
Mendengar nomornya disebut, Li Mo melangkah maju ke arena pertarungan dengan wajah datar. Berdiri di depannya adalah seorang gadis yang tidak kalah datar darinya.
Li Mo mengakui jika gadis yang menjadi lawannya sangat cantik dengan pakaian merah yang cukup seksi hingga memperlihatkan belahan di antara dadanya, tapi Li Mo sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu.
Dia diam-diam menatap bangku penonton dan melihat gadis cantik yang dia kagumi. Ketika menatap gadis itu, dia tertegun dengan tatapan gadis tersebut yang terlihat antusias dengan senyum merekah, tapi ketika dia melihat gadis itu akan membuka mulutnya, gadis berambut perak dengan mata biru langsung berteriak dengan suara yang menggelegar.
“A Mo, lakukan yang terbaik.”
Li Mo tertegun, kemudian ada senyum tipis di bibirnya yang tampak terkatup rapat.
“Tentu, A Ru.”
Naru tertegun, kemudian tertawa terbahak-bahak dan memberikan jempol pada Li Mo dan dia berbalik ke arah Che yang tampak menatapnya tak berdaya.
“Che, bagaimana menurutmu, sepertinya nama yang diberikan A Mo untukku cukup bagus.”
Liu Qian sendiri terkekeh dan menatap Li Mo yang juga sempat tertegun dengan panggilan Naru untuknya.
“Xiao Ru, sepertinya bukan hanya kau yang terkejut dengan cara Li Mo memanggilmu, tapi Li Mo juga tertegun dengan caramu memanggilnya.”
“Hei.”
Naru cemberut kemudian ada tawa di sekitarnya membuat kelompok mereka tampak sangat mencolok.
Baik Naru dan Li Mo serta sahabat mereka tidak akan pernah mengira, jika kedua nama yang secara kebetulan mereka sebutkan akan menjadi momok menakutkan di masa depan karena insiden yang tidak disengaja.
Gadis yang menjadi lawan Li Mo masih menatap datar pada Li Mo, ketika suara wasit terdengar, dia tanpa basa-basi langsung menyerang Li Mo.
Bang
Retakan langsung muncul di tempat tadi Li Mo berdiri, beruntung dia menghindar tepat waktu.
Tatapan Li Mo semakin menajam menatap lawannya, gadis di depannya seperti tanpa emosi dan cambuk di tangan gadis itu juga seperti bukan cambuk biasa.
__ADS_1
Gadis itu terus melambaikan cambuk miliknya untuk menghajar Li Mo dan Lo Mo sendiri hanya bisa menghindar.
Setelah melihat lebih jelas, cambuk tersebut memang bukan cambuk biasa, tapi itu adalah cambuk iblis. Jika manusia yang terkena cambuk iblis, itu hanya luka biasa, dan cambuk iblis sendiri terlihat seperti cambuk biasa. Namun, jika yang menjadi korban dari cambuk iblis adalah iblis, bekas yang terkena cambuk akan menjadi luka bakar.
Mata Li Mo semakin dingin, tapi seringai di bibirnya semakin lebar yang menambah pesonanya.
Di bangku penonton, Naru dan yang lainnya melihat Li Mo yang terus menghindari cambuk tersebut juga mengernyit, karena mereka tahu jika Li Mo tidak biasanya melakukan hal seperti ini.
Selama Li Mo berada di arena, dia akan langsung menyerang musuh begitu saja tanpa niat untuk menghindar. Paling-paling jika dia tidak membalas, dia akan menghalau serangan.
Mata Naru menyipit dan dia dapat melihat dengan jelas cambuk apa itu yang ada di tangan lawan, dia kemudian menatap Che, Xie, Jue, Qin Yun dan Qin Yan. Wajah kelima orang tersebut sangat buruk dan dia sendiri memiliki tatapan rumit untuk Li Mo.
“Ternyata masih ada tikus dari kelompok munafik itu yang lolos dari jaring.”
