
"Mau kemana kamu?" tanya Veri, menahan lengan Angel.
"Bukan urusanmu, kemana pun Aku pergi!" Angel, sambil menghempaskan tangan Veri.
"Kamu bilang bukan urusanku? Tentu saja ini urusanku!" Veri, menatap tajam Angel.
"Sejak kapan kamu larang-larang Aku? Sudahlah jangan sok perhatian, lagian Aku muak melihatmu disini. Rasa sakit bekas tamparanmu, tidak akan Aku lupakan sampai kapan pun!" Angel, dengan menyenggol pundak Veri, dan pergi begitu saja dari kamarnya.
Veri, tidak bisa berkata apa-apa dan merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya tadi pagi kepada Istrinya.
Veri, berteriak dan merasa kecewa karena telah melakukan tindakan bodoh.
.
.
Angel, meminta Pak Yusuf untuk memberhentikan mobilnya di sebuah taman dan dengan segera Pak Yusuf memberhentikan mobilnya.
Angel, segera keluar saat mobil sudah berhenti.
"Terima kasih ya Pak, sudah anterin Saya kesini," ucap Angel.
"Sama-sama Non. Lagian ini sudah tugas Pak Yusuf nganterin Non kemana pun," lirih Pak Yusuf.
Angel, tersenyum kepada pak Yusuf ," Oya Pak, nanti tidak usah jemput Saya kesini."
"Loh kenapa Non? Nanti Non, pulang sama siapa?" tanya Pak Yusuf.
"Angel 'kan, bisa naik angkutan umum. Pokoknya jangan jemput saya, Titik!" tegas Angel.
"Baiklah kalau begitu Non," ucap Pak Yusuf, pasrah.
"Ya sudah kalau gitu Angel, mau masuk dulu ke taman dan Pak Yusuf boleh pergi sekarang."
"Baik Nona." Pak Yusuf, segera pergi meninggalkan Angel.
Angel, berjalan memasuki taman tersebut. Kemudian Angel, mencari tempat yang nyaman untuk dirinya.
Saat Angel, akan melangkahkan kakinya tiba-tiba seorang anak kecil menabrak dirinya dan eskrimnya terjatuh.
"Yah, eskrimku jatuh. Maaf Tante, celananya kotor gara-gara kena tumpahan eskrimku," ucap bocah tersebut sambil menundukan kepalanya.
Angel, menjongkokkan tubuhnya untuk mensejajarkan dengan bocah tersebut.
"Tidak apa-apa kok Sayang, Tante maafin," Angel, meraih dagu bocah tersebut, lalu tersenyum.
"Tante tidak marah?" tanya bocah tersebut.
"Marah? Ngapain harus marah? Lagian ini cuma eskrim bisa di lap," Angel, mengambil tisu dari tasnya lalu mengelap celana yang terkena eskrim.
"Terima kasih Tante, sudah maafin Cici,'?" Bocah tersebut, merasa senang lalu tersenyum.
"Sama-sama. Nama-mu Cici?" tanya Angel.
"Iya Tante, namaku Cici Pranda," kata Cici.
"Nama Tante, Angel. Bolehkah kita berteman?" tanya Angel.
__ADS_1
"Tentu saja boleh Tante." Cici, tersenyum.
"Cantik benar ini bocah, gemes deh," ucap Angel, sambil mencubit pipi Cici.
"Tante, sakit tahu," ringis Cici.
"Sorry Sayang, habisnya Tante gemes banget sama kamu. Oya, sama siapa kamu kesini?" tanya Angel.
"Sama uncle, Tante. Uncle bilang Aku jelek katanya, kesel deh sama uncle," jawab Cici.
"Uncle, kemana? Kenapa membiarkanmu sendirian ditaman? Mungkin mata uncle-nya saja yang rusak sehingga tidak bisa membedakan gadis cantik sepertimu," jelas Angel.
"Benar juga ya Tante. Uncle, tadi ke toilet dulu." jawab Cici.
"Oh gitu ya," Angel, sambil menganggukan kepala.
Cici, kemudian mengajak Angel, untuk menonton pertunjukan badut yang berada ditaman tersebut. Angel, tidak menolak bahkan merasa senang bisa menemaninya saat pikirinnya kini sedang kacau.
Angel dan Cici, berjalan ke pertunjukan tersebut. Mereka tertawa-tawa saat menonton pertunjukan tersebut karena merasa lucu. Apalagi saat Sang Badut mengajak Angel, untuk mencoba satu trik sulap menghilang benda tersebut dan Angel, merasa terkejut bendanya tiba-tiba hilang dan berada disaku Cici.
Pertunjukan pun sudah sesalai. Angel dan Cici, segera bubar dari tempat tersebut dan berjalan untuk mencari air minum.
Saat Angel dan Cici akan melangkahkan kakinya tiba-tiba seseorang menahan lengan Cici.
Cici, langsung memutarkan tubuhnya lalu menatap seseorang tersebut.
