
Meski Li Mo dan yang lainnya tidak mengerti, mereka tetap mengikuti dan semua berpegangan tangan.
Melihat semua saling berpegangan, Naru langsung memegang tangan Karin dan mereka segera menghilang dari asrama.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Kerajaan Tang yang sangat mengejutkan Li Mo dkk.
“Kalian persiapkan semuanya, kami pergi dulu.”
Belum pulih dari keterkejutan, mereka melihat Naru dan yang lainnya telah menghilang begitu saja.
Segera Li Mo bergerak menuju kediamannya untuk mempersiapkan semua hal, termasuk hadiah pertunangan. Meski dia bukan seorang pangeran, tapi keluarganya juga merupakan keluarga besar di Kerajaan Tang.
Kerajaan Zhao, Naru dan yang lainnya juga tiba. Qin Yan langsung menatap Liu Rong.
“Baiklah, aku akan membawamu untuk menghadap ayah kerajaan”
Feng Xue tidak mengikuti, dia memilih kembali ke kediamannya, dan Naru juga mengikuti Liu Qian menuju istana Liu Qian, menunggu sampai urusan Qin Yan selesai, baru setelah itu, mereka akan ke Kerajaan Nancheng untuk menjemput Jenderal Luo dan membawanya menuju hutan kematian di mana paviliun hewan buas berada.
Sementara itu, Liu Rong membawa Qin Yan menuju istana naga di mana Liu Teng yang merupakan ayah Liu Rong dan Raja saat ini berada.
Ketika sampai, para prajurit terkejut melihat kepulangan putra mahkota.
“Beritahu pada Ayah Kerajaan, pangeran ini ingin bertemu, ada sesuatu yang penting yang harus Ayah Kerajaan tahu.”
Walaupun dia adalah putra mahkota, untuk bertemu Raja, dia tetap harus memberikan pemberitahuan lebih dahulu.
Segera setelah itu kasim pribadi Raja datang menyambut Liu Rong.
“Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Raja mempersilakan Anda untuk menemuinya.”
Kasim menatap Liu Rong penuh hormat, tapi ketika melihat Qin Yan di belakang Liu Rong, dia memiliki tatapan penuh arti.
“Yan Yan, ayo!”
__ADS_1
“Ya.”
Baik Qin Yan dan Liu Rong tidak memedulikan tatapan penuh arti kasim tersebut.
Ketika Liu Rong memasuki ruangan, dia langsung memberi hormat pada Raja, begitu juga dengan Qin Yan.
“A Rong, ada apa? Apakah gadis itu akan menjadi putri mahkotamu?”
Liu Rong menggeleng dan langsung membantah.
“Ayah, Yan Yan telah memiliki tunangan, dan anak ini membawanya untuk meminta persetujuan dari Anda, Yan Yan ingin membawa pohon dewa kegelapan bersamanya, karena Yan Yan adalah orang yang Pohon Dewa Kegelapan tunggu.”
Raja menatap Qin Yan dengan serius, dia kemudian mengangguk.
Berdiri dari posisinya, Raja memutar salah satu guci besar dan sebuah pintu mengarah ke ruang bawah tanah terbuka.
“Ayo!”
Mereka berjalan cukup jauh menyusuri lorong panjang, hingga mereka berhenti di depan pohon kecil yang seluruh batang, dan daunnya berwarna hitam.
Namun, sebelum ranting itu mengenainya, suara Qin Yan menghentikan ranting tersebut.
“Mumu, aku datang menjemputmu, jadi bisakah kau menarik energi gelapmu dari Raja.”
Mengatakan itu, mantra pada Array yang mengelilingi Mumu perlahan menghilang, dan Mumu langsung mengubah tubuhnya membentuk mahkota kemudian dengan tenang berada di kepala Qin Yan.
Mumu juga menyempatkan untuk menarik energi gelap yang telah berada di tubuh raja dengan mudah.
Raja sendiri menghela napas, karena kerajaan kecilnya telah lepas dari tanggung jawab besar untuk menjaga Pohon Dewa Kegelapan. Dia tidak menyangka jika yang ditunggu adalah seorang gadis kecil.
Kembali ke ruangan kerja raja, Liu Rong kembali berbicara.
