
ditempat lain.
dikediaman bapak Harun Wijaya. mansion yang terlihat sangat besar dan mewah bak istana. membuat orang yang melihatnya akan takjub dengan kemewahan dan keindahan tempat itu.
harun dan Herlin sedang asik bercekrama diruang keluarga. terlihat dua sosok manusia yang saling mengisi kesepian satu sama lain. sesekali Herlin mengusap airmatanya sambil menatap sebuah album foto. dan Harun terpampang wajah kerinduan diwajahnya. membuat matanya mulai berkaca namun dengan sekuat mungkin ia menahan agar tak rapuh dihadapan sang istri..
"tok..tokk".. seseorang mengetuk pintu.. membuat Harun dan Herlin tersadar dari suasan haru mereka. dan menoleh kearah suara ketukan.
"maaf tuan besar. nyonya besar"
"ada apa pak Mamang ?"
"tuan besar.. seperti nya tuan muda pulang".
"apa" . jawab herlin yang terkejut sontak berdiri.
"iya nyonya. tuan muda ada digerbang utama"
"anak ku pulang pah" putra kita pulang..hikss..hikss.
pak Mamang 40 tahun adalah kepala pekerja dimasion milik keluarga Wijaya. ia bekerja saat tuan Wijaya ayah dari Harun wijaya masih hidup. ia salah satu orang kepercayaan keluarga Wijaya. saat itu Harun dan Herlin baru saja menikah. kesetiaan dan ketulusan Mamang mengabdi pada keluarga Wijaya membuatnya bertahan dirumah Wijaya sampai saat ini.
saat sedang memantau pekerjaan para pelayan..mamang menerima telepon dari petugas gerbang utama. yang mengatakan kalau tuan muda ada digerbang utama. Mamang yang mendengar segera melangkah menuju ruang keluarga untuk memberitahu Harun dan Herlin.
tangisan Herlin pecah. kekuatan yang dia miliki selama 3 tahun belakangan ini seakan runtuh. bak bendungan air yang kokoh jebol seketika. ia berlari keluar mansion meninggalkan Harun. Harun mengejarnya dari belakang.
bagaimana tidak kerinduannya dengan tuan muda Bastian sudah sangat lama terpendam. saat dimana Bastian memutuskan meninggalkan kediaman orang tuanya dan memilih tinggal di villa pribadinya yang jauh dari keramaian. villa yang berada dipuncak jauh dari orang-orang.
bahkan selama 3 tahun herlin dan Harun tidak pernah bertemu dengannya. Bastian menolak bertemu dengan mereka karena tidak ingin hati kedua orangtuanya kecewa melihat dirinya yang sekarang.
__ADS_1
digerbang utama terlihat mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat didepan pintu gerbang.
"Tian..apa kita akan masuk ?".
"entahlah"
"tian sudahlah. lupakanlah kejadian itu.
ini adalah rumah mu. rumah kita. papah dan mamah juga sudah menunggu disana" jelas Zen sambil menunjuk kearah pintu masuk mansion
"aku sudah berusaha Zen. tapi melihat tempat ini. semua memory lama itu terputar kembali." jawab Bastian dengan wajah yang terlihat sangat bimbang.
"hei brother. brother ga kasian sama mamah dan Papah. 3 tahun brother ninggalin mereka. apa ga kangen. aku aja udah kangen berat tingkat dewa Ama mereka". sambut Jay dengan omongan ceplas-ceplos nya.
zen menjitak kepala jay. Jay hanya ngaduh kesakitan. sementara Bastian hanya pokus memandang mansion yang ada didepannya.
begitulah keakrapan Zen, Jay dan Bastian saat diluar jam kerja. mereka kembali menjadi sahabat dan ketika kembali ke mansion mereka menjadi saudara.
ucap zen lagi. namun tidak ada jawaban dari Bastian. matanya hanya terpokus memandang mansion yang dulu pernah menjadi saksi kebahagiaanya sekaligus kehancuran yang membuatnya menderita 3 tahun belakangan ini.
