Beast Princess

Beast Princess
Beast Princess 87


__ADS_3

"Anda mungkin bertanya-tanya mengapa kami bersedia melakukan hal tak berguna seperti itu untuk orang yang bahkan tidak berhubungan darah, padahal di luar sana bahkan yang berhubungan darah sekali pun akan selalu memiliki perhitungan antara untung dan rugi.”


“Tepat.”


Mo Ye menatap putra mahkota, tapi dia tidak langsung bertanya siapa pemuda yang berbicara dengannya, dan memilih melanjutkan ucapannya.


“Mungkin kau atau siapa pun tidak akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya. Kami memang tidak memiliki hubungan darah, tapi persahabatan kami murni tanpa perhitungan antara untung dan rugi, kami telah melalui suka dan duka bersama, bahkan telah berada di titik berbagi hidup dan mati. Bagi kami, harta atau kekuasaan tidak ada artinya dibandingkan dengan persahabatan dan persaudaraan kami.”


Putra mahkota terdiam, dia tidak pernah berpikir ada sekelompok orang yang tidak menganggap harta dan kekuasaan sebagai hal terpenting dalam hidup mereka. Masih merenung, suara Mo Ye kembali terdengar seolah membangunkan dirinya dari ambisi yang tidak masuk akal untuk melakukan kudeta.


“Faktanya, dalam lingkaran kami ada beberapa orang yang memiliki status sebagai putra mahkota di kerajaan mereka masing-masing, bahkan ada yang memiliki status lebih tinggi dari itu, tapi orang-orang ini rela melepaskan status dan kekuasaan mereka, hanya untuk berkumpul dan memiliki pengalaman yang sama dengan rekan mereka. Mengelilingi dan menjelajahi luasnya dunia, yang mungkin tidak akan pernah mereka peroleh dengan status serta kekuasaan mereka saat itu. Mungkin sebagian orang berpikir jika tinggal di istana dan memiliki banyak pelayan, merupakan hal terbaik, tapi orang-orang ini berpikir jika tinggal di istana sama saja mereka tinggal di sangkar emas yang membatasi kebebasan mereka. Namun, meski aku mengatakan hal ini, tapi aku salut dengan mereka yang mengorbankan kebebasan mereka untuk membawa banyak hidup menjadi lebih baik di tangan mereka. Seperti kata seseorang, kau tidak akan tahu di mana ujungnya dunia jika kau tidak menjelajahi, kau tidak akan tahu di mana ujungnya laut jika kau tidak mengarunginya.”


Mo Ye menatap putra mahkota yang saat ini terdiam dengan tatapan rumit.


“Teman, manusia adalah makhluk sosial yang hidup berkelompok dan akan selalu saling membutuhkan. Menurutmu, jika kau tidak memiliki rekan yang tulus dan setia, ketika kau kehilangan kekuasaanmu, apa yang akan kau lakukan? Aku tidak bertanya siapa kau, tapi aku hanya menjawab apa yang ingin kau tahu, tapi setidaknya aku harap dari kata-kataku, tidak ada yang menyinggung perasaanmu.”


Beberapa orang yang lewat tentu mendengar ucapan Mo Ye, mereka juga tampak berpikir. Putra mahkota sendiri tidak terus mengikuti Mo Ye, tapi berbalik menuju kediamannya.


“Ye ge, kata-katamu sangat mendalam.”


Mo Ye terkekeh mendengar suara akrab itu, tanpa melihat, dia tahu siapa yang berbicara.


“Xiao Qian, Xiao Xue, bagaimana dengan kalian berbelanja, biarkan aku yang membayar tagihan.”


“Baiklah.”


Kedua gadis itu segera bergabung dengan Naru, Qin Yun dan Qin Yan.

__ADS_1


“Ya, para gadis memang harus dimanjakan.”


Jiu Feng juga menimpali karena setuju, andai dia memiliki kekasih, dia bahkan lebih bersedia memanjakan kekasihnya. Karena di dalam keluarganya sendiri, dia adalah satu-satunya anak, bahkan jika dia ingin memanjakan seorang adik perempuan, dia tidak punya.


Hari itu adalah hari bersejarah untuk putra mahkota Kekaisaran Yun, dan hari di mana Naru dkk menghabiskan waktu mereka dengan berkeliling kota dan berbelanja.


