Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
16.Hampir Saja


__ADS_3

Dua bulan kemudian ....


Disebuah kamar minimalis Veri, sedang sibuk mengenakan baju kerjanya karena hari ini harus kerja. Angel, berjalan menghampiri suaminya lalu membantu untuk mengancing bajunya.


"Enggak usah dibantuin Aku bisa sendiri," ucap Veri, sambil menatap Istrinya.


"Sudah enggak apa-apa Mas, biar Aku bantuin," kekeuh Angel, sambil mengancingkan baju suaminya.


"Aku bilang tidak usah! Punya telinga dipake jangan pura-pura tuli!" bentak Veri, sambil menghempaskan tangan Angel.


Angel, merasa terkejut saat Veri, membentaknya dan merasa tidak percaya suaminya berkata seperti itu.


"Baiklah kalau begitu, jika tidak dibantu. Ya sudah Aku tunggu dibawah," ucap Angel, sambil pergi dari hadapan Veri.


'Selalu saja membuatku kesal! Dibilangin jangan malah pura-pura tuli.' gerutu Veri, berbicara pada diri sendiri sambil mengancingkan bajunya.


Aku sudah mencoba menjadi Istri yang baik buat dia dan selalu nurut dengan perintahnya, tapi Aku selalu salah dimata dia. Harus bagaimana lagi agar Veri, bisa menerimaku sebagai Istrinya dan layaknya suami istri yang selalu bahagia dan menerima apa adanya batin Angel, sambil menatap Veri.


Saat Angel, sudah sampai di depan pintu dengan segera Angel, keluar dari kamar tersebut.


Ada rasa sakit hati saat Veri, menolak dirinya untuk membantu mengancingkan bajunya. Bagaimana tidak? Saat via, membantu dirinya mengancingkan baju, Veri, tidak pernah menolak. Berbeda dengan dirinya seolah-olah tidak sudi disentuh.


Saat Angel, sudah berada didapur lalu berjalan menghampiri Bi Ita yang sedang masak.


"Lagi masak apa Bi?" tanya Angel, saat berada di samping Bi Ita.


"Eh Non Angel, ini lagi masak ayam goreng Non," jawab Bi Ita.


"Aku bantuin masak ya Bi," Angel, sambil membolak balikan dagingnya dengan cukil.


"Enggak usah Non, biar bibi saja yang masak. Lagian ini sudah tugas Bibi," tolak Bi Ita.


"Enggak apa-apa Bi, enggak ada salahnya 'kan Aku bantuin Bibi masak," lirih Angel.


"Mending Non Angel, duduk saja di meja makan dan biarkan Bibi yang masak. Lagian kasihan tuh si utun," Bi Ita, sambil mengusap perut Angel.


"Justru si baby pasti senang Ibunya bisa bantuin Bibi masak. Enggak ada salahnya 'kan saling membantu," jelas Angel.


"Iya sih Non, tapi-," ucapan Bi Ita, harus terputus saat Angel, memotong pembicaraanya.


"Sudah jangan banyak menolak!" potong Angel, sambil menatap Bi Ita.


Bi Ita, tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa pasrah saja bila Angel, kekeuh ingin membantunya.


"Sudahlah Bi, jangan larang-larang dia. Angel, sendiri 'kan yang mau membantu Bibi, bukan disuruh. Harusnya Bibi tuh bersyukur karena ada yang bantuin jangan menolak jadi tidak cape," lirih Via, sambil menatap Bi Ita.


"Takut saja Non Via, nanti Bibi dimarahin sama Tuan, karena pekerjaan Bibi dikerjakan oleh Non Angel," ucap Bi Ita.


"Ya ampun Bi, ngapain harus takut dimarahin? Lagian dia cuma Istri diatas kertas jadi mana mungkin Veri, memarahinya. Malahan masa bodoh dia mau melakukan apapun," Via, sambil menatap sinis Angel.


