
"Veri?"
"Angel?"
Mereka merasa terkejut saat mengenali satu sama lain.
"Kamu baik-baik saja 'kan?" Veri, merasa khawatir.
"Iya baik-baik saja kok. Terima kasih sudah menolongku," Angel, tersenyum.
"Sayang ...," panggil Via, sambil berjalan menghampiri Veri.
"Makannya kalau jalan tuh yang benar, lihat pakai mata!" Veri, sambil menatap sinis Angel.
"M-maaf." Angel, menundukan kepalanya.
"Sayang, kamu lagi apa sih disini?" tanya Via, kini sudah berada di samping Veri.
"Aku habis menolong dia yang hampir saja terjatuh. Kamu jangan ceroboh kalau jalan, apalagi kamu sedang mengandung anakku," lirih Veri.
"M-maaf."
"Lagian kamu lagi apa sih disini? Jangan-jangan kamu mengikutiku ya?" Via, sambil menyipitkan matanya.
"Ti-tidak, aku tidak mengikutin kalian!" ucap Angel, dengan gugup.
"Bohong! Mana ada maling ngaku," celetuk Via.
"Wait, maling? Maaf ya, aku bukan pencuri! Enak sekali kamu menuduhku!" Angel, merasa geram.
"Sudahlah Sayang, ayo kita pergi dari sini. Bikin strees tahu enggak, bertemu dengan orang tidak waras!" Via, dengan segera berlalu dari hadapan Angel.
Veri, tidak berkata apa-apa, mereka kini saling menatap satu sama lain.
"Sayang, kenapa kamu diam saja disana? Ayolah, kita pergi dari sini." Via, menarik tangan Veri.
Veri, terpaksa mengikuti Via, berjalan keluar dari Mall tersebut.
"Dasar brengsekk! Aku benci kalian!" teriak Angel, merasa kesal.
'Itu si Veri, aneh sekali. Tadi bicara baik-baik bahkan kelihatan khawatir saat aku akan terjatuh. Terus tiba-tiba jadi macam yang sangat mengerikan, ih dasar menyebalkan.' gumam Angel, merasa kesal.
Angel, langsung menendang botol yang ada dihadapannya. Naas, botol yang ditendangnya mengenai kepala seseorang.
"Siapa yang melempar botol ini?!" tanya Seseorang, dengan membalikan tubuhnya ke belakang.
__ADS_1
Mampus, apes sekali hidupku batin Angel dirinya kini merasa gelisah.
Seseorang tersebut berjalan menghampiri Angel, karena ditempat itu hanya ada dirinya di belakang.
"Apakah kamu yang melempar botol?!" tanya Seseorang, sambil menatap Angel, yang kini menundukan kepalanya.
"Maaf, aku benar- benar tidak sengaja," Angel, tidak berani menatapnya.
"Kalau bicara, tatap orangnya bukan menatap ke bawah," omel seseorang tersebut.
Angel, mencoba memberanikan untuk menatap seseorang tersebut. Angel, merasa terkejut saat melihat seseorang tersebut.
"Panji?"
"Angel?" ucap mereka, secara bersamaan.
"Hai, apa kabar?" sapa Panji, kemudian mengulurkan tangannya.
"Baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Angel, membalas uluran tangan Panji.
"Sama baik kok. Sudah lama tak jumpa, makin cantik saja," puji Panji.
"Apaan sih Ji, bulshit!"
"Dari dulu tidak pernah berubah ya, kalau dipuji bilang bulshit." Panji, menatap gemas sahabatnya.
"Iya-iya deh." Panji, tersenyum.
Angel dan Panji, memang sudah kenal satu sama lain. Mereka memang bersahabatan sejak SMA sampai kuliah. Setelah kuliahnya selesai, mereka harus terpisah karena Panji, harus ikut pindah ke luar negeri bersama orang tuanya dan Panji meneruskan perusahaan orangtuanya diluar negeri.
Pertemuan yang sangat menyenangkan bagi mereka, karena sudah hampir tiga tahun mereka tidak pernah bertemu lagi.
Mereka pun berjalan mencari tempat duduk untuk mengobrol dan menceritakan kehidupannya selama ini.
Saat sudah menemukan tempat duduk yang nyaman, mereka dengan segera duduk ditempat tersebut.
"Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Angel.
"Aku sudah hampir tiga bulan tinggal di indonesia," jawab Panji.
"Sudah lama dong? Bukannya kamu harus meneruskan perusahaan Ayahmu, diluar negeri?" tanya Angel, lagi.
"Disana aku percayakan sama seseorang yang bisa kerjasama denganku. Sekarang, aku pindah disini dan selamanya akan disini," jelas Panji.
"Serius?"
__ADS_1
"Heem." Veri sambil menganggukan kepala.
"Syukurlah, akhirnya kita bersatu kembali. Kamu memang sahabat terbaikku," lirih Angel, sambil menepuk-nepuk punggung panji.
Panji, hanya tersenyum dan ikut bahagia kini bisa menatap wajah cantik yang selama ini dirindukannya.
"Oya, kamu masih single saja nih?" tanya Panji.
"Kata siapa? Dengar ya aku ini-" ucapan Angel, harus terputus saat seseorang memanggil dirinya.
"Kak Angel ...," panggil Amoy, berjalan menghampiri kakak iparnya.
"Sudah belanjanya?" tanya Angel, sambil menatap Amoy, yang kini sudah berada di sampingnya.
"Sudah Kak. Ih Kak Angel, ternyata ada disini ya? Tadi aku nyariin Kakak kemana-mana dan ternyata Kakak ada disini," Amoy, sambil mengembungkan pipinya.
"Maaf, tadi ketemu sahabatku semasa SMA dan kuliah. Akhirnya kita mencari tempat untuk ngobrol," Angel, sambil menatap adik iparnya.
Amoy, langsung menatap seseorang yang sedang duduk di sampingnya.
"Apakah yang dimaksud Kakak, dia?" tanya Amoy, ssmbil menatap Panji.
"Iya. Kenalin, namanya Panji, sahabat Kakak," Angel, memperkenalkan sahabatnya.
"Saya, Amoy," ucap Amoy, dengan mengulurkan tangannya.
Panji, kemudian tersenyum dan membalas uluran tangan Amoy.
"Hemzz ... Cie ... kalian cocok tuh," sindir Angel.
"Eh, apaan sih Kak," elak Amoy dengan segera melepaskan tangannya dari tangan Veri.
Angel, tertawa terkekeh saat Amoy, jadi salah tingkah.
Mereka pun saling berbicara satu sama lain tentang masa lalunya. Bahkan saling tertawa-tawa saat Panji, menceritakan seseuatu yang membuat mereka tertawa.
bersambung ...
yuk mampir dan kepoin karya dari MOM AL, dijamin bikin baper dan seru banget nih ... r
Lahir dari rahim yang sama, hari, bulan dan tanggal yang sama. Bahkan wajah mereka pun sangat mirip.
Meskipun begitu, Amman dan Ammar memiliki watak yang jauh berbeda. Amman adalah pria pekerja keras dan penyayang, sementara Ammar adalah sosok pria yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa menghiraukan betapa sulitnya bekerja.
__ADS_1
Memiliki banyak kesamaan selain watak, ternyata kedua pria kembar itu juga memiliki tipe wanita yang berbeda.
Keduanya juga tidak terlalu akrab, lalu bagaimana jadinya jika kekasih Amman menikah dengan Ammar dan begitupun sebaliknya?