Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
58.Gawat?


__ADS_3

"Veri ...." lirih Angel benar-benar tidak kuasa menahan air matanya sehingga membasahi wajah cantiknya.


'Kenapa bisa kamu seperti ini? Kalau tau akan terjadi hal yang buruk, mungkin aku akan melarangnya pergi.' gumam Angel, sambil menatap sang suami yang terbaring lemah.


'Aku harus segera menelpon Ayah dan Amoy untuk mengasih tau kondisi Veri! Sebenarnya aku enggak mau nelpon mereka, tapi gimana pun juga dia berhak tau atas kecelakaan putranya.' Angel memilih untuk tidak egois dan langsung mengambil ponselnya.


Rasa was-was menghampirinya saat telpon tersambung kepada Ayah Sofyan.


"Halo, maaf ini siapa ya?" tanya seseorang di sebrang sana.


Angel merasa sangat senang mendengar mertuanya, dia yang selalu membela saat orang-orang menyakitinya.


"Ayah ...." ucap Angel dengan suara sendu.


"Maaf, ini ma siapa ya?" tanya Ayah Sofyan di sebrang sana dan tidak mengenali suara menantunya.


"Ini sama Angel, menantu, Aya," jawab Wanita itu.


"Angel? Ya ampun Nak, kamu kemana saja, Sayang? Ayah sangat merindukanmu, Nak. Kenapa tega meninggalkan kita disini begitu lamanya," Ayah Sofyan sangat merindukan menantunya tersebut.

__ADS_1


"Maaf, Ayah. Oya, Angel ingin kasih tau tentang Veri ...." ucapan Angel terputus saat Ayah Sofyan menyela pembicaraannya.


"Veri ada disana juga? Syukurlah kalau kalian sudah saling bertemu. Kasihan dia saat kamu pergi, hidupnya hampir strees karena merasa menyesal padamu, apalagi kamu pergi begitu saja dan bikin tambah dia benar-benar hilang akal dan berencana bunuh diri," jelas Ayah Sofyan disebrang sana.


"Masa, Ayah?" Angel benar-benar tidak percaya mendengar ucapan mertuanya.


"Iya, Nak. Aku mohon sama kamu kembali lah bersatu dengan putraku," pinta Ayah Sofyan berharap mereka bersatu kembali.


Angel pun bingung entah harus berkata apa kepada mertuanya.


"Ayah ...." panggil menantunya.


"Iya, kenaap Nak?" tanya Ayah Sofyan disebrang sana.


"A-apa?" Ayah Sofyan merasa terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh menantunya.


"Baiklah, nanti Ayah kesana. Kirim kan dimana alamat rumah sakitnya," lanjutnya kembali.


"Baik, Ayah."

__ADS_1


Sambungan telpon pun terputus, lalu Angel segera mengirimkan alamat rumah sakitnya.


Wanita itu kemudian duduk disampingnya, kemudian menatap pria yang kini berbaring dengan intens.


'Aku enggak salah dengarkan, apa yang dikatakan oleh Ayah? Dia bilang selama aku pergi Veri benar-benar stress dan hampir bunuh diri? Apakah dia merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya dulu padaku? Lalu, kenapa kamu enggak mencariku hingga ketemu jika kamu menginginkan aku kembali?.' gumam Angel tak habis pikir dengan suaminya.


Entah dari mana datangnya keberanian wanita itu mengusap lembut tangan suaminya, lalu memegang tangannya.


'Jangan lama-lama tidurnya, enggak kasihan apa sama putramu pasti dia bakal kangen dibelikan lagi mainan.' Angel berharap sang suami membuka matanya.


Tiba-tiba eskalator pun berjalan semakin lemah, Angel merasa terkejut dan semakin khawatir dengan segera wanita itu menekan tombol merah untuk memberitahu kondisi suaminya dalam keadaan darurat.


Dokter dan Suster pun mulai berdatangan menuju ruangan dimana Veri dirawat.


"Maaf, Anda boleh tunggu di luar dulu. Saya akan memeriksa beliau dulu," lirih Dokter Adya.


"Baik, Dok. Saya mohon selamatkan dia, jangan sampai terjadi sesuatu padanya," Angel benar-benar merasa cemas.


"Doakan saja iya, Bu. Semoga beliau baik-baik saja dan kami pun akan berusaha semaksimal mungkin," lirih Dokter Adya

__ADS_1


"Makasih, Dok."


Angel pun segera pergi dari ruangan tersebut dan kini dokter dan para suster pun sedang memeriksa keadaan kondisi pasien.


__ADS_2