Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
14.Angel, marah


__ADS_3

Angel, merasa emosi saat mendengar perkataan Veri, lalu Angel, mengangkat satu tangannya dan langsung menampar pipi suaminya hingga meringis kesakitan.


"Kurang ajar, kamu! Berani sekali menamparku!" Veri, menatap tajam Istrinya.


"Emang pantas untuk kamu, karena telah menuduhku sembarangan! Kalau ngomong tuh dijaga! Kalau enggak percaya, ayo kita test DNA," Angel, masih emosi.


Veri, tidak bisa-bisa berkata apa-apa. Hanya diam saja sambil mengusap pipinya yang masih sakit.


"Kenapa diam saja? Takut?!" Angel, menatap tajam Veri.


"Takut? Ngapain harus takut? Oke, aku setuju! Jika anak yang ada dikandunganmu, bukan anakku. Siap-siap kamu akan menerima akibatnya!" Veri, membalas tatapan tajam Istrinya.


Tiba-tiba Via, datang berjalan menghampiri mereka.


"Ya ampun, ternyata ada wanita sialan disini. Kamu ngikutin aku lagi?!" Via, menatap tajam Angel.


"So kepede'an ya, aku tidak mengikutin kalian!" jelas Angel.


"Jangan bohong deh jadi orang! Mana mungkin bisa secara kebetulan berada di restoran yang sama," Via, menatap sinis Angel.


"Kalau enggak percaya tanya saja sama Panji," ucap Angel, netranya sambil menatap sahabatnya tersebut.


"Oh, jadi namanya Panji? Berapa sih kamu bayar dia, hem?!" tanya Veri, sambil menatap Panji.


Panji, merasa emosi mendengar perkataan Veri, karena telah menghina sahabatnya.


"Kurang ajar, kamu! Maksud apa berkata seperti itu?!" Panji, mencengkram kerah Veri.


"Apa salahnya sih tinggal bilang saja, enggak usah emosi!" Veri, lalu tesenyum sinis.


"Kamu ...." Panji, melepaskan cengkramannya, lalu menghajar mengenai bibir bawahnya sehingga mengeluarkan sedikit darah segar.


"Berani sekali kamu!" Veri, membalas pukulan Panji dan tidak terima dipukul begitu saja.


Sehingga terjadilah pukul memukul diantara mereka.


"Stop, hentikan!" Angel, mencoba untuk melerai mereka.


Veri dan Panji, tidak mendengarkan perkataan Angel, mereka malah melanjutkan pertengkarannya. Sehingga Veri dan Panji, sama-sama luka lembam dibagian bawah bibirnya.


"Hentikan, stop!" Angel, langsung menahan tubuh Panji.


"Dia sudah kurang ajar sama kamu, Angel! Aku tidak bisa membiarkan seseorang menghinamu apalagi merendahkanmu, Angel!" Panji, masih emosi. Lalu, berusaha untuk menghajar kembali Veri.


"Jangan, aku mohon," pinta Angel, sambil mengelengkan kepala.


"Kamu baik-baik saja'kan, Sayang?" tanya Via, merasa cemas.


"Aku baik-baik saja," Veri, sambil mengusap bibir bawahnya yang mengeluarkan sedikit darah dan meringis kesakitan.


"Kalian benar-benar gila ya, berani sekali memukul kekasihku!" Via, menatap tajam Panji dan Angel.


"Kekasihmu?" Panji, mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.


"Coba jelaskan Angel, maksudnya gimana? Bukannya dia, suamimu? Kenapa dia mengaku-ngaku kekasihnya?" tanya Panji, merasa tidak mengerti.


Angel, hanya diam saja tanpa membalas perkataan Panji.


"Angel, kenapa diam saja?" tanya Panji.


"Dengar ya, sebelum perempuan sialan ini menikah dengan Veri, aku sudah tunangan dengannya! Sakit? Memang sakit, gimana seandainya kamu yang berada diposisi aku? Sekarang aku mau menikah dengan dia, harus tunggu wanita sialan melahirkan dulu," Via, menatap tajam Angel.

__ADS_1


Panji, memegang mulutnya yang terbuka karena merasa tidak percaya mendengar perkataan Via.


"Pasti kamu bohongkan?" tanya Panji, menatap intens Via.


"Tanya saja sama wanita sialan itu kalau enggak percaya!" ucap Via.


Tiba-tiba Amoy datang dan merasa terkejut saat melihat Veri dan Panji, luka lembam dibagian bibir.


"Kalian kenapa?" tanya Amoy, sambil menatap Veri dan Panji, bergiliran.


"Ini semua gara-gara wanita sialan itu, Mereka jadi bertengkar!" Via, menatap tidak suka Angel.


"Dengar ya Kak Via, dia itu punya nama, bukan namanya wanita sialan!" Amoy, menatap tidak suka.


"Kamu kenapa sih membela dia terus? Lihatlah, gara-gara wanita sialan itu wajah Kakakmu jadi luka lembam dan berdarah!" jelas Via.


Amoy, menyipitkan matanya dan hendak berpikir ," Aku rasa yang mencari masalah kalian deh," Amoy menatap Kakaknya dan Via bergiliran.


"Tega sekali kamu menuduh Kakakmu sendiri, hem?" Via, merasa kecewa dan emosi.


"Karena kalian tuh jahat! Makanya Aku tidak percaya sama sekali." Amoy, dengan segera pergi berlalu dari hadapan Via.


