Beast Princess

Beast Princess
Beast Princess 21


__ADS_3

Naru, Qin Yun dan Qin Yan keluar dengan mulut serta tangan dan pakaian yang berlumuran darah.


Mereka tidak menyadari banyaknya orang yang melihat dan langsung memandang Qin Mo Xuan.


"Ge, apakah masih ada? Aku masih lapar.." Qin Yun dengan wajah cemberut meminta lebih pada Qin  Mo Xuan.


"Masih ada 10 mayat, apakah itu cukup? Jika kurang, gege akan mencarikan kalian beberapa orang yang menjadi musuh gege.."


Ketiganya terdiam lama dan dengan lemas mengangguk..


"Itu masih kurang, setidaknya kami masih butuh 15 lagi.." Naru protes dengan jumlah yang menurutnya sedikit.


"Kalian makan saja dulu yang ada dan gege akan pergi untuk mencari lagi.."


Mereka mengangguk tapi mereka tidak lupa mengingatkan sang kakak untuk tidak membunuh mereka yang tidak bersalah.


Qin Mo Xuan mengangguk dan mendaratkan kecupan pada ketiganya sebelum pergi dan meninggalkan 10 mayat lainnya.


Tanpa menyadari sekelilingnya yang menatap shok pada mereka. Mereka memilih memasuki tenda dan kembali melanjutkan makan mereka.


Di dalam tenda, tulang manusia dengan noda darah berserakan. Tidak lama setelah kepergian Qin Mo Xuan  dia akhirnya kembali membawa permintaan sang adik. melihat tulang yang berserakan, Qin Mo Xuan menjetikan jarinya dan tulang tersebut menghilang.


Meski wajahnya pucat melihat nafsu makan ketiga adiknya, Qin Mo Xuan keluar dari tenda dengan wajah datarnya.


Jue menghapiri Qin Mo Xuan dan menepuk pundaknya.


Qin Mo Xuan menggeleng tanpa daya dan berkata.


"Aku tidak menyangka setelah 3 tahun mereka tidak memakan daging segar, nafsu makan mereka malah meningkat bukannya berkurang.."


"Ipar bersabarlah. Biar bagaimanapun, naluri binatang buas mereka akan tetap ada.." Di Hao Jue memanggil Xuanyuan Che untuk mendekat.


"Dia Qin Mo Xuan, kakak tertua Naru dan yang lainnya.."


Tadi saat melihat Qin Mo Xuan  mengecup kening Naru, Che sangat panas di dalam hatinya dan ingin menghancurkan Qin Mo Xuan, beruntung Jue dengan cepat menjelaskan padanya. Barulah Che tenang dan merasa canggung.


Qin Mo Xuan mengamati Che dari atas sampai bawah dan mengangguk.


"Ku serahkan Naru padamu, karena aku masih memiliki banyak urusan di dunia atas.." Che mengangguk dan berniat mengenalkan yang lainnya tapi karena Qin Mo Xuan terlihat terburu-buru jadi dia membatalkan niatnya.


Setelah 2 jam. Naru, Qin Yan dan Qin Yun telah selesai makan dan akhirnya sadar dengan penampilan mereka yang penuh darah.


Ketiganya memutuskan untuk  memasuki dimensi milik Qin Yun berniat membersihkan diri.


Merasakan diri mereka telah bersih, ketiga gadis itu keluar dari tenda. Semua yang menunggu di luar menatap mereka penuh makna.


"Sudah kenyang?" Liu Rong mendekati Naru dkk.


"Hahahaha kakak Rong tenang saja, kami lebih dari kenyang.." setelah menjawab pertanyaan Liu Rong, Naru mendekati Che dan mengecup pipinya.


Che memerah dan tersenyum canggung hingga membuatnya mengacak surai perak Naru.


Melihat wajah kecewa Liu Rong, Qin Yun menepuk pundaknya..


"Rong Ge, ku harap kau tidak kecewa karena jiejie dan Che Ge adalah sepasang tunangan.." Liu Rong memaksakan senyum dan mengacak surai perak Qin Yun. Qin Yun sadar tentang perasaan Liu Rong pada Naru saat pertama mereka bertemu.


Liu Rong menghela nafas dan berusaha membunuh perasaannya terhadap Naru.


Setelah bercakap-cakap, Naru mengajak Liu Qian dan Feng Xue mencari binatang Kontrak mereka di hutan kematian.


"Pegang tanganku dan kita akan pergi ke rumah dimana aku besar.."


