Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
53. Kesel


__ADS_3

"Halo, Sayang, lagi apa?" tanya Angel saat sudah berada di kamar putranya.


"Main robot-robotan, Bu," jawab Al.


"Kamu senang ya?" tanya Angel.


"Heem," Al menganggukan kepalanya.


Bi Wati pun pamit untuk keluar dari kamar Al, "Non, pamit dulu ya, mau keluar," ucap Bi Wati.


"Iya, silahkan Bi."


Bi Wati segera keluar dari kamar Al, kemudian Veri masuk ke dalam kamar tersebut.


Veri berjalan menghampiri putranya, lalu memeluknya.


"Sayang," Veri, merasa sangat senang bisa menyentuh putranya.


Pria itu terus mencium putranya berkali-kali merasa tidak percaya akan memiliki putra yang sangat tampan. Al merasa risih dengan apa yang di lakukan oleh Veri, kemudian Anak kecil tersebut berlari ke pangkuan sang Ibu.


"Kenapa kamu lari, Sayang? Ini Ayah, Nak, ayo, sini?" Veri memanggil putranya dan berharap putranya mau ke pangkuannya.


Al mengelengkan kepala, dia belum menerima pria itu karena merasa asing baginya.


Angel pun merasakan apa yang di rasakan oleh Veri, pastinya sangat sedih karena putranya belum mengenalnya sehingga tidak mau ke pangkuan Veri.


"Sayang, dia Ayahmu, Nak," lirih Angel sambil menatap putranya.


"Ayo, sini, Sayang," pinta Veri.


Al hanya mengelengkan kepala dan menolak permintaan sang Ayah.


"Kenapa kamu enggak mau sama Ayah? Bukannya sering nanyain Ayah ya? Dia adalah Ayahmu, Sayang," Angel mencoba menjelaskan pada putranya.


"Ibu biyang katanya Ayah sudah tenang di syurga," ceplos Al dengan polosnya.


Veri merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putranya. Segitu bencinya Angel pada sang suami? Sehingga berkata kalau dirinya sudah meninggal.


Veri langsung menatap kesal wanita tersebut dan Angel merasa jadi serba salah harus gimana menjelaskannya pada Al.


"Maksud I-ibu kalau Ayah sudah tenang di surga dunia, Sayang. Dia orang kaya pasti sangat menikmati hidupnya dan bagaikan surga dunia miliknya," jelas Angel pada putranya.


"ck, dasar pintar banget biniku ini kalau bicara. Tega sekali bicara kalau aku sudah mati dan sekarang dia berkata ... ah, sudahlah batin Veri"


"Oh. jadi Ayah beyum meninggal?" tanya Al.

__ADS_1


"Be-belum, Sayang. Ibu enggak pernah bilang kalau Ayahmu sudah meninggal, tapi Ibu bilang hidupnya sudah tenang di surga dunia," Angel cengengesan, kemudian mengusap lembut rambut putrannya.


"Masih kecil udah di ajarin boong, macam Ibu apaan," sindir Veri, sambil menatap kesal Angel.


"Siapa bilang kamu meninggal? A-aku cuma bilang kamu tenang di surga kok, maksudnya yang tadi aku jelasin" ucap Angel.


Ada rasa malu dihatinya dan kenapa bisa putranya berkata seperti itu.


"Kamu ...." ucapan Veri tergantung, tiba-tiba putranya memanggil dirinya.


"Ayah ...." panggil Al berjalan menghampiri pria itu.


Veri merasa tidak menyangka akan hadir seorang anak kecil yang menyebut dirinya Ayah. Apalagi dia adalah anak kandungnya, anak dari darah dagingnya.


"Iya, Sayang?" Veri, langsung memeluk Al, lalu mencium pipinya berkali-kali. Tiba-tiba air matanya terjatuh karena merasa sangat bahagia, bisa memeluk putranya.


"Ih, Ayah, geli cium-cium muyu," protes Al karena merasa risih dari tadi sang Ayah terus menciumnya.


"Sorry, Sayang, karena Ayah benar-benar bahagia bisa memeluk putra Ayah yang sangat tampan," Veri menatap putranya.


"Kata Ibu, Al memang tampan."


"Tampan seperti Ayahnya," Veri merasa pede, lalu mengusap rambut bagian depannya.


Veri langsung menatap Angel kemudian mengedipkan satu matanya.


