Beast Princess

Beast Princess
Beast Princess 31


__ADS_3

Sangat cepat 2 Minggu berlalu, para murid Akademi saat Ini berbondong-bondong menuju arena dimana pertandingan tahunan dilakukan.


Saat sampai di area arena, Naru dkk melihat banyak wajah asing yang tak di kenalnya. Mereka mengerutkan dahi kemudian melihat sekeliling. Benar saja, tidak hanya satu atau dua tapi banyak.


"Apakah aku melewatkan sesuatu?"


Che mengalihkan pandangannya saat mendengar gumaman Naru.


"Kau tidak melewatkan sesuatu, wajah asing yang kau lihat merupakan para senior yang selalu berada dalam pintu tertutup. Beberapa dari mereka berada di papan peringkat jenius Akademi.."


Naru dan yang lainnya akhirnya mengerti.


"Apa mereka kuat?" Kali ini Qin Yan yang bertanya dengan penasaran.


"Tentu saja kuat, peringkat pertama jenius Akademi ada di tingkat Sky Profound Realm late Stage dan selangkah lagi akan memasuki Emperor Profound Realm. Saat akan memasuki Emperor Profound Realm maka seseorang di haruskan melewati percobaan petir surgawi.."


Mendengar penjelasan Che, Naru dkk mencibir dalam hati.


"Seolah kami tidak tahu saja. Apalagi, kultivasi kalian bertiga lebih tinggi dari si jenius itu. Kalian bahkan bisa pergi ke dunia atas.."


Che, Jue, dan Xie memiliki kedutan di ujung bibir mereka.


"Hn, aku bahkan bisa merebut tempat itu dengan gampang.."


Semua menatap Sasuke dengan pandangan aku tak percaya.. kecuali yang memang mengetahui kemampuan Sasuke.


"Hehehe, aku tidak sabar ingin menghajar orang. Sudah lama rasanya rantaiku tidak melilit korban lagi.." kali ini Karin yang berbicara.


"Ya, secara alami. Nyonya masa depan manor Raja Neraka tidak boleh lemah.."


Blussh


Wajah Karin sontak memerah dan dia menunduk malu.


"Tinjuku juga sudah lama tidak merubuhkan bangunan hehehehe.."


Semua pandangan mengarah pada Sakura seolah dia adalah monster.


"Apa? Aku berkata fakta kok.."


"Kami tahu.."


"Hahahaha.." sontak mereka semua tertawa.


"Sekelompok idiot yang hanya bisa berbicara besar.."


Di belakang Naru dan yang lainnya terlihat sekelompok orang yang Naru dkk tidak kenal.


"Saudara Jiang, aku tadi mendengar jika salah satu dari mereka berkata bisa merebut tempatmu dengan gampang.." kali ini seorang gadis berumur kira-kira 19 tahun yang berbicara. Gadis cantik itu mengenakan gaun hijau lembut dengan jubah khas Akademi.


"Apa itu, aku juga mendengar jika salah satu dari mereka merupakan nyonya masa depan Raja Neraka. Jangan bercanda, bahkan Raja Neraka tidak pernah menunjukan wajahnya.."


"Rong'er berhenti berbicara. Sebaiknya kita segera ke podium mencari tempat.."

__ADS_1


"Baiklah saudara Jiang.."


Kelompok tersebut baru akan pergi tapi di hentikan dengan ruang yang berfluktuasi.


Dari sobekan ruang, keluar pemuda tampan mengenakan topeng dan jubah putihnya di ikuti 2 pengawal. Naru, Qin Yan dan Qin Yun seketika tersenyum cerah. Berbeda dengan expresi datar dan dingin mereka beberapa saat yang lalu.


"Gege, kenapa baru datang menemui kami?" Naru cemberut dan menerjang Qin Mo Xuan, di susul oleh Qin Yan dan Qin Yun.


"Maaf, Gege sangat sibuk. Jangan marah, Gege membawa tripod untuk Qin Yun dan Qin Yan sebagai permintaan maaf.."


"Baru aku tidak di bawakan sesuatu gitu?"


Qin Mo Xuan mengacak Surai perak Naru yang sukses membuat Naru memberenggut tak suka.


"Jangan mengacak rambutku.."


"Baiklah, jadi apa yang kau inginkan hmmp.."


Naru menyeringai membuat Qin Mo Xuan merasa tak enak.


