
"Meskipun kisah tentangmu telah berakhir, aku akan tetap ada dan selalu mencintaimu hingga takdir membawamu kembali kepadaku!"
~Geisha Al-Ahkam
~Bascamp
"Syeza?" Terdengar suara Elhameed dari seberang sana.
"Iya ayah?"
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja! Hanya saja.....,"
"Ayah mengerti! Maaf ayah tidak bisa ikut pemakamannya"
"Aaah tidak masalah ayah tapi, apa ayah sudah mengunjunginya?"
"Iya sudah! Dua hari yang lalu setelah pulang dari Hongkong, ayah sempat singgah dimakamnya"
"Aakhh jadi dua hari yang lalu ayah ada disini tapi ayah bahkan tidak menemuiku?" Batin Syeza.
"Ayah juga minta maaf, ayah tidak sempat menemuimu! Kau tahu bukan? Ayah tidak bisa menemuimu ditempat umum"
Gadis itu hanya tersenyum getir.
"Akh aku hampir melupakannya! Tidak semua orang tahu tentang ayah bukan?! Aku benar-benar bingung kenapa ayah menghindari tempat umum? menyembunyikan identitasnya dan menggunakan identitas palsu?! Seolah-olah seperti pria misterius! Aakh julukan itu cocok untuk ayah yang dikenal sebagai CEO Satrio bukan? Aakhh ayah apa yang sebenarnya ayah rahasiakan?!" Batinnya.
"Syeza?"
"Iya ayah?"
"Ayah sudah mendengar kasus Fikral! Dia pasti sangat terpukul dan ayah juga bangga padamu, gadis kecil ayah ternyata sangat pemberani!" Ujar Elhameed.
"Ayah tahu tentang kejadian Fikral yang ingin mencelakai dirinya? Akh apa ayah juga tahu semua hal yang terjadi disini? Tapi bukankah itu hal yang wajar? Aku yakin bukan hanya Fikral dan almarhum Zidan yang secara kasat mata menjagaku tapi, sudah pasti dibelakangku ada orang-orang suruhan ayah yang ikut menjagaku! Tanpa kasat mata! Tanpa aku tahu siapa mereka! Akh ayah mengapa kau begitu rumit dan misterius untuk putrimu ini?!" Batinnya lagi.
"Untuk itu ayah sudah mengambil keputusan!"
"Keputusan? Keputusan apa ayah?"
"Ayah akan mengirim pengawal untuk menjemputmu dan Fikral dan membawa kalian ke gedung xxx"
"Gedung xxx? Ouhhh? Apa kami akan pulang menggunakan jet? Tidak mobil?"
"Iya! Ayah rasa ini alternatif terbaik! Jika menggunakan mobil dan dikawali oleh para pengawal akan mengundang perhatian banyak orang jadi, menggunakan jet lebih private!"
"Aahh iya ayah baiklah" Ujar Syeza hanya menurut.
"Ya sudah ayah tutup teleponnya! Jangan lupa untuk mengajak Geisha"
"Iya ayah aku akan mengajaknya"
"Baiklah, sampai ketemu dirumah"
"Iya ayah" Syeza lalu lalu menutup teleponnya dan menghela nafas.
"Meninggalkan tempat ini? Aakhh kenapa rasanya berat sekali?" Syeza lalu menyenderkan kepalanya disofa dan memejamkan mata.
"Za?"
"Iya?" Syeza membuka matanya dan menoleh.
"Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Syeza heran.
"Aahh baru saja!"
"Bisa ikut denganku sebentar?" Ujar Al.
"Heemm? Kemana?" Syeza mengerutkan alis.
"Hanya sebentar, ayo!" Alghifari lalu mengulurkan tangannya.
Syeza tersenyum kecil lalu meraih tangan Alghifari, pria itu lalu membawanya ke sebuah ruangan, yah ruangan Zidan yang ditempati Geisha sekarang. Saat pintu terbuka, terlihat Geisha yang sedang duduk termenung.
"Za kau bisa berikan ini padanya?" Alghifari menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Apa ini?"
"Aku juga tidak tahu, Zidan hanya menitipkannya kepadaku untuk Geisha"
"Aah baiklah" Syeza lalu mengambil kotak itu dari tangan Alghifari dan hendak melangkah menghampiri Geisha namun Alghifari menahan tangannya dan menarik gadis itu dalam pelukannya.
