Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
19.Makan Siang


__ADS_3

Sang Pelayan pun datang sambil membawakan makanan lalu menaruh makanan tersebut diatas meja.


"Selamat menikmati," lirih Eka, Sang Pelayan.


"Terima kasih," jawab Panji, lalu tersenyum.


"Sama-sama. Kalau begitu Saya permisi." Pamit Eka, dengan segera pergi berlalu dari hadapan Panji dan Angel.


"Mumpung masuh hangat, ayo kita makan," ajak Panji.


"Baik Uncle," jawab Cici.


Mereka kini sedang menimakmati makan siangnya.


"Oya gimana keadaan kandunganmu?" tanya Panji.


"Baik kok. Ya ampun Aku lupa hari ini jadwal pemeriksaan ke dokter kandungan," Angel, sambil menepak keningnya.


"Selesai'kan dulu makannya nanti Aku anterin kamu kesana," ucap Panji.


"Serius mau nganterin Aku?" tanya Angel, kembali.


"Tentu saja serius. Demi sahabatku, Aku rela melakukan apapun," ucap Panji, sambil tersenyum.


"Asyik dong. Kalau Aku pingin mobil mau diturutin?" goda Angel.


"Tentu saja. Kalau kamu memang benar mau kita bisa langsung ke dealer beli mobil," ucap Angel.


"Aku bercanda kok. Cuma ingin mengerjaimu saja," Angel, tertawa renyah.


"Dasar ...," Panji, mencubit gemas pipinya.


"Sakit tahu," rengek Angel, dengan memajukan bibirnya.


"Cici, saja Uncle, yang beliin mobil," kata Cici, sambil menatap Panji.


"Pingin mobil? Enggak boleh masih kecil mendingan fokus belajar. Nanti kalau usiamu sudah 18 tahun baru boleh," jelas Panji.


"Janji ya nanti kalau Cici sudah besar beliin mobil ya," ucap Cici.


"Beli saja sama orangtuamu, 'kan, sama dady-mu juga seorang pengusaha," ucap Panji, sambil menatap ponakannya.


"Iddih Uncle, pelit ih," omel Cici.


"Kata siapa Uncle, pelit? Kamu selalu dibeliin mainan dan apapun yang kamu mau selalu Uncle, turutin."


"Benar juga ya Uncle," Cici, cengengesan.


"Makanya kalau bicara itu jangan asal bicara," lirih Panji, sambil menatap ponakannnya.


"Sekarang lanjutin makanannya ngobrol mulu," ucap Angel.


"Baiklah, Bumilku." Panji, segera melanjutkan makanannya yang tadi tertunda.


Mereka sangat menikmati makan siangnya dan makanan pun sudah habis. Veri, kemudian mengambil tisu lalu mengelap mulut Angel.


"Kalau makan tuh yang benar belepotan mulu," lirih Panji.


Angel, cengengesan lalu mengambil tisu dari tangan Panji.


"Makasih ya," Angel, tersenyum.


"Uncle, Aku juga belepotan tolong lap punyaku," Cici, sambil memajukan wajahnya.


Panji, langsung menuruti perkataan ponakannya lalu mengelap bibirnya pakai tisu.


Angel, hanya mengelengkan kepala melihat Sahabatnya dan Cici.


"Ayo, kita periksa kandungan," ajak Panji.


"Sebelum pulang bayar dulu," ucap Angel.


"Sudah bayar tadi, makanya Aku langsung ngajak kamu pulang," lirih Panji.


" Ya sudah, ayo." Angel, segera beranjak dari kursi tersebut.


Mereka dengan segera pergi dari restoran tersebut dan berjalan menuju mobil.

__ADS_1


Panji, dengan segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksa kandungan Angel.


Angel, menatap kebelakang jok dan menatap Cici, sedang tidur.


"Sudah makan langsung tidur gemes banget deh," ucap Angel.


"Dia emang gitu. Oya, rumah tanggamu, baik- baik saja 'kan? Gimana kabar suamimu?" tanya Panji.


"Kabar suamiku, baik-baik saja kok," jawab Angel, sambil tersenyum.


"Lagi ada masalah ya?" tanya Panji, dengan hati-hati.


"K-kata siapa? Sok tahu," elak Angel.


Panji, tiba-tiba memegang tangan Angel.


"Aku tahu kamu sedang ada masalah, bisa Aku lihat dari matamu. Cerita'kan saja samaku, jangan dipendam terus biar hati plong dan siapa tahu Aku bisa membantumu," jelas Panji.


Angel, tersenyum kepada Panji ," kamu memang sahabat baikku, tapi maaf Aku tidak bisa menceritakannya padamu."


"Ya sudah tidak apa-apa Aku tidak akan memaksamu. Jika kamu butuh bantuanku, Aku akan selalu ada disisimu," Panji, membalas senyuman Angel.


Angel, hanya menganggukan kepala tanpa membalas perkataan Panji.


*


*


Satu jam sudah mereka sampai di rumah sakit. Angel dan Panji dengan segera keluar dari mobil tersebut.


"Ingat, jangan kemana-mana tunggu di dalam mobil!" Panji, sambil menatap Cici.


"Siap, Uncle. Lagian, Cici mau tidur lagi masih ngantuk," ucap Cici.


"Ya sudah tidur saja dulu, enggak bakak kok," lirih Angel.


"Baik, Tante."


Angel dan Panji, segera pergi masuk ke dalam rumah sakit tersebut.


Mereka berjalan menuju ruangan dimana dokter kandungan berada. Sebelumnya Angel, menuju loker untuk mengambil nomor antrian.


