Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Obrolan Pagi


__ADS_3

"Selamat Pagi!!" Syeza tersenyum lalu ikut duduk bersama di meja makan.


"Kau baru bangun?!" Tanya Al dengan sinis.


"Kenapa? Apa itu jadi masalah?" Tanya Syeza dengan santai.


"Yakh!! Seharusnya kau bangun lebih awal!! Lihat, semua laki-laki di rumah ini bahkan bangun awal!"


"Apa itu juga berlaku untukku?! Lagi pula ini hari libur dan aku pun tidak memiliki kegiatan apapun jadi tidak masalah bukan?" Syeza mengambil minumnya lalu meneguknya.


"Dan ada apa dengan kau Al?! Kau sadar Al? Sikapmu aneh!!"


"Panggil aku kakak syeza!! Bukankah kemarin aku sudah memberitahumu?!"


"Aku juga sudah memberitahumu alasannya!"


"Yakh kau...,"


"Yakh!! Ini masih pagi!!" Vino memotong obrolan mereka.


"Kenapa kalian suka sekali berdebat?! Dan kau Al!!" Vino menatap ke arah Alghifari.


"Kenapa sejak kemarin kau suka sekali membuat Syeza kesal? Aku bahkan bingung dengan sikapmu!! Bukankah saat kecil kau sangat lengket padanya?! Kau bahkan sangat hati-hati karena khawatir moodnya jadi berantakan!! Kenapa sekarang kau malah suka menganggu moodnya?!"


"Eemm benar sekali paman!!" Timpal Syeza.


"Yakh paman membelanya?!" Tanya Al kesal.


"Eemm iya! Kau tahu bukan sejak kecil paman akan selalu membelanya!!"


"Waakhh!! Kalian memang paman dan keponakan yang benar-benar kompak!!" Alghifari mengejek.


"Ada apa? Kenapa pagi-pagi kalian sudah berdebat di meja makan?" Erlina dan Elhameed yang baru saja datang ikut duduk.


"Akh kedua anakmu benar-benar di luar kendaliku!" Ujar Vino sambil menggeleng-geleng.


Erlina hanya tersenyum.


"Lalu bagaimana? Kalian sudah memutuskan untuk ke depannya? Ibu dan ayah memutuskan untuk tinggal di Indonesia! Pekerjaan ayah kalian tidak bisa di tinggalkan! Bagaimana dengan kalian bertiga?" Tanya Erlina.


Tak ada yang menjawab, mereka semua terdiam.


"Vino kau sudah memutuskan tentang perkataanku kemarin?" Tanya Elhameed.


"Heeem?" Vino terdiam.


"Ada apa paman? Apa yang ayah katakan?!" Syeza terlihat antusias.


"Aaahhh...," Vino terlihat kikuk.


"Ayah! Apa yang ayah lakukan?! Ayah tidak berkata yang aneh-aneh kan?!"


"Ahaha tidak syeza! Ayah hanya memberikan saran pada pamanmu!" Ujar Elhameed sambil tertawa kecil saat melihat reaksi putrinya yang terlihat khawatir.


"Apa yang ayah sarankan pada paman?! Ayah tidak mengancam nyawanya bukan?!"


"Vino kau tidak berbicara? Apa kau keberatan? Lihatlah keponakanmu mengira yang tidak-tidak pada ayahnya" Ujar Elhameed sambil tertawa kecil.


"Paman apa yang ayah katakan?"


"Aaahh itu, kak hameed meminta paman untuk mengambil kembali perusahaan kakek kalian dari kak kareen!"


"Akh benarkah?! Waakhh!! Aku sangat setuju!! Paman adalah anak laki-laki satu-satunya kakek! Seluruh aset yang di tinggalkan kakek memang pantas untuk di wariskan pada paman! Aku mendukungmu paman! Paman harus bisa merebutnya kembali dari wanita ular itu!!" Ujar Syeza dengan antusias.


"Wanita ular?" Erlina dan Elhameed terlihat bingung.


"Aaahh...," Syeza terlihat bingung.


"Tante kareen!" Ujar Al


"Ada apa dengan kareen?" Tanya Erlina.


"Wanita ular!" Jawab Al


"Wanita ular?" Tanya Elhameed, Erlina dan Vino serempak.


"Yakh!!" Syeza menendang kaki Al.


"Aakhh itu nama panggilan yang di buat syeza untuk tante kareen!"


"Ahahaha!" Vino tertawa.


"Paman!!" Syeza memelas pada Vino meminta pamannya agar tidak tertawa.

__ADS_1


"Aaah ibu, aku tidak bermaksud membuat panggilan seperti itu untuk tante kareen! Saat itu aku sedang kesal jadi memanggilnya seperti itu! Al hanya mengada-ada!"


"Kenapa syeza? Dia memang pantas di panggil seperti itu bukan?" Tanya Al.


"Al diamlah!!" Syeza memicing ke arahnya.


"Jangan merasa tidak enak hati sayang! Kau seperti menganggap ibu orang lain saja! Lagi pula tante mu pantas mendapatkannya!" Ujar Erlina.


"Nah!! Ibu saja menyetujuinya!!" Timpal Al.


