Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Selalu Ada Untukmu


__ADS_3

"Aarghh!!"


Viera terlihat kaget saat memasuki basecamp dan mendengar suara teriakan dari dalam ruangan yang di tempati Geisha, sudah seminggu lebih setelah mengantar Alghifari pulang ke malang Geisha terlihat kelelahan dan mengurung dirinya dalam ruangan Zidan. Viera lalu dengan cepat melangkah menghampiri.


"Geisha?! Sha!! Ada apa?! Kau baik-baik saja?!" Viera mengetuk pintu dengan keras.


Tak ada sahutan, hanya terdengar suara barang terjatuh dan tangisan dari dalam ruangan.


"Geisha?!" Viera yang terlihat khawatir mencoba membuka paksa jendela ruangan itu.


"Geisha apa yang terjadi?!!" Viera terlihat panik saat ia memasuki ruangan lewat jendela dan mendapati ruangan yang terlihat berantakan dengan bunga-bunga yang berserakan dimana-mana.


Geisha duduk tertunduk di sudut ruangan dengan perawakannya yang terlihat berantakan, ia duduk dengan menggenggam beberapa tangkai mawar merah, terdapat beberapa titik noda merah di gaun putihnya, lagi-lagi ia kembali melukai dirinya.


"Sha...," Viera dengan lembut menggenggam tangan gadis yang penuh darah itu.


Geisha mengangkat kepalanya menatap Viera lama lalu air matanya kembali mengalir.


"Aku merindukannya" Ujar Geisha lirih


"Aku mengerti...,"


"Kau tidak mengerti kak!!" Teriak Geisha dengan suara serak


"Tidak ada yang mengerti dengan rasa rinduku!!" Geisha beranjak berdiri lalu menatap mawar merah yang merekah indah di hadapannya, satu-satunya bunga yang belum ia hancurkan.


"Bahkan pemilik bunga ini pun tidak mengerti dengan rasa rinduku!! menurut kakak bukankah dia terlalu jahat?! dia memberiku harapan untuk memulai dengannya tapi, dia malah memilih pergi tanpa mengatakan apapun!!" Geisha menatap bunga itu dengan lirih lalu kembali menatap ke arah Viera.


"Dia bahkan tidak ingin muncul di mimpiku kak!!" Tangis Geisha pecah.


"Aku..., aku tidak menginginkan banyak hal!! aku hanya ingin melihatnya sekali saja meski dalam mimpiku!!"


"Sha....," Viera beranjak berdiri lalu perlahan mendekati Geisha.


"Kak, mungkinkah aku bisa bertemu dengannya lagi?! adakah kesempatan seperti itu untukku?! bahkan ia sendiri tidak muncul di malam panjangku!!" Geisha beralih menatap ruangan yang berantakan.


"Kak, mungkinkah zidan marah kepadaku?! zidan pasti marah melihat ruangannya yang berantakan bukan?! sehingga ia tidak ingin muncul di mimpiku!!" Geisha terlihat panik.


"Akh tidak!! tidak!! zidan tidak berhak untuk marah!! aku yang seharusnya marah bukan?!" Ujar Geisha sambil tertawa kecil


"Akh aku benar-benar merindukan pria bodoh itu!! dia menyia-nyiakan gadis yang sangat mencintainya!!" Geisha kembali menangis.


"Geisha..., tolong jangan seperti ini" Viera terlihat menangis


"Kak, kenapa kau menangis?! aku baik-baik saja! aku hanya ingin melakukan sesuatu agar zidan mau menemuiku" Geisha memegang bahu Viera


"Dengan cara melukai dirimu sendiri?! kau kira dengan cara seperti ini zidan akan datang?! sadarlah, kau hanya akan melukai dirimu!! kau tahu betul bukan?! zidan sudah pergi!! dia sudah pergi untuk selama-lamanya!! dia mungkin tidak akan menemuimu bahkan dalam mimpi sekalipun!!"

__ADS_1


"Apa maksudmu kak?! aku tahu zidan sudah tidak ada disini!! tapi, kenapa kau mengatakan zidan tidak akan menemuiku bahkan dalam mimpi?!" Geisha melepaskan tangannya dari bahu Viera.


"Itu satu-satunya harapan terakhirku!!" Geisha terlihat linglung, ia kembali duduk lalu menatap seluruh ruangan lalu menangis sesenggukan.


Viera memijat keningnya, berusaha menenangkan dirinya. Ia lalu mengambil kotak obat yang terletak di rak lalu menghampiri Geisha.


"Ayo kita obati tanganmu terlebih dahulu!!" Viera tak perduli dengan Geisha memberontak.


"Aku ingin sendiri kak!!"


"Tanganmu terluka geisha!!"


"Biarkan!! biarkan saja!!"


"Geisha!!" Viera membentaknya membuat gadis itu hanya terdiam sambil menangis.


