Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Masa Lalu Ayah 1


__ADS_3

Aahh ayah, masa lalumu cukup merumitkan untuk putri kecil mu!.


...~Syeza Anastasya...


Setelah membahas tentang masa kecil bersama fino, pria yang ku sebut sebagai pria tampanku itu, mata ku kembali fokus melirik ke arah ruangan yang ada di depan kami.


aah mungkin saja fino bisa membantuku untuk masuk ke ruangan ini?.


"Ada apa nona? apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"


"Aahh itu, dimana ayah?"


"Tuan besar sedang ke luar kota"


"Berapa lama ayah akan disana?"


"Hanya sebentar, mungkin besok sudah pulang!"


"Apa fikral juga pergi bersama ayah?"


"Iyh tuan fikral juga pergi bersama tuan besar"


Aah pantas saja aku tidak pernah melihatnya beberapa hari ini!.


"Ada apa nona? apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"


"Kau bisa membantuku?"


"Membantu?"


"Iyh!"


"Aah membantu apa nona?"


"Bantu aku agar bisa masuk ke ruangan ini!"


"Masuk ke ruangan ini?"


"Iyh!"


Aku mengangguk.


"Aahh maaf nona aku tidak bisa membantumu! tuan besar melarang siapa pun untuk masuk ke ruangan ini"


"Termasuk aku putrinya?"


Fino terdiam.


"Kau tau? ayah begitu misterius dan merumitkan untukku! aku ingin tau tentang ayah!"


Aku menarik nafas.


"Jadi berikan kuncinya! aku ingin masuk! aku yakin ruangan ini bisa membantuku memecahkan masalah seorang ayah yang begitu rumit untuk putrinya!"


"Tapi nona.....,"


"Kau tidak mendengarkanku? aku bilang aku ingin masuk!"


"Maaf nona aku tidak bisa memberikannya"


Aku menarik nafas.


Ah bagaimana caranya? aku harus melakukan apa agar fino mau memberikan kunci ruangan ini?.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau memberikan kunci itu?"


Fino hanya terdiam.


"Apa aku harus berlutut kepadamu terlebih dahulu?"


Aku lalu duduk berlutut di hadapan fino.


"Nona! apa yang kau lakukan? kau akan membuat orang-orang berfikir yang tidak-tidak! berdirilah!"


Aku menggeleng.


"Aku tidak akan berdiri sebelum kau mau memberikan kuncinya!"


"Aahh apa ini sudah waktunya?"


Batin fino.


Fino terlihat menarik nafas.


"Baiklah aku akan memberikan kuncinya jadi berdirilah! jangan berlutut seperti itu!"


Aku tersenyum bahagia lalu beranjak berdiri.

__ADS_1


Fino lalu mengambil kunci dari kantong jasnya dan memberikannya padaku.


"Aah jadi kau yang bertangggug atas ruangan ini? terima kasih!"


Aku mengambil kunci itu lalu membuka pintu ruangannya.


"Apa nona perlu ditemani?"


"Kau tidak keberatan jika menemaniku?"


"Tidak sama sekali nona!"


"Aahh tapi tidak apa-apa aku bisa sendiri!"


"Aku rasa ada banyak tikus berkeliaran didalam"


Aku menghentikan tanganku yang hendak membuka ganggang pintu dan menoleh kearahnya.


"Kau mengetahui hewan yang ku takuti?"


"Tidak! aku hanya menebak!"


Fino mengangkat kedua bahunya dengan memasang ekspresi tidak tau, ia lalu dengan cuek membuka pintu dan melangkah masuk.


"Hah! apa itu barusan? kenapa ekspresinya seperti itu? aahh tapi kenapa ia malah terlihat tampan dengan ekspresi yang seperti itu? aiss apa yang aku fikirkan?!"


aku menggeleng-geleng lalu ikut melangkah masuk.


Ah ruangannya terlihat remang-remang oleh cahaya.


"Fin, apa tidak ada penerangan di ruangan ini?"


"Sebentar, aku akan mengeceknya!"


Aku mengangguk.


Fino lalu mencoba mencari saklar lampunya dan menyalakannya.


aku tersenyum.


Ah ruangan ini terlihat rapi, barang-barangnya pun tersusun dengan baik, tidak terlihat seperti gudang! sepertinya ruangan ini selalu dibersihkan.