Setelah tangannya di pegang oleh Feng Xue dan Liu Qian, Naru langsung menghilang menggunakan Hiraishin menuju hutan kematian.


Melihat ketiga orang itu menghilang, beberapa merasa shok tapi tidak untuk orang yang telah mengenal lama Naru.


....


Permaisuri dan Putra Mahkota kerajaan Chu sangat ingin bertemu Qin Yun tapi mereka membatalkan niat mereka karena tidak ingin mengganggu konsentrasi Qin Yun pada tes berikutnya.


"Ibu kerajaan apakah anda yakin membatalkan niat untuk menemui Imperial Sister?"


"Uhm, untuk sekarang kita tidak perlu mengganggunya.."


"Baik.." dengan begitu sepasang ibu dan anak itu kembali ke Istana. Mereka memiliki pemahaman yang sama untuk menyaksikan pertandingan terakhir yang menentukan siapa saja yang berhasil lolos.


....


Tidak butuh waktu lama. Naru, Feng Xue dan Liu Qian kembali dengan  wajah penuh kebahagiaan..


"Bagaimana?" Liu Wei yang sudah sangat penasaran langsung mendekat kearah mereka.


"Little Night" seru Liu Qian dengan senyum lebar dan muncullah seekor Nightmare Unicorn di depan mereka.

__ADS_1


Liu Rong dan Liu Wei sangat terkejut dengan binatang kontrak milik sang adik yang menurut mereka binatang ajaib jenis tersebut telah lama punah.


"Nightmare Unicorn?" Beo Liu Rong.


"Bukankah mereka telah lama punah?" Liu Wei juga bertanya dengan heran. Little Night mendekati Qin Yun dan menjilati pipinya.


"(Hahahaha itu geli)" ujar Qin Yun dengan bahasa binatang buas..


"(Kami merindukanmu)"


"(Aku juga merindukan kalian)"


Karena keduanya mengobrol layaknya teman lama yang tidak pernah bertemu menggunakan bahasa binatang buas membuat sekeliling mereka cengoh.


Hanya Naru yang mengerti apa yang mereka bicarakan. Feng Xue juga memanggil binatang kotraknya yang merupakan rubah berekor 5.


Lagi-lagi Liu Rong dan Liu Wei terkejut. Kemudian mereka melihat kearah ketiga gadis tersebut dengan horor.


....


Seperti biasa, arena pertandingan masih sangat ramai. Yang tidak lolos kemarin masih bertahan untuk menyaksikan pertandingan yang tersisa.


Kaisar dan Ratu telah menempati kursi mereka dan mulai bercakap-cakap.


Tim Naru juga tidak terlambat dan telah mengisi bangku peserta hingga semua peserta lengkap.


Seorang Instruktur naik ke podium dan mengatakan pidato singkat sebelum mengatakan peraturan pertandingan kali ini.


"Oke semua, karena kali ini adalah pertandingan terakhir. Berhubung Akademi hanya menerima 200 siswa baru sedangkan tim yang lolos ada 30 maka kami harus mengeliminasi 5 tim yang berarti 40 orang yang harus di eliminasi.."


Sontak semua berbisik saat mendengar jika hanya 40 orang yang akan di eliminasi.


"Karena kita akan mengeliminasi 40 peserta dan berdasarkan diskusi kali ini, pihak Akademi akan menguji cara bertarung individu. Dan hanya ada 80 undian yang memiliki angka selebihnya akan menjadi slot kosong yang secara ototmatis akan resmi menjadi murid Akademi.." lagi-lagi semua heboh karena peraturan tersebut.


"Di sini ada kotak, silakan maju satu persatu mengambil undian.." begitu suara instruktur jatuh. Para peserta maju secara bergiliran dan mengambil undian mereka.


Sangat cepat semua peserta telah  mendapatkan nomor mereka dan yang mendapatkan kertas kosong sangat bahagia.


Naru membuka kertas miliknya dan ternyata di kertas tertulis angka 25. Naru tersenyum lebar melihat nomor yang tertera.


"Ne Yun'er apa yang tertulis di kertasmu.." Qin Yun melirik Naru dengan alis yang di naik turunkan membuat Naru bingung.


"Hehehehe aku nomor 30.." keduanya melirik Qin Yan dan Di Hao Jue. Sosok yang di lirik hanya memperlihatkan kertas mereka yang kosong.


"Jiejie biarkan aku yang mengambil nomormu.." Qin Yan menangis lebai melihat kertasnya yang kosong. Padahal dia ingin bertarung..