"Aku belum memikirkannya, jadi Gege berhutang 2 hal padaku. Oh ya, selain membawa hadiah untuk Yun'er dan Yan'er, apakah Gege memiliki sesuatu yang penting.."


"Tentu, tapi Gege lebih memilih menemui kalian lebih dulu. Bisa kalian lepas, seseorang di sana sepertinya lebih merindukanku.."


Naru, Qin Yun dan Qin Yan yang tengah bergelayut manja pada Qin Mo Xuan menyeringai dan melepas pelukan mereka.


Karin sendiri sudah memerah, ya dia memang sangat merindukan sosok itu tapi kenapa harus terang-terangan yang membuatnya semakin malu.


Sosok yang menggetarkan dunia tengah bahkan menghancurkan dunia bawah. Sosok yang mereka takuti dan mereka hormati.


Sosok itu kini menghampiri gadis berambut merah yang tengah menatap tajam pada Naru dan 2 gadis lainnya.


"Jangan melototi mereka.."


"Mereka menyebalkan.."


"Baik, jangan marah. Kau tahu, aku sangat merindukanmu.."


"Hmmp.."


"Ehem, bisakah kalian tidak bermesraan di depan umum.."


Qin Mo Xuan menatap tajam pada Jue yang dengan tidak sopannya mengganggu reuninya dengan sang pujaan hati..


Para murid sudah merinding dan berkeringat dingin karena aura yang di keluarkan Qin Mo Xuan.


Qin Mo Xuan tidak peduli lagi dan kembali menatap Karin.


"Aku masih memiliki urusan dengan para guru Akademi, nanti aku akan menemui kalian lagi.."


"Uhm.."


Qin Mo Xuan mengecup singkat kening Karin dan mengeluarkan 2 tripod dan memberikannya pada Qin Yan dan Qin Yun.

__ADS_1


"Terimakasih Gege.."


Cup


Keduanya segera mengecup pipi Qin Mo Xuan yang tidak tertutup topeng.


"Ya, berikan yang terbaik di pertandingan nanti.."


Ketiga gadis itu mengangguk antusias dan dengan itu, Qin Mo Xuan dan 2 pengawalnya menghilang.


Naru dengan cepat menggandeng tangan Xuanyuan Che, begitupun dengan Qin Yun dan Qin Yan menggandeng tangan pasangan mereka.


Liu Rong tersenyum kecil kemudian menggenggam tangan kecil Feng Xue.


Kelompok tersebut segera pergi ke podium dimana arena pertandingan berada.


Setelah kepergian mereka semua, kelompok yang mencibir Naru dkk akhirnya sadar dan ada ketakutan di hati mereka. Tapi salah satu diantara mereka semakin membenci Naru yang sangat dekat dengan Che pemuda yang di sukainya.


"Cih dasar ****** kecil. Lihat saja, aku akan menghancurkanmu.."


Dia sudah lama menyukai Che tapi Che tidak pernah merespon bahkan melirik saja tidak.


...


Di ruang dimana para guru berada. Semua kursi telah terisi kecuali kursi utama yang merupakan milik pemilik Akademi Awan Merah.


Hingga sosok pemuda dengan hanfu putihnya muncul dari ketiadaan. Sosok itu mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan sosok Ye Tian. Dia pun menghela nafas.


Para guru melihat kedatangan pemuda itu, segera berdiri dari tempat mereka dan memberi hormat.


"Kami menyapa pemilik.."


"Sudahlah, tidak perlu terlalu formal.."


"Terimakasih pemilik.."


"Apakah Tetua Ye tidak ada di Akademi?"


"Menjawab pemilik, Tetua Ye entah berada dimana. Setelah mengambil 3 murid kembar yang sangat berbakat, hari kedua dirinya langsung meninggalkan Akademi.." seorang guru yang memiliki tampang tidak terlalu tua menjawab.


"Baiklah Tetua An, terimakasih infonya.."


Pemuda itu segera mengedarkan pandangannya menatap semua guru di ruangan itu.


Para guru berkeringat dingin di tatap seperti itu oleh pemilik Akademi, bahkan sang kepala sekolah meneguk ludahnya paksa.


"5 tikus Paviliun Surgawi berhasil lolos dari pengawasan kalian, apakah kalian tidak menyadari mereka.."


Mendengar hal itu, mereka semua semakin takut. Tidak biasanya aura pemilik Akademi begitu mengerikan.


Meskipun mereka tahu jika pemilik Akademi sangat mengerikan tapi tidak semengerikan seperti saat ini..


...

__ADS_1


__ADS_2