
Beberapa murid baru juga terkejut, karena mereka tidak tahu dan senior yang ada di ruangan yang sama juga tidak mengatakan apa-apa.
Segera wajah mereka menjadi jelek, karena mereka menganggap senior itu begitu sombong dan pilih kasih.
Menyadari wajah buruk beberapa junior mereka, seorang senior kembali berbicara.
“Kami para senior hanya menginginkan sapaan ramah dari kalian, tapi kalian sama sekali tidak menyapa kami, bahkan tidak mengucapkan selamat pagi yang begitu sederhana. Kami tentu ramah pada mereka yang ramah, dan kami juga sombong pada mereka yang bahkan tidak ingin melirik kami. Sebagai senior kalian aku menyarankan, jika kalian ingin dihormati, setidaknya hormati orang lain terlebih dahulu.”
Segera wajah orang yang tadinya buruk karena prasangka, mereka langsung merasa malu dan merasa tertampar. Faktanya mereka telah melihat senior datang, tapi alih-alih menyapa, mereka malah mengabaikan, karena mereka berpikir mereka dapat dengan mudah menjadi murid internal yang bahkan mungkin sebagian dari senior ini harus menjadi murid eksternal lebih dulu.
“Kalau begitu terima kasih untuk informasinya Anda senior. Aku disebut Qin Naru, dan dia temanku Cai Ling, kami pamit ingin melihat bangunan pertukaran.”
“Tidak masalah, sesama murid di asrama yang sama, kami senang membantu. Kalau begitu silakan.”
Naru dan Cai Ling keluar dari asrama dan para senior kembali melakukan aktivitas mereka.
Mereka berdua melewati beberapa bangunan hingga mereka sampai ke bangunan pertukaran.
Memasuki bangunan pertukaran, mereka melihat beberapa murid menjajakan jualan mereka. Bisa ditukar dengan poin, bisa ditukar dengan barang yang memiliki harga yang sama.
Tempat mereka menjajakan dagangan mereka berupa meja, setiap meja tidak hanya menjajakan 1 macam dagangan, tapi bermacam-macam.
Mereka melihat sekitar, dan tidak hanya murid dari asrama Dragon King, tapi juga dari asrama lain. Baik Naru dan Cai Ling berkeliling melihat barang yang dijual itu, hingga pandangan Naru berhenti pada batu hitam yang tidak mencolok. Naru mendekati stan tersebut dan melihat benda apa saja yang dijual.
Tidak hanya ada batu hitam aneh itu, tapi ada juga kristal core dan beberapa herbal yang lumayan langka, tapi herbal tersebut telah layu.
Naru tanpa basa-basi mengambil batu hitam dan bertanya pada penjualnya.
“Benda apa yang kau inginkan untuk menukar batu hitam ini?”
Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap Naru, dia dengan lemah berkata.
“Berikan saja Purple Heart spirit pil.”
Naru mengernyit, tapi dia langsung mengeluarkan apa yang diinginkan oleh pemuda itu.
“Terima kasih.”
Keduanya kembali berkeliling dan kali ini giliran Cai Ling yang jatuh cinta pada sepotong kayu lapuk.
Setelah keduanya bertukar dan menemukan sesuatu yang menurut mereka menarik, mereka berdua berjalan menuju kafetaria.
Berdiri di depan pintu, keduanya terdiam.
__ADS_1
“A Ling, bukankah kita belum memiliki poin? Jadi untuk apa kita ke kafetaria?”
“Kalau begitu ayo lakukan misi.”
Naru menatap Cai Ling dalam, kemudian dia berkata.
“Apakah kau lupa kalau sekte akan melakukan penyambutan murid baru, kita tentu harus melakukan pertunjukan.”
Cai Ling terdiam, Naru juga diam, keduanya saling menatap dalam diam.
“Xiao Ru, kita memiliki banyak koin emas, perak, kristal putih, hitam, merah dan biru, tapi mengapa kita begitu miskin akan poin?”
“A Ling jangan tanyakan hal itu padaku, kita ini masih murid baru, jadi wajar kalau kita miskin poin.”
Cai Ling menghela napas, dia kemudian menatap Naru dengan tidak rela.
“Mau bagaimana lagi, untuk menghasilkan poin, mari kembali ke gedung pertukaran untuk menjual beberapa hal yang tidak kita gunakan.”
