Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
8. Bukan Salahnya.


__ADS_3

Angel, tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Kemudian Angel, menatap jam dinding sudah menunjukan pukul 7 malam.


'Sudah malam ternyata? Masih ngantuk, tapi perutku lapar.' gumam Angel, sambil memegang perutnya.


Seseorang mengetuk pintu, lalu Angel, dengan segera beranjak dari sofa dan berjalan untuk membukakan pintu tersebut.


"Maaf Non, ganggu. Saya disuruh Tuan, untuk memanggil Den Veri dan Non Angel, untuk makan malam bersama," ucap Bi Ita.


"Oh, gitu ya Bi. Baiklah Bi, nanti saya kesana."


"Baiklah kalau begitu Non. Ya sudah, Bibi permisi dulu ya Non." Bi Ita, sambil tersenyum kepada Angel.


"Iya, silahkan Bi." Angel, tersenyum dan menganggukan kepala.


Bi ita, dengan segera pergi daru hadapan majikannya dan berjalan menuju ruang makan.


Angel, kemudian kembali ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Tiba-tiba netranya tertuju kepada pria yang kini sedang tertidur di atas ranjang.


'Veri? Ternyata ada di kamar juga ya, bukannya tadi pergi keluar? Huh, malas banget harus membangunkan dia,' gerutu Angel, pada diri sendiri.


Angel, berjalan menghampiri veri, untuk membungkannya.


Saat Angel, akan membangunkan suaminya tiba-tiba dirinya merasa terpukau dengan ketampanan yang dimiliki oleh suaminya.


'Lagi tidur pun, dia sangat tampan sekali. Hidungnya ya ampun, bagaikan cabe rawit mancung deh. Eh, masa iya, cabe rawit? Panjang kali cabe kalau cabe rawit berarti pinokio dong?' Angel, tertawa terkekeh karena merasa lucu dengan perkataannya sendiri.


Entah punya keberanian dari mana Angel, kini dirinya mengusap lembut wajah suaminya. Veri, kemudian terbangun karena merasa terganggu.


Veri, berteriak karena merasa kaget melihat wanita yang kini ada disampingnya. Angel, tiba-tiba ikut berteriak juga.


"Kamu ngapain ikut-ikutan berteriak?!" Veri, menatap kesal istrinya.


Angel, hanya unjuk gigi dan kini menjadi gugup.


"Ini orang, nyengir-nyengir lagi. Mau unjukkin gigi gitu, kalau gigimu putih bersih?" ledek Veri, sambil menatap sinis Angel.


"Iss, menyebalkan sekali diri," gerutu Angel.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain kesini?! Jangan bilang, kalau kamu ingin macam-macam sama aku!" Veri, menatap intens istrinya.


"Kepedean sekali ya dirimu. Dengar ya, aku cuma ingin membangunkan kamu! Tadi bibi datang kesini dan berkata agar kita segera ke meja makan karena ayah sama ibu, sedang menunggu kita disana!" Angel, dengan segera pergi dari hadapan suaminya dan pergi dari kamar tersebut.


'Benar-benar ya punya istri, kurang ajar!' Veri, merasa geram.


'Tadi bilang, aku mengatakan dia, istriku? Ada-ada saja mulutku ini. Lagian aku terpaksa menikah dengan dia, karena dia, sedang mengandung anakku! Tapi, apakah benar anak yang ada dikandungannya ada anak aku?' Veri, kini jadi merasa tidak yakin.


'Sudahlah, ngapain mikirin dia. Sekarang aku harus segera ke bawah, untuk makan malam kasihan Ibu sama Ayah, pasti menungguku.' gumam Veri, dengan segera beranjak dari ranjangnya.


Veri, dengan segera berjalan keluar dari kamar tersebut.


Veri, dengan segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Angel, yang sudah terlebih dahulu berjalannya.


Saat Veri, sudah dekat dengan Angel, dengan sengaja Veri, menyenggol pundak istrinya dan terus berjalan tanpa memperdulikan ocehan Angel.


"Ihh, Veri ... nyebelin tahu. Dasar benar-benar brengsek!" teriak Angel, merasa geram.


Veri, menyunggingkan seutas senyumannya dan merasa senang telah membuat istrinya kesal.


'Itu orang benar-benar ya, tidak punya hati! Awas saja, aku akan membalasnya.' gumam Angel, dengan mengepalkan kedua tangannya dan netranya menatap tajam punggung suaminya yang kini sedang berjalan menuju ruangan makan.