Suara Xie sangat dingin, karena sudah jelas, hanya orang-orang dari paviliun surgawi yang memiliki benda seperti cambuk iblis. Mereka mengira mereka adalah kelompok suci, tapi mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan mereka.
Kembali ke arena, ketika cambuk kembali di arahkan padanya, Li Mo tidak lagi menghindar, tapi dengan tenang menangkap ujung cambuk dan dengan cepat mengumpulkan qi spiritual angin membentuk banyak belati, kemudian dia mengarahkannya pada gadis yang menjadi lawannya.
“Kau pasti berpikir bisa melukaiku dengan senjata rongsokan ini, tapi sayang, perhitunganmu salah besar.”
Begitu ucapannya selesai, Li Mo kembali memadatkan Qi spiritual angin membentuk pedang dan langsung menikam ke arah gadis berbaju merah, tapi gadis itu memilih untuk melepas cambuk miliknya dan menghindari serangan fatal Li Mo, dia yang seperti tanpa emosi menatap Li Mo penuh kebencian.
“Bajingan!!”
Karena dia tidak lagi memiliki senjata di tangannya, dia langsung memanggil monster kontrak miliknya. Monster kontrak ini merupakan Luan Api yang tampak cantik.
Melihat musuhnya memanggil monster kontrak, pupil mata Li Mo menyusut. Bukan karena dia takut, tapi karena Luan Api itu tampak tak normal, karena memiliki mata merah darah.
“Brengsek.”
Di bangku penonton, Qin Yun mengutuk dengan ganas. Kondisi Luan Api tidak seperti kondisi Laba-laba kulit logam dan Xiao Hu ketika dia melihatnya, tapi kondisi Luan Api lebih parah.
Naru sendiri sudah berdiri dari posisi duduknya, matanya memerah karena marah, tangannya terkepal kuat dan tubuhnya gemetar menahan amarah.
__ADS_1
Dia tidak tahan dan langsung menghilang dari tempatnya, menghilang seperti itu, dia muncul kembali ke asrama miliknya dan membentuk bunshin.
“Kau kembali ke bangku penonton!”
“Baik, bos.”
Melihat bunshinnya telah pergi, Naru menggunakan bentuk serigala miliknya, meski itu masih dalam ukuran mini, dia bergerak cepat menuju arena.
Sampai di pintu arena, dia menatap di atas arena di mana Li Mo berusaha melawan gadis berbaju merah itu, meski begitu dia berusaha untuk tidak melukai Luan api. Jika Luan api normal, dia tidak ragu melawannya, tapi kondisi Luan api sendiri tampak sangat tidak normal.
Tidak menunda lagi, dia langsung menghilang dari tempatnya dan langsung muncul di pundak Li Mo.
Li Mo sendiri terkejut dengan kemunculan Naru dalam bentuk serigala berekor 10 di pundaknya, tapi dia langsung tenang ketika mendengar suara Naru di benaknya.
“A Mo, ini aku. Kau hadapi gadis berpakaian merah itu, buat dia sekarat, serahkan Luan api padaku.”
“A Ru?”
“Hm.”
Li Mo mau tak mau melirik bangku penonton di mana Naru tadi berada, tapi dia terkejut melihat Naru masih di posisinya menatap tajam ke arah arena.
“Lupakan itu, itu hanya tiruan ku saja.”
Bibir Li Mo berkedut, dan langsung memberikan anggukan pada Naru yang telah melompat turun dari pundaknya.
Dia tanpa menunda langsung menyerang lawannya yang sedari tadi tidak memberinya kesempatan untuk membalas, dan Naru yang telah memperbesar ukurannya langsung melolong pada Luan api yang tampak tak normal.
Roaaaaarrrrgh.
Raungan Naru membuat Kesadaran Luan api kembali setengah, tapi Luan api masih dalam posisi yang tidak menguntungkan, karena nyawanya masih terus ditransfer ke pada gadis berbaju merah.
Meski kesadaran Luan api telah kembali separuh, tapi kesadarannya masih kabur, dan itu masih membuatnya secara tidak sadar menyerang Naru.
__ADS_1