Naru berbinar dan mencubit pipi Cai Ling.
“A Ling, itu ide bagus. Ayo kembali ke gedung pertukaran.”
Keduanya dengan semangat kembali ke gedung pertukaran, mereka bahkan tidak menyadari tingkah dan percakapan mereka didengar oleh orang yang ingin memasuki kafetaria.
Tidak jauh dari tempat keduanya, ada Che, Mo Ye, dan Li Mo. Ketiganya hanya menatap datar pada tingkah kedua gadis itu.
“Ya, hanya 2 gadis konyol.”
“Biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Toh yang lainnya juga seperti itu.”
“Hn.”
Mereka bertiga memasuki kafetaria, dan tidak memikirkan tentang poin.
Sementara Naru dan Cai Ling kembali ke gedung pertukaran. Pertama mereka menemui pengurus gedung pertukaran, setelah berdiskusi tentang pembayaran, mereka mendapat 1 tempat.
Keduanya berdiri di tempat yang diberikan untuk mereka.
“Apa yang akan kita jual? Kalau pil, aku tidak memiliki banyak stok.”
“Bagaimana dengan Pop corn?”
“Aku malas membuatnya.”
__ADS_1
“Lalu apa yang banyak dalam ruangan milikmu, kalau aku, aku memiliki banyak apel merah.”
Naru berbinar, dia melihat ruang yang dipenuhi buah anggur, dia kemudian terkekeh.
“Aku memiliki buah anggur, bagaimana kalau menjual kedua buah ini? 1 apel kita hargai dengan 5 poin, dan 1 gantung anggur, kita hargai dengan 15 poin?”
“Setuju.”
Keduanya segera mengeluarkan buah yang ingin mereka jual. Tentu saja, buah yang mereka jual tidak ada di dunia mereka saat ini.
Mereka berdua tidak berteriak, tapi menaruh wadah buah mereka di atas meja, dan mereka hanya duduk sambil mencicipi beberapa.
Melihat keduanya yang makan dengan nikmat, seorang gadis merasa tertarik dan menarik temannya untuk mendekat.
“Hei, buah apa yang kalian jual?”
“Yang berwarna ungu ini adalah buah anggur, dan yang merah adalah buah apel, rasanya sangat enak dan manis. Jika kalian ingin, silakan beli, 1 buah apel harganya 5 poin, dan untuk 1 gantung anggur, harganya 15 poin. Buah kami terbatas dan tidak tersedia setiap hari.”
“Bisakah aku mencicipi lebih dulu?”
Naru memberikan 1 butir anggur miliknya, dan sepotong kecil apel untuk gadis itu cicipi.
Mencicipi buah yang diberikan, gadis itu sangat bersemangat dan langsung membeli banyak.
“Beri aku 10 apel, dan 5 gantung anggur.”
“Siap.”
Naru dan Cai Ling langsung membungkus pesanan gadis itu, dan gadis tersebut langsung membayar harga apel pada Cai Ling, dan anggur pada Naru.
1 orang membeli, tentu saja ada orang berikutnya, dan keduanya sukses menjual 2 keranjang. Bukannya mereka tidak ingin menghasilkan lebih banyak, tapi mereka membatasi, karena jika mereka menjual terlalu banyak, sumber buah tersebut akan dicurigai.
Keduanya sukses memiliki ratusan poin dalam kartu kristal mereka, dan melihat hari sudah siang, mereka memutuskan untuk kembali ke kafetaria.
Memesan beberapa hidangan sederhana, dan minuman. Meski hanya hidangan sederhana, tapi rasanya seperti biasa, sangat tidak memuaskan.
Setelah selesai, keduanya keluar dengan wajah datar dan langsung kembali asrama mereka dengan raut wajah masam.
“Hei, ada apa dengan raut wajah kalian?”
Seorang senior menegur mereka, senior tersebut berpikir apakah mungkin ada yang memprovokasi kedua gadis yang tadi pagi tampak ceria itu.
“Kami tidak apa-apa senior, hanya makanan di kafetaria sangat tidak enak. Berbeda dengan makanan di restoran luar sekte dan tempat asalku.”
__ADS_1
Para senior terkekeh, mereka juga sering keluar untuk menikmati hidangan di luar sekte, dan ketika kembali ke sekte, mereka tidak memiliki minat untuk makan di kafetaria lagi.