
Gu Fan dan Fu Mei terengah-engah, tapi mereka masih tersenyum karena hanya mereka yang masih berdiri.
Bersamaan dengan itu, waktu yang di tentukan juga habis. Saat kemenangan mereka di umumkan, segera keduanya jatuh pingsan dan petugas medis langsung membawa mereka keruang perawatan untuk di rawat.
"Yang memegang bola merah silakan maju ke Arena.."
Segera kelompok Merah maju, didalam kelompok ini ada Feng Liu Li dan beberapa jenius dari 4 benua.
50 peserta kembali memenuhi arena, tapi Naru dkk tidak memperhatikan dan lebih memilih berbicara sendiri.
"Kira-kira bagaimana keadaan mereka di sana ya?"
"Mereka pasti baik Naru, sekarang fokus saja pada pertandingan.."
"Oke, tapi pertandingan dibawah sana sangat tidak menarik Che.."
"Hei, setelah ini giliranmu.."
"Huh, aku lagi tidak memiliki semangat yang baik.."
"Kalau kau tidak memiliki semangat, cukup buat mereka pingsan Ok.."
"Itu tambah tidak menarik donk.."
"Lalu apa yang menurutmu menarik hmmp? Memakan mereka?"
Seketika Naru menatap Che dengan mata berbinar senang. Che langsung gugup dan tersenyum canggung.
Tidak jauh dari sana, Li Mo yang mendengar hal itu tersenyum aneh dan memiliki keringat dingin.
Tidak hanya Li Mo tapi beberapa orang di sana juga yang merupakan Kompol Li Mo terlihat gugup.
"Che, aku sungguh malas. Aku lapaaarr.." Naru terus bertingkah aneh dan manja pada Che membuat seseorang menatap marah padanya.
Che kemudian menatap Qin Yun dan Qin Yan yang juga sepertinya tidak tahu harus bagaimana.
Sasuke kemudian mendekati Naru dan mengusap kepalanya dengan sayang.
"Naru, kau boleh memakan salah satu dari lawanmu ok. Aku dari sini akan membantumu membuat mereka masuk dalam ilusi.."
Naru dengan cepat mengangguk antusias. Che memandang aneh pada Sasuke yang terlihat sangat menyayangi Naru.
"Apa? Naru sudah seperti adikku.." Che hanya mengangguk saja dan tersenyum simpul.
"Tapi pilihlah mereka yang tidak mencolok dan terlihat mencurigakan Ok.."
Naru kembali mengangguk dengan semangat.
"Kau tidak boleh memakan mereka Ru'er, mereka tidak bergizi.." semua seketika menatap sosok Raja Neraka yang entah kapan muncul di sana.
"Aku memiliki beberapa untukmu, jadi cepat selesaikan pertarungannya kemudian kembali untuk makan.."
"Baik.."
__ADS_1
Mereka kemudian kembali fokus pada pertarungan. Di arena sudah berdiri 5 orang yang masih bertahan hingga waktu habis, merekapun dinyatakan lolos ke babak berikutnya.
"Yang memegang bola Jingga, silakan maju!" Naru dengan santai melakukan Hiraishin dan muncul di tengah arena.
Perhatian semua orang langsung mengarah padanya. Ada yang menatap takjub, kagum beberapa yang menatap iri dan sinis.
Beberapa senior juga yang ikut dalam pertandingan menatap tak suka padanya karena menggunakan teknik aneh.
Begitu semua peserta jingga berkumpul, Naru tersenyum lebar.
"Pertandingan dimulai.." dengan jatuhnya suara instruktur. Segera pertempuran di arena pecah.
Beberapa yang menyerang Naru tapi dia dengan gesit menghindar hingga membuat beberapa orang sangat marah.
"Gunakan Hiraishin atau melepas segel pemberat atau melepaskan aura untuk menekan mereka.."
Seraya menghindar, Naru juga bergumam sendiri.
"Bodoh, apapun yang kau pilih itu terserahmu.."
Naru merasa jengkel di katai bodoh oleh rubah hitam. Auranya seketika menjadi berat, dia mengarahkan tangannya keatas, perlahan awan hitam mulai berkumpul dan menampakan petir dan kilat saling menyambar.
"Menyerah atau terluka.."
