Beast Princess

Beast Princess
Beast Princess 62


__ADS_3

Dunia atas, di sebuah bangunan yang tampak megah dan indah. Seorang wanita dengan gaun putih, terlihat cantik dan anggun.


Dia duduk di kursi kebesaran miliknya dan menatap semua bawahannya.


“Tanda-tanda keberadaan Pohon Dewa Kegelapan tidak lagi bisa aku rasakan. Kalian tahu mengapa ini terjadi?”


Meski suara wanita itu terdengar lembut, tapi tidak ada satu pun yang berani berbicara.


“Kemungkinan besar raja baru telah terpilih dan segel telah diperbaharui. Kalian bergerak terlalu lambat hingga lokasi pasti pohon Dewa kegelapan saja kalian belum menemukan.”


Wanita itu mengedarkan pandangannya pada seluruh bawahannya yang menunduk takut, dan dia hanya menyeringai penuh kemenangan.


“Lalu, apakah sudah ada informasi dari mata-mata yang berhasil menyusup ke akademi awan merah?”


Semua terdiam, tidak ada yang berani menjawab, karena sampai saat ini mata-mata yang mereka susupkan belum memberikan informasi.


“Baiklah, ini belum setahun mereka memasuki akademi itu, mungkin mereka memiliki alasan untuk belum memberikan informasi. Jika waktu setahun tiba, beberapa dari kalian harus turun tangan.”


“Ya, Yang Mulia.”


Wanita berdiri dari kursi kebesaran miliknya, dia berjalan menuju salah satu ruangan, para bawahannya juga ikut bubar.


....


Naru yang tidur sambil memeluk Xiao Mo, akhirnya membuka mata saat sinar matahari yang sukses menyusup di celah daun pepohonan menyinari wajahnya.


Selama dia berada di hutan kematian, Naru tidak tinggal di paviliun binatang buas ataupun sarang para serigala, tapi dia tertidur di mana pun dia merasa mengantuk ketika selesai beraktivitas.


Meregangkan tubuhnya, dia memeluk Xiao Mo sambil mengucapkan terima kasih. Dengan perilaku Naru yang seperti itu, baik Tsunade dan Kakashi hanya menggeleng pasrah.


“Xiao Mo, ayo pergi ke tempat yang lain berkumpul.”


Xiao Mo mengambil Naru dan menempatkan di bahunya, kemudian dia dengan cepat berlari ke arah paviliun binatang buas berada.


Sampai di gerbang, dia langsung melompat dari bahu Xiao Mo dan langsung berlari ke arah kedai ramen ichiraku.


“Ohayou Ayame nee, apakah ramen pesananku hari ini sudah siap?”


Ayame berbalik dan tersenyum.


“Tentu saja Naru-chan, hari ini 500 porsi terakhir pesananmu telah siap.”

__ADS_1


Ayame membawa Naru ke tempat di mana semua ramen berada, dan Naru dengan senang hati menyimpan mereka ke dalam cincin ruang. Dia juga tidak lupa membayar harga yang mereka sepakati. Selama berada di hutan kematian, Naru juga setiap hari akan memesan ramen dari kedai ichiraku untuk dia simpan di dalam cincin ruangnya. Biar bagaimanapun juga rasa dari buatan ayah dan anak itu lebih nikmat dari rasa yang dia buat.


“Kalau begitu beri aku 2 porsi jumbo ramen pedas, aku ingin memakannya di sini.”


“Tentu.”


Berbeda dengan Naru yang setiap hari memesan banyak ramen, Qin Yan sendiri sangat jatuh cinta pada yakiniku, dan dia juga memesan setiap hari dengan porsi yang sama untuk disimpan di cincin ruang. Dia kemudian memesan untuk dia nikmati di tempat.


Melihat itu, Orochimaru memiliki wajah datar dan Tsunade tampak tenang, tapi ujung bibir mereka berkedut.


“Yang 1 pencinta ramen, yang lainnya pencinta Yakiniku. Apakah mereka tidak akan merasa bosan memakan makanan tersebut setiap hari?”


“Dari wajah mereka, aku yakin mereka tak akan bosan. Apa lagi Naru, dari kecil hingga dia besar, setiap hari dia akan memakan ramen dan dia tidak pernah bosan.”


Memikirkan Naru yang hampir setiap hari memakan ramen, Tsunade terdiam.


