
di Agraha Wijaya Gruf
"pukul berapa kita akan ke sekolah itu ?"
"apa"
jawab Zen yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bastian. ini untuk pertama kalinya Bastian akan pergi untuk hal yang sekecil ini.
"apa kau tuli?" menatap tajam Zen.
"O.. tidak. pukul 10 tuan" bukankah tuan mengatakan tidak bisa hadir ?
"apa kau keberatan"
"tentu saja tidak tuan".
"maka pergilah"
Zen keluar dari ruangan bastian dengan satu pertanyaan besar dibenaknya. APA YANG MEMBUAT BASTIAN BERUBAH PIKIRAN.
Jay siapkan mobil Presdir sebentar lagi kita akan berangkat.
"kemana brother".
"ke sekolah xx. ga usah banyak nanya. laksanakan saja perintah ku". ucap Zen yang tau apa yang ada di benak Jay.
Jay hanya mengangguk kepala. dan segera melaksanakan tugasnya.
didalam mobil tak hentinya Jay menoleh kebelakang dan Zen melihat Bastian dari spionnya.
"apa ada yang aneh dengan ku". tanya Bastian. menatap tajam kedua sosok yang terus memperhatikan nya.
Jay hanya menggelengkan kepala. dan Zen tancap gas melajukan mobilnya.
"zen tetap pada tugas mu disana. aku hanya akan melihat dari jauh".
"baik tuan".
jalan yang sedikit macet membuat perjalanan ketiganya sedikit terlambat. sementara di sekolahan xx. para guru dan murid sudah berada didalam aula. para guru sedikit khawatir dengan keterlambatan Zen. karena tidak ada konfirmasi tentang pembatalan.
"pak. tuan Zen sudah datang" ucap salah satu staf pada kepsek.
mereka bergegas keluar menuju parkiran menyambut Zen. Zen, zay dan Bastian keluar dari mobil. para guru tentu mengenali Zen dan zay karena keduanyalah kerap kali menghadiri undangan tersebut untuk menggantikan Bastian.
satu-satu dari mereka menyalami Zen, dan Jay. sementara Bastian berjalan sedikit menjauh untuk menerima telpon dari seseorang.
Bastian mendekati Zen dan Jay. wajahnya yang sangar dan dingin membuat para guru segan bersalaman dengannya.
"siapa beliau pak?". tanya pak Agus kepala sekolah xx.
"dia anu"..tuuuu
"saya Tian teman Zen". jawab Bastian dengan dingin. membuat Zen lega. yang awalnya Zen bingung untuk menjawab apa.
selamat datang pak Tian disekolahan kami. tuan Zen mohon maaf pemilik yayasan ini tidak bisa hadir. dan akan digantikan oleh anaknya tuan Rendi.
what. Rendi. apa laki-laki yang waktu itu. batin zen
baik tuan silahkan masuk. anak-anak sudah menunggu.
Zen dan Jay berjalan memasuki aula. ketampanan keduanya berhasil menghipnotis semua kaum hawa yang ada diruang tanpa terkecuali para guru wanita. namun karena sekolah itu sangat menjunjung tinggi kedisiplinan dan Toto kromo. membuat mereka hanya berteriak dalam hati..
__ADS_1
"ya Tuhan gantengnya"
"ganteng banget"
"cakep banget"
"maju dong jadi pacar nya"
"gue mau jadi bininya"
"idola ku"
" semoga kamu jodoh ku"
"apa ya nama FB dan IG nya"
"berapa ya no wa"
itulah teriak dari tiap wanita yang ada diruangan itu. tapi hanya dalam hatiπ€π€
sementara Bastian lebih memilih berjalan berkeliling sekolah ditemani oleh mang udin tukang bersih disekolahan itu. dia ingin melihat langsung bagaimana keadaan sekolah yang sudah puluhan tahun mendapat bantuan dari perusahaannya.
sepanjang perjalanan banyak hal yang dikatakan oleh mang udin. sementara Bastian hanya menanyakan 2 pertanyaan penting namun membuat mang udin kewalahan menjawabnya.
"ada lagi yang ingin bapak tanyakan ?".
"tidak, pergilah"
mang udin pergi meninggalkan bastian. sementara Bastian melanjutkan perjalanan nya menuju parkiran.
kakinya terhenti saat dari kejauhan ia melihat sosok wanita duduk seorang diri dikursi pojok sekolah. sosok yang serasa tidak asing baginya.
"gadis itu. apa yang dia lakukan disana ?"
"apa". "dia menangis. tapi kenapa?
bastian mendekatinya. dan benar saja airmata membanjiri pipinya. entah apa yang terjadi pada manusia es kali ini. melihatnya menangis membuat hatinya yang beku mencair iba. tanpa sadar dia duduk disebelahnya.
dia yang menyadari kehadiran seseorang. hatinya yang sedang rapuh membuatnya tidak menyadari siapa yang datang. ia langsung menyandarkan kepalanya dibahu Bastian.