Beberapa orang menatap Qin Yan dengan aneh tapi tidak dia perdulikannya.


"Tidak bisa, karena aku juga ingin bertarung ttebayou.."


Instruktur kembali berbicara menarik perhatian para peserta.


"Selamat buat kalian yang mengambil slot kosong. Aku akan mengundi nomor urut berapa yang akan bertanding kali ini.."


Intduktur hanya menulis angka 1 sampai 40, dua kertas memiliki nomor 1 dan seterusnya. Setiap peserta yang memiliki angka sama akan bertanding.


Saat instruktur menarik undian, banyak yang berharap mereka yang naik lebih dulu agar mereka segera tahu apakah mereka yang berhasil lolos atau tidak.


Undian pertama adalah angka 12, kedua peserta yang memiliki angka tersebut segera naik ke arena dan mulai bertarung sengit.. tapi hal tersebut tidak terlalu banyak menarik perhatian.


Hanya dalam 10 menit pertandingan segera berakhir.  Hingga saat ini Instruktur mengambil nomor 25 yang merupakan nomor Naru.


Naru tersenyum kecil dan melompat menuju Arena. Bertepatan dengan lawannya juga sampai.


Lawan Naru merupakan peserta dari benua Harimau putih. Keduanya saling memberi hormat.


Tanpa menunggu lama, lawan Naru yang merupakan pemuda yang tampak arogan langsung menyerangnya tanpa memberi Naru kesempatan.


Naru hanya tersenyum kecil seraya menghindari setiap serangan yang di lancarkan padanya.


Kipas pemuda tersebut yang merupakan senjata terus berusaha melukai Naruto.


Ketika lawannya ingin menendang, Naru bersalto kebelakang dan menekan kaki nya kemudian melakukan tendangan berputar yang hanya sebagai tipuan.


Duag.


Tinju yang di lapisi cakra berhasil mendarat di perut pemuda tersebut membuatnya meringis.


"Hn, dia hanya bermain.." Sasuke berkomentar sungkat melihat pertarungan Naru yang seolah mempermainkan lawannya.


"Biarkan saja yang penting dia senang.." para intruktur yang mendengar percakapan singkat Sasuke dan Sakura kemudian menatap Naru dengan seksama.


Benar saja, di wajah kekanakan Naru tidak ada jejak kelelahan sedikit pun tapi sebaliknya, lawannya mulai melemah dan kehabisan stamina. Naru sebenarnya bisa mengalahkan pemuda tersebut dengan cepat tapi dia memilih untuk bermain sebentar.

__ADS_1


Tanpa membuat segel tangan, Naruto merentangkan tanganya kedepan dan membekukan kaki lawannya.


Kunai yang entah kapan muncul kini berada di leher sang lawan.


Rambut peraknya tertiup angin membuatnya semakin memukau di arena. Che terus memandang Naru penuh kasih sayang dan cinta, hal yang sama juga di lakukan oleh Liu Rong tapi Liu Rong juga tahu jika Naru juga sangat mencintai Che hingga hanya melihatnya sebagai taman atau bahkan kakak.


Liu Rong sadar dan berusaha membunuh perasaannya tersebut.


Saat instruktur meneriakan jika pemenangnya adalah Naru, Feng Xue dan Liu Qian bersorak bahagia atas kemenangannya.


Kedua gadis itu juga berhasil lolos dengan mengambil slot kosong.


Naru melepas es yang membekukan kaki pemuda itu dan memberikan pil pemulih stamina kemudian meninggalkan arena dengan anggun dan elegan. Tidak lupa memberikan kedipan genit pada Che..


Che juga memberinya jempol sebagai tanda jika Naru melakukannya dengan baik.


Interaksi akrab keduanya mengundang tanya para instruktur dan beberapa gadis yang menganggumi Che.


Masih 10 peserta lagi yang bertanding memperebutkan kursi kosong hingga tiba giliran Qin Yun.


Qin Yun melihat lawannya yang merupakan seorang gadis dan gadis tersebut tidak lain adalah gadis yang mengarahkan niat membunuh padanya entah apa kesalahan yang dia perbuat


"Akhirnya kita bertemu juga jalang..." Qin Yun mengendikkan bahunya acuh.


"Aku tidak tahu kapan aku menyinggungmu tapi aku tidak mengenal dirimu jadi tolong jangan mengarahkan niat membunuh pada sembarang orang karena tidak semua orang bisa kau singgung.."


Pemuda dengan surai merah serta mata ungu menyipit mendengar apa isi pembicaraan keduanya.


