
Mobil yang dikendarai Panji, kini sudah sampai dirumah kediaman Angel.
Angel dan Panji segera keluar dari mobil.
"Makasih ya Ji, sudah nganterin Aku pulang," ucap Angel, tersenyum.
"Sama-sama. Jangan merasa sungkan jika butuh bantuanku, bukankah kita sudah lama kenal?" lirih Panji.
"Iya juga sih. Tapi enggak enak aja bila ngerepotin kamu terus," ucap Angel.
"Apa sih yang enggak buat kamu? Aku akan melakukan apapun demi sahabat baikku ini," Panji, merangkul pundak Angel.
"Gombal ... Dasar," Angel, mencubit pinggang Panji.
"Angel, sakit," pekik Panji.
"Habisnya gombal sih kamu. Aku'kan sudah punya suami," jelas Angel.
Walaupun sebenarnya pernikahanku hanya diatas kertas tapi Aku menghargai dia, sebagai suami batin Angel.
"Kita 'kan, sahabatan. Jadi, tidak salah bila selalu ada disisimu, iya 'kan?" Panji, sambil menaikan satu alisnya.
"Iya, emang enggak salah sih," Angel, tertawa renyah.
Kalau boleh jujur, Aku ingin lebih dari sahabat. Tapi ternyata kamu sudah menikah dan sedang mengandung anaknya. Aku salah dulu tidak berani mengungkapkan perasaanku selama ini dan akhirnya kamu sudah milik orang lain batin Panji.
Sejak semasa kuliah Panji mulai menyukai Angel, yang awalnya tidak ada rasa apa-apa kini mulai merasa nyaman dengan sahabatnya. Apalagi Angel, selalu ada saat duka dan suka di sisinya.
Panji, memilih untuk menyimpan perasaannya dan tidak berani mengatakannya karena takut bila Angel, menolaknya persahabatan mereka jadi hancur.
"Cici, nyenyak benar tidurnya," lirih Angel, sambil menatap Cici, sedang tidur dijok mobil.
"Mungkin, dia cape kali kamu tahu sendiri dia ngoceh mulu di dalam mobil," kata Panji.
"Ya sudah Aku pamit dan hati-hati dijalannya semoga selamat sampai tujuan," ucap Angel.
"Iya, terima kasih Angel." Panji, sambil tersenyum.
__ADS_1
Angel, dengan segera pergi meninggalkan Panji, sendirian. Saat Angel, sudah masuk ke dalam rumah, Panji, segera masuk ke dalam mobilnya dan segera menjalankan mobilnya untuk pergi menuju rumahnya.
Saat Angel, memasuki ruangan tamu dirinya merasa terkejut ternyata ada Veri, sedang berdiri di depan dekat jendela.
Veri, menatap jam tangannya menunjukan pukul sembilan malam.
"Dari mana saja kamu?!" tanya Veri, datar.
"Bukan urusanmu!" jawab Angel, terus melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Aku bilang, sudah dari mana jam segini baru pulang!" bentak Veri, merasa geram dengan jawaban Istrinya.
"Kamu tidak usah tahu, percuma Aku mengatakannya pasti tidak akan kamu dengar!" Angel, menatap tajam Suaminya.
"Semakin kurang ajar, kamu!" Veri, segera menarik tangan Angel dan membawa ke kamarnya.
Angel, meminta agar Veri, melepaskan tangannya tapi Veri, tidak memperdulikan permintaan Istrinya. Veri, terus menarik paksa Angel dan Angel, terpaksa mengikuti langkah suaminya.
Saat sudah sampai dikamarnya, Veri, dengan segera menghempaskan tubuh Angel, diatas ranjang.
"Pingin tahu apa alasannya? Karena kamu tidak menghargaiku sebagai suamimu!" Veri, menatap tajam Istrinya.
"Tidak menghargaimu? Emangnya Aku sudah berbuat apa? Justru kamulah yang tidak menghargaiku!" Angel, benar-benar emosi.
"Berani sekali kamu memutar balikan ucapanku! Kamu akan tau akibatnya!" Veri, berjalan menghampiri Istrinya.
"Mau ngapain kamu?!" Angel, merasa ketakutan.
"Tentu saja Aku ingin menikmati tubuh indahmu," jawab Veri, tersenyum menyeringai. Tangannya tidak tinggal diam tapi menulusuri wajah cantik Istrinya.
"Jangan melanggar perjanjian kita, bukankah kita sepakat jangan menyentuh satu sama lain!" Angel, menghempaskan tangan suaminya.
"Aku tidak peduli dengan perjanjian kita! Aku sangat menginginkan tubuhmu, Sayang," Veri, dengan segera merobek baju Istrinya satu persatu.
"Aku mohon jangan lakukan ini," pinta Angel, tiba-tiba meneteskan airmatanya.
Veri, tidak memperdulikan perkataan Istrinya dan kini tubuhnya polos tanpa benang sehelai.
__ADS_1
Hasratnya kini semakin tidak bisa ditahan Veri, dengan segera memasukan miliknya ke miliknya Istrinya.
Angel, meringis kesakitan karena ini yang kedua kalinya berhubungan badan saat terakhir kali kejadian di diskotik.
"Benar-benar gila, kamu! Sakit!" ringis Angel.
Angel, merasa kesakitan karena Veri memainkannya dengan kasar.
"Jika memang benar kamu menginginkannya, pelanlah jangan kasar," pinta Angel.
"Bisa diam enggak!" Veri, merasa tidak menikmatinya karena Angel, banyak bicara.
"Aku sedang mengandung anakmu, bila kamu kasar begini nanti takut terjadi apa-apa," lirih Angel, dengan sendu.
Veri, kemudian menatap Angel, lalu menempelkan benda kenyalnya mengenai bibir Istrinya.
Veri, menikmati bi*bir Istrinya yang sangat manis menurutnya. Saat sudah cukup puas Veri, mengigit bi*bir Istrinya sehingga Angel, meringis kesakitan.
"Sudah puas kamu membuatku, sakit?!" Angel, benar-benar emosi.
"Itu hukumanmu, karena telah kurang ajar dan berani selingkuh di belakangku!" Veri, segera beranjak dari ranjangnya lalu memakaikan kembali baju dan celananya. Kemudian segera pergi dari kamar tersebut.
Veri, tidak jadi melakukan hubungan badan saat ingat kalau didalam perut Angel, ada anaknya yang sedang dikandung. Apalagi, Veri, melakukannya dengan kasar.
Angel, menatap kecewa dan kesal dengan apa yang dilakukan oleh Suaminya.
Bersambung ...
####
#Yuk ah mampir lagi dari Kak Teh Ijo, ceritanya seru banget dan bikin baper. Cus kepoin enggak nyesel deh.
Mouza yang ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya justru malah mendapatkan kejutan tak terduga dari Alan, kekasihnya.
Dengan mata telanjang, Mouza melihat dengan jelas saat Alan sedang bercumbu dengan wanita lain di siang hari, terlebih wanita itu adalah calon kakak iparnya sendiri.
__ADS_1