Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
26 . Semoga baik-baik saja.


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Angel dan Panji, kini sudah sampai dirumah sakit. Angel dan Panji, dengan segera keluar dari mobil tersebut.


Mereka berjalan memasuki rumah sakit dan berjalan menuju ruangan yang sudah dikasih tau oleh dr.han-han.


Angel, merasa khawatir dan cemas. Pikirannya kini merasa kacau karena belum mengetahui gimana kondisi suaminya.


Mereka kini sudah sampai diruangan dimana Veri, dirawat.


Secara kebetulan tiba-tiba Sang Dokter keluar dari ruangan tersebut. Angel, langsung menatap intens netra Dokter tersebut.


"Gimana Dok, keadaan suami Saya?" tanya Angel, benar-benar cemas.


"Maaf, Anda siapa-nya pasien ya?" tanya balik Dr. Han-han.


"Saya, Angel, Dok. Istrinya pasien," jawab Angel ," gimana Dok, keadaan suami, Saya?" tanya Angel, sekali lagi.


"Keadaan pasien kini masih belum sadar'kan diri dan harus ada tindakan operasi karena luka dibagian kepala cukup parah," lirih Dr. Han-han.


Angel, merasa terkejut dan tidak percaya apa yang dikatakan oleh Dokter tersebut. Angel, mengelengkan kepala dan berharap suaminya baik-baik saja.


"Ya sudah Dok, jika memang itu yang terbaik laku'kan saja!" pinta Angel.


"Baiklah, jika memang menyetujuinya. Sebelumnya tanda tangan dulu ya berkas tersebut sebagai tanda persetujuan," Dr. Han-han dengan segera mengambil berkas dari tangan sang suster lalu memberikannya kepada Angel.


Angel, langsung mendatangani berkas tersebut. Angel, berharap semoga operasinya berjalan lancar dan suaminya sehat kembali.


Dr. Han-han, kembali masuk ke dalam ruangan dan memerintahkan agar para suster membawa pasien menuju ruangan operasi.


Angel, tiba-tiba meneteskan airmatanya saat melihat suaminya penuh darah dikepala. Angel, ikut berjalan menuju ruangan operasi bersama Dokter dan para Suster.

__ADS_1


Saat sudah sampai di ruangan operasi Dr. Han-han meminta agar Angel, menunggu di luar.


"Dok, tolong suamiku, selamatkan dia," pinta Angel, menatap sendu Dr. Han-han.


"Akan Saya usahakan semaksimal mungkin. Mohon menunggu diluar," lirih Dr. Han-han.


"Baiklah Dok." Angel, menganggukan kepalanya.


Dokter Han-han, dengan segera masuk ke dalam ruangan operasi untuk melakukan tindakan terhadap pasien.


Di luar kini Angel, bolak balik ke kanan ke kiri, kakinya tidak bisa diam. Angel, merasa was-was.


"Angel, enggak cape ya bolak balik mulu?" tanya Panji, yang dari tadi memperhatikan sahabatnya.


"Emangnya aku olahraga? Aku tuh cemas tau sama dia, makanya aku tidak bisa diam," lirih Angel.


"Kalau memang khawatir sama dia, jangan bolak-balik kayak gini. Tapi doa'kan dia semoga operasinya berjalan lancar dan baik-baik saja," lirih Panji.


Angel, menatap Panji dan emang benar apa yang dikatakan olehnya. Tiba-tiba Angel, ingat sesuatu lalu mengambil ponsel dari tasnya untuk menghubungi mertuanya serta orangtua Angel.


Akhirnya Angel, merasa lega keluarganya sudah dihubungi satu persatu. Kini sedang menunggu hasil operasi yang dilakukan oleh team medis.


*


*


Tiga jam kemudian ...


Keluarga Angel, kini sudah berada di rumah sakit. Mereka berjalan menuju ruangan yang sudah dikasih tau oleh Angel. Saat sudah bertemu dengan putrinya, tiba-tiba Angel, langsung memeluk Ibunya.

__ADS_1


"Bu ...," lirih Angel, sambil memeluk Ibunya. Orang yang sangat ia rindukan selama ini.


"Iya, Sayang? Kamu harus sabar ya Nak, doa'kan saja supaya suamimu, baik-baik saja," ucap Bu Sofi, mengusap lembut rambut putrinya.


"Iya, Bu," kata Angel.


Bu Sofi, menguraikan pelukannya lalu menatap intens putrinya. Saat Bu Sofi, akan berbicara tiba-tiba dokter yang melakukan tindakan operasi segera keluar dari ruangannya.


Angel dan yang lainnya berjalan menghampiri dokter tersebut dan kini semakin was-was.


"Dok, gimana keadaan suami saya?" tanya Angel.


Dokter tersebut tidak menjawab perkataan Angel, hanya memandang dirinya dengan tatapan susah diartikan.


bersambung ...


#Promosi lagi. Yuk ah mampir lagi karya temanku ini dijamin seru banget dan enggak nyesel bacanya. Cus kepoin ah ...


blurb.


Promosi nomor 14


Kehidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.


Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.


Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?


__ADS_1


__ADS_2