Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Kehilangan 3


__ADS_3

'Tak apakah jika aku melupakanmu? Apakah kau akan baik-baik saja jika aku memulai hal baru tanpamu? Sepertinya bukan kau yang tak baik-baik saja tapi aku bukan? Aku rasa, aku yang tak akan baik-baik saja! Akh kau tak perlu khawatir, meskipun kisah tentangmu telah berakhir aku tidak akan melupakanmu!'


                                 ~Fikral Elrasyid


~Basecamp


Satu minggu setelah pemakaman Zidan semua menjadi berubah, basecamp yang biasanya ramai kini terasa sepi, meskipun ada penghuninya. Tak ada candaan, tak ada obrolan, semua orang masih bersedih atas kepergian Zidan.


Geisha yang menjadi gadis pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktu diruangan yang biasa ditempati Zidan untuk mengurus tanaman-tanamannya, begitu pun dengan Fikral yang masih mengurung dirinya, hal ini yang membuat mereka memilih menginap dibasecamp, seperti sore ini, basecamp terlihat sepi hanya ada Syeza yang sedang membaca buku diruang tamu, Viera yang sedang mandi, Geisha yang memilih mengurung diri diruangan Zidan, dan Fikral yang masih mengurung dirinya.


Ah Syeza tak ingin mengganggu mereka, biarkan mereka menenangkan diri, sedangkan Alghifari, Fairuz, dan Rayhan sedang ada urusan. Saat sedang asik membaca buku tiba-tiba Fikral terlihat berjalan keluar dengan tergesa-gesa sambil memakai jaketnya.


"Ada apa? Kenapa dia terlihat buru-buru sekali?" Syeza terlihat bingung.


Fikral yang bahkan mengurung dirinya semenjak dihari kematian Zidan, tiba-tiba ia keluar dengan ekspresi yang sulit ditebak.  Ada kesedihan, kemarahan, kekecewaan, dan penyesalan terlihat jelas diwajahnya.


Syeza beranjak lalu membuka kain jendela dan mengintipnya.


Fikral terlihat mengendarai motornya keluar dari area basecamp.


"Perasaanku jadi tidak enak! Apa lebih baik aku mengikutinya? Tapi menggunakan apa?


Aakhh mobil!! Iya ada mobil Al! Aku bisa meminjamnya tapi, aku belum terlalu ahli mengendarai mobil, aakhh bagaimana ini?" Syeza mulai panik.


"Ah biarlah, keadaan Fikral lebih penting!"


@Alghifari


📧Al, aku pinjam mobilmu!.


Setelah pesan itu terkirim, Syeza lalu melempar ponselnya kesembarang arah lalu meraih jaket dan memakainya, mengambil kunci mobil dan melangkah keluar, ia lalu mengendarai mobil Alghifari mengikuti Fikral.


"Akh kenapa dia cepat sekali mengendarai motornya? Kalau begini, aku akan kewalahan untuk mengikutinya" Syeza membanting setir ke arah kiri saat hampir tak sengaja menabrak seorang pejalan kaki, hingga membuat mobil Alghifari menabrak pohon.


"Ais menyebalkan!" IA lalu turun dari mobil dan menghampiri orang tersebut.


"Aah maaf pak, aku tidak sengaja, maaf sekali"


"Aahh iyh tidak apa-apa" Pria itu tersenyum, Syeza balas tersenyum.


"Tidak ada yang terluka bukan?" Tanya Syeza, pria itu hanya mengangguk.


"Sekali lagi maaf, kalau begitu saya permisi pak" Pria itu kembali mengangguk, Syeza lalu kembali ke mobil dan memeriksa mobil Alghifari. Terlihat mobil depan Alghifari terlihat penyok karena menabrak pohon.


"Akh maaf Al, aku merusak mobilmu" Ia lalu kembali mengendarai mobil dan mengikuti Fikral.


"Ah kemana dia? Apa aku kehilangan jejaknya? Aahh itu dia!" Syeza tersenyum lalu membanting setir ke arah kanan mengikuti motor Fikral yang melaju sangat cepat.


