
"Kamu yang sabar ya Nak, veri, memang begitu orangnya. Ayah yakin, pasti cinta akan datang dengan berjalannya waktu," Ayah Sofyan, sambil tersenyum kepada menantunya.
"Iya Ayah," Angel, membalas senyuman Ayah Sofyan.
"Halah, mana mungkin cinta itu datang! Yang pastinya si veri, hanya cinta sama si via. Tapi karena dia hamil, terpaksa pernikahan mereka harus di tunda! Sebenarnya Ibu, enggak yakin deh Ayah, kalau anak yang ada dikandungannya, anak veri? Enggak mungkin selera veri, wanita kampungan seperti dia," Bu Metha, sambil menatap sinis Angel.
"Bu, kalau bicara itu dijaga. Jangan asal bicara saja," Ayah Sofyan, menatap tidak suka istrinya.
"Kenapa sih Ayah, membela dia terus? Asal Ayah tahu ya, Ibu sangat membenci dia karena telah membuat hubungan veri dan via hampir hancur!" Bu Metha, sambil menatap tajam menantunya tersebut.
"Lagian Bu, salah anak kita sendiri yang telah menghamili anak orang. Berani berbuat ya, harus berani tanggung jawab," lirih Ayah Sofyan.
"Sudahlah males banget berurusan dengan kalian berdua," Bu Metha, dengan segera pergi berlalu.
Ayah Sofyan, hanya mengelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
"Maafkan Ibu mertuamu ya Nak, mungkin sudah membuatmu tidak nyaman," lirih Ayah Sofyan, merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa kok Ayah," Angel, mencoba tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu Ayah, permisi dulu ya mau ke kamar ganti baju sekalian mau mandi," pamit Ayah Sofyan.
"Iya, silahkan Ayah." Angel, menganggukan kepala.
Ayah Sofyan, dengan segera pergi berlalu dari hadapan menantunya dan berjalan menuju kamarnya.
Kini hanya ada Angel, sendiri yang berada disana.
Pernikahan Angel dan Veri, dilaksanakan di rumah kediaman orangtua Veri, sesuai keinginan Ibu Mertha.
Awalnya ibu metha, tidak menyetujui pernikahahan antara veri dan angel. Ibu mertha lebih memilih agar veri menikah dengan via, yang jelas asal usulnya. Akan tetapi, Ayah Sofyan, mengancam putranya jika tidak mau bertanggung jawab maka akan mencabut jabatannya beserta asetnya.
Akhirnya, veri dan ibu metha, memilih untuk menuruti keinginan Ayah Sofyan.
Aku tahu, kamu sangat mencintai kakakku. Tapi, salah aku bila mengharapkan kamu menjadi milikku? Saat pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta dan sangat tergila-gila padamu.
Aku pikir, kamu menjalin hubungan denganku memang tulus dan sama jatuh cinta padaku? Tapi nyata nya, palsu! Kamu hanya memanfaatkanku agar kamu lebih dekat lagi dengan kakakku batin Angel, sambil menatap photo veri, yang terpajang di dinding ruangan tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba Angel, meneteskan airmatanya dan merasa sakit hati saat tahu Aleena, orang yang sangat ia cintai.
"Kak Angel," panggil seseorang yang kini berjalan menghampiri dirinya.
Angel, dengan segera mengusap airmatanya dan membalikkan badannya menatap seseorang tersebut.
"Amoy? Iya, kenapa memanggilku?" tanya Angel.
"Kak Angel, lagi ngapain disini? Cie, lagi natap kakakku nih, tampankan dia?" goda Amoy.
"Iss punya adik ipar pede sekali. Masih tampan bapakku lah," tungkas Angel.
"Masa sih? Ada-ada saja Kak Angel, ini. Oya, Kak Angel, belum ganti baju nih?" tanya Amoy.
"Belum, tadi habis ngobrol dulu sama ibu dan ayah," jawab Angel.
"Emangnya ngobrol apaan sih?"
"Kepo ... ini urusan untuk orang dewasa," bisik Angel.
"Ih kakak, aku juga sudah dewasa. Jangan-jangan ngobrolin tentang anu ya ...," Amoy, menatap intens kakak iparnya.
"Ih kak Angel, aku ini sudah dewasa," protes Amoy.
Angel, tertawa terkekeh saat melihat adik iparnya kesal karena dirinya.
"Iddih malah tertawa lagi, enggak lucu kak," gerutu Amoy, sambil menatap kesal Angel.
"Sudah ah, aku permisi dulu ya mau ganti baju sekaligus mau mandi," ucap Angel.
"Iya, Kak." Amoy, sambil menganggukan kepala.
Angel, dengan segera melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Amoy sendirian.
Aku tahu kalau hati kak angel, kini sedang terluka. Berat sekali cobaan buat dia. Ibu yang tidak merestui pernikahan mereka. Kak veri, masih belum bisa melupakan kak aleena serta tunangannya yang masih setia mempertahankan kak veri dan tidak peduli kalau kakakku mau menikah. Semoga saja cinta tumbuh diantara mereka dan pernikahan mereka tidak sia-sia batin Amoy, sambil menatap punggung kakak iparnya tersebut.
Angel, kini sudah berada di depan pintu kamar di mana suaminya berada disana. Angel, merasa gugup dan entah harus apa karena tidak berani untuk masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
'Gimana ini? Buka, enggak, ya?' gumam Angel, sambil bolak-balik berjalan ke kiri dan ke kanan.
Angel, mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut. Akan tetapi, saat Angel, membuka pintu dirinya terjatuh ke lantai. Ternyata Veri, ikut membukakan pintunya dengan keras dari dalam.
"Aww ... Sakit sekali kakiku," ringis Angel, sambil mengusap kakinya.
Veri, sekilas menatap Angel, lalu tersenyum sinis dan dengan segera Veri, pergi meninggalkan Angel dan berjalan menuju tempat ruangan kerjanya.
"Itu orang main pergi saja. Bantuin atau apa kek, basa basilah gitu, ini malah cuek saja!" gerutu Angel, merasa kesal kepada veri.
Angel, mencoba untuk berdiri dan menahan rasa sakit dikakinya.
"Untuk saja masih bisa berjalan dan semoga saja kamu baik-baik saja ya, Sayang," Angel, sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Angel, berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian serta handuk yang sudah di sediakan.
Angel, dengan segera berjalan menuju bathroom untuk membersihkan tubuhnya.
*
*
Saat Angel sudah selesai memakaian baju, lalu Angel, berjalan menuju sofa yang berada di dalam kamar tersebut.
"Ngantuk sekali diriku ini. Jam berapa ini?" Angel, kemudian menatap jam dinding menunjukan pukul jam 5 sore.
'Aku mau tidur dulu sebentar ah, mataku sudah tidak bisa dikompromi lagi nih,' gumam Angel.
Angel, kemudian memejamkan matanya dan akhirnya kini Angel, tertidur dan berada dibawah alam sadarnya.
Veri, tiba-tiba datang dan merasa terkejut saat melihat Angel, tidur di sofa.
'Yang benar saja itu anak, sudah dikasih tempat tidur malah tidur di sofa? Ada-ada saja.' Veri hanya mengelengkan kepala.
Veri, kemudian berjalan menuju ranjang untuk merebahkan tubuhnya.
'Tubuhku, pegal sekali dan rasa kantukku sudah mulai menyerang nih. Lebih baik aku tidur saja sebentar ah.' gumam Veri.
__ADS_1
Veri, kemudian memejamkan matanya dan akhirnya tertidur dan kini berada dibawah alam sadarnya.