Suaranya sarat akan teror membuat peserta terdiam tapi tidak ada yang ingin menyerah..
Dari langit sosok naga petir panjang terbentuk, Naru menggerakkan tangannya seolah memerintahkan naga petir untuk menyerang lawan miliknya.
Dirinya yang kelaparan dibuat jengkel oleh rubah hitam dan entah mengapa kehilangan kendali akan dirinya.
Mata milik Naru menyipit memandang lawannya yang kini bergetar ketakutan.
Tekanan yang di keluarkan Naru bahkan telah mencapai Tyrant Profound Realm.
Sontak semua guru dan tetua berdiri dari tempatnya menatap ngeri pada Naru.
Beichen Li langsung bergerak cepat menghentikan naga petir milik Naru jatuh.
Bzzzt
Bzzzt
Beichen Li menghentikan petir tersebut dengan menyerapnya kedalam tubuhnya.
Semua peserta selain Naru yang berada di arena telah jatuh tak sadarkan diri.
Beruntung di bangku penonton di lindungi oleh Array sehingga mereka tidak merasakan tekanan yang di keluarkan Naru.
Tapi melihat pemilik Akademi bergerak langsung, mereka tahu betapa mematikannya teknik yang di keluarkan Naru.
"Berapa usia gadis itu.."
"Sungguh di luar nalar.."
__ADS_1
"Aku tidak akan berani mengganggunya setelah ini.."
Suara seruan dari para penonton terdengan. Di arena, Naru menatap tak suka pada Beichen Li.
"Gege kenapa kau menghentikannya?"
"Kau ingin membunuh mereka semua hmm?"
"Eh? Apa aku berlebihan?"
Ctak
Beichen Li menyentil dahi milik Naru hingga membuat memberenggut kesal.
"Kau tidak hanya berlenihan tapi hampir membunuh semua lawanmu.."
"Kuro membuatku jengkel dan aku juga lapar.."
"Kembali ke tempatmu dan bersiap terima hukuman.."
"GEGE, AKU TIDAK SALAH. AKU HANYA LAPAR DAN KESAL, ITU SAJA.." suara Naru yang keras dan penuh penekanan membuat semua terkejut.
Seorang berani memarahi pemilik Akademi yang sangat kejam dan memanggilnya dengan sebutan kakak laki-laki?.
"Ru'er jangan membantah! Kembalilah dan terima hukumanmu menghadap tembok.."
Duagh.
Naru dengan jengkel menendang kaki milik Beichen Li hingga membuat pemuda tampan itu meringis sejenak.
"Hmmp aku tak akan bicara denganmu.." Naru langsung berhiraishin ke asramanya.
Di arena semua tercengang menatap Beichen Li yang tampak memanjakan Naru. Raja Neraka menatap kasihan pada Beichen Li, begitu pula dengan yang lainnya.
Pasalnya jika Naru ngambek, akan susah untuk di bujuk.
"Aku akan menyusulnya dan memberinya makan.."
"Ya Gege berhati-hati lah, takutnya jika Jiejie menjadikanmu makanannya.."
"Yun jangan khawatir.."
Qin Mo Xuan segera menghilang dari sana menyusul Naru. Beichen Li sendiri telah kembali ke tempatnya dengan aura suram mengelilinginya membuat orang-orang disekitarnya merasa ketakutan hingga rambut mereka berdiri dan keringat dingin membanjiri punggung mereka.
Beichen Li tertekan karena memikirkan jika adik kesayangannya tidak akan berbicara dengannya. Semakin dia berpikir semakin gelap pula auranya.
"Pertandingan hari ini Samapai disini! Besok baru dilanjutkan lagi.."
"Ya pemilik.."
Segera semua orang bubar, Beichen Li juga segera menghilang dan muncul di asrama milik Naru dan 4 gadis lainnya tinggal.
Naru sendiri kini tengah duduk di sudut menghadap tembok. Meski Qin Mo Xuan membujuknya beberapa kali dengan banyak makanan bergizi, tapi itu tidak membuat Naru berbalik dan menatapnya dan memilih menghadap tembok sambil terus menunduk.
__ADS_1
Sangat cepat semua tiba dan mereka melihat Qin Mo Xuan yang tampak frustasi. Meskipun Naru jengkel tapi dia tidak akan mangkir dari hukumannya.
....