
Keesokan Harinya.
Sang pasien pun sudah mulai diperbolehkan pulang oleh Dokter. Kini mereka pun sedang siap-siap untuk pulang.
Mereka segera keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju mobil miliknya.
"Akhirnya, kita pulang juga," Veri merasa senang dan tak sabar ingin bertemu sang buah hatinya.
"Iya, karena kecelakaan yang Kakak alami enggak parah makanya bisa pulang cepat," ceplos Amoy, sang adik.
"Oh, jadi kamu menginginkan Kakak kecelakaan dengan parah gitu? Jahat benar punya adik," gerutu Veri menata kesal adiknya.
"Iss, siapa bilang? Aku cuma bilang kalau Kakak enggak terlalu parah jadi bisa cepat pulang. Ih, Kak Veri enggak nyambung ah, kalau bicara," ketus Amoy menatap sang Kakak.
"Apa yang enggak nyambung? Perasaan nyambung deh kalau bicara. Sudah ah, Kakak mau tidur," Veri kemudian menyederkan kepalanya di pundak istrinya.
Angel pun merasa terkejut saat Veri menyenderkan kepalanya, " minggirlah, berat tau," ujar Angel.
"Apanya yang berat, Sayang? Cuma nyender kepala kok di tempat yang nyaman buatku bersandar," Veri kemudian menyelinapkan satu tangannya ke tangan sang istri.
Wanita itu merasa tak karuan hatinya, jantungnya berdetak secepat mungkin dan berdebar-debar saat sang suami memperat pegangan tangannya.
"Apa-apaan sih kamu ini, malu tau sama Ayah dan Amoy lihat kita. Lepaskan tanganmu," bisik Angel.
Tiba-tiba Veri memutarkan kepalanya menghadap sang istri, sehingga netra mereka saling menatap satu sama lain dan jaraknya cukup dekat, hidung mereka hampir bersentuhan.
"Cup" Veri langsung mencium dengan cepat bibir manis milik sang istri. Angel pun melongo karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
"Kitakan masih pasangan suami istri, jadi mereka pun mengertilah. Ngapain kamu harus malu, Sayang," Veri kemudian menyenderkan kepalanya kembali ke pundak wanita cantik itu.
"Hadeh, enggak tau tempat ya maen nyosor aja. Disini masih ada orang yang suci penglihatannya dan kini harus ternodai karena pasangan suami istri ini, aduh," Amoy menepak jidatnya.
Angel pun tersenyum kaku karena benar-benar malu ulah suaminya yang tidak tau tempat.
"Makanya nikah dong, biar bisa enak-enakan sama pasangan," Veri menatap Adiknya.
"Ih apaan sih Kak, terlalu muda bila harus menikah." Amoy, kemudian menimpuk muka Veri dengan bantal.
"Ih, amoy enggak sopan tau!" Veri merasa kesal.
"Sudah kalian ini gimana ya, kadang akur, kadang berantem," lirih Ayah Sofyan.
__ADS_1
"Dia yang duluan, Ayah!" Veri menatap sang Adik.
"Lagian salah kamu sendiri sih, ngapain ini pakai maen pegang tangan segala," Angel langsung menghempaskan tangan suaminya.
"Yaelah, Sayang, kok gitu sih. Ya sudah aku bersandar ke kursi aja, enggak ada yang memberikan ruang untukku," Veri merasa sedih, lalu bersandar ke jok mobil.
"Ya udah sana!" Angel menatap sinis sang suami.
Ayah Sofyan hanya mengelengkan kepala saat melihat menantunya masih belum bisa menerima putranya.
Saat masih di dalam rumah sakit, Veri menceritakan semuanya pada sang Ayah, tentang Angel yang masih belum menerima Veri sebagai suaminya dan masuk bersikap dingin padanya.
"Mungkin terlalu banyak luka yang Veri goreskan pada istrinya sehingga Angel belum siap kembali menerima putraku. Ayah yakin pasti istrimu akan luluh karena melihatmu yang selalu sabar dan berusaha menjadi yang terbaik untuknya batin Ayah Sofyan."
*
*
Mobil yang ditumpangi keluarga Wijaya pun sudah sampai di rumah kediamanan Angel. Mereka pun segera keluar dari mobil tersebut.
