
"Veri! Berani sekali kamu masuk ke dalam kamarku!" bentak Angel, merasa kesal pada sang suami.
"Tentu saja aku berani karena kamu, istriku," ucap Veri menatap Angel.
"Ih, benar-benar ini jadi orang ya! Lagian kamu mau ngapain sih kesini?" tanya Angel.
"Kamu nanyae?"
"Veri ...." teriak Angel, kemudian mencubit pinggang sang suami.
"Aww, sakit," ringis Veri, "lagian jangan salah paham dulu, aku kesini bawa makanan untukmu, tuh," Veri menunjuk ke arah sofa.
"Lagian ngapain kamu bawa makanan ke kamarku? Taruh aja di dapur," ketus Angel.
"Ini bukan makanan sembarangan, ini makanan ala Chef Veri Kusumajaya yang pastinya sangat special untuk istri tercinta," jelas Veri, tersenyum kepada wanita itu.
"What? Kamu yang masak? Yang benar saja, Enggak percaya!" Angel menatap sinis Veri.
"Enggak apa-apa kalau enggak percaya. Kamu bisa tanyain sama Bi Wati, siapa yang masak? Aku ngantuk nih, jangan lupa dimakan ya, makanannya," ujar pria itu.
"Selamat malam, semoga tidurku nyenyak karena ada kamu disini," lanjutnya, mengedipkan satu matanya.
Angel mengindikan badannya merasa geli mendengar ucapan sang suami, "iss, apaan sih dia itu sok kecakepan," gerutu Angel menyunggingkan bibir atasnya.
Pria itu segera keluar dari kamar Angel dan pergi menuju kamarnya.
'Menyedihkan sekali hidupku, kenapa harus tidur sendirian? Harusnya ini waktu yang tepat untuk aku dan dia menikmati indahnya surga dunia, ah, miris sekali hidupku. Aku enggak bakal menyerah terus mendapatkan dia.' gumam Veri, menyemangati diri sendiri.
#Angel segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju wastafel untuk membasuh muka.
'Aku enggak percaya dengan apa yang dia lakukan? Dia sangat berbeda sekarang, apa benar dia telah berubah dan menyesal dengan perbuatannya? Sudahlah, jangan terlalu percaya karena dia baik, bisa jadi itu hanya sandiwara.' Angel, mengambil handuk kecil lalu mengusapnya ke wajah yang basah .
Saat sudah selesai membasuh muka, Angel segera keluar dari wastafel itu lalu berjalan menuju sofa.
"Sebenarnya dia masak apaan ya? Harumnya wangi banget.'
Angel terus berjalan menuju sofa dan merasa penasaran apa yang di masak oleh sang suami.
Wanita itu langsung duduk di sofa dan merasa terkejut Veri memasak makanan kesukaannya. Matanya berbinar dan merasa terharu.
'Jangan terlalu mudah luluh, Angel. Mungkin ini hanya kebetulan saja dia memasak makanan seperti ini. Perutku lapar banget nih, makan enggak ya?Makan? Enggak? Makan? Enggak? Makan? Enggak!' gumam Angel bingung antara makan atau enggak.
'Kalau aku makan, nanti takut nih dia menaruh sesuatu di dalam makanan ini. Kalau aku enggak makan, perutku lapar! Sudahlah, mending makan aja.' Angel mengambil makanan tersebut, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
'Emmzz ... enak juga nih, tapi apakah benar dia yang memasaknya? Sudahlah, enggak peduli siapa yang memasaknya yang penting aku sangat menikmati makanan ini.' Angel, kini benar-benar menikmati makananya.
*
*
__ADS_1
Tiga Hari Kemudian ...
Hari demi hari, kini pasangan suami istri, tidak pernah berubah selalu ada aja adu mulut diantara mereka. Walaupun, Veri sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tetap saja dimata sang istri selalu salah.
"Hello, Sayang, Ayah bawa mainan banyak nih, pasti kamu suka," lirih Veri, yang baru saja pulang kerja.
"Ayah ...." Al, langsung berlari dan memeluk sang Ayah.
"Iya, Sayang? Nih mainannya," Veri, memberikannya pada Al.
"Hore ...."
Al merasa sangat senang karena sang Ayah membelikan banyak mainan.
"Ayah, turun ...." pinta Al.
Veri segera menurunkan Al dari pangkuannya. Anak itu langsung membongkar dus mainnya satu persatu.
"Senang, ya?" tanya Veri, menatap putranya.
"Iya, Ayah, seneng," jawab Al tersenyum.