Hari kembali berlalu dengan cepat, Naru, Qin Yan, Qin Yun, Li Mo, Che, Xie, Jue, dan Mo Ye yang tinggal di kediaman Qin saat ini tengah bersiap untuk mengikuti perekrutan murid baru yang dilakukan oleh 4 sekte besar.


Mereka tidak terburu-buru dan menikmati sarapan mereka lebih dulu, begitu mereka merasa siap, baru saat itu mereka keluar dari kediaman Qin.


Mereka berjalan kaki menuju tempat di mana tes diadakan.


Tempat diadakan tes sendiri merupakan tempat yang cukup luas. Di mana para tetua dan instruktur yang merekrut berada.


4 sekte besar yang sedang merekrut adalah Sekte Jiayou yang berada di urutan pertama, sekte Tianlei yang berada di urutan kedua, sekte Baixin yang berada di urutan ketiga, dan terakhir adalah sekte Dugu.


Begitu Naru dan yang lainnya memasuki area perekrutan, mereka dapat melihat panggung batu di tengahnya ada pilar yang tampak seperti kristal. Tidak jauh dari panggung batu, Naru bisa melihat podium yang diisi oleh para tetua dari 4 sekte.


Naru tidak yakin berapa usia mereka, tapi yang pasti dia yakini adalah mereka yang terlihat tampan dan cantik dan duduk dengan santai di podium adalah monster tua seperti Beichen Li.


Tidak jauh dari kelompok mereka, Naru bisa melihat Sakura yang tengah menggenggam lengan Sasuke dan Karin hanya memasang wajah datar.


Ada juga Hinata yang dulunya terlihat lembut dan pemalu, saat ini terlihat dingin dan tampak sulit didekati, bahkan wajah lembut itu telah berubah menjadi datar menyaingi wajah datar Neji. Tidak ada lagi senyum malu-malu ketika bertemu orang yang dia sukai, Naru tidak tahu apa yang terjadi pada Hinata, tapi dia merindukan Hinata yang dulu.


Namun, ketika melihat Hinata yang menatap Shikamaru tengah bercanda dengan temari, dia bisa melihat rasa sakit di mata Hinata, ada juga Neji yang tersenyum kecut menatap Hinata yang mengamati Shikamaru.


Naru menghela napas lelah, Mo Ye yang berada di sampingnya juga ikut mengamati arah pandang Naru dan juga menghela napas tanpa daya. Dia menepuk kepala Naru dan melangkah ke tempat Hinata berada seraya mengeluarkan permen kapas dari cincin penyimpanan miliknya.

__ADS_1


Berada di dekat Hinata, dia mengulurkan permen kapas di depan Hinata.


“Ini.”


Hinata yang sibuk mengamati Shikamaru terkejut melihat permen kapas di depan wajahnya, dia melihat ke samping dan mendapati wajah tampan Mo Ye yang tengah tersenyum tipis padanya.


“Cobalah, ini manis.”


“Terima kasih.”


Hinata menerima permen kapas tersebut dan mulai memakan secara perlahan, dia tidak lagi menatap Shikamaru dan Temari.


“Boleh aku memanggilmu dengan sebutan Nana?”


“Uhm.”


“Bagaimana perasaanmu? Masih sakit?”


Hinata tidak menjawab, dan memilih memakan permen kapas di tangannya.


“Jika sakit, maka lupakan dia. Kau yang begitu terpaku padanya bahkan tidak menyadari jika ada orang lain yang memiliki perasaan padamu.”


“Aku sudah berusaha, tapi jika bertemu setiap hari, sangat sulit untuk melupakan. Tentang orang lain yang memiliki perasaan padaku, aku menyadari sejak awal, tapi aku tidak bisa menerimanya dan membalas perasaannya, karena dia tidak lain adalah kakak sepupuku dan juga aku telah menganggapnya kakakku sendiri.”


Neji yang mendengar ucapan Hinata semakin tersenyum miris.


“Apa kau sudah mencoba berbicara dengannya?”

__ADS_1


“Sudah, aku sudah mengatakan agar dia mencari gadis lain daripada harus bersamaku yang hanya menganggap dirinya sebagai kakak.”


__ADS_2