Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Sebuah Pernyataan


__ADS_3

"Kau bisa merangkai bunga?" Vino berjalan menghampiri Geisha.


"Aahh tidak terlalu paman! aku hanya belajar beberapa kali!" Geisha menoleh sejenak lalu kembali fokus merangkai bunga-bunganya.


"Aku tidak tahu ternyata dibasecamp kalian ada ruangan seperti ini!" Vino tersenyum memandang ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan dan bunga-bunga.


"Ini ruangan khususnya Zidan! diantara kami semua hanya Zidan yang menyukai hal-hal seperti ini!"


"Wakhh Zidan juga punya sisi seperti ini rupanya!"


Geisha hanya tersenyum kecil.


Vino lalu menatap Geisha, gadis itu terlihat fokus dengan beberapa tangkai bunga yang ada ditangannya.


"Sha?"


"Iya?" Geisha menoleh ke arah Vino namun, pria itu hanya berdiri diam menatapnya.


"Ada apa paman? kau butuh sesuatu?" Tanya Geisha lalu kembali fokus merangkai bunganya.


Lama, tak ada sahutan dari Vino, ia masih berdiri diam memandang ke arah Geisha.


"Kau masih mencintainya?" Pertanyaan itu spontan keluar begitu saja dari mulut Vino.


"Heeemm?" Geisha menoleh.


"Almarhum Zidan! kau masih mencintainya?" Vino mengulang pertanyaan tersebut membuat Geisha terdiam kikuk.


"Tiba-tiba?" Tanya Geisha heran.


"Tidak! pertanyaan ini sudah lama ingin aku tanyakan!" Jawab Vino.


"Kenapa paman ingin tahu?"


"Akh rupanya kau masih mencintainya!" Ujar Vino lalu melangkah pergi.


"Bagaimana mungkin paman langsung mengatakan seperti itu padahal paman tidak tahu apa-apa?" Ujar Geisha membuat Vino menghentikan langkahnya. Vino lalu berbalik dan menatap ke arah Geisha.


"Semuanya terlihat jelas dimatamu! saat aku menyebut namanya pun, matamu jelas memancarkan semua perasaan itu! semuanya bercampur aduk! aku bahkan tidak bisa menafsirkan siratan matamu!"


Geisha hanya terdiam.


"Kau masih mencintainya bukan?"


"Kenapa menanyakannya lagi? bukankah paman sudah mengetahui jawabannya?" Jawab Geisha dengan tawa kecilnya yang terlihat menyedihkan.


"Kapan? kapan kau berhasil melupakannya? ah bukan tapi, kapan kau kembali membuka hati?"


Geisha hanya terdiam, ah ia terlihat kebingungan.


"Butuh waktu berapa lama? sebulan? dua bulan? setahun? dua tahun? akh atau bertahun-tahun?"


"Apa maksudmu paman?"


"Kau pasti mengerti apa maksudku Sha!" Vino menarik nafas pelan.


"Aku tidak tahu apakah pantas untuk mengatakan ini tapi entah sampai berapa tahun pun itu, tolong jadikan aku orang pertama yang kau hubungi saat kau sudah berhasil! selama apapun itu, ketika kau menghubungiku percayalah, aku masih menunggu dengan pernyataan yang sama!" Ujar Vino lalu kembali melangkah pergi meninggalkan Geisha yang hanya berdiri kebingungan.

__ADS_1


...****************...


"Syeza?" Rayhan berdiri diam saat melihat Syeza yang sedang berdiri termenung ditaman basecamp.


Syeza menoleh dan hanya berdiri menatapnya. Beberapa menit berlalu dua orang itu hanya berdiri diam dan saling memandang.


"Kau datang sendirian?" Tanya Rayhan sambil berjalan pelan menghampiri Syeza.


"Aku datang bersama ayah dan ibu, bersama paman juga dan ada Al juga"


"Aahhhh" Rayhan mengangguk.


"Kau baik-baik saja?" Suara Rayhan terdengar pelan.


Syeza hanya mengangguk kecil lalu hendak melangkah pergi.


"Aku merindukanmu!" Ujar Rayhan membuat Syeza menghentikan langkahnya.


"Eemm iya!"


"Eemm iya? hanya itu?" Tanya Rayhan.