"Tunggu, jalanan ini? Bukankah jalanan ini berakhir buntu dan bertemu jurang? Untuk apa Fikral kesana? Apa jangan-jangan? Aiss!! Apa dia sudah tak waras?! Apa otak cerdasnya sudah tak berfungsi lagi?! Aku harus menghalangi motornya tapi, aku tidak seberani itu!! Aahh bagaimana ini? Ah iya! Lebih baik aku menelpon memberitahu yang lain!" Tangan sebelahnya lalu meraba mencari ponselnya.


"Aiss dimana aku menaroh ponselnya? Apa aku lupa membawa ponselku? Menyebalkan! Kenapa harus sampai lupa dengan ponselmu syeza?!" Ia menggerutu.


                            **********


"Menyebalkan! Jika ponselku tertinggal bagaimana aku memberitahu yang lain? Lalu bagaimana caranya juga aku menghalangi motor Fikral?! Aku tidak punya keberanian sebesar itu! Lagi pula untuk apa Fikral pergi ke jalan buntu itu?! Apa dia ingin mati?!"


Alex terlihat mengkerutkan alis saat terdengar suara seorang gadis dari walkie talkie miliknya.


"Suara ini? Bukankah ini Syeza? Ah kenapa walkie talkie milik Al ada padanya? Tunggu, apa ia dalam bahaya? Aah aku harus memberitahu Al!" Alex lalu beranjak mencari Alghifari.


 


                           *********


"Ais gadis ini! Kenapa nekat sekali?! Memangnya dia sudah bisa mengendarai mobil itu?!" Alghifari terlihat panik dan menggerutu saat membaca pesan yang masuk.


📧@SyezaAnastasya


Yah gadis nekat!! Memangnya kau bisa mengendarai mobil itu?! Katakan dimana kau sekarang?!.


Sebuah pesan terkirim.


Alghifari lalu duduk dan menyenderkan kepalanya disofa.


"Al!" Alex tergesa-gesa menghampiri Alghifari.


"Ada apa lex? Kenapa kau terlihat panik?"


"Syeza Al!"


"Syeza? Apa maksudmu? Ada apa dengannya?"


"Tadi walkie talkie milikku dan milikmu tersambung, aku mendengar suara Syeza yang terdengar marah dan panik"


"Marah dan panik?"


Alex mengangguk.


"Apa dia mengatakan sesuatu? Atau informasi apapun itu?"


"Tadi ia sempat menyebut jalan buntu dan juga...., akh kalau tidak salah nama Fikral!"


Alghifari mengkerutkan alis.


"Jalan buntu dan Fikral?" Alghifari terlihat berfikir keras.


"Ais dua orang bodoh itu!! Untuk apa mereka kesana?!" Alghifari menggerutu.


"Apa maksudmu? Kau tahu sesuatu?" Tanya Alex.


"Fikral dan jalan buntu! Kau bisa menebakkan apa yang akan terjadi?"


"Ouh?! Yakh kau harus segera menyusul mereka!"


"Kau juga ikut!"


"Harus?"


"Yakh!! Kau masih bertanya dengan santai seperti itu?! Cepat!! Aku akan selalu bergantung padamu!" Alghifari lalu beranjak dan melangkah pergi.


"Yakh!! Ah secepatnya kau harus memikirkan tawaran dari Presiden Landon" Ujar Alex sambil menyeimbangi langkah Alghifari.


"Tidak akan pernah!"

__ADS_1


"Wakh!! Bagaimana mungkin kau akan terus bergantung padaku?!"


"Selamanya!" Balas Alghifari membuat Alex hanya tertawa kecil.


                           **********


Dilain tempat, Syeza terlihat terus mengendarai mobil mengikuti Fikral.