"Iss apa-apaan dia sangat menyebalkan sekali," gerutu Angel merasa kesal dengan tingkah sang suami.


"Ibu biyang kalau aku tampan, katanya tampan kaya Ayah," ceplos Al.


Veri langsung tersenyum saat menatap Angel, "katanya aku sok kepedean, tapi dia memuji ketampananku."


"Heh, dengar ya ... Ah, sudahlah malas bila terus berdebat denganmu!" Angel segera beranjak dari sofa yang berada di kamar tersebut.


"Bu ...." panggil Al.


"Eh iya, Ibu lupa mau pamit dulu ke kamar dulu sebentar ya," lirih Angel.


"Iya, Bu," Al mengelengkan kepala.


"Mau aku temanin ke kamarnya?" tanya Veri menatap sang istri.


"Ih apaan sih, ogah!" gerutu Angel, sambil menyunggingkan bibir atasanya.


Angel segera pergi dari kamar Al dan berjalan menuju kamar dirinya. Veri tertawa terkekeh sambil menatap punggung sang istri karena merasa lucu dengan sikapnya.

__ADS_1


"Oya, Sayang, mainnya bagus banget. Ibu yang beli mainan ini?" tanya Veri, sambil menatap Al sedang memainkan mobil-mobilan.


"bucan, tapi om Satia yang membelikan mainanya, Yah," jawab Al.


"Oh gitu ya, Sayang."


"oh, ternyata dia ingin memberikan mainan pada anakku. Lagian ada hubungan apa sih Angel dan Satria? Aku enggak akan membiarkan pria itu merebut istriku. Walaupun mereka sekedar rekan kerja, tapi aku yakin kalau pria itu akan mengambil hati istriku. Ini enggak boleh di biarkan, aku tidak sudi bila istriku memilihmu, pria brengsek! batin Veri."


"Sayang, mendingan mainnya buang aja, nanti Ayah beli mainan baru yang bagus dan lebih besar dari ini," ucap Veri menatap putranya.


"No, Ayah."


"Kenapa? Nanti 'kan Ayah mau masih mainan yang bagus untukmu dan apapun yang kamu mau, Ayah akan mengabulkannya."


"Cius?" tanya Al.


"Iya, Sayang."


Al kemudian menyimpan mainan tersebut ke dalam dusnya.


"Maaf, bukannya aku enggak menghargai pemberianmu, tapi aku enggak suka aja bila kamu memberikan mainan pada anakku batin Veri"


.


.


Angel sudah sampai di kamarnya, lalu berjalan menuju ranjang. Wanita itu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


'Hari ini benar-benar sangat menyebalkan sekali. Kenapa bisa dia tau rumahku? Ah, aku tau? Pasti dia mengikuti tadi.' gumam Angel, bicara pada dirinya sendiri.


Rasa kantuk pun mulai menyerang wanita itu, kemudian Angel memejamkan matanya hingga akhirnya Angel benar-benar tertidur dan kini berada di bawah alam sadarnya.


#Satu jam sudah Angel tertidur di dalam kamar begitu nyenyak. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar tersebut. Dia terus berjalan menghampiri wanita yang kini masih tidur pulas di atas ranjang.


Saat sudah dekat dengan sang istri, lalu Veri duduk disampingnya. Dia menatap wanita yang ada di depannya dengan intens. Dirinya merasa senang bisa bertemu dengan wanita yang kini di carinya hampir dua tahun menghilang.


Veri tiba-tiba menitiskan airmata karena merasa sangat bersalah pada sang istri atas tindakan dan sikapnya dulu yang selalu menyakiti Angel.


'Aku benar-benar minta maaf, Sayang, atas sikapku dulu pasti kamu sangat menderita! Aku memang pria bodoh, enggak pernah menghargai setiap kebaikan yang kamu lakukan untukku.' gumam Veri, merasa kasihan bila mengingat kejadian dulu.


'Aku berjanji, mulai sekarang akan membahagiakanmu dan aku ingin menembus semua kasalahan yang pernah aku lakukan padamu, Angel. I love honey.' Pria itu menghapus air matanya, lalu mencium kening sang istri.


Angel tiba-tiba terbangun karena merasa ada sesuatu yang menganggunya. Saat Angel membukakan mata dan menatap pria yang ada di depannya, Angel langsung berteriak karena merasa terkejut.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2