Bertahan Terluka

Bertahan Terluka
17.Menyakitkan


__ADS_3

Veri, langsung berjalan menghampiri Istrinya.


"Apa benar yang dikatakan oleh Via?" tanya Veri, sambil menatap Istrinya.


"Lagian dia sendiri yang memulainya. Dia berusaha menarik dan mendorongku. Untung saja ada Bibi yang menolong jadi Aku selamat," jawab Angel.


"Bohong, Sayang, jangan dengarkan perkataan si Angel! Kamu lihat sendirikan siapa yang tadi terjatuh ke lantai?" lirih Via, sambil menatap Angel.


"Pinter sekali kamu membalikan perkataanku!" sambung Via, sambil menatap tajam Angel.


"Justru kamulah yang sebaliknya dan memfitnah Aku 'kan? Wajahmu cantik tapi hatinya busuk!" celetuk Angel, sambil menatap sinis Via.


"Kamu ...." Via, merasa geram lalu berjalan menghampiri Angel.


Saat sudah dekat dengan Angel, tiba-tiba Via, menampar pipinya dan membuat Angel, meringis kesakitan.


"Aww ... brengsek!" pekik Angel, sambil mengusap pipinya yang terasa panas karena tamparan yang dilakukan oleh Via.


"Itu hukuman untuk orang yang suka seenaknya berkata!" Via, dengan mengangkat telunjuknya tepat didepan Angel.


"Aku heran sebenarnya kamu ngomongin sendiri ya? Perasaan kamu yang suka seenaknya berkata!" bentak Angel.


"Stop, hentikan! Aku benar-benar kecewa padamu, Angel! Mau kamu apa sih? Kenapa kamu tega ingin mencelakai Via?!" bentak Veri, sambil menatap tajam Angel.


"Apa yang dikatakan oleh Via, tidak benar! Kamu jangan menpercayai dia, Mas," pinta Angel, sambil menatap sendu Suaminya.


"Emangnya Aku harus percaya padamu gitu? Tidak! Justru Aku lihat dengan mata Aku sendiri kalau Via, terjatuh dilantai," Veri, merasa geram.


"Kenapa sih kamu cari gara-gara terus? Harusnya kamu tuh sadar diri, kalau kamu hanya Istri-" ucapan Veri, terputus saat Angel, memotong pembicaraannya.


"Iya, Aku memang sadar diri kalau Aku hanyalah Istri, diatas kertas! Makanya kalian seenaknya kepadaku bahkan Aku selalu salah dimatamu. Kalau saja Aku tidak mengandung anakmu, Aku tidak sudi menikah denganmu!" Angel, menatap tajam Suaminya.


Veri, kemudian tersenyum sinis lalu menatap intens Istrinya.


"Baguslah kalau kamu sadar diri, karena setelah kamu melahirkan Aku akan menceraikanmu dan mengambil anakku!"


"What? Aku tidak salah dengar'kan? Kalau kamu akan mengambil anakku? Enak sekali dirimu. Jangan harap kamu melakukannya karena Aku tidak sudi memberikan anakku kepadamu!" Angel, kembali menatap tajam Suaminya.


"Bukannya kita sudah sepakat? Kamu jangan mengingkari janji kita!" bentak Veri, meraih dagu Angel.

__ADS_1


"Sudahlah Sayang, jika dia tidak mau memberikan anaknya biarkan saja. Lagain kamu tidak akan rugi," ucap Via, sambil menatap Veri.


"Kamu bilang tidak akan rugi? Jaga omonganmu! Dia anakku jadi tidak mungkin Aku membiarkan anakku hidup penuh kekurangan dengan dia," Veri, menatap Istrinya.


"Aku memang orang miskin tidak seperti dirimu, punya segalanya. Tapi Aku tidak seperti kalian punya hati yang sangat busuk dan suka seenaknya!" sentil Angel.


"Kurang ajar, kamu!" Veri, dengan mengangkat satu tanganya lalu menampar pipi Istrinya, hingga meringis kesakitan.


Via, tersenyum menyeringai penuh kemenangan karena merasa bahagia melihat Angel, ditampar oleh Veri.


"Puas kamu menamparku?! Ayo tampar sekali lagi, sekalian Aku mati!" Angel, benar-benar emosi. Bagaimana tidak? Tadi Via, menampar dirinya dan sekarang Veri, menamparnya juga.


Pipinya terasa semakin sakit dan membekas merah karena tamparan.


Veri, seketika membulatkan matanya karena tidak menyangka telah mengunakan tangannya menampar Angel, wanita yang kini sedang mengandung anaknya.


"Kenapa diam saja? Ayo tampar sekali lagi," Angel, sambil menatap kesal Veri.


"A-aku-" ucapan Veri, tergantung saat Via, memotong pembicaraannya.


