
Angel, kini sudah sampai di sebuah perusahaan terkenal yaitu PT. HIKO, perusahaan yang bekerja dibidang mini faktur makanan instans dan alas sepatu. Kedatangan Angel, disambut baik oleh Panji Rajasa.
"Selamat pagi, Pak," sapa Angel, sambil menganggukan kepala.
"Ih apaan sih Angel, pake panggil Bapak, segala. Panggil saja seperti biasa Panji," protes Panji.
"No! Karena sekarang kamu atasanku, jadi harus sopan." Angel, menatap Panji.
"Oke, baiklah terserah kamu saja." Panji, pasrah.
Angel dan Panji, berjalan menuju tempat ruangan kerja. Angel, bertanya tentang pekerjaan apa yang akan dikerjakannya dan Angel, terkejut saat mendengar jawaban Panji. Bagaimana tidak? Panji, memberikan kerjaan untuk Angel, sebagai sekretaris.
Angel dan Panji, kini sudah sampai diruangan kerjanya.
"Serius kamu mau menempatkan Aku sebagai sekretarismu? Yang benar saja," Angel, merasa tidak percaya.
"Tentu saja serius. Aku sengaja biar bisa pantau kamu," lirih Panji.
"Enggak percaya kamu sama Aku? Tega sekali dirimu, takut akan macam-macam ya," Angel, menyipitkan matanya.
"Siapa bilang? Jangan berpikiran negatif," Panji, sambil mendengungkan kepala Angel.
"Iss enggak sopan sekali dirimu. Terus, maksud kamu apa berkata begitu?" tanya Angel.
"Biar bisa pantau keadaan kondisimu," jawab Panji.
"Emangnya Aku kenapa? Aku baik-baik saja, sehat lagi. Jangan bilang kalau kamu berpikiran Aku terkena penyakit?" Angel, menatap intens Panji.
"Dari dulu tidak pernah berubah selalu berpikiran yang enggak-enggak," Veri, menggelengkan kepala ," kamu lagi hamil, Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Akan repot bila terjadi sesuatu, Aku yang akan kena imbasnya," jelas Panji.
"Oh begitu jadinya, kirain-"
"Apa hayo? Pikiranmu terlalu negatif!" Panji, menyilangkan kedua tangannya.
Angel, hanya unjuk gigi dan tangannya memberikan kode hurup V.
"Mulai kerja enggak nih? Dari tadi ngobrol mulu," omel Angel.
"Tentu saja. Kerjaanmu nih," Panji, sambil mengambil berkas-berkas satu dus.
"What? Yang benar saja," Angel, menelan salivanya dengan susah.
Veri, hanya tertawa renyah saat melihat Angel, terkejut.
"Kenapa tertawa? Kamu mau ngerjainku ya?"Angel, menatap curiga.
"Sorry ... sorry ...," ucap Panji.
"Dasar, menyebalkan," Angel, menginjak kaki Panji.
"Angel ... mau Aku pecat?"
"Jangan dong Pak, tega sekali mau memecatku," pinta Angel.
"Pak, Bapak, kamu pikir Aku bapakmu!" Panji, menatap kesal sahabatnya.
"Sudahlah Pak, sekarang mana kerjaanku? Enggak enak kalau staff melihatku ngobrol terus," ucap Angel.
Panji, dengan segera memberikan berkas-berkasnya untuk dikerjakan oleh Angel dan Angel, dengan segera langsung mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
Panji, merasa senang akhirnya Angel bekerja diperusahaannya. Semalam Angel, bercerita ingin kerja untuk menghilangkan rasa kejenuhannya dirumah. Panji, paham pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya. Karena Panji, tau betul kalau ada masalah Angel, selalu menyibuk'kan diri dengan teman-temannya supaya tidak terlalu dipikirkan masalahnya.
"Kerja yang benar, jangan sampai ada kesalahan," lirih Panji.
"Siap!" Angel, kemudian tersenyum.
Mereka pun kini sedang sibuk dengan kerjaannya masing-masing.
Dua jam kemudian ...
"Maaf, permisi, Pak, sekarang ada jadwal pertemuan bersama klien," ucap Tomi, sang asistennya.
"Oke, baiklah." Panji, menatap Sang Asistennya.
"Ya sudah kalau begitu Saya permisi dulu," pamit Tomi.
"Oke, silahkan."
Tomi, dengan segera pergi meninggalkan Atasannya tersebut.
"Angel ...," panggil Panji.
"Iya, kenapa Pak?" tanya Angel.
Panji, hanya menghembuskan napasnya dengan kasar saat Angel, memanggilnya Pak. Padahal, Panji, menolak karena merasa tidak terbiasa dan tidak nyaman dipanggil oleh sahabatnya Bapak atau Pak.
"Ayo ikut Aku, ada pertemuan Klien sekarang," ucap Panji.
"Oke, baiklah Pak." Angel, menganggukan kepalanya.
Angel, segera beranjak dari kursi kerjanya. Kemudian Angel dan Panji, berjalan bersama keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju mobilnya.
*
*
Satu jam sudah mereka sampai di sebuah restoran. Panji dan Angel, segera keluar dari mobilnya. Mereka berjalan kedalam restoran tersebut.
Saat sudah sampai di dalam restoran, Angel dan Panji mencari tempat nyaman untuk pertemuannya dengan Klien.