Veri dan Angel, dengan segera duduk dikursi tersebut.


Mereka kini sedang menikmati makan malamnya tanpa ada yang berbicara.


"Oya, Nak, besok, Ibu sama Ayah, akan pergi keluar negeri. Kamu tolong jagain adikmu ya," ucap Ayah Sofyan.


"Iya pastinya Ayah." Veri, kemudian melanjutkan kembali makanannya.


"Ingat, kamu jangan pernah menyakiti istrimu. Baik-baiklah sama istrimu, apalagi kini dia sedang mengandung anakmu. Jadi, jangan sampai membuat dia strees karena ulahmu," ucap Ayah Sofyan.


Veri, langsung menatap Angel. Secara kebetulan Angel, menatap Veri, hingga akhirnya netra mereka saling menatap satu sama lain.


"Veri, dengarkan perkataan Ayah tadi? Kalau Ayah lagi bicara, jawab, bukannya malah diam saja," omel Ayah Sofyan.


"Iya, Ayah, Veri dengar kok tidak tuli," Veri, sambil menatap Ayah Sofyan.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu." Ayah Sofyan, melanjutkan kembali makanannya.


Punya Ayah, bukannya perhatian sama anaknya sendiri malah sama si Angel. Kayaknya Ayah, sayang banget sama si Angel, apakah karena dia, sedang mengandung anakku dan merasa senang akan punya cucu? Tapi, aku belum yakin kalau anak yang ada dikandungannya anakku batin Veri, sekilas menatap Angel, sedang menikmati makanannya.


Mereka kini sudah selesai makan malamnya, Ayah Sofyan dengan segera pamit dan pergi menuju kamarnya.


Angel, pun pamit untuk ke kamarnya karena tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat bu mertha, menahan lengan Angel.


"Kamu mau kemana? Ingat ya, jangan mentang-mentang suamiku, selalu membelamu, jadi kamu seenaknya disini!" Bu Mertha, sambil menatap tajam Angel.


"Tidak, Bu, aku tidak seenaknya. Aku tadi sudah pamit sama Ibu, aku mau ke kamar karena ngantuk Bu," jelas Angel.


"Alah, alasan saja! Ingat ya, kamu hanya sementara jadi istrinya Veri, karena istri sesungguhnya buat Veri, adalah via! Jadi, siap-siap saja bila nanti Veri, menikah dengan via, kamu harus menerimanya!" Bu Mertha, dengan melepaskan lengan Angel.


Angel, merasa terkejut mendengar perkataan Ibu mertuanya. Akan tetapi, Angel sadar diri, kehadirannya sudah membuat tunangan Veri, terluka dan sangat kecewa.


Lagian, ini bukan salahku. Coba saja waktu itu Veri, masih waras dan tidak dalam keadaan mabuk mungkin aku tidak hamil seperti ini batin Angel.


"Kenapa kamu diam saja disana? Bukankah, kamu ngantuk, katanya? Ya sudah, sana pergi!" usir Bu Mertha.


"Eh iya, maaf Bu. Kalau begitu, Angel permisi dulu." Angel, dengan segera pergi meninggalkan Veri dan Ibu mertuanya.


"Ibu, keterlaluan banget sih sama kak Angel?! Kasihan Bu, dia lagi hamil," Amoy, menatap tidak suka Bu Mertha.


"Sudah kamu diam saja, jangan sok perhatian sama dia!" Bu Merta, merasa tidak suka kalau putrinya membela Angel.


"Sepertinya Ibu, sangat membenci Kak Angel? Emangnya apa salah dia, sama Ibu?" tanya Amoy.


"Kamu mau tahu, kenapa Ibu sangat membencinya? Karena dia telah membuat hubungan Veri dan Via, hampir putus! Andai saja, si wanita jala*ng itu tidak hadir, mungkin kakakmu sudah menikah dengan via!"


"Lagian, salah kak Veri, sendiri sudah menghamili dia, malah nyalahin Angel," elak Amoy.


"Kamu, bisa enggak, jangan membela dia terus!" bentak Veri, sambil menatap Amoy.


Amoy, merasa terkejut saat kakaknya membentak dirinnya. Padahal selama ini, Veri belum pernah membentaknya. Apalagi Amoy, adik kesayangannya.


Amoy, benar-benar kecewa kepada Kakaknya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2