Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
22.pamit kerja.


__ADS_3

Keesokan Harinya.


Disebuah ruangan meja makan sepasang suami istri sedang sarapan pagi. Mereka tidak ada yang bersuara dan hanya diam tanpa berkata sepatah pun.


Veri, sekilas menatap Istrinya yang kini sedang menikmati sarapan pagi. Angel, tanpa sengaja menatap Suaminya dan netra mereka saling bertemu satu sama lain. Angel, segera memalingkan wajahnya lalu melanjutkan kembali sarapan paginya.


Veri, menghembuskan napasnya dengan kasar lalu kembali menyantap makanannya.


Seseorang tiba-tiba datang dan berjalan menghampiri Veri, lalu duduk disampingnya.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Via, dengan tersenyum lebar.


"Pagi," jawab Veri, datar.


"Sayang, masih marah ya? Aku benar-benar minta maaf, atas kejadian semalan," lirih Via.


What, semalam? Apakah mereka tidur bersama? Pantas saja dia tak tidur kamar, nyatanya tidur bersama wanita murahan ini. Brengsek, dasar. Ingin dihargai tapi tak bisa menghargai orang lain batin Angel, dengan menggurutu dan menatap tidak suka suaminya.


Veri, hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Via.


"Sayang kenapa diam saja? Aku benar-benar minta maaf," Via, menatap sendu Veri.


"Sudahlah lupakan saja. Lagian Aku tidak marah," ucap Veri, sambil menatap Via.


"Makasih, Sayang, sudah memaafkan ku. Oya, boleh Aku makan disini?" tanya Via, sambil menatap Kekasihnya dan Angel, bergiliran.


"Tentu saja boleh," jawab Veri.

__ADS_1


Via, dengan segera mengambil piring lalu mengambil nasi beserta menu-nya.


"Enak sekali makanannya, apakah ini masakan-" ucapan Via, harus tergantung saat Veri, memotong pembicaraannya.


"Jangan banyak bicara, makanlah yang benar," potong Veri, sambil menatap Via.


"Maaf," Via, menundukan kepalanya.


Kini mereka pun sedang menikmati sarapan paginya. Saat sudah selesai makan, Angel, dengan segera beranjak dari kursinya.


"Oya, Aku pamit mau kerja," Angel, melangkah'kan kakinya dari hadapan Veri.


Namun, langkahnya terhenti saat Veri, menahannya.


"Kamu bilang mau kerja? Apakah uang yang ku beri tidak cukup?!" tanya Veri, menatap intens Angel.


"Cukup dari lebih," jawab Angel, dengan simple.


"Terserah Aku dong mau kerja juga, lagian ini bukan urusanmu!" Angel, menatap Veri.


"Tentu saja ini urusanku! Kamu-" ucapan Veri, terputus saat Via, memotong pembicaraannya.


"Ngapain kamu peduliin dia? Sudahlah dia ingin kerja, ngapain harus larang dia," Via, sambil menatap kesal Veri.


"Apa yang dikatakan dia, emang benar. Kamu tidak usah pedulikan Aku! Sudahlah Aku pergi sekarang." Angel, segera pergi meninggal'kan Veri dan Via, berduaan.


"Angel ...," teriak Veri, merasa geram.

__ADS_1


"Sayang, apa-apaan sih kamu ini malah berteriak lagi. Biarkan saja dia kerja, 'kan dia sendiri yang mau," jelas Via.


"Asal kamu tahu ya, dia lagi hamil jadi Aku enggak akan biarkan dia bekerja!"


"Sejak kapan peduliin dia? Oh, Aku tahu kamu mulai menyukai-nya kan?" Via, menatap tajam Veri.


"Jaga omonganmu! Aku peduli bukan karena Angel, tapi Aku peduli sama anak yang dikandungannya. Asal kamu tau ya, saat test DNA memang benar dia adalah anakku," jelas Veri.


"Ck, alasan saja. Jujur  saja jika memang benar?" Via, menyilangkan kedua tangannya.


"Ya ampun, Sayang, Aku serius. Kamu jangan terlalu cemburu dan jangan berpikiran yang enggak-enggak. Hatiku hanya ada  satu nama yaitu kamu. Jadi kamu enggak perlu mikirin yang aneh-aneh," jelas Veri, sambil memegang kedua  tangan Via.


"Serius?" tanya  Via.


"Iya, Sayang," Veri menganggukan kepalanya.


Via, langsung memeluk Veri dan merasa senang saat mendengarkan alasan Veri.






__ADS_1



Bersambung ...


__ADS_2