
Melihat pemuda itu ketagihan, beberapa orang langsung menyerbu stan Naru dan Cai Ling. Tentu saja mereka tidak menyerobot dan memilih antre.
Ada yang membeli 2 bungkus, ada yang membeli 7 bungkus bahkan yang paling banyak membeli 10 bungkus.
Keduanya hanya melayani dalam waktu 1 stengah jam dan 300 bungkus habis begitu saja.
“Baiklah, kami tidak membuat banyak, besok kami akan menjual nasi bungkus lainnya.”
Segera yang tidak mendapatkan bagian menjadi tidak bersemangat, jadi mereka memutuskan untuk datang lebih cepat, karena barang yang dijual oleh kedua gadis tersebut jelas, dan tidak akan berubah.
Naru dengan Cai Ling tersenyum bahagia dengan dagangan mereka yang habis. Mereka tidak tahu kalau Mo Ye dan Hinata juga berada di gedung pertukaran.
Melihat senyum konyol keduanya Mo Ye terkekeh dan menggeleng, dia kemudian melihat Hinata yang menatap Naru dan Cai Ling dengan geli.
“Ya, Xiao Ling telah terinfeksi oleh sifat konyol Naru.”
“Jika dilihat, keduanya memang tampak konyol, apa lagi ketika mereka tersenyum seperti itu.”
“Pfft.”
Mo Ye juga terkekeh mendengar suara tawa pelan Hinata, dia kemudian menggoda Hinata membuat Hinata merona.
“Kau tampak lebih manis jika tertawa seperti itu Nana.”
Melihat Hinata merona, Mo Ye semakin terkekeh geli.
“Ya dengan memerah seperti itu, kau tampak sangat manis. Bagaimana dengan menjadi kekasihku? Aku akan sangat tidak rela jika membiarkan gadis manis seperti dirimu dimiliki oleh pria lain.”
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Jantung Hinata berdetak cepat, kali ini dia sangat yakin jika dia terkena serangan jantung. Menatap Mo Ye yang serius di depannya, dia tertegun.
Begitu dia ingin berbicara, Mo Ye menghentikannya. Dia melihat Mo Ye memegang tangannya dengan lembut dan membawanya ke gazebo dekat sungai yang terdapat di dalam sekte.
Begitu sampai, Mo Ye mendudukkan Hinata di bangku, dan dia berlutut di depan Hinata.
“Nana, mungkin tidak ada yang tahu, tapi aku telah menyukaimu atau lebih tepatnya aku mencintaimu ketika melihatmu untuk pertama kalinya di final turnamen akademi saat itu. Ketika melihatmu merasa sakit hati karena pria lain, aku tertekan dan ingin langsung membawamu ke sisiku, tapi aku tahu aku tidak berhak dan saat itu kau bahkan tidak mengenalku. Baru saat perekrutan sekte saat itu, aku memberanikan diri untuk menyapamu dan menghiburmu, tapi setelah itu, aku masih berpura-pura tidak peduli padamu, padahal aku sangat bahagia kau bergabung dengan kelompok kami. Jadi, apa keputusanmu, aku ingin mendengarnya.”
Hinata diam, dia tidak berbicara, wajahnya sendiri sudah sangat merah dan bahkan jantungnya berdetak sangat kencang. Kali ini dia tidak berpikir jika dia terkena serangan jantung, tapi itu karena Mo Ye.
Ya, perasaan yang dia rasakan untuk Mo Ye saat ini berbeda dengan perasaan yang dia rasakan untuk Shikamaru.
Setelah yakin dengan perasaannya sendiri, wajah Hinata tidak lagi memerah, dan itu kembali normal. Dia menatap Mo Ye dengan tenang dan wajah cantiknya sama sekali tidak memiliki ekspresi.
“Tidak, aku menolak menjadi kekasihmu.”
Mo Ye yang melihat Hinata perlahan menjadi tenang dan wajahnya tidak lagi memerah, dia entah mengapa memiliki firasat buruk, tapi dia masih ingin mendengar jawaban Hinata.
Benar saja, jawaban Hinata membuatnya sangat sakit, dia memang mencintai Hinata, tapi dia tidak ingin memaksa gadis tersebut untuk menerimanya.