Syeza hanya memasang wajah kesal.


"Lalu bagaimana vino? Kau mau melakukannya?" Tanya Erlina pada adiknya.


"Aku harap paman menyetujui saran ayah! Aku akan mendukung paman untuk merebutnya kembali! Aku juga sudah mengecek daftar hitam milik tante kareen jadi, itu akan lebih memudahkan untuk merebutnya"


"Kau tidak apa-apa? Jika kita melakukan itu kau tahu bukan hal apa yang akan terjadi pada tante mu?" Tanya Vino menatap ke arah Al.


"Eeem!" Alghifari mengangguk.


"Aku sudah memutuskan! Lagi pula dari daftar hitamnya perbuatan tante kareen sudah melampui batas! Dia bahkan menyeludupkan narkotika! Dan tante kareen bahkan berencana untuk membangun perusahaan khusus untuk narkoba! Jika tidak kita hentikan nama baik perusahaan kakek akan hancur!"


"Vino kau harus segera menghentikan kakakmu!" Ujar Elhameed.


"Eeem baiklah! Kita temui tantemu sebelum pers nanti!" Ujar Vino pada Al.


Alghifari mengangguk.


"Lalu kau sendiri bagaimana al setelah membantu pamanmu merebut kembali perusahaan kakekmu?" Tanya Erlina.


"Aku? Aaah aku akan kembali ke New York ibu! Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku dan Alex sendirian!"


"Kau tidak melanjutkan pendidikanmu? Kau tidak ingin kuliah?"


"Aaah tidak ibu! Aku akan lebih fokus dengan perusahaanku!"


Erlina menoleh ke arah Elhameed meminta pendapat suaminya.


"Kalau ayah, tidak masalah jika memang Al menginginkan seperti itu!! Ayah akan mendukung apapun yang kalian putuskan!" Ujar Elhameed.


"Tapi ayah, Al perlu kuliah! Aku tahu dia memang memiliki otak yang cerdas tapi, dia juga perlu untuk mengenyam pendidikan sarjana!" Protes Syeza.


"Dunia tidak mengenalmu bukan? maksudku mereka hanya mengenalmu sebagai seorang CEO terkaya kedua di seluruh dunia! Mereka tidak mengenal latar belakang kehidupanmu dengan detail! Jika nanti kita mengadakan pers maka, seluruh dunia pasti akan tahu siapa kau yang sebenarnya!" Ujar Syeza.


"Waakhh!! Keponakanku sangat cerdas!!" Ujar Vino memuji.


"Syeza benar al! Akan jauh lebih baik jika kau juga mengenyam pendidikan sarjana!" Sambung Erlina.


"Baiklah tapi, aku tidak ingin kuliah seperti biasa! Mungkin hanya setahun atau jika memungkinkan eeem mungkin hanya enam bulan!!" Ujar Al.


"Yakh!! Apa maksudmu?!" Tanya Syeza bingung.


"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa aku memiliki otak yang cerdas? Jadi, untuk apa otak cerdasku jika tidak di gunakan dengan baik?! Lagi pula aku akan masuk ke Universitas milikku sendiri!!" Ujar Al.


"Waakhh!! Aku merasa sia-sia sudah berbicara panjang lebar tadi jika pada akhirnya kau memutuskan menggunakan caramu yang tidak bisa di bantah!!" Ujar Syeza menggeleng-geleng.


"Lalu kau sendiri bagaimana Za?" Tanya Erlina pada putrinya.


"Aaahh aku? Aku akan tetap disini!" Ujar Syeza.


"Maksudnya?" Semua mata menatap ke arahnya.


"Aku akan tinggal disini! di rumah ini! Ayah dan ibu akan pulang ke Indonesia lalu paman setelah merebut kembali perusahaan kakek pasti akan tinggal di rumah kakek dan al akan pulang ke New York jadi, aku memutuskan untuk menjaga rumah ini!" Ujar Syeza.


"Aku akan tinggal disini! Kuliah dan membangun usaha sendiri! Aku juga ingin seperti kalian bertiga yang sukses! Aku akan sukses dengan usahaku sendiri tanpa mengandalkan warisan!"


"Ayah setuju za! Ayah setuju jika kau ingin menjadi wanita yang berkarir!" Timpal Elhameed.


"Bagaimana? Kau ingin ayah berinvestasi pada usahamu nanti? Akh atau ayah belikan saja salah satu perusahaan disini lalu kau kembangkan?" Elhameed terlihat semangat.


"Akh itu sama saja aku menggunakan uang ayah!" Ujar Syeza.


"Eeem baiklah-baiklah! Tapi nanti jika kau membutuhkan bantuan katakan saja pada ayah!" Ujar Elhameed sambil tersenyum.


"Tidak bisa seperti itu ayah!!" Protes Al membuat semua mata menoleh ke arahnya.


"Syeza seorang wanita!! Bagaimana mungkin ayah membiarkan putri ayah sendiri?! Bagaimana jika terjadi sesuatu?! Dan kau!!" Al memicing ke arah Syeza.