"Ah aku harus melakukannya sekarang!" Syeza lalu menambah kecepatan tinggi, memutar setir ke arah kiri dan mengganti arah mobil hingga berhadapan dengan arah motor Fikral. Ia lalu menghentikan mobil tepat didepan jurang, mencoba menghalangi motor Fikral yang melaju dengan kencang ke arahnya, gadis itu lalu menyembunyikan wajahnya dibalik setir mobil, jika Fikral menabrak mobil Al maka mereka akan jatuh bersama dalam jurang.


Ciiiiitttt!!


Terdengar suara motor Fikral yang berhenti tepat didepan mobil yang ditumpangi Syeza.


"Ah aku masih hidup bukan? Kami tidak masuk ke dalam jurang itu kan?" Batin gadis itu. Ia lalu mengangkat kepalanya dan melirik ke arah luar, terlihat Fikral yang membuka helmnya dan turun dari motornya.


"Ahh syukurlah!" Ujarnya lega. Ia lalu melangkah keluar dari mobil.


"Apa yang kau lakukan Syeza?!" Tanya Fikral


"Harusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan hah?! Untuk apa kau mengendarai motor dengan kecepatan tinggi seperti itu?! Apa kau tidak menyadari didepanmu ada jurang?! Apa kau ingin mati?!" Syeza menatapnya dengan lekat.


Fikral terlihat tertawa getir.


"Lagi pula untuk apa aku hidup? Percuma bukan? Zidan sudah pergi jadi, untuk apa aku hidup Za?! percuma Za!!"


"Percuma juga jika kau mati!! Kau fikir dengan cara mencelakai dirimu sendiri bisa membuat Zidan bangun lagi?! Kau fikir dengan cara kau mati, Zidan akan hidup lagi?! Tidak Fikral!! Hal itu tidak akan pernah terjadi!! Zidan sudah pergi untuk selama-lamanya Fik!! Dia sudah meninggalkan kita! Tolong, belajarlah untuk menerima takdir itu!!"


"Aarrghh!!" Fikral berteriak lalu jatuh tersungkur ditanah, ia lalu menangis.


Syeza lalu perlahan berjalan mendekatinya.


"Kenapa takdirnya harus sesakit ini?! Semuanya terlalu cepat!! Waktu terlalu jahat mengambil Zidan secepat ini!"


Syeza lalu memeluknya membiarkan pria itu bersender dibahunya.


"Aku mengerti tapi aku mohon jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini! Zidan pasti akan sangat sedih jika kau seperti ini! Apa kau ingin Zidan tidak tenang disana?" Syeza menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir tanpa dikomando.


"Satu hal yang perlu kau sadari bahwa, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap yang bermula pasti akan berakhir, setiap yang datang pasti akan pergi! Tidak selamanya kekal dan semua itu sudah tertulis sebagai takdir!" Syeza lalu melepaskan pelukannya, menghapus air mata Fikral dan menggengam erat tangannya.


"Fik, Zidan pergi bukan berarti kau juga harus pergi! Aku mohon, cukup satu saja yang pergi dan jangan ada lagi! Aku tidak ingin kehilangan lagi! Cukup Fik, jangan ada lagi yang pergi! Jika kau juga pergi bersama Zidan lalu siapa yang akan melindungiku? Bukankah kau sudah berjanji pada ayah untuk selalu menjagaku? Cukup Zidan yang gagal dan kau jangan!"


Fikral terdiam.


"Kau harus tetap hidup! Jika kau masih merasa bersalah maka tebuslah kesalahan itu dengan cara teruskan perjuangan Zidan!" Syeza mengeratkan genggaman tangannya dan tersenyum kecil.


"Zidan dulu pernah berjanji bahwa dia akan menjadi kakak yang baik untukku! Kakak yang selalu menjaga adiknya" Gadis itu terlihat lalu menghapus air matanya yang terus mengalir.


"Bisakah kau lanjutkan perjuangan Zidan? Aku membutuhkanmu untuk selalu melindungiku! Aku yakin ayah mengirim kalian untukku pasti karena ada alasannya bukan?"


"Masih banyak yang membutuhkanmu! Kau juga tahu Zidan pergi dengan meninggalkan Geisha, gadis itu juga membutuhkanmu!"