“Ayah, Anak ini akan melepaskan posisi putra mahkota dan juga gelar Pangeran. Hal tersebut juga berlaku untuk Qian'er dan A Wei, karena kami bertiga terpilih untuk bergabung dengan Tim terkuat di Akademi. Hal itu mengharuskan kami melepas gelar kami, sebab kami tidak akan lama lagi meninggalkan dunia tengah ini.”
__ADS_1
Raja terdiam, dia tidak menyangka dengan kepulangan 3 anaknya adalah untuk melepaskan gelar mereka sebagai putri dan Pangeran, terlebih tentang membebaskan makhluk yang kerajaan jaga selama ini.
“Ayah bisa mengatur dan memilih calon putra mahkota berikutnya, juga Li Mo dari kerajaan Tang akan datang untuk mengajukan pertunangan dengan Qian’er. Anak ini undur diri.”
“Yang Mulia, Terima kasih karena telah menjaga Mumu selama ini, saya undur diri.”
Raja belum bereaksi, tapi Liu Rong dan Qin Yan telah pergi.
Karena urusan mereka telah selesai, Qin Yan mengajak Naru dan Qin Yun untuk segera ke kerajaan Nancheng menjemput jenderal Luo.
Jenderal Luo sendiri telah pensiun dari militer, dan dia hanya menjaga kediaman Qin Wang. Untuk restoran ketiganya, tentu saja penghasilan langsung masuk di saku Naru, karena bunshin Naru sendiri adalah koki di restoran itu.
Setelah menjemput jenderal Luo, mereka langsung pergi ke hutan kematian.
Naru, Qin Yun dan Qin Yan membawa jenderal Luo untuk berinteraksi dengan orang-orang paviliun binatang buas.
Ketiganya tinggal cukup lama di hutan kematian, hingga Qin Yun meminta Naru untuk membawanya ke Kekaisaran Chu. Tentu dia harus pamit pada orang tua tubuhnya sebelum pergi.
Setelah mengantar Qin Yun ke Kekaisaran Chu, Naru langsung kembali ke hutan kematian.
Berdiri di puncak tertinggi salah satu pohon yang paling tinggi, Naru menatap langit biru.
Selain Paviliun Surgawi, ada juga sosok yang dapat mengendalikan ruang dan waktu untuk menculik beberapa shinobi.
Paviliun Surgawi jelas adalah musuh, tapi sosok itu, dia tidak tahu apakah mereka akan menjadi musuh atau berada di pihak yang sama. Hanya saja dia tahu jika sosok tersebut lebih berbahaya dari paviliun Surgawi dan Kaguya yang pernah dia lawan.
Masa depan tidak pasti, untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti, dia harus menjadi lebih kuat dan tentu lebih siap untuk segala kemungkinan.
“Tuhan, aku tahu kau melihat semua dan mengetahui semua. Aku hanya memohon agar kau membuatku kuat untuk menghadapi hal-hal sulit di masa depan.”
Mungkin di dunia ini penduduknya hanya percaya pada Dewa, tapi bagi Naru yang telah tinggal di dunia Shinobi, dia hanya percaya pada sosok yang disebut Tuhan.
Sosok yang menciptakan seluruh alam semesta, sosok yang menciptakan jagat raya, dan sosok raja dari semua raja. Dia kembali menghela napas, hingga sosok transparan muncul di sampingnya dan menatapnya penuh kelembutan.
__ADS_1
“Dunia itu bulat dan terus berputar, masa depan tidak pasti, tapi jangan pernah melepaskan apa yang kau yakini, dan lakukan apa yang menurutmu baik. Takdir telah ditulis, tapi nasib kau sendiri yang menentukan. Selama kau masih ingin berusaha, selama kau masih ingin bersusah payah, dan selama kau masih ingin merasa lelah, kau akan menuai hasil yang kau inginkan. Percayalah, Hasil yang kau peroleh kelak, adalah buah dari usaha yang kau lakukan.”
Sosok itu berbicara pada Naru, tapi Naru tidak bisa mendengar sama sekali. Hanya ada angin yang berembus pelan membuat Naru merasa rileks dan tenang.