"Sudahlah Sayang, ayo kita berangkat kerja ini sudah siang," ajak Via, dengan menarik tangan Veri.


Veri, terpaksa harus mengikuti Via dan akhirnya mereka pergi meninggalkan Angel.


Saat sudah sampai dikamarnya Angel, langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Angel, terus menangis merasa tidak menyangka Veri, berbuat seperti itu. Veri, lebih percaya sama Via, dibandingkan dirinya.


'Ya Tuhan, peluk Aku sebentar saja, Aku lelah. Aku sedih dengan kehidupanku saat ini. Bukannya Aku berputus asa, tapi rasanya Aku ingin berteduh sejenak saja dari kehidupan ini yang kebanyakan orang hanya mengejar duniawi semata. Ya Tuhan, Aku mohon peluk Aku sebentar saja Aku rapuh, Aku patah dari kehidupan dunia yang membuatku lelah. Ya Tuhan, bawalah Aku ketempat yang terindah agar Aku kembali tegar dan berjuang dalam sulitnya kehidupan ini. Mampukanlah Aku untuk memikul beban hidup ini dan tuntunlah Aku ke jalan yang lurus, di jalan yang Engkau ridhoi batin Angel, terus meneteskan airmatanya membasahi bantal yang ditidurinya.


Mungkin bantal tersebut bisa jadi saksi bagaimana kehidupan Angel, selama ini yang penuh duka.


'Kak aleena, Angel, kangen sama kakak. Seandainya kakak tahu kehidupan Angel, seperti ini akankah kakak datang membelaku? Ingin rasanya Angel, menyerah kak, tapi Angel, bingung harus berbuat apa? Angel, sedang mengandung anaknya dan dulu kakak memaksa memintaku agar menikah dengan veri, tapi pernikahanku tidak seindah pernikahan kak aleena dan kak juna. Aku bagaikan hidup di neraka yang setiap hari selalu mendapat ketidak adilan kak.' gumam Angel, sambil menatap photo dirinya bersama Aleena di dalam ponsel dan airmatanya kembali terjatuh.


Angel, menarik napasnya lalu membuangnya dengan perlahan. Tangannya sambil mengusap pipinya yang basah karena airmatanya terus berjatuhan akibat luka yang sangat menyakitkan.


'Aku tidak boleh terus menangis kasihan anakku. Aku harus tegar demi anakku dan Aku pasti mampu melewati semua ini. Mungkin, diluar sana banyak cobaan menerpa mereka melibihiku.' gumam Angel, mencoba menguatkan dirinya sendiri sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Tiba-tiba Angel, merasa lelah kemudian memejamkan matanya dan akhirnya Angel, tertidur diatas bantal.


*

__ADS_1


*


Pagi berganti siang, jam dinding sudah menunjukan pukul jam satu siang. Veri, kini sudah berada di rumah dan memutuskan untuk pulang siang dan pekerjaannya ditangguhkan kepada asistennya.


Veri, terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya sambil menatap seseorang yang kini dicarinya.


Saat Veri, sudah sampai di depan pintu kamarnya lalu membuka pintunya. Betapa terkejutnya Veri, ternyata Istrinya ada dikamar sedang tidur.


Veri, berpikir kalau Angel, pergi dari rumah dan pastinya sangat kecewa atas perlakuan dirinya waktu pagi hari.


Veri, kemudian berjalan menghampiri Istrinya yang masih tertidur. Lalu menatap intens wajah cantik Istrinya.


Entah ada keberanian dari mana, Veri, tiba-tiba mengusap perut Istrinya.


'Maafkan Ayah ya Nak, telah membuat kasar padamu. Ayah benar-benar menyesal telah berbuat seenaknya padamu.' Veri, tiba-tiba tersenyum dan entah kenapa merasa senang saat mengusap perut Istrinya.


Karena merasa ada sesuatu yang menganggunya tiba-tiba Angel, terbangun. Veri, langsung melepaskan tangannya lalu berdiri dan memasang wajah datar.


"V-veri?" Angel, merasa terkejut lalu menatap jam dinding menujukan pukul jam satu siang.


'Ya ampun Aku ketiduran lama sekali. Jam segini baru bangun?' gumam Angel, berbicara pada diri sendiri dan segera beranjak dari ranjang.


"Enak sekali ya jam segini baru bangun? Enggak salah tuh?" Veri, tersenyum sinis.


Angel, menatap tidak suka Veri, lalu mengambil tasnya diatas nakas.


Angel, segera pergi berlalu dari hadapan Suaminya.


Bersanbung ....


*****


#Yuk mampir dan kepoin karya Kak Nazwa dijamin seru banget dan bikin baper. Enggak nyesel bacanya.


Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.


Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.


Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?

__ADS_1


Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang.



__ADS_2