"bagaimana.. bagaimana aku bisa lupa. bagaimana bisa aku lupa dengan penghinaan dan penghianatan mu" bahkan kau lakukan dirumah ku sendiri". batin Bastian.
"Tian... Tian...hiks..hiks". teriak seseorang dari arah pintu mansion..
dari kejauhan Jay, Zen dan Bastian melihat seseorang berlari mendekat kearah mereka. bahkan orang itu berlari tanpa menggunakan alas kaki..
"mamah". Bastian keluar dari dalam mobil. ia berlari mendekati Herlin.
"Tian..Tian.. anak ku". teriak Herlin yang untuk pertama kalinya setelah 3 tahun melihat kembali wajah yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
halaman mansion yang luas membuat keduanya berlari terengah-engah..semakin dekat Bastian dengan jelas melihat wajah wanita yang melahirkannya. yang sebenarnya juga sangat ia rindukan. penuh dengan air mata.
"mamah. Tian". ucap keduanya bersamaan.
"Tian.. Tian anak ku. kau sudah pulang sayang. mamah rindu. sangat rindu. hikss..hiksss". gina memeluk erat putra satu-satunya.
"Tian jangan tinggalkan mamah lagi. mamah hampir menyerah menunggu mu pulang nak. setiap malam mamah menunggu mu didepan pintu. berharap kau mengetuknya dan kembali pulang" . ucap herlin diisak tangisnya.
setelah kepergian bastian. setiap malam selama 3 tahun ini. harlin selalu menunggunya didepan pintu masuk masion. ia menunggu 2-3 jam dijam biasa Bastian pulang kerja. Harun merasa iba melihatnya. ia bahkan sesekali berdebat dengan Herlin. namun Herlin yakin kalau Tiannya akan kembali.
seketika ada sedikit penyesalan dihati kecil Bastian. ia tidak menyangka keputusannya memberi penderitaan pada Herlin ibunya.
"tidak mah. Tian tidak akan pergi lagi . jawab Bastian membalas pelukan Herlin.
Jay dan Zen berlari menghampiri Tian dan Herlin begitu juga Harun. Harun bahkan yang tak ingin terlihat rapuh didepan herlin menjadi cengeng. ia tak mampu menaha airmata kerinduannya pada putra kebanggaannya. ia memeluk Bastian.
Bastian tak menyangka laki-laki tangguh. kuat dan tegar seperti ayahnya. hari ini menangis karena ulahnya.
"kenapa Tian. kenapa begitu lama kau meninggalkan papah dan mamah. apa kau pergi sangat jauh sehingga butuh waktu 3 tahun untuk mu kembali pada papah dan mamah. apa begitu jauh sehingga membuat papah dan mamah hanya bisa melihat mu dalam foto saja untuk melepas rindu". hiksss...hiksss...jangan pergi lagi Tian. cukup 3 tahun saja kamu membuat jarak antara mamah dan papah. dan membawa kakak serta adik mu pergi. jangan lagi.
"tidak pah.. tian tidak akan pergi lagi". jawab dingin Bastian namun ada penyesalan disana.
Jay dan Zen ikut serta dalam rasa haru. airmatapun berhasil lolos membasahi pipi. begitu juga dengan orang-orang yang ada dimansion. terlebih lagi Mamang. orang yang selalu menyaksikan setiap kesedihan dan kesepian Harun dan Herlin. namun tidak dengan Bastian. entah manusia macam apa dan terbuat dari apa dia..meski terlihat penyesalan dan kesedihan diwajahnya. namun tetap datar tanpa ekspresi berlebihan.
Mamang sangat terharu melihat orang-orang hebat didepannya. yang bersifat dingin. tegas. kuat. namun terlihat cengeng dan menangis hari ini. kecuali Bastian.
"sungguh pemandangan yang indah" batin Mamang
gina memeluk Zen dan Jay. mencium pucuk rambut mereka. begitu juga Harun. keluarga yang terpisah selamat bertahun-tahun kini berkumpul kembali.
__ADS_1
________________
"hello readers.. author masih dalam tahap belajar. mohon bantuan, kritik dan sarannya baik yang bagus maupun tidak. author akan menerima dengan senang hati"..😁😁😁😁😁