
"Oya, Ayah sama Ibu, mau berangkat sekarang, kalian jaga diri baik-baik ya," ucap Ayah Sofyan sambil menatap Veri, Amoy dan menantunya.
"Iya Ayah. Maaf ya, Amoy tidak bisa mengantarkan Ayah sama Ibu, ke bandara," lirih Amoy.
"Iya, tidak apa-apa kok Nak," Ayah Sofyan, tersenyum kepada putrinya ,"ingat, pesan Ayah!" ucap Ayah Sofyan, netranya menatap intens Veri.
Veri, hanya menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Tuan, ini sudah siap," ucap Bi Ita, sambil membawa koper.
"Terima kasih Bi," Ayah
Sofyan, tersenyum.
"Ayo, Ayah, Ibu sudah siap," ucap Bu Metha, tiba-tiba datang sambil membawa koper.
"Ya sudah Ibu berangkat dulu ya Nak, jaga diri baik-baik," sambung Bu Metha, kemudian memeluk putrinya.
"Iya, Bu. Maafin Amoy, sudah kurang ajar sama Ibu," Amoy, membalas pelukan Ibunya.
"Iya tidak apa-apa Nak, Ibu paham kenapa kamu bisa seperti itu," Bu Metha, menguraikan pelukannya, lalu tersenyum kepada putrinya.
"Terima kasih Bu, sudah memaafkan Amoy."
"Iya Nak. Ingat, jangan dekat dengan Kakak iparmu, nanti kamu bisa terpengaruhi sama dia," Bu Metha, sambil menatap menantunya.
Ayah Sofyan, langsung menatap istrinya ,"Bu, bicara apa sih? Tidak baik berkata seperti itu."
Bu Metha, langsung memutarkan matanya dengan malas.
"Oya, Ver, jaga adikmu baik-baik. Jangan biarkan-" ucapan Bu Metha, harus terputus saat Ayah Sofyan, menyela pembicaraanya.
"Sudahlah Bu, ayo kita berangkat sekarang sudah siang nih," sahut Ayah Sofyan, sambil menarik tangan istrinya.
"Bentar Ayah, Ibu belum selesai ngomong sama Veri," Bu Metha, mencoba melepaskan tangan Ayah Sofyan.
"Sudahlah Bu, mau ngomong apa lagi? Kan, sudah jelas kita akan berangkat sekarang. Sudah ayo, kita berangkat!" Ayah Sofyan, dengan kekeuh.
"Oke, baiklah Ayah." Bu Metha, memilih untuk menuruti suaminya ," ya sudah Nak, Ibu, berangkat dulu ya, jaga diri kalian baik-baik," ucap Bu Metha, sambil menatap Veri dan Amoy.
"Iya, Bu." Amoy dan Veri, mengaggukan kepala.
Saat Ayah sofyan dan Bu Metha, akan berjalan menuju mobil, Veri dan Amoy, mencium punggung tangannya.
"Ayah, Ibu, hati-hati dijalannya, semoga selamat sampai tujuan," ucap Angel, sambil tersenyum.
"Iya Nak, terima kasih atas doanya. Ayah sama Ibu, berangkat dulu ya," pamit Ayah Sofyan.
"Iya, silahkan Ayah." Angel, kemudian mencium punggung tangan Ayah mertuanya.
Saat Angel, meraih tangan Bu Metha, tiba-tiba Bu Metha, menghempaskan tangan Angel begitu saja.
Angel, merasa terkejut dan tidak percaya apa yang dilakukan oleh mertuanya.
__ADS_1
Ayah Sofyan, hanya mengelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
Mereka pun kini berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan anak-anaknya.
"Ayo Kak, kita makan," ajak Amoy, sambil meraih tangan Kakak Iparnya.
"Baiklah." Angel, tersenyum kepada adik iparnya.
Mereka pun berjalan menuju meja makan untuk sarapan pagi.
"Sekarang sudah lupa sama kakaknya, itu anak," gerutu Veri, sambil menatap punggung Amoy dan Angel.
Veri, dengan langsung melangkahkan kakinya dan berjalan menuju meja makan.
Mereka, kini sudah sampai di ruangan makan. Saat Veri, akan duduk tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Sayang ....," teriak Via, sambil berjalan menghampiri Veri.
"Kak Via? Mau ngapain dia kesini?" Amoy, sambil menatap tidak suka kepada Via.
Amoy dan Angel, saling menatap satu sama lain.
"Sayang, hari ini kita jalan-jalan yuk," ajak Via, dengan bergelayut manja saat berada di samping Veri.
"Kamu mau ajak aku jalan-jalan?" tanya balik Veri.
"Iya, sayang. Mumpung hari ini, kamu libur kerja, gimana?" tanya Angel, sambil menatap Veri.
"Oke, sayang. Lagi mau makan ya? Kayaknya enak nih," Via, sambil menatap makanan yang ada diatas meja.