"Ah Zid, aku akan memulai hal baru dan kali ini tak ada kisah tentangmu! Kau tidak akan marah bukan jika aku memulai semuanya tanpa melibatkanmu didalamnya? Tapi kau tidak perlu khawatir sampai kapan pun aku tidak akan melupakanmu!" Batin Fikral.


Fikral terlihat menarik nafas, membalas genggaman tangan Syeza dan tersenyum kecil.


"Maaf, aku minta maaf! Maaf tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu, maaf aku terlalu menentang takdir! Aku terlalu kekanak-kanakan bukan?"


"No problem Fik! Aku mengerti posisimu, I know it's not easy for you but, you have to be strong! Kita pulang yaa?"


Gadis itu sedikit mengkerutkan alis saat mendapati mobil Rayhan berhenti didepan mereka.


"Syeza"


"Ray?"


"Ada apa Za? Ada apa dengan Fikral? Kalian baik-baik saja bukan?"


"Ah iyh Ray, tidak perlu khawatir! Ah ya kenapa kau bisa ada disini?"


"Aah itu tadi, aku sempat melihatmu mengendarai mobil ke arah sini dengan kecepatan tinggi, aku hanya khawatir jadinya aku mengikutimu"


"Ouhh"


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bisa ada disini?"


"Aku akan menjelaskannya nanti, kau bisa membantuku membawa Fikral pulang?"


"Lalu kau?"


"Aku akan menyusul nanti"


"Aah iyh baiklah"


"Terima kasih!"


"Iya sama-sama"


Rayhan lalu memapah Fikral dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Rayhan sejenak menoleh ke arah Syeza, gadis hanya tersenyum kikuk.


"Aahh kenapa jadi canggung? Kita bahkan saling berterima kasih untuk hal-hal yang memang seharusnya kita lakukan! Ah rasanya asing!" Batin Syeza.


Rayhan terlihat menarik nafas lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


Gadis itu menghela nafas lalu naik ke atas mobil dan menyenderkan tubuhnya diatas mobil dan memejamkan mata merasakan udara sejuk disore hari.


"Melelahkan sekali! Badanku terasa sakit hanya karena membanting setir!" Ujarnya.


"Apa yang kau lakukan hah?! Apa kau ingin mati?!"


Syeza membuka matanya lalu menoleh.


Alghifari berdiri menatap ke arahnya dengan lekat.


"Apa kau tahu bagaimana bahayanya?! Kenapa kau nekat sekali mengendarai mobil ini?! Bagaimana jika terjadi sesuatu?!"


"Ais aku baru saja mengalami hal yang mengerikan dalam hidupku tapi, kau malah datang dan memarahiku?! Apa tidak ada sedikit pun kepedulian dihatimu?! Menyebalkan sekali!" Syeza beranjak bangun lalu membuang muka.


"Itu karena kau membuatku khawatir! Kau tahu bagaimana paniknya aku saat membaca pesan darimu?!"


"Aahh jadi kau beneran panik?"

__ADS_1


"Menurutmu?! Kalau tidak, untuk apa aku ada disini?!" Alghifari lalu duduk disamping Syeza dengan melipatkan kedua tangannya.


"Tapi tunggu Al, bagaimana kau bisa tahu aku ada disini? Aku meninggalkan ponselku dan tidak menghubungi siapapun!"


Alghifari lalu dengan cuek membaringkan tubuhnya diatas mobil, menjadikan tangannya sebagai bantal lalu memejamkan matanya.


"Yakh!! Aku bertanya padamu!!"


"Untuk apa kau bertanya dengan pertanyaan yang membingungkan?!"


"Maksudmu?"


"Kau merasa bingung bukan kenapa aku ada disini?"


Gadis itu hanya mengangguk.


"Ya sudah, tidak usah bertanya dengan pertanyaan yang membuatmu bingung!"


"yakh! Wakh!! Kau memang menyebalkan Alghifari!"