"Al?" Syeza mengkerutkan alis merasa bingung.
"Sebentar, biarkan begini sebentar saja!" Ujar Alghifari.
Syeza terdiam sejenak, membiarkan pria itu melepaskan rasa lelahnya dipundaknya.
"Ada apa? Kau baik-baik sajakan?"
"Entahlah! Aku tidak yakin hanya saja, aku merasa jauh lebih baik setelah memelukmu"
Syeza tersenyum lalu mengusap-ngusap punggungnya.
"Ada aku disini! Jika ada yang ingin kau ceritakan, katakan saja! Telingaku selalu siap untuk mendengarkanmu dan jangan lupa, pundakku pun selalu ada disaat kau butuh sandaran!"
__ADS_1
"Akh entahlah Za! Saat mendengar kabar dari Landon, aku merasa seperti pria yang jahat! Lalu Alex yang mengatakan bahwa dia sudah menemukan satu kebenaran membuatku merasa takut, was-was, dan khawatir! Akh bahkan hanya memikirkannya saja membuat kakiku terasa tak sanggup untuk berdiri!" Batin Alghifari.
Alghifari lalu melepaskan pelukannya.
"Masuklah, berikan pada Geisha!"
Syeza hanya terdiam dan menatap ke arahnya.
"Jangan menatapku seperti itu! Kau membuatku seakan-akan terlihat menyedihkan!"
"Kau yakin sudah baik-baik saja?"
"Eemmm berkat pelukanmu!" Alghifari tersenyum kecil.
"Masuklah!"
"Kau tidak ingin masuk bersama?"
"Tidak! Kau saja!" Alghifari menggeleng.
Syeza tersenyum dan mengangguk lalu melangkah menghampiri Geisha.
"Maaf Za, hari ini aku akan melanggar janjiku!" Batin alghifari. Ia lalu melangkah pergi.
"Sha?" Geisha menghapus airmatanya lalu menoleh dan tersenyum kecil.
"Kakak?" Syeza ikut tersenyum lalu duduk disampingnya dan menghapus airmatanya yang masih mengalir, ia lalu menggenggam tangannya.
"Sha aku mengerti perasaanmu tapi, harus sampai kapan kau terus seperti ini? Jujur, aku merindukanmu yang dulu! Geisha yang ceria dan selalu heboh! Apa kau akan terus jadi pemurung seperti ini?"
"Maaf kak, aku hanya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan ini! Terlalu sakit kak! Rasanya seperti mimpi! Cinta yang aku tunggu malah memilih pergi untuk selama-lamanya! Dan...., dari semua luka yang ia beri, ini jauh lebih sakit kak! Tidak masalah jika memang dia tidak mencintaiku tapi, kenapa dia harus pergi? Aku....., aku benar-benar tidak memahami kenapa dia meninggalkanku! Hingga hari ini, aku masih belum percaya bahwa Zidan sudah pergi untuk selama-lamanya!" Geisha terisak.
Syeza lalu menariknya dalam pelukan, mengusap-ngusap punggungnya dan mengusap pelan rambut panjangnya.
"Aku tahu, tidak mudah berada diposisimu! Hal ini pasti sangat membuatmu terluka! Tapi aku selalu percaya kau gadis yang kuat! Kau harus tetap bangkit bagaimanapun keadaannya! Kau harus tetap tegar! Aku yakin Zidan pun pasti merasa sedih jika tahu kondisimu seperti ini!" Syeza lalu melepaskan pelukannya.
"Kak menurutmu apa karena aku tidak mendengarkannya waktu itu?" Tanya Geisha dengan wajah sedih.
"Heemm?" Syeza terlihat bingung.
"Waktu itu, dihari pertemuan kami terakhir sebelum ia menghilang, aku yakin Zidan pasti ingin memberitahuku tentang penyakitnya! Tapi, aku tidak mendengarkannya kak! Aku memilih pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya! Jika saja waktu itu, aku sedikit lebih tenang, aku tidak egois dan mendengarkannya sebentar saja, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi bukan?!"
"Sha" Syeza lalu mengeratkan genggamannya.