Angel, terlebih dulu diperiksa oleh Sang Dokter. Saat sudah selesai diperiksa kemudian Angel, disuruh duduk ditempat tersebut.


"Gimana keadaan janin saya, Dok? Baik-baik saja 'kan?" tanya Angel.


"Keadaan janinnya baik-baik saja dan tumbuh sangat bagus. Jaga selalu nutrisi makananya dan jangan banyak pikiran karena tidak baik untuk kesehatan janin," jelas Dokter Aci.


"Baik, Dok," Angel, tersenyum sambil menatap Dokter Aci.


"Saya akan memberikan vitamin untuk pertumbuhan bayi serta untuk Bu Angel," lirih Dokter Aci.


"Iya, terima kasih Dok," Angel sambil tersenyum kepada  Dokter Aci.


"Iya, sama-sama," Dokter Aci, dengan segera memberikan resepnya kepada Angel.


Angel, berpamitan dan dengan segera pergi dari ruangan tersebut. Angel dan Panji berjalan menuju mobilnya.


Mereka langsung masuk ke dalam mobil saat sudah sampai.


"Sekarang mau kemana?" tanya Panji, sambil menatap Angel.


"Pulang saja," jawab Angel.


"Baiklah." Panji, dengan segera menjalankan mobilnya menuju rumah Angel.


Saat Panji, akan menjalankan mobilnya tiba-tiba mobilnya tidak bisa dijalankan.


"Loh, kenapa dengan mobilku?" Panji, merasa heran.


"Emangnya kenapa dengan mobilmu?" tanya Angel.


"Entalah, mobilnya tidak bisa dijalankan," jawab Panji.


"Kok bisa?"


"Mana Aku tahu. Ya sudah Aku keluar dulu periksa mobilnya," lirih Panji.

__ADS_1


"Iya." Angel, menganggukan kepalanya.


Panji, dengan segera keluar dari mobilnya untuk mengecek keadaan mobil. Betapa terkejutnya Panji, saat melihat keadaan mobilnya.


'Ban-nya kempes? Kok bisa, padahal tadi tidak kenapa-napa,' gumam Panji, merasa kesal.


'Harus gimana nih? Terpaksa harus minta bantuin orang-orang untuk mendorong mobil ke bengkel.' Panji, dengan segera mencari orang yang mau membantunya.


Setelah berhasil mencari orang yang mau membantunya, Panji dan orang-orang tersebut berjalan menuju mobilnya.


Panji, dengan segera masuk ke dalam mobil.


"Kemana saja kamu? Gimana mobilnya?" tanya Angel.


"Habis cari orang-orang untuk mendorong mobil ke bengkel," jawab Panji.


"Mobilmu, kenapa?" tanya Angel.


"Ban-nya kempes, makanya cari orang-oranh untuk mendorong mobil," jelas Angel.


"Oh." Angel, sambil menganggukan kepala.


"Gimana Mas, sudah siap?" tanya orang tersebut.


"Sudah Pak," jawab Panji.


Orang-orang tersebut dengan segera mendorong mobilnya menuju bengkel.


"Terima kasih ya Pak, sudah membantu mendorong Saya. Kebetulan ada rezeki buat bapak nih karena telah mendorong mobilku," Panji, dengan mengeluarkan uang senilai satu juta untuk lima orang yang membantunya.


"Enggak usah Mas, kita ikhlas kok," ucap Pak Suryo.


"Sudah ambil saja, pamali loh menolak rezeki," ucap Panji, kekeuh harus di terima.


"Karena Mas, memaksa terus Aku terima ya, Mas," lirih Pak Suryo.


"Iya, silahkan, Pak," Panji, sambil tersenyum.


"Makasih banyak Mas," ucap Pak Suryo, membalas senyuman Panji.


"Iya."


"Kalau gitu kita permisi ya Mas, semoga nanti selamat sampai tujuan." Pak Suryo dan yang lainnya segera pergi dari hadapan Panji.


Angel dan Panji segera keluar dari mobil. Tiba-tiba Cici, terbangun dari pangkuan Uncle Panji.


"Kita dimana Uncle?" tanya Cici, sambil menatap Panji.


"Kita ada di bengkel kebetulan ban mobilnya kempes," jawab Panji.


"Oh gitu ya Uncle."


Mereka dengan segera duduk ditempat tersebut sambil menunggu mobilnnya beres.


*


*


Dua jam sudah mereka menunggu mobilnya dan pada akhirnya mobil sudah selesai.


Setelah beres membayar mobil tersebut, mereka dengan segera berjalan menuju mobilnya dan segera masuk ke dalam mobil.


Saat keadaanya sudah siap Panji dengan segera menjalankan mobilnya.


Bersambung ....


####


#Yuk mampir dan kepoin karya Merpati_manis dijamin keren dan seru nih ceritanya. Enggak percaya? Mampir otw ..


Meski terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan santun, tetapi Mirza tetaplah sosok anak muda yang butuh mengekspresikan diri dan ingin menikmati kebebasan masa mudanya.


Ia menjadi pemuda yang urakan dan sering gonta-ganti pacar dengan dalih penjajakan untuk menentukan sebuah pilihan yang tepat, gadis pilihan yang akan Ia jadikan sebagai istri.


Namun, dari banyaknya gadis yang Ia pacari, tak satupun yang bisa memenuhi kriteria Mirza. Kriteria istri idaman, yang membuat semua keluarga tercengang.


"Mereka semua adalah gadis yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, masak baru pacaran sudah minta cium?" gerutu Mirza.

__ADS_1


Akankah Mirza, dapat menemukan gadis seperti yang Ia idam-idamkan?



__ADS_2