"U-uncle?" ucap Cici, gugup.
"Kenapa? Mau kemana kamu?" tanya Seseorang tersebut.
"Kamu jangan kasar-kasar sama dia?!" ucap Angel, sambil menatap Seseorang tersebut.
Angel, merasa terkejut ternyata dia, orang yang dikenalinya.
"Angel?"
"Panji?" ucap mereka bersamaan.
"Lagi ngapain kamu disini?" tanya Angel, sambil menatap Panji.
"Lagi ngasuh bocah jelek nih. Bandel banget dia, disuruh duduk nungguin disana malah hilang," gerutu Panji, sambil menatap kesal ponakannya.
"Tuh 'kan tante, Uncle selalu bilang si jelek. Padahal Tante, bilang Aku cantik," Cici, sambil melipatkan kedua tangannya.
"Enggak salah kamu puji dia cantik? Jelek gini dibilang cantik," omel Panji, sambil menatap Angel.
"Jahat benar ya kamu ini, bilang dia jelek. Matamu rabun ya? Payah sekali tidak bisa membedakan mana yang cantik dan jelek," Angel, menjewer telinga Panji.
"Ampun deh, Aku 'kan cuma bercanda ngatain dia jelek. Habisnya kamu tuh bandel susah di diomongin," Panji, menatap gemes ponakannya.
"Namanya juga anak kecil pasti begitulah. Kalau kamu diomongin tidak nurut baru kurang ajar," Angel, melepaskan telinga sahabatnya.
"Aku orangnya baik tidak bandel, Aku 'kan kebanggaan keluargaku," Panji, sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Iss, sombong nih," sindir Angel.
"Bukan sombong tapi kenyataanya begitu, Sayang," Panji, kemudian mengalungkan tangnnya ke pundak Angel.
__ADS_1
Angel, langsung membulatkan tangannya tepat di depan mata Panji.
Panji, hanya cengengesan dan tersenyum. Lalu, melepaskan tangannya.
"Uncle, Tante, Cici lapar," lirih Cici, sambil menatap Angel dan Panji.
"Kamu lapar? Ya sudah mari kita makan," ajak Panji.
Saat Panji dan Cici, melangkahkan kakinya tiba-tiba terhenti lalu menatap Angel.
"Enggak mau ikut makan?" tanya Panji, sambil menatap Angel.
"Enggak ah, belum mau nih," jawab Angel.
"Enggak apa-apa ikut saja denganku. Pasti sendirian ya kesininya?" tanya Panji, lagi.
Angel, hanya menganggukan kepala tanpa menjawab perkataan Panji.
"Ayo Tante, kita makan bersama biar Uncle, ada teman ngobrol," Cici, sambil mengoyangkan tangan Angel.
Angel, menatap panji dan netra saling menatap satu sama lain.
"Baiklah kalau begitu." Angel, tersenyum kepada Cici.
"Horee ...." Cici, merasa bahagia.
Kemudian mereka berjalan menuju mobil milik Panji. Saat keadaan sudah siap Panji, segera menjalankan mobilnya menuju restoran untuk makan siang.
Awalnya Angel, hanya ingin menenangkan pikirannya yang sedang kacau di taman tersebut. Akan tetapi, tidak sengaja ketemu bocah dan ternyata dia keponakan sahabatnya. Dua bulan tidak bertemu, saat terakhir mereka bertemu di sebuah mall. Mungkin ini bisa jadi reunian antara Angel dan Panji, sahabat kala SMA dan kuliah.
.
.
Satu jam sudah mereka sampai di tempat tujuan. Mereka dengan segera keluar dari mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam restoran.
Mereka mencari tempat untuk makan siang. Saat sudah menemukan tempat yang nyaman dengan segera duduk.
"Yakin kamu tidak mau makan? Padahak ini restoran mahal dan enak banget," goda Panji.
"Perutku tiba-tiba lapar jadi Aku mau makan," Angel, nyengir kuda.
"Baiklah Aku pesenin makanannya nih," lirih Panji.
Angel, hanya menganggukan kepala dan Panji langsung memesankan makanannya ke pelayan.
Sambil menunggu makanan datang, mereka mengobrol-ngobrol tentang kehidupannya sehari-hari.
Bersambung....
*****
Yuk mampir dan kepoin karya temanku ini seru juga loh, enggak nyesel juga bacanya deh.
Hidup bahagia dengan bergelimang harta adalah mimpi semua wanita. Berfoya-foya dengan geng sosialita adalah kegiatan rutin yang harus dilaksanakan oleh keempat wanita yang usianya tidak muda lagi. Mereka tak lain adalah Astrid, Soraya, Dena dan Rahma. Lalu apakah hidup hanya dipakai untuk bersenang-senang? Lantas bagaimana dengan permasalahan masing-masing? Apakah hidup hanya untuk sekadar bersenang-senang, kemewahan dan gemerlap malam?
__ADS_1