"Kau tahu betul bukan? Ada hal-hal yang terjadi diluar kendali kita! Apapun yang terjadi, tolong jangan menyalahkan dirimu! Kau tidak bersalah dan bertanggungjawab atas kepergian Zidan! Semuanya terjadi karena sudah menjadi hukum alam! Tidak ada yang benar-benar kekal! Pada akhirnya semuanya akan punah!"
Syeza lalu tersenyum kecil.
"Sebentar malam, aku dijemput untuk pulang ke malang!"
"Pulang?!" Geisha terlihat kaget.
Syeza mengangguk.
Geisha tersenyum.
"Terima kasih kak tapi, sepertinya aku disini saja"
"Masih ingin mengenangnya?"
Geisha tertawa getir.
"Entahlah, hanya saja masih terlalu berat"
"Baiklah jika kau memang ingin tetap disini tapi, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan seperti ini lagi!"
Geisha tertawa kecil dan mengangguk.
"Aku akan berusaha!"
Syeza tersenyum lalu melepaskan genggamannya.
"Oh ya Sha, ini untukmu" Syeza menyodorkan kotak kecil berwarna hitam ke arahnya.
"Apa ini kak? Dari siapa?" Geisha lalu mengambil kotak itu dari tangan Syeza.
"Titipan dari Zidan untukmu!"
"Titipan dari Zidan?" Geisha mengerutkan alisnya.
"Iya! Zidan menitipkannya pada Al, lalu Al memintaku untuk memberikannya padamu!"
"Aah iya, terima kasih kak!"
Syeza hanya mengangguk.
"Ya sudah, aku ke ruang tamu sebentar!"
"Iya kak"
"Ingat jangan menangis lagi!"
Geisha tersenyum dan mengangguk.
Aakhh senyum yang terlihat menyakitkan!.
__ADS_1
Syeza lalu melangkah pergi meninggalkan Geisha sendirian dengan sebuah kotak ditangannya. Geisha lalu dengan perlahan membuka kotak itu, air matanya kembali mengalir saat terlihat sebuah cincin berlian yang terlihat manis dalam kotak itu dengan sebuah surat.
💌Hay? Apa kabar? Apapun yang terjadi, aku ingin kau selalu baik-baik saja! Aakhh kau sudah membaca tulisan ini? Aku menulisnya satu hari sebelum aku menutup mata didepanmu! Entah kenapa aku merasa bahwa disaat terakhir aku menutupku, aku akan melihat wajahmu walau hanya sebentar ehehe! Jika surat ini sudah sampai ditanganmu, itu artinya aku sudah tidak ada dan aku sudah tidak bisa lagi mendengar suara cemprengmu! Aakhh kau tahu? Aku merindukan suara cemprengmu! Tunggu, apa kau sedang menangis? Aiss aku tidak ingin kau membaca surat dariku sambil menangis! Itu terlihat menyedihkan! Lagi pula kau tahu bukan? Jika kau menangis aku tidak bisa menghapus airmatamu jadi, jangan menangis!! Aku percaya kau gadis yang kuat!.
Sha, tidak banyak yang ingin ku katakan, aku hanya ingin minta maaf! Maaf, karena selama ini aku mengabaikan perasaanmu! Maaf membuatmu menunggu terlalu lama dan maaf juga penantianmu berakhir dengan luka! Maaf Sha, maaf membuatmu terluka! Aku mencintaimu Sha tapi, cintaku membuatmu terluka bukan? Cintaku hanya memberimu rasa sakit bukan? Aku minta maaf untuk itu! Oh ya aku ingin memberitahumu satu hal tapi berjanjilah jangan memberitahu Syeza, Akh aku percaya kau gadis yang bisa menjaga rahasia! Aku meminta Alghifari untuk menjagamu dan Syeza dan dia pun berjanji akan selalu menjaga kalian! Aku mengetahui semua hal tentang Alghifari! Semua hal yang tidak kalian ketahui! Untuk itu aku percaya kalian akan aman jika berada dalam penjagaannya! Nanti jika suatu saat Alghifari melakukan hal yang menyakiti kalian ingatkan saja ia pada janjinya:) Aakhh kau pasti merasa bingung bukan? Tidak apa-apa, nanti disaat yang tepat kau akan mengerti dengan seiring berjalannya waktu, oh ya Sha apa kau menemukan cincin didalam kotak itu? Aku membelikannya untukmu! Jujur saja, sebenarnya aku ingin mengikatmu dengan cincin itu hanya saja aku