Amoy, berjalan menghampiri Kakak Iparnya dan Panji.


"Ayo, kita pulang dari sini Kak," ajak Amoy.


Angel, hanya menganggukan kepala.


Mereka pun dengan segera pergi meninggalkan Veri dan Via, berdua di restoran.


Veri, menatap tidak suka Angel, pergi begitu saja. Veri, berjalan menghampiri Istrinya.


Langkah Angel, terhenti saat seseorang menarik tangannya. Lalu Angel, menatap kebelakang.


"Ya ampun, aku lupa tidak pamit dulu. A-aku mau pulang, Mas," jawab Angel.


"Ayo ikut aku," Veri, menarik Angel.


"Kakak, jangan tarik dia. Apa Kakak lupa kalau Kak Angel, sedang hamil!" Amoy, merasa emosi.


"Jangan ikut campur! Ini urusan Kakak dan Dia!" Veri, menatap tajam Adiknya.


"Kakak, kasar banget sih sama Kak Angel?! Kalau seandainya Aku berada di posisi Kak Angel, apakah Kakak terima melihat Adiknya dikasarin sama suaminya?!" Amoy, menatap tajam Kakak.


"Kalau ngomonpg tuh dijaga, jangan asal bicara! Sudah Kakak sudah tidak ada waktu lagi." Veri, segera pergi berlalu dari hadapan Adiknya. Serta, menarik tangan Angel, untuk pergi bersama.


Angel, terpaksa mengikuti langkah suaminya.


"Kak Veri ...." teriak Amoy, mencoba mengejar Sang Kakak. Namun, langkah Amoy harus terhenti karena Panji, menahan langkahnya.


"Kenapa kamu menahanku?!" Amoy, menatap tidak suka Panji.


"Sudahlah biarkan saja mereka pergi! Lagian memang benar itu urusan mereka dan kita tidak boleh ikut campur," jelas Panji.


"Tapi Aku takut kenapa-napa sama Kak Angel," kekeuh Amoy, mencoba menghempaskan tangan Panji.


"Percayalah, kakakmu tidak akan menyakiti angel, karena ini ada kesalahpahaman," lirih Panji.


"Salah paham? Maksudnya?" Amoy, mengerutkan keningnya.


Panji, mencoba menjelaskan saat dirinya masih makan dan tiba-tiba Veri, datang begitu saja.

__ADS_1


"Jadi gitu ceritanya? Apakah karena Kak Veri, cemburu?" Amoy, bertanya-tanya.


"Entahlah, Aku juga tidak tahu. Boleh Aku bertanya?" ucap Panji.


"Tentu saja boleh, memangnya mau nanya apa?"


"Apakah benar sebelum Angel, menikah dengan Kakakmu, sudah punya tunangan?"


"K-kak Panji, tahu dari mana?"


"Dia yang bilang," ucap Panji, netranya menatap seseorang yang sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Iya, benar." Amoy, kemudian menceritakan semuanya.


Panji, benar- benar tidak percaya dan merasa kasihan kepada sahabatnya tersebut.


Ya ampun, kasihan sekali nasib angel. Menikah tanpa cinta dan terpaksa harus menikah karena dia sedang mengandung anaknya. Andai saja, kejadian itu tidak menimpa Angel, mungkin dia akan bahagia bersama pilihannya batin Panji, netranya menatap Angel dan Veri, yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


"Kak Panji, baik-baik saja'kan?" tanya Amoy.


"Iya, baik-baik saja kok. Ayo kita pulang," ajak Panji.


"Oke, baiklah." Amoy, menganggukan kepala.


Amoy dan Panji, dengan segera pergi dari restoran tersebut.


Langkah mereka harus terhenti saat seseorang memanggil dirinya.


"Hei, tunggu dulu," teriak Via.


Amoy dan Panji, membalikan tubuhnya dan menatap Via.


"Ck, mau ngapain dia?" gerutu Amoy, merasa kesal.


"Kakakmu mana?" tanya Via, kepada Amoy.


"Sudah pulang sama Kak Angel," Amoy, tersenyum sinis.


"Whatt? Yang benar saja, kamu jangan bohong!" Via, merasa tidak percaya.


"Dibilangin malah ngeyel! Kalau tidak percaya tanya saja sama Kak Panji." Amoy, merasa gemas.


"Benar apa yang dikatakan oleh Amoy, kalau Angel dan suaminya pulang bareng," jelas Panji, sambil menatap Via.


"Ya sudah, ayo kita pergi," ajak Panji.


Amoy dan Panji, dengan segera pergi meninggalkan Via.


Via, berteriak karena emosi dan kesal Veri, pergi tanpa menunggu dirinya.


'Andai saja, aku tidak ke kasir dulu mungkin Veri, pulang denganku bukan dengan wanita sialan itu.' gumam Via, dengan mengepalkan kedua tangannya.


Bersambung ...


#yuk mampir dan kepoin karya dari author ini dijamin seru dan bikin baper nih ..


Menikah dan membangun rumah tangga harmonis hingga maut memisahkan merupakan impian setiap orang. Begitu pun dengan Tsamara Asyifa Gibran. Namun, bagaimana jadinya bila sang suami tidak pernah sekalipun mencintai wanita itu dan belum bisa move on dari mantan kekasih?


Akankah Tsamara terus mempertahankan rumah tangganya bersama Bimantara atau malah membuka hatinya untuk Yudistira?


__ADS_1



__ADS_2