"Istri diatas kertas, maksudnya Non?" tanya Bi Ita, merasa tidak mengerti.


"Sudahlah tidak perlu dijelasin nanti juga Bibi tau. Aku pamit mau keatas dulu menemui tunanganku dan kamu masak yang benar dan makanannya harus enak." Via, dengan segera pergi meninggalkan Angel dan Bi Ita berdua, lalu berjalan menuju kamar Veri.

__ADS_1


Angel, menarik napasnya lalu membuangnya dengan kasar. Angel, mencoba untuk bersabar.


"Non, biar sama Bibi saja enggak usah repot-repot Non," Bi Ita, sambil menatap Angel, sedang menaruh dagingnya diatas piring.


"Bibi bawel banget sih, sudah enggak apa-apa kok," Angel, merasa gemas.


"Bibi, bisa apa kalau Non Angel, kekeuh pingin membantu Bibi," Bi Ita, pasrah.


Angel, hanya tersenyum saat Bi Ita, berkata seperti itu.


Tiga puluh menit sudah Angel dan Bi Ita selesai memasaknya. Kemudian Angel, menaruh makanan tersebut diatas meja makan.


Tiba-tiba Veri dan Via, berjalan menuju meja makan lalu mereka duduk.


"Wah, kayaknya enak sekali nih. Aromanya beda harum benar," Via, sambil menatap makanan yang sudah ditaruh diatas meja.


"Makasih loh, sudah jadi babu hari ini. Jadi, Bibi tidak terlalu cape karena kamu membantunya," lirih Via, sambil tersenyum sinis.


Angel, menatap Via, lalu tersenyum dengan terpaksa.


Veri, manatap Angel, secara bersamaan netra mereka saling bertemu satu sama lain. Veri, langsung membuang mukanya menatap Via.


"Aku ambilin ya makanannya," ucap Angel, sambil mengambil piring, lalu menyendok nasi. Akan tetapi, Via langsung mengambil centong nasinya beserta piring.


"Biar Aku saja!" Via, langsung mengalaskan nasi beserta menu-nya.


Angel, hanya bisa mengusap dada dan harus lebih sabar lagi.


"Oya, Aku lupa ambil air putihnya," ucap Angel, dengan menepak kening.


"Tidak usah Bi, biar Angel, saja yang ngambil." ucap Angel.


"Tapi Non-"


"Jangan protes!" potong Angel.


"Baiklah Non." Bi Ita harus pasrah lagi.


Angel, segera melangkahkan kakinya menuju dapur.


Saat Angel, akan menaruh teko tersebut di atas meja tiba-tiba tekonya tumpah dan airnya mengenai baju Veri.


"Angel ....!" teriak Veri, emosi.


"Maaf, Mas, Aku benar-benar tidak sengaja," Angel, mengambil tisu lalu mengelap jas-nya yang terkena air tersebut.


"Jalan yang benar dan pakai mata! Lihat jasku basah karena ulahmu! Mana sudah siang lagi," Veri, menghempaskan tangan Istrinya.


Veri, segera beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju kamar untuk mengangganti baju.


"Mas, Aku benar-benar minta maaf," Angel, mengejar suaminya. Namun, langkahnya harus terhenti saat Via, menahan tangannya.


"Lepaskan tanganmu!" Angel, menatap tajam Via dan menghempaskan tangannya.

__ADS_1


Angel, segera melangkahkan kakinya untuk menyusul suaminya. Akan tetapi, saat Angel, akan menaiki tangga tangannya lagi-lagi ditahan oleh Via.


"Mau kamu apa sih?" tanya Angel, menatap kesal Via.


"Berani sekali kamu membentakku dan menghempaskan tanganku dengan kasar! Asal kamu tahu ya, jangan temui Veri, karena percuma dia tidak akan memaafkanmu!" jelas Via.