Tiba-tiba seseorang berjalan menghampiri Angel dan Panji.
"Selamat siang, Pak," sapa seseorang tersebut.
"Siang juga," jawab Panji, sambil menatap seseorang tersebut ," apakah Anda yang dimaksud, menghadiri pertemuan dengan kami?" tanya Panji.
"Iya, betul, Pak," jawab Geo.
"Oh, silahkan, duduk." Panji,
mempersilahkan Pak Geo, untuk duduk.
"Bisa kita mulai?" tanya Panji.
"Jangan dulu Pak, nanti tunggu atasan Saya, dulu," lirih Pak Geo.
"Kirain Saya, Bapak, selaku pemimpinnya," Panji, tertawa renyah.
"Maaf, bukan, Pak. Tadi atasan Saya, permisi dulu ke toilet," jelas Pak Geo.
__ADS_1
"Oh." Panji, sambil menganggukan kepalanya.
Panji memperkenalkan Angel, kepada Pak Geo.
Sambil menunggu atasan Klien, mereka kini berbincang-bincang tentang kemajuan perusahaannya masing-masing.
"Maaf, lama menunggu," seseorang tersebut sambil menundukan kepala.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Panji, memaklumi.
Seseorang tersebut menegakan kepalanya lalu netranya menatap Panji.
Mereka sama-sama terkejut saat mengenali satu sama lain termasuk Angel.
"Pak Geo, yang benar saja Saya harus bertemu dengan Klien seperti dia?" Veri, menatap tidak suka Panji.
"Emangnya kenapa? Lagian, Aku juga tidak sudi bila harus bertemu dengan Klien sepertimu!" tegas Panji, entah kenapa hatinya begitu emosi.
"Kamu pikir, Aku mau kerjasama denganmu? Tidak!" Veri, menatap tajam Panji.
"Jangan salah sangka Aku juga tidak sudi! Kalau seandainya tau, kalau itu kamu, Mana mungkin Aku menghadiri acara pertemuan ini!" Panji, benar-benar emosi.
"Stop, Pak, hentin'kan! Ini ditempat umum jangan cari keributan," Angel, mencoba menengahi perdebatan Panji dan Veri.
Awalnya Angel, lebih memilih membiarkan Panji dan Veri untuk saling berdebat. Akan tetapi, tidak baik membiarkan seseorang saling berdebat apalagi dia, seorang pimpinan dan akhirnya Angel, terpaksa memisahkannya.
Veri, langsung menatap Angel dan baru menyadari ada Istrinya disana. Veri, menatap Angel, dengan tatapan susah diartikan.
"Lagi ngapain kamu disini?" tanya Veri, dengan datar.
"Aku lagi nemani Pak Panji, pertemuan dengan Klien," jawab Angel.
"Kamu bohongi Aku ya?! Katanya kerja tapi malah asyik-asyikan berduaan!" Veri, merasa geram.
"Siapa yang bohongi kamu? Aku benar-benar kerja! Kalau tidak percaya tanya saja sama Pak Panji," lirih Angel.
"Aku tidak percaya! Oh jangan-jangan kamu kerja melayani dia diatas ranjang? Berapa sih uang yang dia beri kepadamu?" tanya Veri, dengan menatap sinis Angel.
Angel, benar- benar emosi saat Suaminya berkata seperti itu. Kenapa bisa, dirinya selalu dipandang murahanĀ dan selalu tidak mengerti tentang dirinya. Angel, membulat'kan kedua tangannya dan emosinya tidak bisa ditahan lagi.
Panji, tiba-tiba langsung mencengkram kerah Veri dan mereka saling menatap tajam satu sama lain.
Panji, tidak terima Angel, diremehkan bahkan direndahkan tuk yang kedua kalinya.
Suasana semakin mencengkram, mereka bagai'kan seekor harimau bertemu dengan seekor srigala.
bersambung ...
.
.
yuk mampir dan kepoin karya dari Kak hilmiath dijamin seru dan bikin baper nih. Cus ah, enggak bakal nyesel deh.
Blurb.
"Kau adalah milikku, sebanyak apapun wanita yang berada disekitar ku. Kau adalah satu-satunya yang tak akan aku lepas sampai kapan pun," ketegasan dalam ucapan tersebut seolah menjadi bukti bahwa gadis yang kini berada dalam sangkar emas milik laki-laki yang tak lain adalah seoarang mafia tersebut adalah gadis yang begitu ia jaga. Dia, Eric Roymond. Laki-laki yang memiliki tatapan mematikan dengan aura penguasa. "Kau hanya menjadikan ku budak mu, lalu bagaimana bisa aku bertahan dengan segala rasa sakit yang aku rasakan?" wanita tersebut menatap penuh kebencian pada laki-laki yang telah dengan sengaja menjebak pamannya tersebut. Untuk mendapatkan gadis tersebut Eric sengaja menjebak paman gadis tersebut agar menjual gadis tersebut padanya. Dia,Evelyne Gregory. Gadis lembut yang penuh dengan keceriaan. Kedua orang tersebut malah terjebak dengan takdir yang membawa mereka untuk menjadi satu. Namun akankah mereka benar menjadi satu? atau justru semesta memiliki cara untuk menjadi pemisa?
__ADS_1