Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
52. Menyesal


__ADS_3

Veri meraih tangan Angel, lalu menatap wanita yang ada di depannya dengan intens.


"Aku tau, kamu masih sakit hati karena dulu aku selalu kasar dan suka seenaknya sama kamu, bahkan tidak pernah percaya dengan apa yang kamu ucapkan. Mohon maafkanlah aku, atas semua kesalahanku. Aku berjanji enggak akan menyakitimu lagi, Angel," Veri menatap sendu wanita tersebut.


Veri memang menyesal atas perbuatannya dulu yang pernah dilakukannya kepada sang istri dan sekarang pria itu berharap memaafkannya dan bisa hidup bersama lagi.


Angel segera menghempaskan tangan pria itu, "oke baiklah, aku maafkan semua atas kesalahanmu," ucap Angel.


"Serius, kamu mau memaafkan aku? Makasih, Sayang," Veri merasa sangat senang.


Tiba-tiba, Veri langsung memeluk wanita itu yang masih berstatus istrinya. Angel merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria yang ada di depannya.


Angel merasa tersendak karena Veri begitu erat memeluknya. Wanita itu langsung mendorong dada bidangnya sehingga tersungkur ke belakang.


"Gila ya, kamu. Mau membunuhku, hem!" Angel merasa kesal.


"Maaf, aku terlalu senang kamu bisa memaafkan diriku," Veri tersenyum.


"Ingat ya, walaupun aku sudah memaafkanmu bukan berarti kamu bisa seenaknya kepadaku!"


Veri menghembuskan napasnya dengan kasar, dia pikir Angel sudah memaafkan dirinya dan ingin kembali bersama.


"Oke, baiklah."


"Karena aku sudah memaafkanmu, sekarang pulanglah."


"What, kamu nyuruh aku pulang? Aku enggak mau!"


Veri langsung berjalan menuju Sofa, lalu duduk di tempat tersebut. Angel memutarkan matanya dengan malas, dirinya merasa kesal pada pria itu.


"Kamu mau apa lagi sih? Aku udah memaafkanmu? Kenapa kamu enggak mau pulang?" Angel menatap kesal Veri.


"Aku ingin tinggal disini selamanya!" ucap Veri.


"What?" Angel merasa terkejut mendengar perkataan Veri, "kamu benar-benar gila ya, mau tinggal disini? Jangan mimpi."


Angel merasa keberatan kalau pria tersebut tinggal di rumahnya.


"Emang aku gila karenamu, Angel! Oya, emangnya kenapa kalau ingin tinggal disini? No problem dong, karena aku masih berstatus suamimu! Aku juga ingin tinggal bersama anakku," jelas Veri, kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri Angel.


"Asal ...." ucapan Angel tergantung di udara saat Veri kini sudah dekat dengan dirinya. Seketika jantungnya berdetak begitu cepat.

__ADS_1


"Asal, apa? Salah, ya, bila aku ingin selalu bersama anakku? Dia darah dagingku dan tentunya aku harus bertanggung jawab sebagai seorang Ayah sekaligus suami untukmu, Angel." Veri, tangannya tidak tinggal diam lalu meraih dagu wanita itu dan menatap Angel dengan intens.


Angel langsung menghempaskan tangan suaminya, lalu menatap sinis Veri.


"Sejak kapan kamu berubah jadi orang yang tanggung jawab? Dulu kamu orangnya enggak pernah peduli, bahkan selalu membela orang yang jelas-jelas salah," sindir Angel, kemudian menyilangkan kedua tangannya.


Memang Veri merasa dirinya sangat bodoh dan terlalu percaya pada Bu Mertha serta Via.


"Itu dulu Angel, aku benar-benar bodoh dan terlalu percaya kepada mereka. Saat terbongkar semua sikap mereka, aku marah besar dan aku kasih pembalasan buat dia."


"Pembalasan? Mana mungkin kamu melakukan hal itu, sedangkan kamu sangat menyayangi mereka," Angel merasa tidak percaya.


"kalau enggak percaya kamu bisa tanyakan sama Ayah dan Amoy. Aku telah membuat mereka menderita! Via harus di cabut dari dunia permodelannya dan Ibu harus hidup miskin!" Veri menatap Angel.


"Tega sekali kamu membuat Ibumu miskin, dia seorang Ibu yang telah melahirkanmu."