"Aku tidak peduli! Lagian, bilang saja kamu takut'kan Aku laporin sama Veri, sebenarnya karena ulahmu yang membuat baju Veri, terkena air 'kan?!" Angel, menatap tajam Via.


"Berani sekali kamu menuduhku seperti itu!" Via, membalas tatapan Angel.


"Aku tidak menuduh tapi fakta! Sudahlah Aku malas harus berdebat terus." Angel, pergi meninggalkan Via, sendirian.


Akan tetapi Via, langsung menarik tangannya dan mendorong Angel. Saat Angel, akan terjatuh tiba-tiba Bi Ita, datang dan berhasil menahan tubuh Angel.


"Non, baik-baik saja 'kan?" Bi Ita, merasa cemas.


"Iya, baik-baik saja Bi. Terima kasih Bi, sudah menolongku," Angel, tersenyum kepada Bi Ita.


"Sama-sama Non." Jawab Bi Ita.


Angel, kemudian menatap Via dan merasa emosi. Lalu, Angel berjalan menghampiri Via.


Angel, langsung menarik dan mendorong Via, sehingga membuat Via, menjerit kesakitan.


"Dasar wanita sialan, brengsek!" Via, merasa geram melihat tingkah Angel.


"Itu balasan untukmu karena hampir mencelakaiku!" Angel, menatap tajam Via.


Tiba-tiba Veri, datang dan merasa terkejut melihat Via, duduk diatas lantai.


"Sayang, akhirnya kamu datang. Tolong Aku, Sayang," pinta Via, sambil menatap sendu Veri.


Veri, dengan segera berjalan menghampiri Via dan membantu membangunkan Via.


"Apa yang terjadi denganmu?!" tanya Veri, merasa khawatir.


"Semua gara-gara wanita sialan itu! Dia menarikku dan mendorong hingga Aku terjatuh ke lantai. Gara-gara Aku menolak permintaannya," jelas Via, kemudian meneteskan airmatanya membasahi wajahnya.


"Emangnya apa yang dia katakan?" tanya Veri, sambil mengerutkan keningnya.


"Dia memintaku agar Aku pergi dari kehidupanmu dan jangan pernah menemui-mu lagi. Aku menolak permintaan dia karena tidak mungkin Aku meninggalkan orang yang sangat Aku cintai. Dia benar-benar gila! Sehingga Aku ditarik dan didorong hingga terjatuh ke lantai," Via, menangis sesegukan.


Angel, merasa terkejut dan tidak percaya Via, berkata seperti itu. Angel, hanya mengelengkan kepala Via, telah memfitnahnya.


Veri, langsung menatap Angel, dengan tatapan susah diartikan.


Bersambung ....


#####


#yuk mampir dan kepoin karya dari Kak Ocybasoacy dijamin keren banget dan seru. Enggak percaya? Yuk ah langsung ke karyanya chek.


Qari tidak menyangka pertemuanya dengan pria misterius di atas gedung, membawa dia ke masalah yang runyam. Deon yang sejak lama menyimpan dendam dengan keluarganya, memanfaatkan gadis itu untuk membalas dendam atas kematian kakak dan juga papahnya. Laki-laki itu dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke minuman Qari. Sehingga Qari yang tengah pergi dari rumahnya, menghabiskan malam penuh dosa dengan laki-laki yang baru dikenalnya.

__ADS_1


Alzam pria yang selama ini dicintai oleh Qari, akhirnya menikahi wanita itu untuk menyelamatkan nama baik keluarga Qari. Masalah bertubi-tubi kembali datang, setelah Deon tahu bahwa Qari hamil atas perbuatanya. Terlebih setelah Dion sadar bahwa ia sudah terjerat cinta dengan anak dari musuhnya. Bagaimanakah perjuangan Qari mengahdapi hidupnya yang semakin rumit? Siapa laki-laki yang akan menjadi pendamping sungguhanya?



__ADS_2