
"Jika dia telah membuatmu tidak nyaman dan telah melukaimu, buat apa kamu mempertahankan dia? Di luar sana banyak pria yang lebih baik dan pasti menerima kekurangmu," lirih Panji, kemudian menguraikan pelukannya.
"Itu tidak mudah apa yang seperti kamu ucapkan. Bila nanti Aku bercerai dengan dia apakah ada orang yang mau menerimaku? Sedangkan Aku hamil diluar nikah, apa kata mereka? Pasti dia tidak mau menerimaku dan jelas pasti merasa jijik padaku," jelas Angel, sambil menatap Panji.
"Yang membuatmu hamil'kan karena pria brengsek itu yang telah memperkosamu. Bukan atas dasar suka sama suka 'kan? Jadi ngapain kamu harus takut?" jelas Panji.
"Iya." Angel, sambil menganggukan kepalanya ," tapi namanya manusia pasti tidak mau tau dan tetap saja selalu salah."
"Kalau pun begitu Aku siap mengantikan Ayah untuk anakmu," lirih Panji, sambil menatap perut Angel, yang terlihat sedikit membuncit.
Angel, merasa terkejut mendengar perkataan sahabatnya dan merasa tidak percaya akan berkata seperti itu.
"Jangan ngaco kalau bicara," Angel, sambil mengelengkan kepala.
Tiba-tiba Panji, memegang tangan Angel, dan dirinya membulatkan matanya karena terkejut.
"Jujur, sebenarnya Aku menyukaimu, Angel. Dari dulu Aku, sudah menyimpan perasaanku padamu," lirih Panji.
Entah harus berkata apa, Angel, bingung harus menjawab apa dan Angel, merasa tidak percaya kalau sahabatnya menyukai dirinya.
"Angel, kamu dengar'kan apa yang Aku katakan?" tanya Panji, sambil mengerutkan keningnya.
"Aku enggak budeg kok," ucap Angel.
"Emm ... sekarang kamu enggak usah khawatir kalau Aku akan selalu siap mengantikan Ayah untuk anakmu," Panji, kemudian tersenyum kepada Angel.
__ADS_1
"Ngaco kalau bicara. Kita 'kan sudah lama sahabatan, terus tadi bilang kamu mau-" ucapan Angel, harus terputus saat Panji, menempelkan satu telunjuknya ke bibir Angel.
Angel, lagi-lagi terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Panji. Kini dirinya jadi grogi.
"Aku tidak peduli kita sudah lama bersahabatan. Yang penting kita nyaman satu sama lain dan bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing," lirih Panji, kemudian melepaskan tangannya.
Tiba-tiba ponsel Angel, berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Angel, berpikir sebentar karena panggilan masuk tidak dikenali. Angel, memilih mediamkan ponselnya.
"Kenapa enggak di angkat?" tanya Panji.
"Nomor tidak dikenal, malas untuk di angkat," jawab Angel.
"Oh."
Angel, merasa kesal karena ponselnya terus berdering dan nomornya pun sama dengan yang tadi.
"Sudah angkat saja siapa tahu penting," ucap Panji.
Angel, kemudian mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Halo, maaf ini siapa ya?" ucap Angel.
"Ini dari pihak rumah sakit. Apakah benar ini keluarga dari Veri Kusumaja?" tanya Dr. Han-han, disebrang sana.
"Iya benar, Pak. Emangnya ada apa ya?" tanya Angel.
__ADS_1
"Veri kusumajaya, barusan mengalami kecelakaan dan Saya harap Anda secepatnya kesini," ucap dr.Han-han.
"A-apa kecelakaan?" ucap Angel, dengan gugup ," baiklah Saya akan segera kesana," lirih Angel.
Sambungan telepon pun harus terputus saat dr. Han-han pamit dan dengan segera dr. Han-han mengirimkan alamat rumah sakit dimana suaminya berada.
Angel, kini semakin cemas dan khawatir saat mendengar kabar suaminya.
"Siapa yang nelpon?" tanya Panji.
"Pihak rumah sakit barusan mengatakan kalau Veri Kusumajaya baru saja mengalami kecelakaan," jawab Angel.
"Terus sekarang dimana?" tanya lagi Panji.
"Sekarang dia ada dirumah sakit, Aku harus segera kesana. Aku mohon antarkan Aku ke rumah sakit," pinta Angel.
"Oke, baiklah ."
Panji, dengan segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit yang sudah dikirim alamatnya oleh dr.Han-han.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa sama dia. Semoga dia baik-baik saja dan tidak mengalami luka parah dibagian tubuhnya batin Angel, semakin cemas.
Kamu jangan terlalu menghawatirkan dia. Pasti suamimu baik-baik saja," Panji, mencoba menenangkan Angel.
"Tetap saja Aku mengkhawatirkan dia. Apalagi dia suamiku, anak yang ada dikandunganku," Angel, mengusap perutnya.
__ADS_1