"apa salah ku dir?. mengapa aku ga bisa bahagia kaya orang lain?. hikss...hiksss
"apa aku ini gadis yang buruk dir?. apa aku terlihat sangat buruk?. sampai orang-orang yang aku sayangi pergi ninggalin aku".
"mamah, papah bahkan ninggalin aku saat aku masih kecil dir. sekarang aku harus kehilangan ka Rendi juga. hiks..hiks...hiks"
"apa aku ini pembawa sial dir. hingga kebahagiaan pun enggan berpihak pada ku. apa kelahiran ku adalah kutukan untuk kedua orang tua ku hingga mereka ninggalin aku. aku udah mulai lelah dir.. aku lelah" hiksss..hiksss..hikssss
tangisan kasih semakin pecah hingga tanpa sadar memeluk erat tubuh bastian. sementara Bastian hanya diam mematung mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut kasih. sambil memperhatikan wajah kasih yang basah kuyup karena airmata. terlihat wajah lelah dan putus asa disana. membuat hati Bastian ikut serta dalam kesedihan kasih.
tubuh bastian yang kekar dan berotot membuat kasih tersadar dan spontan mendorong tubuh bastian menjauh darinya lalu berdiri dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"siapa kamu?" tanya kasih dengan suara aga rada-rada sember. namun tidak ada jawaban dari Bastian
"kenapa kamu memeluk ku?"
"tidak salahkah. bukankah kamu yang memeluk ku terlebih dulu"
"tapi..aku pikir kamu teman ku. Dira".
"apa kamu tidak bisa membedakan. dari parfum ku atau aura ku"
__ADS_1
kasih yang menyadari bahwa itu adalah mutlak kesalahannya. menjadi salah tingkah. wajahnya merah karena malu.
"maaf pak"
"aku bukan bapak mu"
"maaf Om"
"sialll". batin Bastian menatap kesal kasih
"kenapa kamu disini?. bukankah semua orang berkumpul di aula?
"aku hanya ingin duduk disini om".
"bukankah hari ini Bastian Angga Wijaya akan datang. apa kamu tidak ingin tau?"
"untuk apa juga aku ingin tau om. aku ini kan buta. jadi percuma aku kesana".
"apa kamu tidak penasaran?"
"bagi orang buta kaya aku. mau penasaran atau tidak. sama aja kan om. kami hanya pendengar"
bastian menatap kasih tanpa menjawab. kemudian beranjak pergi meninggalkan kasih.
"om". panggil kasih menghentikan kaki Bastian dan berbalik menghadap kasih.
"ada apa ?"
"sekali lagi maaf untuk kesalahan yang tadi"
"lain kali hati-hati. jangan peluk orang sembarangan" . dan aku bukan om mu" jawab Bastian.
kasih yang mendengar jawaban dari Bastian kembali jadi salah tingkah. wajahnya menjadi merah merona menahan malu. sesekali menjitak kepalanya sendiri. membuat Bastian terkekeh melihatnya. sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan kasih.
tanpa Bastian sadari. dari kejauhan dua sosok telah memperhatikan nya dengan kasih. setelah selesai dengan tugasnya Zen dan Jay memutuskan undur diri. Zen tidak ingin berlama-lama karena ada Rendi disana. tatapan dingin Rendi membuatnya kesal.
keduanya tidak menemukan Bastian didalam mobil. dan memutuskan mencari keberadaan Bastian. namun keduanya terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat. seorang gadis menyandar di bahu Bastian. namun tak dapat melihat wajah gadisnya karena posisi membelakangi.
pemandangan yang sudah lama tak pernah mereka lihat. membuat Zen dan Jay memilih memperhatikan tanpa ingin mengganggu. dan yang lebih mengejutkan lagi untuk pertama kalinya setelah 3 tahun melihat Bastian terkekeh tersenyum.
"Jay..Jay...heyyy jayyyyyyy".. Zen menggoyang-goyangnya badan jay
"Jay kenapa kamu ?"
"brother apa aku bermimpi? jika benar ini mimpi. ini adalah mimpi terindah ku brother".
"jlitakkkkk"
"aihhh sakit brother". memegang jidatnya yang mendapat jitakan keras dari Zen.
"berarti kamu ga mimpi. ayoo Bastian sudah nunggu dimobil. entar si raja hutan ngamuk"
"ehh brother, itu julukan punya ku. jangan di copy dong". jawab Jay sedikit berteriak sambil berlari kecil mengejar Zen.
"Zen kita pulang".
"baik tuan"
sepanjang perjalanan Zen memperhatikan Bastian dari kaca spion nya. terlihat bibir Bastian yang sesekali tersenyum tipis. Jay yang menyadari sedikit perubahan pada Bastian hanya menatap zen penuh tanya.
______________
__ADS_1
"Hello readers.. author masih dalam tahap belajar. mohon bantuan, kritik dan sarannya baik yang bagus maupun tidak. author akan menerima dengan senang hati"..πππππ