tidak punya banyak waktu untukmu bukan? Aku takut, jika dengan mengikatmu akan membuatmu semakin terluka! Aku mencintaimu tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya! Aakhh aku seorang pecundang bukan? Hanya berani mengatakannya lewat surat! Kau tahu? Aku ingin membalas penantianmu dengan cara membahagiakanmu tapi, Tuhan tidak mengizinkannya sehinggga membuat takdir kita berakhir seperti ini! Akhir dari kisah yang menyedihkan bukan? Aakhh semua itu karena memang aku bukan pria yang pantas untuk membahagiakanmu! Pesanku tetap jadi gadis yang kuat dan tegar, aku tidak ingin kau terus terpuruk! Bangkitlah, banyak hal didepan sana yang menunggu untuk diraih! Jangan terus menangisiku seperti ini! Kau masih memiliki masa depan yang perlu untuk diperjuangkan! Kau masih ingat permintaanku bukan? Aku memintamu seperti itu karena aku tahu waktuku hanya sebentar! Aku pria yang jahat! Aku pria yang tak berperasaan! Pria yang tidak bisa memahamimu! Untuk itu belajarlah mencintai pria lain! Pria yang lebih pantas untukmu! Pria yang tak menyakitimu! Pria yang bisa membahagiakanmu dan aku ingin kau melupakanku! Satu hal lagi Sha, ingat tahun depan kau ujian akhir bukan? Aku ingin kau lulus dengan nilai terbaik dan harus masuk di Universitas Landon! Kau mendengarkanku bukan? Dengar Sha, aku tidak ingin kau menangis lagi! Satu hal lagi, aku ingin meminta maaf lagi, maaf karena aku meninggalkanmu seperti ini! Aakhh Geisha..., Aku merindukanmu!.
~Zidan Elsiraaj
Usai membaca surat dari almarhum Zidan, Geisha kembali menangis terisak, menangis sambil memeluk erat surat tersebut.
"Kenapa Zid? Kenapa harus sesakit ini? Kau meminta kepadaku banyak hal tapi kau bahkan tidak bisa mengabulkan satu pun permintaan dariku! Kau malah pergi begitu saja tanpa penjelasan dan meskipun aku sudah sampai pada ujung letih dan lelahnya, aku belum menyerah dengan cinta ini Zid! Aku mencintaimu! Dan aku masih menunggumu, menunggumu untuk kembali!"
"Adakah keajaiban untuk membawamu kembali kepadaku? Aakhh meskipun hal itu tidak akan pernah terjadi, aku akan selalu menunggu keajaiban itu Zid! Aku tidak perduli! Aku hanya ingin kau kembali! Kenapa?! Kenapa harus secepat ini?! Apa tidak ada kesempatan untuk bersamamu walau hanya sebentar? Kau bahkan tak hadir dalam mimpiku walau hanya sebentar! Kau tahu sesakit apa aku sekarang?! Aku bahkan masih kebingungan dengan kenyataan ini!! Apa kau benar-benar telah pergi atau aku yang sedang bermimpi? Zid aku rasa, aku akan terus mencintaimu hingga kisah ini berakhir! Hingga senja yang kulukis mulai memudar dan menghilang dari pandangan!" Batin geisha, ia yang terluka tak henti menangis sambil memeluk erat surat itu.
~Bascamp, pukul 22:00
Semua orang terlihat berkumpul dibasecamp untuk berpamitan.
"Ruz apa Al belum bisa juga untuk dihubungi?" Tanya Syeza pada Fairuz.
"Aakhh pria itu! Tadi siang aku sempat berpapasan dengannya didepan basecamp, dia mengatakan hanya pergi sebentar tapi kenapa sekarang belum kembali? Ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi!" Kesal Fairuz.
"Akh kemana kau pergi Al? Kau kembali menghilang tanpa kabar? Apa kau sedang melanggar janjimu? Setidaknya beritahu aku jika kau ingin pergi kesuatu tempat sehingga aku tidak menunggu kabar dengan perasaan was-was seperti ini! Apa yang sebenarnya terjadi Al? Apakah pelukan tadi siang ada hubungannya? Kau mencoba memberitahuku dengan pelukan itu? Kau tadi siang, terlihat tidak baik-baik saja! Aakhh kenapa aku tidak menyadarinya?!" Batin Syeza.