Alghifari hanya tertawa kecil, ia lalu beranjak bangun dan berjalan membuka pintu mobil, mengambil sesuatu disana lalu kembali menutup pintunya.


"Ku lihat ini? Aku mendengarkan suaramu dari sini!" Ia berdiri didepan Syeza lalu mengacungkan walkie talkie ke arahnya.


"Perasaan, aku tidak melihat benda itu didalam mobilmu!"


"Nyatanya? Ada bukannya? Kau saja yang tidak menggunakan matamu dengan baik!"


Ujar Alghifari membuat Syeza memutar bola mata malas.


Syeza lalu meraih walkie talkie dari tangan Al dan memencet tombol yang menghubungkan.


"Apa yang kau lakukan Za?!"


"Hanya ingin membuktikan apa yang kau katakan itu benar atau tidak!"


"Jadi menurutmu aku sedang berbohong?"


"Mana walkie talkie milikmu?"


"Aku tidak membawanya" Jawab Al membuat Syeza memicing ke arahnya.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku sungguh tidak membawanya!"


"Baiklah kalau begitu aku akan menyimpannya!"


"Untuk?"


"Hanya untuk berjaga-jaga! Jika aku membutuhkan bantuanmu, aku tinggal memanggilmu lewat walkie talkie ini bukan?"


"Tidak Syeza! Kembalikan walkie talkienya!"


"Kenapa? Memangnya kau tidak ingin menolongku jika aku membutuhkan bantuan mu?"


"Tidak!"


"Wakh!! Lalu? Untuk apa kau ada disini? Aku bahkan tidak memanggilmu bukan?"


Alghifari membuang muka dan menghela nafas.


"Syeza kembalikan walkie talkienya atau kau pulang sendiri?"


"Kau sedang mengancamku?"


"Menurutmu?"


"Ais menyebalkan! Biarkan aku membawanya Al!"


"Tidak Syeza!"


Syeza membuang muka lalu beranjak berdiri.


Alghifari terlihat mengkerutkan alis.


"Mobilku! Aahh ada apa dengan mobilku?!" Alghifari mengusap mobil depannya yang rusak lalu memicing ke arah Syeza.


Gadis itu hanya nyengir ke arahnya.


"Ehehe, aku tidak sengaja menabraknya dipohon tadi"


"Ais aku sudah menduga kau pasti akan merusakinya"


"Maaf...."


"Aahh mobil kesayanganku!"


"Kau tidak bertanya apa aku terluka atau tidak?"


"Untuk apa?"


"Aah jadi kau lebih peduli terhadap mobilmu daripada aku?"


"Kau terlihat baik-baik saja bukan? Jdi, untuk apa aku bertanya!"


"Hiiss!!" Gadis itu membuang muka.


"Kau ingin pulang atau tidak? Cepat kembalikan walkie talkienya!" Alghifari menoleh ke arahnya.


"Tapi bagaimana dengan mobilmu dan motor Fikral?"


"Aku akan mengurusnya nanti!"


"Bagaima......."


"Tidak usah bertanya dengan hal yang membuatmu bingung!" Potong Alghifari.


"Kembalikan walkie talkienya!"


"Iya iya!" Syeza lalu mengembalikan walkie talkienya.


Alghifari lalu memencet tombol yang mematikan koneksinya, ia lalu membawa gadis itu pulang menggunakan motornya.


Sedangkan diseberang jalan, didalam sebuah mobil terlihat Alex yang sedang duduk sambil tertawa kecil mendengarkan perdebatan kecil mereka.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau sehangat ini dengan wanita! Bertahun-tahun kau sangat membenci wanita, bahkan kepada ibumu sendiri pun kau juga tidak menyukainya tapi, hari ini kau terlihat seperti pria normal pada umumnya, kau terlihat akrab dan hangat dengan Syeza! Aahh kehadiran Syeza merubah segalanya bukan? Al, aku berharap semoga saja kau tetap hangat seperti ini meskipun nanti kau sudah tahu kebenarannya!" Batin Alex.


__ADS_2