"Kak Via, mau ikut makan? Ya sudah, ayo kita makan," ajak Angel.
Via, langsung menatap Angel dengan tatapan tidak suka. Via, langsung duduk disamping Veri.
"Sini, aku alas ya Sayang." Via, dengan mengambil piring kemudian mengalas nasi dan menu-nya.
"Oke, baiklah." Veri, tersenyum.
"Sudah siap nih, ayo kita makan," ajak Via.
Veri, hanya menganggukan kepala tanpa menjawab perkataan Via.
Entah kenapa hati Angel, merasa terluka saat melihat Veri dan Via, saling suap menyuapi. Angel, mencoba tersenyum dan kuat.
Amoy, merasakan bagaimana sakitnya hati kakak ipar.
"Kak Via, tolong hargai dong disini ada istrinya Kak Veri," kata Angel.
"Kenapa emangnya kalau ada wanita sialan itu? Lagian, aku juga tunangannya kakakkmu," ujar Via, menatap tidak suka Angel.
"Kakak kan, hanya tunangannya saja tapi dia, istrinya sah kak Veri," protes Amoy.
"Asal kamu tahu ya, seandainya saja wanita brengsek ini tidak hamil, mungkin aku sudah menikah dengan kakakkmu!" bentak Via, sambil menatap tajam Amoy.
__ADS_1
"Kak Via, jangan-" ucapan Amoy, terputus saat Angel, memberikan kode dan meminta agar Amoy, diam.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Kak Via, mereka akan menikah jika, kejadian waktu itu tidak terjadi," lirih Angel, kemudian menundukan kepala.
"Tuh, tahu. Hei, wanita brengsek! Jujur saja, kalau anak yang ada dikandunganmu bukan anak Veri, kan?" tanya Via, menatap tajam Angel.
"Dengar ya Kak, aku bukan wanita murahan! Anak yang ada dikandunganku, memang anak dia!" Angel, menatap kesal Veri.
"Kalau kamu tidak murahan, kenapa bisa kamu mengandung anaknya?" tanya Via.
"Karena waktu itu dia menarik paksa aku! Aku mencoba memberontak, tapi sayangnya tenagaku tidak berbanding dengannya. Niatnya ingin menolong malah jadi petaka," Angel, tiba-tiba meneteskan matanya membasahi wajah cantiknya.
"Bagus, aktingmu luar biasa ...," Via, tersenyum sinis.
"Kak Via, kalau ngomong tuh dijaga! Kak Angel, tidak akting Kak," Amoy, tidak terima dengan tuduhan Via.
"Kamu kenapa sih, membela dia terus? Sejak-"
"Stop, hentikan perdebatan kalian!" Veri, memotong pembicaraan Via dan merasa geram melihat perdebatan diantara tiga wanita cantik.
"Kalian bisa enggak, kalau lagi makan jangan sambil berdebat?!" Veri menatap tajam Via, Angel dan Amoy secara bergiliran.
"Ini semua gara-gara Kak Via, yang duluan mulai!" Amoy, ikut emosi.
Amoy dan Via, saling menatap tajam. Akhirnya Via, memilih untuk mengalah. Kemudian menarik napasnya lalu membuangnya dengan kasar.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk-" lagi-lagi ucapan Via, harus terputus karena Veri, memotong pembicaraannya.
"Sudahlah, aku jadi tidak berselara makan." Veri, menaruh sendoknya lalu pergi dari tempat makan tersebut.
"Sayang, tunggu ...." teriak Via, sambil menatap kekasihnya.
"Ini semua gara-gara kalian!" Via, sekilas menatap Amoy dan Angel, lalu pergi menyusul Veri.
"Kak Angel, sabar ya Kak. Jangan dengarkan wanita gila itu, dia benar-benar stres!" Amoy, mencoba menguatkan Kakak iparnya.
Angel, tersenyum kepada adik iparnya ,"hustt, jangan bicara seperti itu tidak baik. Lagian memang benar, ini gara-gara aku telah hadir dikehidupan kakakmuz sehingga-"
"Enggak Kak, ini bukan salah Kakak. Lagian, aku senang bila Kakak, yang jadi istri Kak Veri. Malahan aku tidak setuju bila Kak Veri menikah sama Kak Via," sela Amoy, memotong pembicaraan Angel.
"Kenapa? Mereka saling mencintai."
"Karena dia manja Kak. Apa yang diinginkan harus dia turuti. Bila tidak, dia selalu mengancam Kakakku. Makanya aku tidak suka Kak."
"Emm gitu ya. Sudah ayo kita lanjut makan, dari pada bahas hal yang tidak penting."
"Baiklah Kak."
Angel dan Amoy, kini sedang menikmati sarapan paginya.
Angel, sengaja mengajak adik ipanya untuk makan kembali karena malas harus bahas sesuatu yang menurutnya sangat menyakitkan.
Mereka pun kini menikmati sarapan paginya.
__ADS_1