Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
43. Merasa geram


__ADS_3

Aleena segera keluar dari kamar Ibunya saat sang dokter sudah datang dan kini sedang memeriksa Ibu Sofi.


Aleena merasa cemas dan khawatir takut terjadi apa-apa kepada Ibunya. Aleena tidak bisa diam, kakinya bolak balik ke kanan dan ke kiri.


"Sayang, sudah duduk disini. Enggak cape dari tadi bolak balik mulu," Juna sambil menepuk kursinya agar sang Istri duduk di sampingnya.


"Aku enggak bisa duduk Mas. Hatiku jadi tidak tenang dan takut Ibu kenapa-napa," lirih Aleena, sambil menatap suaminya.


"Mas yakin pasti Ibu baik-baik saja kok. Sudah duduk disini kasihan baby kita nanti ikut cape lagi," kata pria yang kini sedang duduk di kursi.


Aleena segera berjalan menghampiri Juna lalu duduk di sampingnya.


"Harus sabar ya, Sayang. Ibu pasti baik-baik saja," Juna merangkul pundak istrinya.


Aleena hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab perkataan dari suaminya. kemudian Alena menatap Veri yang kini sedang berdiri di samping Juna.


"Ini semua gara-gara kamu Veri! telah membuat Ibuku sampai begini. Sudah puas kamu membuat Ibu pingsan!" Aleena merasa geram dan sangat membenci Veri.


"Aku benar-benar minta maaf Alena. Aku tidak bermaksud membuat Ibu seperti ini!" Veri, sambil menatap Aleena dan dirinya merasa sangat bersalah.


"Bohong! Kamu sengaja 'kan membuat Ibu seperti ini? Mau kamu sih?" Aleena menatap tajam Veri.


"Apa yang dikatakan oleh kamu itu tidak benar, Aleena! Aku berani bersumpah aku tidak bermaksud seperti itu," jelas Veri dan dirinya merasa bingung harus bicara apa apalagi agar Aleena percaya pada dirinya.

__ADS_1


"Semuanya sudah jelas tidak perlu lagi dijelaskan!" bentak Aleena sambil menatap Veri.


"Aleena ...." ucapan Veri harus terputus saat sang dokter keluar dari kamar bu Sofi.


Aleena segera berjalan menghampiri dokter tersebut.


"Gimana Dok, keadaan Ibu sekarang?" tanya Aleena, sambil menatap Dr. Ayu.


"Keadaan beliau baik-baik saja. Mungkin beliau merasa kecapean sehingga membuatnya pingsan," jawab Dr. Ayu kemudian tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu Dok. Makasih Dok sudah memeriksa Ibu saya," ucap Aleena merasa senang kemudian tersenyum.


"Iya, sama-sama. Ya sudah kalau begitu saya permisi Mbak," ucap Dr. Ayu.


Dokter Ayu segera pergi dari rumah tersebut. Aleena dan serta yang lainnya segera langsung masuk ke dalam kamar dimana Bu Sofi berada.


"Ibu ...." panggil Aleena sambil berjalan menghampiri Bu Sofi.


Bu Sofi tiba-tiba meneteskan air matanya dan kini merasa khawatir kepada Angel.


"Ibu, kenapa menangis?" tanya Aleena semakin cemas.


"Ibu ingat Angel, Nak. Dia pergi kemana? Apalagi dia sama sepertimu sedang mengandung," Bu Sofi, terisak menangis.

__ADS_1


Aleena kemudian memeluk Ibunya dan kini sama merasakan ke khawatiran kepada sang adik.


Veri pun berjalan menghampiri Ibu mertuanya dan kini dirinya benar-benar merasa bersalah.


"Maafkan Veri, Bu, tidak bisa menjaga Angel dengan baik. Veri berjanji akan mencari Angel hingga ketemu," lirih Veri, sambil menatap Ibu mertuanya.


"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Angel, Nak? Kenapa bisa sampai Angel pergi dari rumahmu?" tanya Bu Sofi, sambil menatap menantunya.


Veri pun segera menceritakan semuanya termasuk saat Ibu Mertha dan Via punya rencana jahat ingin mengugurkan kandungannya.


Bu Sofi semakin histeris dan tidak menyangka mereka lakukan itu kepada putrinya. Aleena yang emosi mendengar perkataan Veri langsung mengangkat satu tangannya lalu menampar pipi Veri hingga Veri meringis kesakitan.


#####


#Yuk mampir dan kepoin karya temanku ini dijamin keren dan bikin baper. Enggak nyesel deh bacanya.


blurn:


Fiona Valeriest Putri Buffett gadis keturunan Indonesia Eropa yang di kenal dengan Fiona tumbuh menjadi gadis yang cantik. Memilih menjadi seorang arsitek yang sekarang namanya melambung tinggi dengan hasil yang selalu memuaskan klien. Tidak hanya sukses Fiona juga menjadi incaran pria di luar sana, tapi tidak ada satu pria pun yang mampu meluluhkan hati Fiona. Hatinya seakan terkunci oleh seseorang yang bahagia di luar sana. Pria yang sudah dia sukai sejak sekolah menengah atas dan memiliki wanita lain dari pada dirinya tanpa alasan.


Sejak saat itu sifat Fiona berbanding balik dengan Fiona masih kecil, hal itu menjadi kekhawatiran semua keluarga, apa lagi Fiona sangat cuek dan lebih menyibukkan diri untuk bekerja, terkecuali hanya dengan anggota keluarga.


Mampukah pria di luar sana membuka hati yang di tutup rapat oleh Fiona?

__ADS_1



__ADS_2