"Kau jalang, kau telah menggoda Saudara Ouyang yang selalu cuek padaku.."


Qin Yun mengerutkan dahinya memandang gadis di depannya dengan intens.


"Ouyang? Siapa dia? Aku bahkan tidak mengenal saudara ouyangmu apalagi menggodanya. Oh bukankah kau yang pelacur itu sendiri, mengejar laki-laki tapi tidak mendapat respon balik. Aku bahkan ingin memberinya tepuk tangan karena tidak tergoda oleh lalat yang selalu berdengung di sisinya..


Beberapa orang yang mendengar ucapan Qin Yun tertawa terbahak-bahak bahkan Che dan Jue tersenyum kaku karena Qin Yun masih belum mengingat masa lalunya.


Pemuda yang di perdebatkan memegang dadanya yang sakit karena tidak di kenali oleh sang kekasih tapi saat mendengar ucapan terakhirnya, pemuda tersebut tersenyum tipis hingga tidak ada yang menyadarinya.


"Kau jalang, akan kubunuh kau.." instruktur yang mendengar ucapan tersebut sontak menjadi tegang, karena pertandingan tidak mengijinkan pembunuhan.


"Membunuhku?" Qin Yun menyeringai.


"Akan kubuat kau menyesali karena telah menyinggungku dan membuat kematian adalah hal yang paling berharga untukmu.."


Gadis itu menyerang Qin Yun dengan ganas menggunakan pedangnya. hanya dengan sekali pandang, orang bisa tahu jika di pedang itu mengandung racun.


"Guru yang terhormat, apakah aku bisa melakukan apapun kecuali mengambil hidupnya?" Sambil menghindari setiap serangan Qin Yun mengambil kesempatan  untuk bertanya.


Seorang instruktur segera menjawab jika apapun bisa di lakukan asal tidak mengambil hidup lawanmu.


Merasakan bahaya yangg mengintainya, sontak gadis tersebut mengeluarkan binatang kontraknya yang merupakan laba-laba logam hitam, dimana kulitnya sangat kuat bahkan senjata biasa tidak bisa menembusnya.


"Hm?"


Qin Yun menyipit, beberapa peserta sudah ketakutan melihat laba-laba hitam tersebut..


"Ingin menyerangku menggunakan binatang buas?" Qin Yun sangat menyanyangkan cara gadis itu ingin membunuhnya.


Naru, Qin Yan tampak santai melihat Qin Yun tidak bergeming saat laba-laba itu akan menyerangnya.


Kaisar, Permaisuri dan putra Mahkota kerjaan Chu menegang melihat hal tersebut.


Qin Yun memandang laba-laba tersebut dalam diam kemudian dia membuka mulutnya


"(Kau pasti sangat tersiksa bersamanya kan, baiklah aku akan membebaskanmu..)"  Qin Yun berbicara bahasa yang tidak di mengerti semua orang tapi laba-laba segera berhenti menyerang Qin Yun tepat saat kakinya berjarak 1 cm dari kepala Qin Yun.


Orang-orang hanya mengira jika Qin Yun mengucapkan mantra. Qin Yun mengelus kepala laba-laba itu dengan sayang dan memandang gadis yang menjadi lawannya dengan pandangan membunuh.


"Bahkan kau sering menyiksa binatang kontraktualmu hanya karena egomu.."tanpa berbelas kasih, Qin Yun langsung menghilang dari tempatnya dan memotong semua tendon gadis tersebut bahkan Qin Yun menghancurkan Dantiannya.."


Setelah membereskan gadis arogan tersebut, Qin Yun mendekati laba-laba hitam itu lagi. Dia meletakan  tangan di kepala sang laba-laba. Tindakannya mengundang tanya semua yang melihatnya kecuali Naru dan Qin Yan.


"Lepas"


Cahaya 7 warna menyelimuti laba-laba hitam itu hingga cahaya tersebut memudar menandakan kontraknya dengan gadis arogan telah terhapus.


Laba-laba secara naluri berlutut di depan Qin Yun.


"Kau bisa memilih tuanmu kecuali aku dan Jiejie. Aku tidak muungkin membawamu bersamaku..."


Laba-laba hitam merasa enggan dan melihat semua orang yang menonton mereka di arena dengan tertarik.


Pandangan laba-laba tersebut jatuh pada putra mahkota kerjaan Chu.

__ADS_1


Qin Yun memandang aneh pada hal tersebut dan bertanya untuk memastikan jika pilihan sang laba-laba tidak keliru.


__ADS_2