Viera mengusap wajahnya, tidak! ia tidak boleh marah.


Geisha lalu meraih bingkai foto zidan yang terletak di sampingnya lalu memeluknya erat, setelah memeluk bingkai itu, tangis gadis itu mulai reda ia terlihat tenang meskipun air matanya masih mengalir.


Viera hanya terdiam lalu dengan perlahan membersihkan luka Geisha.


...----------------...


"Nak fairuz akhirnya kau datang!"


"Ada apa bu?" Tanya Fairuz


"Tadi non geisha tiba-tiba mengamuk dan teriak-teriak tapi, untungnya non viera datang tepat waktu! setelah menenangkan non geisha non viera mendapat kabar tentang non syeza! sepertinya itu bukan kabar yang baik!"


"Dimana mereka sekarang bu?"


"Non geisha ada di dalam kamarnya sedang istirahat kalau non viera ibu tidak tahu nak! setelah mendapatkan kabar itu non viera pamit pergi sebentar! dia terlihat khawatir dan sedikit berantakan! ibu khawatir non viera kenapa-napa"


"Ruz lebih baik kau menyusulnya! aku yakin viera pasti belum jauh dari sini! biar aku yang menjaga geisha kau tidak perlu khawatir!"


"Eemm baiklah!" Fairuz mengangguk


"Terima kasih bu!" Ujar Fairuz menatap ke arah Bu Nia.


"Iya! hati-hati nak!" Jawab Bu Nia


Fairuz mengangguk lalu melangkah pergi.


Ia tahu kemana ia harus mencari gadis itu.


...----------------...

__ADS_1


Di bawah langit jingga, seorang gadis dengan rambut sebahu terlihat menangis sesenggukan dengan membenamkan wajahnya di kedua lututnya, ia berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Vi...," Tangan kekar milik Fairuz memegang pundak gadis itu.


Viera mengangkat kepalanya dan hanya mampu menatap Fairuz dengan wajah sembab.


Fairuz memperbaiki posisi duduknya lalu menarik Viera dalam pelukannya, mengusap rambut gadis itu dengan lembut dan menepuk pelan pundaknya.


Beberapa menit gadis itu masih menangis dalam pelukan Fairuz, setelah tenang ia lalu melepaskan pelukannya.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Viera sambil menghapus air matanya.


"Bukankah aku calon pacar yang baik? aku tidak akan pernah meninggalkan calon kekasihku dalam keadaan apapun! aku akan selalu ada di sampingnya!" Ujar Fairuz mencoba menggoda Viera dan berhasil membuat gadis itu tersenyum.


"Yakh!! kau meninggalkan geisha sendirian!"


"Kau tidak perlu khawatir! ada rayhan!"


"Rayhan?"


"Eemm iya! setelah beberapa hari menyendiri sepertinya dia sudah berdamai dengan dirinya sendiri atau mungkin dia merindukan kenangannya!"


Fairuz lalu menghapus air mata yang tersisa di pipi mulus Viera.


"Kau baik-baik saja?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Viera kembali runtuh, ia tertunduk lalu air matanya kembali mengalir.


"Vi?" Fairuz mengangkat dagu Viera.


"Bukannya aku tidak baik-baik saja! hanya saja, aku merasa gagal ruz! aku merasa gagal menjadi sahabat mereka!" Viera menghapus air matanya.


"Aku belum bisa menemukan cara untuk menenangkan geisha! sampai hari ini, hanya dengan memeluk bingkai foto zidan yang mampu menenangkan tangisan geisha! aku juga bahkan melukai perasaannya! tidak seharusnya aku mengatakan hal itu! aku menghancurkan satu-satunya harapan terakhirnya!"


Fairuz hanya terdiam mendengarkan Viera.


"Lalu aku juga tidak berhasil menahan syeza untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menyakiti mentalnya! aku mendapat kabar dari paman vino, sudah dua minggu mereka belum mengetahui keberadaan syeza! kemana dia pergi sebenarnya?! bagaimana jika syeza melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya?!"


"Aku..., aku gagal ruz!"


"Tidak vi! kau sudah melakukan yang terbaik!" Fairuz lalu memegang kedua pundak gadis itu.


"Vi, kau tahu? hanya dengan mempertahankan kewarasanmu demi kedua sahabatmu adalah hal terbaik yang kau lakukan! kau hanya perlu terus berada di samping mereka! kau hanya perlu ada untuk mereka dan tidak meninggalkan mereka! dan masih ada kesempatan untuk mencoba menenangkan geisha dengan cara lain!" Fairuz lalu menggenggam kedua tangan Viera.


"Dan ingat, kau masih punya aku! ada aku yang akan selalu mendukungmu! kita cari solusinya bersama-sama"


Viera tersenyum dan mengangguk kecil.

__ADS_1


Fairuz lalu kembali memeluknya.


__ADS_2