"Ini rumah Kakak?" tanya Amoy menatap Kakak Iparnya.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya balik Angel sang adik.
Angel mengelengkan kepala melihat sikap adik iparnya.
"Ayo, Sayang," ajak Veri kemudian merangkul pundak sang istri.
"Ih apaan sih, aku bisa jalan sendiri," Angel menghempaskan tangan Veri.
Angel pun segera pergi duluan ke dalam rumah.
"Ayah ...." rengek Veri, bagaikan anak kecil meminta bantuan. " lihatlah dia, Ayah. Enggak pernah berubah selalu aja begitu sikapnya. Sampai kapan dia akan menerima aku?" tanya Veri pada sang Ayah.
"Sabar ya, Nak. Mungkin ini karma untuk kamu karena dulu juga kamu seperti itu sana istrimu," ujar Ayah Sofyan.
"Iss, Ayah malah bilang karma lagi. Itu bukan karma tapi balas dendam," Veri tidak terima dikatakan karma.
"Sudahlah, Ayah mau masuk dulu enggak sabar nih pingin ketemu sama cucuku," Ayah Sofyan segera pergi meninggalkan putranya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
'Yaelah, mereka pergi meninggalkan aku sendirian. Benar-benar sangat menyedihkan nasibku.' gumam Veri merasa sangat sedih.
__ADS_1
Pria itu segera melangkahkan kakinya berjalan menuju rumah dan menyusul istrinya yang duluan sudah ada disana.
"Hai, kenalin saya Aunty Amoy. Nama kamu siapa? Tampan sekali, ponakan Aunty," puji Amoy merasa gemas melihat wajah Al yang imut dan terlihat sangat tampan.
"Al, Tante," jawab anak kecil itu kemudian tersenyum.
"Jangan panggil Tante, panggil Autny cantik," protes Amoy. "semakin tampan kalau lagi tersenyum," Amoy kemudian memeluk ponakannya.
Al pun melepaskan tangan Amoy karena merasa risih dan masih merasa asing padanya. Anak kecil itu berjalan menghampiri Ibunya yang kini sudah berada di ruangan tamu.
"Ibu ...." panggil Al.
"Iya, napa, Sayang?" Angel kemudian memangku Al ke pangkuannya.
"Kangen ...." jawab Al.
"Ibu juga sama kangen sama kamu Nak, padahal baru sehari tinggalin kamu," Angel tersenyum pada putranya.
"Hatiku sakit, kenapa tega ponakan tampanku menghempaskan tangak aku," Amoy pura-pura sedih.
Angel menatap Adik Iparnya, kemudian tersenyum. "Dia masih asing denganmu, makanya dia enggak secepat itu bisa akrab. Nanti juga dia bakal seperti biasa karena sering bertemu," jelas Angel.
"Oke, baiklah aku tunggu dia mau di peluk sama Aunty."
Seorang Pria paru baya kini sudah sampai di ruangan tamu. Matanya berbinar karena merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan cucunya.
Ayah Sofyan berjalan menghampiri sang cucu. "sini Nak, ayo, sama Kakek," lirih Ayah Sofyan menatap cucunya.
"Sayang, dia Kakek kamu. Ayo, salim dan peluk Kakek," lirih Angel pada putranya.
Al pun segera salim, lalu tersenyum. Ayah Sofyan pun segera memangku Al kepangkuannya. Tiba-tiba air matanya terjatuh saat Al tidak menolak di pangkuannya.
"Ayah kenapa menangis?" tanya Angel merasa cemas.
"Ayah menangis karena sangat bahagia Nak, akhirnya bisa bertemu dengan cucu Ayah yang tampan sekali," jawab Pria paruh baya itu, kemudian mencium sang cucu.
Angel pun ikut merasa senang akhirnya, dengan kehadiran putranya mampu membuat mertuanya begitu bahagia akan kehadiran cucunya.
"Kamu sangat tampan, Nak, mirip sekali dengan Ayahmu," puji Ayah Sofyan pada sang cucu.
"Apa yang aku bilang dia sangat tampan seperti Ayahnya," Veri menatap sang Istri kemudian mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
"Iss, dasar genit," Angel mengelengkan kepalanya.