"Ah aku rasa diruangan ini tidak ada tikus sama sekali! jika memang mau menemaniku tidak perlu dengan cara menakutiku"


Aku lalu dengan cuek melangkah menghampiri sebuah pigura yang tertutupi oleh kain putih.


Ketika tanganku hendak membuka kain putih tersebut, fino langsung menahan tangan ku.


aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Aku sudah tau fin, hanya saja aku ingin memastikan agar aku lebih yakin! agar aku juga bisa menemukan benang merahnya!"


Fino lalu dengan perlahan melepaskan pegangan tangannya.


Aku lalu kembali membuka kain tersebut.


"Tapi nona.....,"


Aku menoleh, fino terlihat panik.


"Tuan besar pasti akan sangat marah nona"


Aku tersenyum.


"Kau percaya padaku?"


Aku menatapnya dengan lekat, fino ikut menatap ku dengan lekat.


"Aku yakin fin, kau pasti sangat mengenal ayahku bukan? kau pasti tau semua hal yang ada dalam ruangan ini kan? kau pasti mengetahui semua hal tentang ayahku! sedangkan aku? aku putrinya fin! tapi putrinya ini tidak mengenal ayahnya! aku bahkan tidak tau alasan kenapa ayah memalsukan identitas! tapi aku yakin kau pasti mengetahui alasannya kan? kau pasti tau ayah menyembunyikan hal besar dariku!"


Aku menarik nafas panjang.


"Meskipun aku tidak begitu mengenal ayahku tapi, aku yakin ayahku tidak sekejam itu bukan? ayah ku pria yang baik kan?"


Dino terdiam.


"Bisakah kau mempercayaiku seperti kau mempercayai ayahku? biarkan aku mencari benang merahnya! karena aku yakin ayah tidak akan memberitahuku hingga aku sendiri yang menemukannya! jadi, bisakah kau lakukan itu untuk ku?"


Fino terlihat menarik nafas, ia lalu menatapku dengan lekat.


"Aku mempercayai mu!"


"Terima kasih!"


Aku tersenyum lalu membuka kain putih tersebut.


Ketika kain tersebut terbuka, terlihat jelas gambar yang ada dalam pigura itu.

__ADS_1


Aku tersenyum kecil.


Ah piguranya terlihat sangat terawat tak ada debu yang menempel disana, ayah pasti memerintahkan asisten rumah tangga untuk selalu membersihkannya.


Aku pun tidak perlu kaget bukan dengan gambar yang terpampang disana? karena aku sudah menyakinkan hatiku.


Kalian tau gambar apa yang terpampang di pigura itu? ada ayah dan dua orang wanita yang tersenyum manis disamping kanan dan kiri ayah, satu wanita yang aku kenal sebagai ibuku dan yang satunya lagi......, aahh ini sungguh istri pertama ayah? dan juga ada aku dan seorang anak laki-laki! ah anak laki-laki dan seorang wanita ini yang sedang ku cari tahu tentang siapa mereka sebenarnya? orang-orang yang ada di dalam pigura itu pun terlihat bahagia, jika memang wanita ini juga adalah ibuku dan anak laki-laki ini adalah kakakku, itu artinya apakah dahulu keluargaku adalah keluarga yang harmonis? keluarga yang sangat bahagia? lalu kenapa kami berpisah? dimana istri pertama ayah dan kakak laki-lakiku? kenapa juga ayah harus menyembunyikan hal ini dari ku? apa yang sebenarnya terjadi?.


Aku lalu mengusap gambar yang ada dalam pigura itu.


Ah dimana kalian sekarang?'adakah kesempatan untuk bertemu dengan kalian? kakak? kau kakak ku? aku benar-benar memiliki seorang kakak laki-laki? tapi kau dimana sekarang kak?.


Aku menghapus airmataku yang tiba-tiba mengalir, lalu kembali memandangi wajah anak laki-laki itu dengan lekat.


Tunggu, aku baru menyadarinya! ada yang berbeda, kenapa aku merasa tidak asing dengan anak laki-laki ini? aku merasa pernah melihatnya! matanya?! matanya terlihat tidak asing! tapi siapa?.


"Nona kau baik-baik saja?"


Suara fino terdengar khawatir.


"Aahh iyh baik fin!"


Aku tersenyum ke arahnya.


"Fin, apa ini gambar keluargaku?"


"Iyh nona!"


Fino tersenyum dan mengangguk kecil.