“Tidak apa-apa jika kau menolak, tapi apakah kita masih bisa menjadi teman?”
Hinata tersenyum dan memegang wajah tampan Mo Ye.
“Ya, kita bisa terus berteman. A Ye, aku memang menolak menjadi kekasihmu, karena aku tidak hanya ingin memiliki status sebagai kekasih belaka. Namun, aku ingin menjadi istrimu yang akan menjadi teman hidupmu selamanya dan berdiri berdampingan denganmu.”
Menyelesaikan ucapannya, Hinata mengecup bibir Mo Ye dengan lembut. Ya, itu hanya kecupan, bukan ciuman.
“Oke, aku telah menyegelmu dan kau adalah milikku.”
Mo Ye yang belum beraksi dengan ucapan Hinata kembali tertegun ketika merasakan bibir lembut itu menempel di bibirnya. Ketika mendengar Hinata telah menyegelnya, dia akhirnya tersadar.
“Hahahahaha, Nana, apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?”
__ADS_1
“Aku serius.”
“Baiklah, setelah tugas yang kita emban selesai, aku akan menikahimu.”
“Ya.”
Dia awalnya sangat terpukul karena penolakan Hinata yang tidak ingin menjadi kekasihnya, tapi masih bisa merasa lega ketika mendengar Hinata tidak keberatan untuk tetap berteman dengan dirinya. Namun, dia tidak menyangka jika teman di bibir Hinata berbeda dengan kata teman yang dia pikirkan.
Ternyata dia salah paham, Hinata tidak ingin menjadi kekasihnya, tapi dia ingin lebih dari sekadar kekasih yang bisa menjadi teman seumur hidupnya dengan status yang sah di mata Tuhan.
Sasuke dan Sakura yang juga berada di danau saling menatap dan tersenyum.
“Akhirnya Hinata bisa melupakan si rusa pemalas itu.”
“Kau benar Sakura, aku juga tidak menyangka Mo Ye itu bahkan telah jatuh cinta pada Hinata saat pandangan pertama.”
Sasuke terkekeh, dunia ini begitu aneh. Dua orang dengan asal dunia berbeda bisa bersatu, seperti Karin yang telah menjadi calon nyonya di istana raja Neraka.
Waktu berlalu begitu saja, hari penyambutan murid baru juga tiba. Semua murid baik murid internal dan eksternal berkumpul dalam satu lapangan.
Di tengah lapangan ada panggung, dan tidak jauh ada podium tempat para tetua dan pemimpin sekte duduk.
Segala jenis alat musik telah disediakan, seperti Guqin, seruling, dan gendang.
Meski murid eksternal dan internal dikumpulkan dalam 1 lapangan, tapi tempat mereka berbeda.
Di kelompok asrama Dragon King murid internal, 4 gadis tampak mengenakan pakaian yang berbeda.
Naru mengenakan top crop hitam lengan pendek dan celana jeans overall biru serta sepatu bot hitam selutut, rambut blondenya diikat tinggi, dan tidak lupa dengan jubah asrama miliknya.
Qin Yun mengenakan T-shirt putih lengan pendek dan celana training dengan garis putih di tepinya, ada juga sepatu kets hitam sebagai pelengkap. Rambutnya sendiri dibiarkan tergerai tanpa hiasan dan jubah kebesaran Dragon King melapisi bagian luarnya.
Qin Yan mengenakan T-shirt hitam longgar, dan jeans biru. Sebalah dia gulung hingga mencapai setengah betisnya, dan sebelah dibiarkan begitu saja. Di kakinya ada sepatu kanvas putih dan rambut blonde yang digerai itu memiliki topi yang bagian depannya sengaja ditaruh di belakang. Dia juga tidak melupakan jubah asrama mereka.
__ADS_1
Cai Ling mengenakan T-shirt putih dan jeans hitam yang memiliki sobekan di lututunya, rambut hitamnya diikat tinggi dan dia memakai sepatu bot seperti Naru. Tentu saja dia tidak melupakan jubah yang menjadi identitas di asrama mana mereka berada.