
"Sa-sakitnya tadi tapi sekarang sudah mendingan Bu," ucap Veri, kemudian tersenyum dengan terpaksa.
"Serius, tenggorokanmu sudah tidak sakit lagi?" tanya Bu Mertha.
"Iya, serius Bu," jawab Veri.
"Syukurlah kalau begitu," Bu Mertha, merasa lega.
Angel tiba-tiba merasa ilfil melihat tingkah suaminya dan Istrinya tau kalau Veri berbohong.
"Sayang, kamu sudah sadar? Syukurlah aku sangat senang," Via, tiba-tiba datang dan langsung memeluk Veri.
"Iya, aku memang sudah sadar kamu senang ya?" tanya Veri, menguraikan pelukan Via.
"Tentu saja aku senang sayang, aku rindu makan bareng, jalan-jalan bareng dan paling penting shooping," Via, tersenyum simpul.
"Oh," Veri, sambil menganggukan kepalanya.
"Maaf Ayah, Ibu, aku mau permisi dulu ke toilet," ucap Angel.
"Ya sudah silahkan Nak, jangan lama-lama disananya," kata Ayah Sofyan.
"Iya, Ayah."
Angel segera pergi dari ruangan tersebut dan Veri menatap punggung Istrinya yang sudah berada didepan pintu. Secara tidak sengaja netra mereka saling bertemu, Angel langsung memalingkan wajahnya dan langsung pergi keluar dari ruangan tersebut.
Sebenarnya Angel, beralasan untuk ketoilet karena hatinya begitu sakit bila melihat suaminya dengan Via, selalu mesra.
Aku pikir dia akan berubah dan mulai menerimaku sebagai istrinya, ternyata masih seperti dulu sangat jutek. Aku ini istrinya tapi kenapa aku tidak pernah diperlakukan seperti wanita sialan itu. Sudahlah Angel, kamu harus sadar diri dia tidak mecintaimu "batin" Angel merasa sedih.
Kemudian Angel, memilih untuk pergi keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju taman yang tidak jauh dari tempat tersebut.
Angel kini sudah berada di taman dengan tatapan nanar. Dirinya masih kecewa kepada suaminya yang tidak pernah memperhatikannya, apalagi bertanya anak yang ada di dalam perutnya.
Angel memejamkan matanya sebentar sambil menghirup udara yang ada disana. Pikirannya kini terasa rileks dan dadanya begitu merasa lega.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang datang kemudian menempelkan tangannya ke mata wanita cantik tersebut. Angel, langsung terkejut karena merasakan ada tangan yang menempel dimatanya.
"Hei, lepaskan tanganmu!" teriak Angel, mencoba melepaskan tangan tersebut.
Seseorang tersebut langsung melepaskan tangannya lalu duduk disamping Angel.
"Panji?" ucap Angel, merasa tidak menyangka sahabatnya ada ditaman juga.
"Apa kabar Bumil? Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Panji, sambil tersenyum.
"Kabarku baik. Sejak kapan kamu memanggil namaku jadi Bumil?" tanya Angel, sambil menyunggingkan bibir atasnya.
"Barusanlah, sudah sejak kapan dong? Aku 'kan sibuk terus jadi baru bisa ketemu sekarang," ucap Panji.
"Mentang-mentang pengusaha sukses sampai lupa sama sahabat sendiri,"Angel, menatap sebal sahabatnya.
"Aku enggak lupa sama kamu tapi aku benar-benar sibuk dengan perusahaanku yang semakin maju dan berkembang pesat," jelas Panji.
"Oya?" tanya Angel, sambil menatap sahabatnya.
"Selamat ya friend, semoga semakin sukses dan lebih baik lagi," lirih Angel.
"Terima kasih," Panji, sambil menghimpit hidung mancung milik sahabatnya.
"Ih, Panji sakit tau," rengek Angel, memukul lengan sahabatnya.
Panji hanya tertawa saat sahabatnya merasa kesal karena ulahnya.
Angel mengajak Panji untuk membeli eskrim yang berada ditaman. Panji tidak menolak ajakan sahabatnya, justru dia merasa sangat senang bisa membahagiakan Angel dan Panji tahu kalau sahabatnya pasti sedang ada masalah.
Mereka dengan segera pergi dari taman tersebut dan berjalan menuju tempat jualan eskrim.
.
.
__ADS_1
"Angel, kemana ya Bu? Sudah dua jam belum kembali juga," Ayah Sofyan, sambil menatap jam tangannya.
"Mana Ibu tau Yah, mungkin masih ditoilet kali," Bu Mertha, sambil menatap suaminya.
"Masa sih lama benar ya ditoiletnya. Coba Ibu cari takut terjadi apa-apa sama Angel," pinta Ayah Sofyan.
"Eggak mau ah Yah, biarin saja dia 'kan sudah gede jadi bisa lindungi dirinya sendiri," tolak Bu Mertha.
"Ya ampun Bu, kenapa bicara seperti itu? Dia sedang mengandung cucu kita, apakah Ibu merasa tidak kasihan sama cucu kita?" tanya Ayah Sofyan.
Aku tidak mengharapakkan cucu dari wanita seperti dia. Aku hanya ingin memiliki cucu dari wanita yang terpandang "batin" Bu Mertha.
"Bu, kenapa diam saja? Ayolah cari Angel kasihan dia," pinta Ayah Sofyan.
"Oke, baiklah Ayah," ucap Bu Mertha, dengan terpaksa harus mencari Angel.
"Ayo, ikut aku mencari Angel," Bu Mertha, sambil menarik tangan Via.
"Baiklah Bu," jawab Via.
Bu Mertha dan Via, segera pergi dari ruangan tersebut dan pergi keluar untuk mencari menantunya.
Bersambung ...
#####
#yuk ah kepoin karya dari temanku ini dijamin seru banget nih, enggak nyesel baca deh.
Blurb:
Jihan mengantarkan ibu mertuanya untuk melayat ke rumah teman pengajiannya. Namun ketika berada di rumah duka ada seorang anak kecil memanggilnya ‘Mamah’.
Abrisam seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Namun takdir menentukan lain, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia. Meninggalkannya dan anak mereka yang bernama Alika.
__ADS_1