Berbeda dengan kedua sosok itu, Qin Yun sendiri duduk di kantor utama paviliun Nusantara, dia menunggu makanan yang dia minta untuk dibuat. Ini juga hari terakhir dia mengambil makanan, karena setelah ini, dia akan langsung berangkat ke paviliun Bulan, di mana tempat mereka semua akan berkumpul.


Dia sendiri sudah pamit pada keluarga Kekaisaran, terutama Kaisar dan Ratu. Meski dia ingin melepas gelarnya, Kaisar tidak setuju.


Jadi sampai saat ini, dia masih seorang putri tertua Kekaisaran Chu, kapan pun dia ingin, dia bisa datang. Istana miliknya juga akan selalu dibersihkan dan tak ada yang boleh menempati selain dirinya.


Memasukkan semua ke dalam ruang, Qin Yun segera mengalirkan Qi miliknya pada token yang diberikan Beichen Li saat itu.


Naru sendiri sedang memegang mangkuk ukuran besar dan dia masih asyik menyeruput mi dari mangkuk tersebut.


Yang lain melihat kelakuan gadis tersebut langsung tercengang. Qin Yun sendiri langsung mengeluarkan beberapa tusuk sate dan memakannya dengan santai.


Melihat sekitar, Naru terdiam dan langsung menyeruput mi yang menggantung di bibirnya.


“Slurrp, ya apakah kita sudah sampai di paviliun bulan?”


Liu Rong, Liu Wei, Liu Qian, Li Mo, Feng Xue, Gu Fan, Jiu Feng, Qing Wen, Fu Mei, dan Lan Yue masih menatap Naru yang serius dengan mangkuk mi sambil bertanya.


“Sepertinya begitu.”


Entah siapa yang menjawab, tapi mereka masih menatap 3 gadis berambut perak yang sibuk dengan makanan di tangan masing-masing.


Gu Fan berdiri di depan Qin Yan yang baru saja ingin memasukkan potongan yakiniku ke dalam mulutnya.


Qin Yan berkedip dia kemudian menatap potongan yakiniku terakhir di sumpitnya dan menatap Gu Fan secara bergantian.

__ADS_1


Semua penasaran dengan tindakan apa yang akan dilakukan Qin Yan.


“Mau?”


Gu Fan mengangguk dan Qin Yan langsung memasukkan potongan terakhir ke dalam mulutnya sendiri.


“Sayangnya sudah habis.”


“Pfffftttt.”


Lan Yue langsung tertawa melihat kelakuan Qin Yan yang sengaja memancing Gu Fan. Hingga semua juga ikut tertawa.


Qin Yun sendiri melihat itu juga tersenyum dan memberikan 1 tusuk sate pada Gu Fan.


“Ini.”


Gu Fan dengan ragu menerima sate yang disodorkan oleh Qin Yun, sate itu dilumuri saus kacang yang tampak menggugah selera.


Memasukkan ke dalam mulut, untuk sekejap, Gu Fan merasa makanan yang dia makan selama 2 bulan ini adalah sampah.


“Enak, sebenarnya kalian tinggal di mana? Kalian sangat muda memperoleh makanan lezat.”


“Ugh, Jiejie dan Yan'er selama ini berada di hutan kematian, sedangkan aku di Kekaisaran Chu. Di sana ada restoran yang namanya paviliun Nusantara, dan aku membeli makanan yang disebut sate ini di sana.”


Berbeda dengan Gu Fan, Li Mo sendiri telah merebut mangkuk ramen Naru yang hanya berisi beberapa teguk kuah, dan tanpa rasa jijik serta sungkan, dia meminum kuah ramen yang tersisa.


Naru sendiri berkedip bodoh ketika mangkuk ramen di tangannya berpindah pada Li Mo, sesaat kemudian wajahnya berubah sangat hitam dan itu membuat beberapa orang langsung melangkah mundur.


“Ya, meski hanya kuah, tapi rasanya sangat enak.”


“Li Mo, kau MATI!!!!”


Suara Naru sangat berat dan langsung mata biru itu berubah menjadi byakugan.


Jyuken


“Uhuk.”


Segera Li Mo jatuh tak sadarkan diri.


“Huh, rasakan.”

__ADS_1


Dia sangat puas melihat Li Mo pingsan.


__ADS_2