"Jangan khawatir! Jika aku sudah berhasil menemukan Al, aku akan menyuruhnya untuk menghubungimu saat itu juga!" Fairuz mencoba menghibur.
Syeza tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah kami pamit" Ujar Syeza.
Mereka mengangguk, Syeza lalu memeluk Fairuz.
"Hati-hati! Ingat, hubungiku jika sudah sampai dan jangan sampai hilang komunikasi! Kau mengerti?"
Syeza mengangguk.
"Aku menunggu kabar baik darimu"
"Kabar baik?" Fairuz mengkerutkan alis.
"Taklukkan hati Viera!" Bisik Syeza.
"Ahahah aku akan berjuang!"
Syeza tersenyum lalu melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Viera.
"Hati-hati Za! Salam untuk paman!"
"Kau juga hati-hati disini! Ingat, jangan terlalu fokus mengejar! Lihat ke belakang! Ada yang sedang mengejarmu dan memperjuangkanmu!"
Viera hanya tersenyum kecil, Syeza balas tersenyum lalu kembali memeluk Geisha.
"Sha hubungiku jika kau ingin menyusul!"
"Kau yang harusnya menghubungiku kak! Aku benar-benar khawatir kau hilang kabar kak!"
"Ahaha kau bisa langsung datang ke rumah jika aku hilang kabar!"
Geisha terlihat tertawa kecil.
"Aakhh kakak, basecamp akan tambah sepi bukan?" Geisha terlihat sedih.
"Ahaha tidak akan! Aku akan mencoba untuk mencari waktu agar bisa kembali kesini lagi!"
"Aakhh semoga saja kak!"
"Iya! Oh ya ingat Sha, aku tidak ingin kau jadi pemurung lagi! Kau mengerti?!"
Geisha mengangguk.
"Aakhh aku benar-benar merasa sedih berpisah denganmu! Kapan kita akan berkumpul lagi?!" Fairuz merangkul kepala Fikral.
"Aiss rambutku!!" Fikral menghindar dari rangkulan Fairuz.
"Yakhh!! Kau lebih mementingkan rambutmu daripada rangkulan perpisahan dari sahabatmu?!" Fairuz memicing kearah Fikral namun, pria itu hanya diam tak menggubrisnya.
"Aaiss kau benar-benar!!" Fairuz kembali merangkul Fikral dan ketika Fairuz hendak melepaskan pelukannya, Fikral menahannya sejenak. Fairuz tersenyum lalu mengusap punggung sahabatnya, ah sahabatnya yang tak banyak bicara.
"Tetap semangat brother! Jangan menyalahkan dirimu atas segala hal yang terjadi! Kau sudah melakukan yang terbaik!" Fairuz lalu melepaskan rangkulannya.
"Yakhh! Aku tidak mau tahu nanti, kita bertemu lagi dimasa depan, kau harus menjadi pria yang sukses! Dan satu hal lagi yang paling penting, jadilah pria yang hangat! Jangan terlalu kaku! Heem? Kau mengerti?!"
"Aiss kau memang tipe yang pemaksa!"
Fairuz dan Fikral lalu tertawa.
Setelah berpamitan, semua orang lalu melangkah keluar untuk mengantar, Syeza lalu melangkah menghampiri Rayhan yang masih duduk disofa.
"Ray...., aku pamit!"
Rayhan hanya terdiam dan menatapnya dengan lekat, gadis itu terdiam sejenak lalu melangkah pergi mengikuti mereka yang sudah keluar namun, Rayhan menahan tangannya. Ia lalu beranjak berdiri dan menarik Syeza dalam pelukannya.
"Akh aku merindukanmu Ray tapi, kenapa rindu ini membuatku merasakan sakit?!" Batin Syeza.
"Aku akan selalu merindukanmu Za! Maaf, maaf untuk semua luka yang kuberi!"
__ADS_1
"Maaf Ray, mereka sudah menunggu di luar!" Syeza buru-buru melepaskan pelukan Rayhan lalu melangkah keluar meninggalkannya yang masih berdiri termenung.
"Akh Za, aku ingin memperbaiki semuanya! Apa tidak ada kesempatan untuk mengulang semuanya lagi?" Batin Rayhan.