"Lalu kau mau aku menjawab apa?" Ujar Syeza.


"Kau tidak merindukanku?"


Syeza terdengar menarik nafas.


"Terlalu beratkah meski hanya merindukanku?" Ujar Rayhan.


"Aku ingin kita kembali seperti dulu, kau mau memberi aku kesempatan bukan?"


"Ayah dan ibu pasti menungguku!" Ujar Syeza.


"Kau pulang sekarang?"


Syeza hanya mengangguk lalu melangkah pergi namun Rayhan menahan tangannya.


"Tolong jawab pertanyaanku, bisakah kita memulai semuanya lagi dari awal?"


"Aku sudah memutuskan untuk fokus dengan pendidikan dan karirku, tidak memikirkan hal lain!" Ujar Syeza lalu melepaskan tangan Rayhan dan melangkah pergi.


...****************...


"Paman?" Syeza menghampiri Vino yang sedang berdiri mematung didepan bingkai foto kebersamaan mereka.


"Eeemm?" Vino menoleh.


"Ada apa paman? ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?"


"Aahh tidak ada apa-apa!"


"Paman mengatakan bahwa ada urusan di Indonesia yang ingin paman selesaikan! bagaimana? sudah menyelesaikannya?"


"Aaahh itu....,"


"Belum sepenuhnya?" Potong Syeza.

__ADS_1


"Eeemm iya!" Jawab Vino sambil tersenyum kecil.


"Aakh tapi aku yakin jika paman mau bersabar sedikit lagi paman pasti akan mendapatkannya!" Ujar Syeza membuat Vino menatap ke arahnya.


"Yakhh kenapa paman menatapku seperti itu?"


"Kau tidak tahu tentang sesuatu bukan?"


"Tidak!"


"Lalu kenapa kau begitu yakin bahwa paman pasti akan mendapatkannya?"


"Yaahh, aku hanya merasa bahwa paman sedang memperjuangkan sesuatu!"


"Wakhh apa yang tidak kau tahu tentangku?!"


"Ehehe jadi benar?"


"Tidak!" Jawab Vino spontan membuat Syeza tertawa kecil.


"Yaakh paman! aku mengenalmu sejak kecil!"


"Tapi kau tidak mengenaliku sebelum dan sesudah pulang dari Amsterdam!"


"Kau masih sakit hati tentang itu?"


"Tentu saja! waakhh bagaimana mungkin seorang keponakan tidak mengenali pamannya yang selalu membelanya sejak kecil? bukankah itu keterlaluan? sepertinya apa aku harus mengganti keponakan saja?" Canda Vino sambil berlalu pergi.


"Yakhh paman!! meskipun kau ingin menggantinya, kau tidak akan menemukan keponakan yang seperti aku!" Ujar Syeza sambil mengejar langkah Vino.


"Akh kau benar! itu salah satu kelemahannya!"


"Ahaha benar bukan?" Syeza tertawa kecil lalu merangkul lengan pamannya.


"Aakh paman pasti kesulitan bukan?"


"Apanya?"


"Memperjuangkannya!"


"Kau membicarakan itu lagi?"


"Ehehe, paman tidak ingin tahu apa yang aku maksud? mungkin saja apa yang aku maksud berbeda dengan yang paman perjuangkan?!"


"Benarkah? lalu apa yang kau maksud?"


"Sesuatu yang paman perjuangkan!" Ujar Syeza sambil tertawa kecil.


"Yakhh kau!!" Vino hendak menjitak dahi keponakannya namun, Syeza sudah berlari meninggalkannya.


"Waakhh kau senang mempermainkan paman?!" Ujar Vino sedikit berteriak.


"Eeemm iya! aku merasa seperti kembali ke masa kecil! bukankah ini menyenangkan? coba kejar aku paman! jika kau berhasil mendapatkanku, aku akan memberitahumu apa yang aku maksud!" Jawab Syeza.


"Baiklah! kau yang membuat kesepakatan Syeza! jadi kau harus memberitahu semuanya nanti tanpa tersisa sedikitpun!" Jawab Vino lalu beralih mengejar Syeza.


"Aaaahhh paman!! Langkah kakimu terlalu cepat!!" Syeza berteriak heboh lalu berlari dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2