"Aahh jadi ayah memiliki dua orang istri yaa? dan aku juga memiliki seorang kakak laki-laki?"


Dino hanya terdiam.


Aku menarik nafas lalu menutup kembali pigura tersebut dan mencoba mencari barang-barang bukti yang lain agar aku bisa menjadikannya bukti terkuat agar ayah mau menceritakan semuanya.


Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak dengan ukuran sedang yang ada dalam laci meja.


Aku lalu mengambil kotak tersebut dan membukanya, didalam kotak tersebut ada sebuah album foto, aku lalu membuka album tersebut, di setiap lembar album itu ada berbagai macam foto keluargaku.


Dilembar yang paling pertama, gambar yang sama persis dengan yang di pigura lalu, ada gambar ayah, ibu dan aku yang berada dalam gendongan ayah, begitu pun di lembar selanjutnya ada ayah, wanita itu dan anak laki-laki yang berada dalam gendongan ayah, ah foto ini yang aku simpan! lalu ada gambar ayah yang di dampingi oleh ibu dan wanita itu, ayah bersama ibu, ayah bersama wanita itu, ada gambar aku bersama anak laki-laki itu, lalu aku yang berada dalam gendongan wanita itu dan anak laki-laki itu dalam gendongan ibu. di lembar-lembar selanjutnya, ada aku yang terlihat duduk diatas meja dan tersenyum bahagia ke arah wanita itu yang ada di hadapan ku, lalu aku yang bersembunyi di balik selimut bersama anak laki-laki itu, lalu anak laki-laki itu terlihat merangkulku sambil tersenyum manis kearah camera sedangkan aku? ah kenapa wajah ku terlihat cemberut begini? ada lagi gambar aku yang terlihat sambil menangis dan menarik tangan anak laki-laki itu sedangkan anak laki-laki itu terlihat cuek, lalu aku yang terlihat tersenyum bahagia ke arah camera sedangkan anak laki-laki itu bersembunyi di balik punggung ku dan masih banyak lagi.


Aku tersenyum memandangi wajah-wajah bahagia dalam album tersebut.


Dilembar yang paling akhir aku menemukan sebuah foto, yang di dalamnya ada aku, anak laki-laki itu dan seorang anak laki laki yang umurnya mungkin sekitar tiga tahun lebih tua dariku.


Aku mengerutkan alis.


"Din, siapa anak laki-laki ini?"


Aku bertanya tanpa menoleh ke arah fino, mataku fokus memandangi wajah anak laki-laki yang asing itu.


Fino mendekat lalu ikut memandangi wajah anak laki-laki tersebut.


Hening sejenak, tidak ada sahutan dari fino.


"Fin kau mengenalnya?"


Aku menoleh ke arah fino.


"Tidak nona!"


"Tapi kenapa aku merasa seperti pernah bertemu dengannya?"


"Bukan hanya pernah nona tapi, kau bahkan hampir setiap hari selalu bertemu dengannya"


Batin fino.


"Lalu bagaimana ceritanya aku dan kakakku bisa berfoto dengannya fin?"


"Aahh aku pernah mendengar cerita bahwa tuan besar memiliki seorang teman waktu di london dan temannya memiliki anak laki-laki yang umurnya 3 tahun lebih tua dari nona dan aku rasa mungkin nona dan tuan muda berteman dengannya"


"Aahh aku memiliki teman masa kecil? apa ayah masih berkomunikasi dengan teman lamanya itu?"


Fino menggeleng kecil.


"Semenjak pindah ke indonesia tuan besar hilang komunikasi dengan temannya"


"Aahh begitu rupanya yaa!"


"Aiss asistes-asisten bodoh itu! apa mereka melupakan foto ini? kenapa foto ini harus tertinggal di album ini?"


Batin fino.


Hay manteman terima kasih sudah stay di melukis senja:) eemm kira-kira siapa yaa kakaknya syeza? dan mantenan juga pasti penasarankan siapa anak laki-laki yang kata fino itu adalah teman masa kecilnya syeza?yookkk jangan sampe ketinggalan yaa:) tetap stay di melukis senja yaa dan juga jangan lupa untuk tinggalkan vote, bintang, komen dan like kalian:) karena semua yang kalian tinggalkan sangat memberiku semangat baru untuk selalu nulis dan nulis:)


❤untuk semuanya:)

__ADS_1


__ADS_2