Veri, mengusap lembut rambut putranya, " oya, Ibu belum pulang?" tanya Veri.
"Beyum, Yah," jawab Al.
'Kemana dia? Tumben jam segini belum pulang?' Veri, merasa khawatir.
Tiba-tiba terdengar suara mobil tepat berhenti di rumahnya. Veri berjalan menghampiri jendela, lalu menatap istrinya diluar bersama Satria.
"Makasih, sudah mengantarkanku sampe rumah," ucap Angel.
"Iya, sama-sama." Satria tersenyum.
"Oya, kamu mau masuk dulu ke rumah?" tanya Angel.
"Enggak ah, lain kali aja. Aku ada urusan bentar," jawab Satria.
"Ya sudah enggak apa-apa kok."
Satria menyelipkan anak rambut ke telinga wanita tersebut, "semakin hari kamu semakin cantik," puji Satria.
"Apaan sih, perasaan biasa saja. Lagian cantik itu relatif," jelas Angel.
"Kamu itu beda, sangat cantik. Oya, kapan kamu bisa menerimaku sebagai suamimu," Satria meraih kedua tangan Angel.
Angel merasa bingung harus berapa kali mengatakannya, kalau dia tidak mungkin menerima pria itu karena masih berstatus istri.
"Maaf ...." ucapan Angel harus tergantung di udara, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
__ADS_1
"Jangan sentuh dia!" Veri, langsung menghempaskan tangan Satria.
"Pak Veri?" Satria, merasa terkejut, " maksud kamu apa menghempaskan tanganku!" Satria merasa tidak terima.
"Enggak terima? Lagian ngapain kamu main pegang tangan istriku!" bentak Veri.
"Apa aku enggak salah dengar? Kalau dia, istrimu? Ngaco kalau bicara!" Satria merasa tidak percaya.
"Kalau enggak percaya tanya aja sama istriku, ini," Veri merangkul pundak Angel.
"Lepaskan, dia!" Satria, langsung melepaskan tangan Veri.
Veri tidak terima, pria itu menghempas tangannya lalu mencengkram kerah Satria dan tiba-tiba satu pukulan mendarat di bibir bawah Satria.
Pria itu tidak terima dirinya di pukul begitu saja, kemudian Satria memukul balik Veri.
Mereka saling memukul balik dan tepat mengenai bibirnya sehingga mengeluarkan sedikit darah segar.
"Stop, hentikan!" Angel mencoba memisahkan pertengkaran mereka.
"Kalian itu apa-apaan sih, kenapa berantem? Kalian enggak lihat apa? Disini ada Al, kalau dia melihat kalian, gimana?" Angel menatap kesal Veri dan Satria.
"Dia duluan yang memulai, Angel! Aku enggak terima di pukul begitu saja," ujar Satria.
Veri menatap sinis Satria, lalu mengusap darahnya yang keluar dengan tangan, "lagian kamu yang memulainya! Berani sekali kamu menghempaskan tanganku. Dia itu istriku, jadi berhak dong mau apapun juga," jelas Veri.
Satria merasa tidak percaya dengan perkataan Veri, lalu bertanya pada Angel.
"Apakah benar dia adalah suamimu?" tanya Satria untuk menyakinkan.
"Iya, dia emang suamiku," jawab Angel kemudian menundukan kepalanya.
Satria mengelengkan kepalanya karena merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Angel.
"Dia suamimu? Yang benar aja, Angel. Suami macam apaan dia yang tega membiarkan istrinya pergi begitu saja! Dua tahun lho? Apakah dia ada kabar padamu? Saat kamu melahirkan apakah dia ada disisimu? Enggak 'kan! Suami seperti dia enggak pantas dipertahankan!" jelas Satria, menatap sinis Veri.
"Dengar ya, ini bukan urusanmu! Jangan pernah ikut campur masalahku dengan dia, karena kamu enggak tau masalah yang sebenarnya!" Veri mengcengkram kerah Satria, lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Asal ...." ucapan Satria harus tergantung, karena Angel menyela pembicaraannya.
"Aku mohon sama kamu, Satria, pergilah dari sini. Aku enggak mau anakku melihat kalian berantem," pinta Angel
"Tapi ...." lagi-lagi ucapan Satria harus tegantung saat Angel memberikan kode dan meminta agar dirinya pergi dari sini.
"Baiklah aku akan pergi dari sini. Tapi ingat, urusanku dengan kamu belum selesai!"
Satria lebih memilih mengalah. Pria itu segera masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari rumah Angel.
Bersambung ...
__ADS_1