
"Maksudnya apa ini?" tanya Veri kepada adiknya.
"Kakak tidak baca apa? Itu surat dari Kak Angel! Kak Angel akan pergi selamanya dan tidak akan kembali lagi ke rumah," jelas Amoy.
"Tau dari mana kalau si Angel akan pergi tuk selamanya?" tanya Veri, dengan menatap sinis adiknya.
"Ya pastilah tau, karena pakaiannya tidak ada di dalam lemari. Sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan kepada Kak Angel!" bentak Amoy.
"A-apa? Angel benaran pergi?" tanya Veri dengan gugup dan merasa tidak percaya.
"Iya. Kenapa emangnya? Sudah puaskan kalian menyakiti kak angel? Lagian apa sih salah dia sampai kalian benci banget sama dia!" Amoy menatap tidak suka Veri, Via dan Bu Mertha.
"Ya ampun, Sayang. Kamu bicara apa sih? Kita enggak ngapain-ngapain dia kok," jelas Via, sambil menatap Amoy.
"Bohong! Kalau kalian tidak bikin ulah sama kak angel, tidak mungkin dia pergi dari rumah!" bentak Amoy.
"Kurang ajar, kamu! Siapa yang sudah mengajarimu untuk bersikap seperti ini? Ibu benar-benar kecewa dengan sikapmu, Amoy!" Bu Mertha menatap tajam putrinya.
"Stop, hentikan! Emangnya kenapa kalau dia pergi? Justru bagus dong kalau dia pergi dari rumah. Percuma saja wanita sialan itu ada disini tapi tidak berguna!" Veri, merasa emosi.
"Saat aku sedang koma, dia kemana saja? Pantaskah seorang istri pergi berduaan dan malah asyik dengan pria lain. Sedangkan aku berbaring koma tidak di perdulikan dia? Coba kamu ada diposisi aku pasti akan marah!" Veri, sambil menatap tajam Amoy.
"Baguslah, akhirnya dia pergi sendiri juga. Sekarang akulah yang akan menjadi Nona Adihajaya yang terhormat. Aku sudah tidak sabar lagi untuk dipersunting dia batin Via, sambil menatap Veri."
"Maksudnya apa sih Kak? Apa yang dikatakan oleh Kakak itu tidak benar! Justru Kak Angel yang merawat Kakak selama ini," jelas Amoy.
Bu Mertha dan Via mulai merasa was-was saat Amoy berkata seperti itu.
__ADS_1
"Sialan, dia mengatakan yang sesungguhnya batin Via sambil menatap kesal Amoy."
"Nak, kamu itu apaan sih. Kenapa membela dia? Jelas-jelas Via yang selama ini menjaga Kakakmu saat koma. Jangan asal kalau bicara," ucap Bu Mertha, sambil menatap kesal.
Amoy tersenyum sinis lalu menatap kesal Ibunya dan Via. Bagaimana bisa, mereka berbohong dan mengatakan seperti itu? Jelas-jelas Angel yang selama ini menemani Kakaknya saat koma.
"Hebat, kalian memang hebat. Aktingnya bagus juga lho. Gimana puaskan sudah membuat Kak Angel pergi? Aku salut sama Ibu dan Kak Via sudah membuat Kak Veri percaya sama kalian," Amoy, kemudian bertepuk tangan.
"Amoy ...." Bu Mertha emosi mendengar perkataan putrinya.
"Kenapa Bu?" tanya Amoy.
"Di bayar berapa kamu sama dia? Sampai kamu mau melakukan apa yang diperintahkan oleh dia? Jangan membela yang jelas-jelas dia itu salah!" Veri, sambil menatap adiknya.
"Syukurlah akhirnya Veri tidak percaya dengan perkataan adiknya. Jadi aku masih bisa bernapas lega batin Via, sambil tersenyum."
"Amoy ...," Bu Mertha merasa marah saat putrinya berkata seperti itu.
Bu Mertha mencoba mengangkat satu tangannya untuk menampar putrinya. Akan tetapi harus gagal karena Via menahan tangannya.
"Jangan lakukan itu Bu! Dia putri Ibu lho jadi ngapain Ibu harus melakukan itu," Via mencoba membela Amoy dan tangannya merangkul pundaknya.
"Tapi dia sudah-" ucapan Bu Mertha harus terputus saat Via menyela pembicaraannya.
"Sudahlah Bu, apa salahnya memaafkan Amoy? Via yakin dia telah dipengaruhi oleh wanita sialan itu," jelas Via.
"Sudahlah kamu itu jangan sok jadi pahlawan untukku! Lagian kamu wanita sialan, si tukang fitnah dan so kecentilan," sahut Amoy, sambil menghempaskan tangannya.
__ADS_1
Via merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Amoy. Dirinya merasa emosi karena tingkah Amoy yang sangat keterlaluan. Via menarik napasnya lalu menghembuskannya kini emosinya bisa dikendalikan.
"Sudah ditolongin malah enggak tau balas budi ini orang. Kalau bukan karena demi mendapatkan perhatian Veri, mana sudi aku menolongnya. Biarkan saja si Amoy ditampar habis-habisan oleh Ibunya batin Via, sambil menatap kesal Amoy."
"Kak Veri ingin lihat kebenarannya seperti apa? Aku kasih bukti sama Kakak," Amoy kemudian mengambil ponselnya dari tas.
Amoy dengan segera memberikan ponselnya kepada Kakaknya.
"Apa ini?" tanya Veri merasa tidak mengerti tiba-tiba Adiknya memberikan ponsel kepada dirinya.
"Lihat saja sendiri," jawab Amoy.
Veri segera membuka ponsel milik Amoy. Betapa terkejutnya Veri saat melihat sesuatu yang ada di di ponsel Amoy.
Bersambung ...
#Yuk mampir dan kepoin karya bagus ini, dijamin seru dan bikin baper nih. Enggak percaya? Yuk langsung kepoin ah.
Nasib sial harus dialami Sabhira Irani karena rem vespa-nya blong, gadis itu tidak sengaja menabrak mobil mewah milik Barun Praya.
Disaat yang bersamaan, pria itu sedang kacau karena saham perusahaan anjlok akibat rumor kalau dirinya seorang 'homo'. Tanpa berpikir panjang, Barun mengambil kesempatan dengan memberi Sabhira pilihan.
"Menikah denganku atau mengganti rugi kerusakan mobil sebesar satu milyar?"
Manakah yang akan dipilih Sabhira?
__ADS_1