Angel merasa tidak menyangka suaminya tega melakukan hal itu kepada Ibu mertuanya.


"Dia bukanlah Ibu kandungku, Angel! Dia hanya Ibu sambungku dan kamu tau? Dia telah merampas semua kekayaaan Ayah yang dimilikinya."


Angel menutup mulutnya yang terbuka karena merasa terkejut mendengar perkataan Veri.


Wanita tersebut merasa bingung apa yang harus dilakukannya. Hatinya masih ada goresan luka yang pernah dilakukan oleh sang suami.


Veri sadar pastinya terlalu berat untuk Angel menerimanya kembali, tapi dirinya tidak akan menyerah dan akan terus berjuang mendapatkan kembali hati sang istri.


Hujan tiba-tiba turun membasahi bumi. Veri merasa bersyukur karena ini waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengan anaknya.


"Ujan turun sangat deras, bolehkah aku tinggal disini?" tanya Veri menatap sang istri.


Angel menatap jam tangannya menunjukan pukul jam enam sore. Hujan memang deras, akan tetapi dirinya tidak mungkin mengusir Veri saat kondisi seperti ini dan terpaksa menginzinkan pria itu tinggal di rumahnya.


"Terpaksa aku harus menginzinkan kamu tinggal di sini. Ingat, jangan macam-macam sama aku."


Hati Veri sangat bahagia saat sang istri memperbolehkan dirinya tinggal bersamanya, "aku janji enggak bakal macam-macam," ucap Veri, tersenyum.


"Baguslah kalau begitu. Ya udah aku permisi!"


Saat Angel akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba harus terhenti karena Veri memanggil.


"Angel, tunggu!"

__ADS_1


Wanita itu langsung menatap Veri, "apalagi sih? Ganggu aja orang mau jalan," gerutu Angel merasa kesal.


"Anterin aku menemui anakku," pinta Veri.


"Ck, pake minta anter segala. Tinggal jalan aja ke atas lalu belok kanan," lirih Angel.


"Aku benar-benar enggak tau dimana? Rumah ini lumayan luas, jadi takut tersesat dihatimu," canda Veri.


Ingin rasanya Angel menampar pria yang ada di depannya, akan tetapi dirinya harus bersabar dan malas mencari ribut.


"Ya udah, ikuti aku," pinta Angel.


"Baiklah," jawab Veri.


Veri segera berjalan mengikuti langkah sang istri. Veri tersenyum dan merasa sangat gembira, idenya lancar dan Angel tidak menolaknya.


Mereka berjalan menuju tangga, dimana putranya kini sedang berada di kamar.


Saat Angel akan melangkahkan satu kakinya ke tangga, tiba-tiba tergilincir dan beruntung Veri langsung mehanan tubuhnya sehingga Angel ada di pangkuannya.


Netra mereka saling menatap satu sama lain dan mereka saling mengaguminya. Bagaimana tidak, Angel yang terlihat semakin cantik dan dewasa, serta Veri semakin tampan.


"*Ya tuhan, semakin cantik sekali dia, jantungku berdetak begitu cepat. Ingin rasanya aku memeluk erat wanita yang kini masih resmi istriku. Aku benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan wanita secantik dia batin Veri menatap istrinya "


"Kenapa dia semakin tampan? Ada apa dengan hatiku, kenapa begitu senang melihatnya batin Angel menatap Veri*"


Veri semakin mendekatkan wajahnya mendekati wajah sang istri. Tiba-tiba "Cup" bibirnya berhasil menempel di bibir mungil milik wanita itu. Angel merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Veri.


Kemudian wanita itu langsung berdiri dan mendorong dada bidangnya.


"Berani sekali, kurang ajar sama aku! Tadi aku udah bilang jangan macam-macam," Angel mengusap bibirnya dengan tangan, " menjijikan sekali," gerutu Angel.


"Maaf, aku benar-benar khilap. Janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Veri.


"Janji enggak akan mengulanginya sekarang, kalau besok-besok aku enggak janji batin Veri, kemudian tersenyum"


Angel malas harus adu mulut terus dengan sang suami, dirinya langsung berjalan cepat menuju kamar putranya.


Veri merasa sangat senang dengan apa yang dilakukannya tadi. Pria itu berjalan menyusul Angel yang sudah terlebih dulu jalan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2