
Veri, menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Angel, berteriak meminta agar Veri, mengurangi kecepatannya. Akan tetapi, Veri tidak menghiraukan teriakan Istrinya.
"Mas, benar-benar gila ya, kurangin kecepatan mobilnya. Mas, mau kita mati?!" bentak Angel, merasa emosi serta merasa takut.
Veri, tidak menghiraukan teriakan Angel. Veri, fokus menjalankan mobilnya.
"Hentikan mobilnya, Mas! Lebih baik Aku turun disini saja daripada harus mati karena ulahmu!" Angel, merasa emosi.
"Bisa diam enggak?!" bentak Veri, sambil menatap tajam Angel.
Angel, tiba-tiba meneteskan airmatanya dan kini penuh ketakutan.
Tuhan, semoga baik-baik saja. Aku belum siap mati, Aku masih ingin hidup bersama anakku. Apa salahku kepada suamiku? Adakah rasa kasihan untukku? Aku bagaikan patung yang selalu seenaknya dia mainkan batin Angel, sambil menatap tidak suka suaminya.
Tiba-tiba Angel, berteriak saat mobil yang dikendarai oleh suaminya hampir menabrak orang. Veri, dengan segera menekan pedal mobil untuk menghentikan mobilnya.
"Mas, Aku mau turun, buka pintunya!" Angel, mengedor-ngedor kaca mobilnya.
"Angel! Kamu itu apa-apaan sih? Berisik tau," Veri, merasa geram.
"Aku mau keluar Mas. Aku tidak sudi bila harus mati!" Angel, menatap tajam suaminya.
"Mati? Memangnya siapa yang akan membunuhmu?" tanya Veri.
"Buktinya tadi kita hampir saja bertabraka kalau kamu tidak bisa mengendalikan mobilnya mungkin kita sudah mati!" geram Angel.
Veri, kemudian menatap Angel, lalu menarik napas dan membuangnya dengan kasar.
Veri, dengan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan standar.
.
.
Satu jam sudah mereka sampai dirumah.
Angel dan Veri dengan segera keluar dari mobilnya. Kemudian mereka masuk kedalam rumah.
Veri, segera duduk di sofa saat sudah sampai diruang tamu dengan menyilangkan satu kakinya.
"Mau kemana kamu?" tanya Veri, saat melihat Istrinya melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Aku mau ke kamar," jawab Angel.
"Bikinin Aku kopi sekarang!"
"B-baik." Angel, dengan segera pergi menuju dapur.
Angel, lalu mengambil kopi dan menuangkan gulanya lalu menambahkan air panas.
"Ini Mas, kopinya," Angel, menaruh kopi tersebut diatas meja.
Veri, mengambil secangkir kopi tersebut lalu meminumnya.
Tiba-tiba Veri, menyeburkan kopi yang sudah di seduhnya.
"Mas, baik-baik saja'kan?" Angel, merasa cemas.
"Kopi apaan ini? Kamu sengaja ya memberikan garam ke dalam kopi?!" Veri, merasa murka.
__ADS_1
"Aku berani bersumpah tidak memberikan garam ke dalam kopi tersebut. Mas, jangan ngada-ngada deh," lirih Angel.
"Siapa yang ngada-ngada?" Veri, meraih dagu Angel ," coba saja minum kalau kamu tidak percaya!" Veri, dengan segera menghempaskan dengan kasar.
Angel, menatap kesal suaminya lalu Angel, ingin membuktikan ucapan suaminya. Angel, dengan segera mengambil kopi tersebut lalu meminumnya.
Angel, langsung menyeburkan kopi tersebut.
"Gimana rasanya? Apakah Aku berbohong?" Veri, menatap tajam Istrinya.
"Aku benar-benar minta maaf Mas, padahal Aku tidak salah lihat dan Aku memang mengambil gula bukan garam," jelas Angel.
"Alah sok alasan! Kenapa sih kamu selalu membuat masalah terus? Aku cape tau tiap hari harus berdebat terus. Mau kamu apa sih?" tanya Veri.
Angel, hanya diam saja tanpa menjawab perkataan suaminya. Angel, menundukan kepalanya.
"Kenapa diam saja? Jawab pertanyaanku!"
Karena tidak ada jawaban dari Istrinya, Veri memilih untuk pergi meninggalkan Angel, lalu berjalan menuju kamar.
Dia bilang, Aku selalu mencari masalah? Apakah Aku tidak salah dengar? Justru dia yang selalu memulai duluan. Apalagi saat via, datang pasti Aku selalu salah dimatanya. Padahal dia, wanita licik yang selalu berbuat seenaknya batin Angel, sambil menatap punggung Veri.
"Non," panggil Bi Ita.
"Iya, kenapa Bi?" tanya Angel, membalikan tubuhnya menatap Bi Ita.
"Non, habis menuangkan garam ya?" tanya Bi Ati.
"Enggak Bi, tadi habis bikin kopi terus pakai gula," jawab Angel.
"Apakah Non, mengambil gula dalam wadah berwarna merah?" tanya Bi Ati, sekali lagi.
"Iya, Bi. Emangnya kenapa?" tanya balik Angel.
"Garam? Masa sih? Tapi disana tulisannya gula Bi," lirih Angel.
"Iya Bibi lupa belum memindah garam tersebut ke tempatnya," Bi Ita, merasa tidak enak hati.
