilnya!!" Syeza berteriak histeris.


"Aku mohon tolong beri satu kesempatan lagi untuk Zidan, aku memohon padaMu Tuhan" Syeza mengatupkan kedua tangannya sambil mengusap-ngusapnya dan menangis terisak lalu jatuh tersungkur di lantai.


"Tenanglah! Za tenang!!" Rayhan lalu membantunya berdiri dan memeluknya.


"Ray....., Zidan Ray!! Aku mohon lakukan sesuatu!! Jangan biarkan Zidan pergi Ray!! Aku mohon lakukan sesuatu Ray!!" Gadis itu semakin terisak.


Rayhan mengeratkan pelukannya, mengusap rambutnya dengan lembut, berusaha untuk menenangkannya.


"Tenanglah, kita tidak punya pilihan! Ini sudah menjadi takdir"


"Tidak Ray!! Aku tidak ingin hal ini terjadi! aku mohon!! Aku mohon Ray!!" Ia semakin histeris dalam pelukan Rayhan.


Di luar ruangan terdengar suara tangisan,


Fikral bahkan meninju tembok dengan terus terisak dan berteriak-teriak menyalahkan dirinya. Tangisan Fikral semakin pecah saat mendengar suara tangisan Syeza dari dalam ruangan yang terdengar pilu.


Kehilangan! Ia membenci kata itu!.

__ADS_1


__ADS_2