"Setidaknya kau harus ikut dengan salah satu dari kami! Ikut ayah dan ibu pulang ke Indonesia atau ikut aku ke New York atau ikut bersama paman! Kau tidak bisa sendirian!" Sambungnya.


"Ada apa denganmu?! Aku ikut bersama paman! Paman akan berada di Landon!" Ujar Syeza


"Kalau begitu ayah jual rumah ini dan kau syeza ikut bersama paman tinggal di rumah kakek!"

__ADS_1


"Yaakhh!! Kenapa kau sangat sensitif?! Aku akan baik-baik saja bersama paman!"


"Iya Al! Kau tidak perlu khawatir! Syeza akan baik-baik saja disini bersama paman!"


"Tapi..."


"Aah sudah-sudah! Kau tidak berhak memutuskan ini untukku! Lagi pula bukankah kau seorang CEO terkaya kedua di seluruh dunia?! Kau pasti memiliki seribu cara agar bisa menjaga adikmu dengan baik!" Ujar Syeza.


"Syeza benar al! Ini waktunya untuk tunjukkan bagaimana sikapmu sebagai seorang kakak dalam menjaga adikmu dengan jarak yang terpisah!" Ujar Erlina.


"Huufff baiklah!" Jawab Al dengan suara lemah.


"Lalu bagaimana dengan saham kalian yang ada pada ayah? Lebih baik jika kalian segera mengambilnya!" Ujar Elhameed.


"Heeem? Maksudnya?" Kini mereka beralih menatap Elhameed dengan bingung.


"Aakh ayah juga membeli saham atas nama kalian bertiga! Atas nama ibu dan mendiang ibu kalian, atas nama fikral, zidan dan juga geisha!"


"Kapan kakak melakukannya?" Tanya Vino.


"Paman juga tidak tahu?" Tanya Syeza, Vino hanya mengangguk. Sedangkan Alghifari hanya terdiam, ia terlihat bingung saat nama fikral dan zidan di sebut.


"Tidak ada yang tahu tentang hal ini! Aku melakukannya untuk berjaga-jaga!"


"Aah aku tidak menyangka ayah bahkan membeli saham atas nama fikral dan zidan!" Batin Syeza.


"Ayah?" Panggil Syeza.


"Heeem?"


"Maaf"


"Untuk?"


"Terakhir kali aku menyalahkan ayah atas kematian zidan!"


"Ayah mengerti perasaanmu!"


"Tunggu, apa maksudnya ini? Ayah mengenal fikral dan zidan?" Tanya Al bingung.


Elhameed hanya mengangguk.


"Iya! Ayah yang mengirim fikral dan zidan ke Jakarta untuk sekolah bersamaku! Mereka datang untuk menjagaku dari incaranmu!!" Timpal Syeza.


"Ayah tidak tahu tentang penyakit zidan?" Tanya Al menatap ayahnya dengan lekat.


"Tidak!! Ayah memang merawat mereka sejak kecil saat mereka di panti asuhan tapi, ayah sungguh tidak tahu zidan mengindap penyakit! Dia menyembunyikannya dengan rapat dari ayah!" Ujar Elhameed.


"Maaf ayah membuat kalian kecewa karena tidak bisa menjaga sahabat kalian dengan baik!"


"Haaahh!" Alghifari terdengar menghela nafas.


"Yakhh!! Ada apa dengan helaan nafasmu?! Kau ingin menyalahkan ayah juga?!" Syeza menatap Al dengan sinis.


"Aaahh tidak!! Aku juga merasa bersalah! Aku juga salah satu penyebab zidan meninggal! Jika bukan karena balas dendam yang konyol itu zidan mungkin masih hidup dengan baik!"


"Yaahh!! Aku tidak bermaksud seperti itu!! Kenapa malah menyalahkan diri sendiri?" Ujar Syeza dengan suara pelan.


"Sudah-sudah! Hal yang berlalu biarlah berlalu! Semua itu terjadi di luar kendali kita!" Ujar Vino mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba jadi hening.


"Oh ya vin, bagaimana kabar fikral? Kita belum menghubunginya semenjak ia ke America!" Ujar Elhameed


"Fikral ke America?" Tanya Al.


"Iya! Dia melanjutkan kuliahnya di sana!" Elhameed mengangguk.


"Beberapa hari yang lalu aku sempat menghubunginya! Dia baik-baik saja dan sudah mendaftar di Universitas!" Jawab Vino.


"Tetap berkomunikasi dengannya Vino! Jangan sampai hal-hal buruk terjadi padanya!"


"Baik kak!"


"Baiklah, Al kau harus segera bersiap-siap untuk pergi bersama pamanmu menemui tantemu!" Ujar Erlina.


"Iya ibu" Jawab Al.


"Aku ikut!" Ujar Syeza.


"Kemana?" Tanya Al sinis.


"Aku juga ingin bertemu tante kareen!"


"Baiklah, kau boleh ikut bersiaplah!" Ujar Vino.

__ADS_1


"Baik! Terima kasih paman!" Syeza tersenyum girang ia lalu tersenyum mengejek ke arah Al dan melangkah pergi. Alghifari hanya menghela nafas heran.


__ADS_2