"Pantesan saja kopi yang kubuat jadi rasanya asin," Angel, mengembungkan pipinya.
"Maafin Bibi ya Non, pasti Non, dimarahin Tuan ya?" Bi Ita, merasa menyesal.
"Tidak apa-apa kok Bi, lagian ini salah Angel, main masukin begitu saja."
"Non, tidak marah?" tanya Bi Ita.
"Ngapain harus marah Bi, sudahlah lupakan saja. Lagian wajarlah kalau Tuan Veri, marah karena salah memasukan gula," Angel, tersenyum kepada Bi Ita.
Bi Ita, merasa bersyukur tenyata Istri majikannya begitu sangat baik. Angel, selalu memaafkan orang-orang yang kadang mulutnya tajam. Angel, orangnya tidak pernah mengeluh dia selalu berusaha untuk tersenyum.
"Kak Angel ...," teriak Seserang, sambil berjalan menghampiri dirinya.
"Apa Sayang? teriak-teriak lagi manggilnya. Kakakk enggak budeg," lirih Angel.
"Sorry Kak," Amoy, dengan unjuk giginya ," oya Kak Angel, baik-baiak saja 'kan?" tanya Amoy, merasa khawatir lalu memutar balikan tubuh Kakak Iparnya.
"Amoy ... pusing tau ih. Lagian Kakak biak-baik saja," Angel, menatap Adik Iparnya.
"Syukurlah kalau begitu. Tadinya takut terjadi sesuatu sama Kakak," Amoy, memeluk Kakak Iparnya.
__ADS_1
"Buktinya Kakak baik-baik saja 'kan?" Angel, membalas pelukan Amoy, lalu menguraikannya.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan Kakak, semuanya akan-akan baik-baik saja," Angel, tersenyum.
"Iya Kak. Besok, Amoy harus meninggalkan Kakak ke luar negeri pasti Amoy, akan kangen sama Kakak juga ponakan Aunty," Amoy, mengusap perut Angel, yang masih rata.
"Kalau kamu kangen bisa pulang menemui Kakak. Lagian ini demi masa depanmu, Sayang. Supaya cita-citamu terwujud dan menjadi design terkenal sedunia. Bukankah cita-citamu ingin seperti itu?" tanya Angel.
"Iya benar Kak. Doa'kan saja semoga cita-citaku terwujud," Amoy, sambil tersenyum.
"Iya pastinya Sayang." Angel, membalas senyuman Amoy.
Amoy, kemudian pamit kepada Kakak Iparnya untuk pergi ke kamar. Angel, mempersilahkan Amoy, untuk ke kamar. Amoy, dengan segera pergi meninggalkan Kakak Iparnya sendiri di ruangan tamu.
Angel, tiba-tiba menguap dan rasa kantuk mulai menyerangnya. Angel, dengan segera berjalan menuju kamar.
Saat sudah sampai di kamar, Angel, menatap Suaminya sedang tidur di ranjang. Ada rasa kasihan saat melihat bibirnya lembam. Angel, pergi kebawah untuk mengambil air hangat dan salep untuk mengobati suaminya.
Air hangat dan salepnya sudah disediakan. Angel, duduk disamping Veri, lalu memeras kain tersebut.
Saat Angel, akan mengompres bibirnya tiba-tiba Veri, terbangun karena merasa terganggu.
"Apa yang kamu lakukan?!" Veri, merasa terkejut.
"Aku cuma ingin mengobati lukamu," jawab Angel.
"Enggak usah diobatin biar saja seperti ini," tolak Veri.
"Jangan banyak menolak kalau tidak diobati nanti terinfeksi. Nanti juga Aku bakal diomelin sama Ibu karena tidak becus mengurusmu," gerutu Angel.
"Kamu-" ucapan Veri, terhenti lalu menatap Angel ,"Baiklah."
Veri, memilih agar Angel, mengobati lukanya dari pada akhirnya terus berdebat.
Angel, segera mengobati dan mengompres bibirnya yang lembab. Sesekali Veri, merasa kesal karena merasa perih.
"Sudah beres?" tanya Veri, saat Angel mengolesi salep.
"Iya, sudah beres kok." Angel, dengan segera memasukan salep tersebut ke tempatnya.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang menyingkirlah Aku mau tidur." Veri, langsung memejamkan matanya untuk tidur kembali.
Angel, menatap kesal suaminya karena tidak tau berterima kasih. Angel, segera pergi dari kamar tersebut untuk menyimpan air hangat ke dapur.
Bersambung ...
yuk mampir dan kepoin karya dari Kak Santi Suki, dijamin seru banget dan bikin baper nih, tidak percaya, chek langsung.
Blurb:
Adelia, menerima perjodohan dengan Andra. Seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia mau menerima perjodohan itu setelah putus dari Bram yang kedapatan tidur dengan Bella.
Andra, ingin balas dendam kepada Citra yang sudah mengkhianati dirinya hanya untuk menikah dengan pengusaha kaya, yang bernama Candra. Kakeknya berjanji akan memberikan semua harta kekayaannya, jika dia menikahi Adelia.
Siapa sangka saat mereka memulai kehidupan rumah tangga, malah bertetangga dengan para mantan.
Apakah mereka akan kembali ke mantan masing-masing?
__ADS_1
Atau malah jatuh cinta pada pasangannya saat ini?